UU NOMOR 13 TAHUN 1997

PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 1989 TENTANG PATEN

Status: BERLAKU (IN FORCE)
Diundangkan: 1997-01-01
Total Pasal: 48 naskah terverifikasi
URN: urn:lex:id:gov:dpr-presiden:uu:1997:13
Buka di Peramban Interaktif LexWondera → Bagikan ke WhatsApp

Batang Tubuh & Naskah Pasal Terverifikasi

PASAL I

bagian dari - Persetujuan
Beberapa ketentuan dalam Undang-undang Nomor 6 Tahun 1989 tentang Paten diubah sebagai berikut: 1. Ketentuan Pasal 1 angka 3 dan angka 5 diubah, sehingga keseluruhan Pasal 1 berbunyi sebagai berikut: Pasal 1

1. Paten adalah hak khusus yang diberikan Negara kepada penemu atas hasil penemuannya di bidang teknologi, untuk selama waktu tertentu melaksanakan sendiri penemuannya tersebut atau memberikan persetujuannya kepada orang lain untuk melaksanakannya.

2. Penemuan adalah kegiatan pemecahan masalah tertentu di bidang teknologi, yang dapat berupa proses atau hasil produksi atau penyempurnaan dan pengembangan proses atau hasil produksi.

3. Penemu adalah seorang yang secara sendiri atau beberapa orang yang secara bersama-sama melaksanakan kegiatan yang menghasilkan penemuan.

4. Pemegang Paten adalah penemu sebagai pemilik paten atau orang yang menerima hak tersebut dari pemilik paten atau orang lain yang menerima lebih lanjut hak dari orang tersebut di atas, yang terdaftar dalam Daftar Umum Paten.

5. Pemeriksa Paten adalah pejabat yang karena keahliannya diangkat oleh Manteri, atau Kantor Paten Internasional untuk melakukan penelusuran dan pemeriksaan terhadap permintaan paten.

6. Menteri adalah Menteri yang lingkup tugas dan tanggungjawabnya meliputi pembinaan paten.

7. Kantor Paten adalah satuan organisasi di lingkungan departemen yang melaksanakan tugas dan kewenangan di bidang paten. 2. Ketentuan Pasal 3 diubah, sehingga keseluruhan Pasal 3 berbunyi sebagai berikut: Pasal 3 (1) Suatu penemuan dianggap baru, jika pada saat pengajuan permintaan paten penemuan tersebut tidak sama atau tidak merupakan bagian dari penemuan terdahulu. (2) Penemuan terdahulu sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) adalah penemuan yang pada saat atau sebelum:

a. tanggal pengajuan permintaan paten, atau

b. tanggal penerimaan permintaan paten dengan hak prioritas apabila permintaan paten diajukan dengan hak prioritas, telah diumumkan di Indonesia atau di luar Indonesia dalam suatu tulisan yang memungkinkan seorang ahli untuk melaksanakan penemuan tersebut, atau telah diumumkan di Indonesia dengan penguraian lisan atau melalui peragaan penggunaannya atau dengan cara lain yang memungkinkan seorang ahli untuk melaksanakan penemuan tersebut. 3. Ketentuan Pasal 4 diubah, sehingga keseluruhan Pasal 4 berbunyi sebagai berikut: Pasal 4 (1) Suatu penemuan tidak dianggap telah diumumkan jika dalam jangka waktu paling lama 6 (enam) bulan sebelum permintaan paten diajukan:

a. penemuan

a. penemuan itu telah dipertunjukkan dalam suatu pameran internasional di Indonesia atau di luar negeri yang resmi atau diakui sebagai resmi atau dalam suatu pameran nasional di Indonesia yang resmi atau diakui sebagai resmi;

b. penemuan itu telah digunakan di Indonesia oleh penemuannya dalam rangka percobaan dengan tujuan penelitian dan pengembangan. (2) Penemuan juga tidak dianggap telah diumumkan apabila dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan sebelum permintaan paten diajukan, ternyata ada orang lain yang mengumumkan dengan cara melanggar kewajiban untuk menjaga kerahasiaan penemuan yang bersangkutan. 4. Ketentuan Pasal 6 diubah, sehingga keseluruhan Pasal 6 berbunyi sebagai berikut: Pasal 6 (1) Setiap penemuan berupa produk atau proses yang baru dan memiliki kualitas penemuan yang sederhana tetapi mempunyai nilai kegunaan praktis disebabkan karena bentuk, konfigurasi, konstruksi atau komponennya dapat memperoleh perlindungan hukum dalam bentuk Paten Sederhana. (2) Syarat kebaruan pada penemuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) adalah terbatas bagi penemuan sederhana yang dilakukan di Indonesia. 5. Ketentuan Pasal 7 diubah dengan menghapus ketentuan huruf b dan huruf c, sehingga keseluruhan Pasal 7 berbunyi sebagai berikut: Pasal 7 Paten tidak diberikan untuk:

a. penemuan tentang proses atau hasil produksi yang pengumuman dan penggunaan atau pelaksanaannya bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, ketertiban umum atau kesusilaan;

b. dihapus;

c. dihapus;

d. penemuan…

d. penemuan tentang metode pemeriksaan, perawatan, pengobatan dan pembedahan yang diterapkan terhadap manusia dan hewan, tetapi tidak menjangkau produk apapun yang digunakan atau berkaitan dengan metode tersebut;

e. penemuan tentang teori dan metode di bidang ilmu pengetahuan dan matematika. 6. Ketentuan Pasal 9 ayat (1) diubah, sehingga keseluruhan Pasal 9 berbunyi sebagai berikut: Pasal 9 (1) Paten diberikan untuk jangka waktu selama 20 (dua puluh) tahun terhitung sejak tanggal penerimaan permintaan paten. (2) Tanggal mulai dan berakhirnya jangka waktu paten dicatat dalam Daftar Umum Paten dan diumumkan dalam Berita Resmi Paten. 7. Ketentuan Pasal 10 diubah, sehingga berbunyi sebagai berikut: Pasal 10 Paten sederhana diberikan untuk jangka waktu selama 10 (sepuluh) tahun terhitung sejak tanggal diberikannya Surat Paten Sederhana. 8. Ketentuan Pasal 17 diubah, sehingga keseluruhan Pasal 17 berbunyi sebagai berikut: Pasal 17 (1) Pemegang Paten memiliki hak khusus untuk melaksanakan paten yang dimilikinya, dan melarang orang lain yang tanpa persetujuannya:

a. dalam hal paten produk: membuat, menjual, mengimpor, menyewakan, menyerahkan, memakai, menyediakan untuk dijual atau disewakan atau diserahkan hasil produksi yang diberi paten;

b. dalam hal paten proses: menggunakan proses produksi yang diberi paten untuk membuat barang dan tindakan lainnya sebagaimana dimaksud dalam huruf a. (2) Dalam (2) Dalam hal paten proses, larangan terhadap orang lain yang tanpa persetujuannya melakukan impor sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) hanya berlaku terhadap impor produk yang semata-mata dihasilkan dari penggunaan paten proses yang bersangkutan. 9. Ketentuan Pasal 18 diubah dengan menambahkan ketentuan baru yang dijadikan ayat (2) dan ayat (3), sehingga keseluruhan Pasal 18 berbunyi sebagai berikut: Pasal 18 (1) Pemenang Paten wajib melaksanakan patennya di wilayah Negara Republik Indonesia. (2) Dikecualikan dari kewajiban sebagai mana dimaksud dalam ayat

(1) apabila pelaksanaan paten tersebut secara ekonomi hanya layak bila dibuat dengan skala regional. (3) Pengecualian sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) hanya dapat disetujui Kantor Paten apabila diajukan permintaan tertulis oleh Pemegang Paten dengan disertai alasan dan bukti-bukti yang diberikan oleh instansi yang berwenang. (4) Syarat-syarat mengenai pengecualian dan tata cara pengajuan permintaan tertulis sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. 10. Ketentuan Pasal 21 diubah, sehingga berbunyi sebagai berikut: Pasal 21 Dalam hal suatu produk diimpor ke Indonesia dan proses untuk membuat produk yang bersangkutan telah dilindungi paten berdasarkan Undang-undang ini, maka Pemegang Paten proses yang bersangkutan berhak atas dasar ketentuan Pasal 17 ayat (2) melakukan upaya hukum terhadap produk yang diimpor tersebut, apabila produk tersebut telah dibuat di Indonesia dengan menggunakan proses yang dilindungi paten. 11. Ketentuan Pasal 22 dihapus. 12. Ketentuan Pasal 33 ayat (2) diubah, sehingga keseluruhan Pasal 33 berbunyi sebagai berikut: Pasal 33… Pasal 33 (1) Permintaan paten dianggap diajukan pada tanggal penerimaan surat permintaan paten oleh Kantor Paten, setelah diselesaikannya pembayaran biaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25. (2)

Tanggal penerimaan permintaan paten adalah tanggal pada saat Kantor Paten menerima surat permintaan paten yang telah memenuhi syarat-syarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30. (3) Tanggal penerimaan surat permintaan paten dicatat secara khusus oleh Kantor Paten. 13. Ketentuan Pasal 39 ayat (1) diubah, sehingga keseluruhan Pasal 39 berbunyi sebagai berikut: Pasal 39 (1) Permintaan paten dapat diubah dengan cara menambah atau mengurangi jumlah klaim dengan ketentuan bahwa perubahan tersebut tidak boleh menambahkan hal yang baru sehingga memperluas lingkup penemuan yang telah diajukan dalam permintaan semula. (2) Perubahan permintaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dianggap diajukan pada tanggal yang sama dengan permintaan semula. 14. Ketentuan Pasal 40 ayat (1) diubah, sehingga keseluruhan Pasal 40 berbunyi sebagai berikut: Pasal 40 (1) Perubahan permintaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 39 dapat diajukan secara terpisah dalam satu permintaan atau lebih, tetapi dengan ketentuan bahwa lingkup perlindungan yang dimintakan dalam setiap permintaan tersebut tidak boleh menambahkan hal yang baru sehingga memperluas lingkup perlindungan yang telah diajukan dalam permintaan semula. (2) Dalam hal perubahan tersebut berupa pemecahan permintaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), permintaan tersebut dianggap diajukan pada tanggal yang sama dengan tanggal pengajuan permintaan semula. 15. Ketentuan… 15. Ketentuan Pasal 42 dihapus. 16. Ketentuan Pasal 43 dihapus. 17. Ketentuan Pasal 44 dihapus. 18. Ketentuan Pasal 47 diubah, sehingga keseluruhan Pasal 47 berbunyi sebagai berikut: Pasal 47 (1) Kantor Paten mengumumkan permintaan paten yang telah memenuhi ketentuan Pasal 29 dan Pasal 30 serta permintaan tidak ditarik kembali. (2) Pengumuman dilakukan:

a. 18 (delapan belas) bulan setelah tanggal penerimaan permintaan paten; atau

b. 18 (delapan belas) bulan setelah tanggal penerimaan permintaan paten yang pertama kali apabila permintaan paten diajukan dengan hak prioritas. 19. Ketentuan Pasal 49 huruf b dihapus dan ditambahkan dua ketentuan baru yang dijadikan huruf f dan g, sehingga keseluruhan Pasal 49 berbunyi sebagai berikut: Pasal 49 Pengumuman dilakukan dengan mencantumkan:

a. nama dan alamat lengkap penemu atau yang berhak atas penemuan dan kuasa apabila permintaan diajukan melalui kuasa;

b. dihapus;

c. judul penemuan;

d. tanggal pengajuan permintaan paten atau dalam hal permintaan paten dengan hak prioritas: tanggal, nomor dan negara di mana permintaan paten yang pertama kali diajukan;

e. abstrak;

f. klasifikasi penemuan;

g. gambar, jika ada. 20. Ketentuan… 20. Ketentuan Pasal 56 diubah dengan menambah ketentuan baru yang dijadikan ayat (4), sehingga keseluruhan Pasal 56 berbunyi sebagai berikut: Pasal 56 (1) Permintaan untuk dilakukannya pemeriksaan substantif harus diajukan paling lambat dalam waktu 36 (tiga puluh enam) bulan sejak tanggal penerimaan permintaan paten, tetapi tidak lebih awal dari tanggal berakhirnya pengumuman sebagaimana dimaksud dalam Pasal 48. (2) Apabila permintaan pemeriksaan tidak dilakukan setelah batas waktu sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) lewat, atau biaya untuk itu tidak dibayar, permintaan paten dianggap telah ditarik kembali. (3) Kantor Paten memberitahukan secara tertulis anggapan mengenai ditariknya kembali permintaan paten tersebut kepada orang yang mengajukan permintaan paten, dengan tembusan kepada penemu atau yang berhak atas penemuan apabila permintaan paten diajukan oleh kuasanya. (4) Pemeriksaan substantif yang diajukan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) baru dilaksanakan Kantor Paten setelah berakhirnya masa pengumuman tersebut. 21. Ketentuan Pasal 58 diubah, sehingga keseluruhan Pasal 58 berbunyi sebagai berikut: Pasal 58 (1) Untuk keperluan pemeriksaan substantif, Kantor Paten dapat meminta bantuan ahli dan atau menggunakan fasilitas yang diperlukan kepada instansi Pemerintah lainnya atau pemeriksa Paten pada Kantor Paten lain. 2) Penggunaan bantuan ahli atau fasilitas atau Pemeriksa Paten pada Kantor Paten lain sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tetap dilakukan dengan memperhatikan ketentuan mengenai kewajiban untuk menjaga kerahasiaan penemuan yang dimintakan paten. 22. Ketentuan Pasal 59 diubah, sehingga keseluruhan Pasal 59 berbunyi sebagai berikut: Pasal 59… Pasal 59 (1) Pemeriksaan substantif dilaksanakan oleh Pemeriksa Paten sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 5. (2) Pemeriksa Paten pada Kantor Paten berkedudukan sebagai pejabat fungsional yang diangkat dan diberhentikan oleh Menteri berdasarkan syarat-syarat tertentu. (3) Kepada Pemeriksa Paten sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) diberikan jenjang dan tunjangan fungsional di samping hak lainnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 23. Ketentuan Pasal 60 ayat (2) diubah, sehingga keseluruhan Pasal 60 berbunyi sebagai berikut: Pasal 60 (1) Dalam hal Pemeriksaan Paten melaporkan bahwa penemuan yang dimintakan paten ternyata mengandung ketidakjelasan atau kekurangan lain yang dinilai penting, Kantor Paten memberitahukan secara tertulis hasil pemeriksaan tersebut kepada orang yang mengajukan permintaan paten. (2) Pemberitahuan hasil pemeriksaan harus secara jelas dan rinci mencantumkan hal yang dinilai tidak jelas atau kekurangan lain yang dinilai penting dengan disertai alasan dan acuan atau referensi yang digunakan dalam pemeriksaan berikut jangka waktu pemenuhannya. (3) Apabila setelah pemberitahuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) orang yang mengajukan permintaan paten tidak memberikan penjelasan atau memenuhi kekurangan termasuk melakukan perbaikan atau perubahan terhadap permintaan yang telah diajukannya dalam waktu yang ditentukan, Kantor Paten menolak permintaan paten tersebut. 24. Ketentuan Pasal 61 diubah, sehingga berbunyi sebagai berikut: Pasal 61 Kantor Paten berkewajiban memberikan keputusan untuk menyetujui permintaan paten dan dengan demikian memberi paten, atau menolaknya, dalam waktu selambat-lambatnya 36 (tiga puluh enam) bulan terhitung sejak tanggal diterimanya surat permintaan pemeriksaan substantif. 25. Ketentuan Pasal 62 ayat (1) diubah, sehingga keseluruhan Pasal 62 berbunyi sebagai berikut: Pasal 62 (1) Apabila hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh Pemeriksa Paten menunjukkan bahwa penemuan yang dimintakan paten tidak memenuhi ketentuan Pasal 2, Pasal 3, Pasal 5, Pasal 30 ayat (1) dan ayat (2), Pasal 39, dan Pasal 60, atau merupakan penemuan yang dikecualikan berdasarkan ketentuan Pasal 7, Kantor Paten harus menolak permintaan paten tersebut dan memberitahukannya secara tertulis kepada orang yang mengajukan permintaan paten. (2) Dalam hal permintaan paten yang diajukan oleh kuasa, maka salinan surat pemberitahuan sebagaimana dimaksud dalam ayat

(1) diberikan pula kepada penemu atau yang berhak atas penemuan tersebut. (3) Surat Pemberitahuan yang berisikan penolakan permintaan paten harus dengan jelas mencantumkan pula alasan dan pertimbangan yang menjadi dasar penolakan. 26. Ketentuan Pasal 63 dihapus. 27. Ketentuan Pasal 71 ayat (1) dirubah, sehingga keseluruhan Pasal 71 berbunyi sebagai berikut: Pasal 71 (1) Permintaan banding mulai diperiksa oleh Komisi Banding Paten selambat-lambatnya 3 (tiga) bulan sejak tanggal penerimaan permintaan banding. (2) Keputusan Komisi Banding Paten bersifat final. (3) Dalam hal Komisi Banding Paten menerima permintaan banding, Kantor Paten memberikan Surat Paten sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini. (4) Apabila Komisi Banding Paten menolak permintaan banding, Kantor Paten segera memberitahukan penolakan tersebut. 28. Ketentuan Pasal 79 diubah dengan menyisipkan ketentuan baru yang dijadikan ayat (1a), sehingga keseluruhan Pasal 79 berbunyi sebagai berikut: Pasal 79… Pasal 79 (1) Perjanjian lisensi wajib dicatatkan pada Kantor Paten dan dimuat dalam daftar Umum Paten dengan membayar biaya yang besarnya ditetapkan dengan Keputusan Menteri.

(1a) Dalam hal perjanjian lisensi tidak dicatatkan di Kantor Paten sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), maka perjanjian lisensi tersebut tidak mempunyai akibat hukum terhadap pihak ketiga. (2) syarat dan tata cara pencatatan perjanjian lisensi diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. 29. Ketentuan Pasal 82 diubah dengan menyisipkan ketentuan baru yang dijadikan ayat (2a), sehingga keseluruhan Pasal 82 berbunyi sebagai berikut: Pasal 82 (1) Setiap orang setelah lewat jangka waktu 36 (tiga puluh enam) bulan terhitung sejak tanggal pemberian paten, dapat, mengajukan permintaan Lisensi Wajib kepada pengadilan negeri untuk melaksanakan paten yang bersangkutan. (2) Permintaan Lisensi Wajib sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) hanya dapat dilakukan dengan alasan bahwa paten yang bersangkutan tidak dilaksanakan di Indonesia oleh Pemegang Paten padahal kesempatan untuk melaksanakannya secara komersial sepatutnya ditempuh.

(2a) Permintaan Lisensi Wajib dapat pula diajukan setiap saat setelah paten diberikan atas dasar alasan bahwa paten telah dilaksanakan oleh Pemegang Paten atau Pemegang Lisensinya dalam bentuk dan dengan cara yang merugikan kepentingan masyarakat. (3) Dengan memperhatikan kemampuan dan perkembangan keadaan, Pemerintah dapat menetapkan bahwa pada tahap awal pelaksanaan Undang-undang ini permintaan Lisensi Wajib, diajukan kepada pengadilan negeri tertentu. 30. Ketentuan Pasal 83 ayat (1) diubah, sehingga keseluruhan Pasal 83 berbunyi sebagai berikut: Pasal 83… Pasal 83 (1) Selain kebenaran alasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 82 ayat (2), Lisensi Wajib hanya dapat diberikan apabila:

a. orang yang mengajukan permintaan tersebut dapat menunjukkan bukti yang menyakinkan bahwa ia: 1) mempunyai kemampuan untuk melaksanakan sendiri paten yang bersangkutan secara penuh. 2) mempunyai sendiri fasilitas untuk melaksanakan paten yang bersangkutan secepatnya. 3) telah berusaha mengambil langkah-langkah dalam jangka waktu yang cukup untuk mendapatkan lisensi dari Pemegang Paten atas dasar persyaratan dan kondisi yang wajar, tetapi tidak memperoleh hasil.

b. pengadilan negeri berpendapat bahwa paten tersebut dapat dilaksanakan di Indonesia dalam skala ekonomi yang layak dan dapat memberi kemanfaatan kepada sebagian besar masyarakat. (2) Pemeriksaan atas permintaan Lisensi Wajib dilakukan oleh pengadilan negeri dalam suatu persidangan dengan mendengarkan pula pendapat ahli dari Kantor Paten dan Pemegang Paten yang bersangkutan. (3) Lisensi Wajib diberikan untuk jangka waktu yang tidak lebih lama dari jangka waktu pelaksanaan paten yang diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. 31. Ketentuan Pasal 84 diubah, sehingga berbunyi sebagai berikut: Pasal 84 Apabila berdasarkan bukti serta pendapat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 83 pengadilan negeri memperoleh keyakinan bahwa jangka waktu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 82 belum cukup bagi Pemegang Paten untuk melaksanakannya secara komersial di Indonesia, atau dalam lingkup wilayah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (2) pengadilan negeri dapat menetapkan penundaan untuk sementara waktu proses persidangan tersebut atau menolaknya. 32. Ketentuan Pasal 86 diubah dengan menambahkan dua ketentuan baru yang dijadikan huruf a dan huruf g, sehingga keseluruhan Pasal 86 berbunyi sebagai berikut: Pasal 86… Pasal 86 Dalam putusan pengadilan negeri mengenai pemberian Lisensi Wajib dicantumkan hal-hal sebagai berikut:

a. Lisensi Wajib bersifat non-eksklusif;

b. alasan pemberian Lisensi Wajib;

c. bukti termasuk keterangan atau penjelasan yang diyakini untuk dijadikan dasar pemberian Lisensi Wajib;

d. jangka waktu Lisensi Wajib;

e. besarnya royalti yang harus dibayarkan Pemegang Lisensi Wajib kepada Pemegang Paten dan cara pembayarannya;

f. syarat berakhirnya Lisensi Wajib dan hal yang dapat membatalkannya;

g. Lisensi Wajib semata-mata digunakan untuk memenuhi kebutuhan pasar di dalam negeri;

h. lain-lain yang diperlukan untuk menjaga kepentingan para pihak yang bersangkutan secara adil. 33. Ketentuan Pasal 88 diubah dengan menyisipkan ketentuan baru yang dijadikan ayat (2a), sehingga keseluruhan Pasal 88 berbunyi sebagai berikut: Pasal 88 (1) Lisensi Wajib dapat pula sewaktu-waktu dimintakan oleh Pemegang Paten atas dasar alasan bahwa pelaksanaan patennya tidak mungkin dapat dilakukan tanpa melanggar paten lainnya yang telah ada. (2) Permintaan Lisensi Wajib sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) hanya dapat dipertimbangkan apabila paten yang akan dilaksanakan benar-benar mengandung unsur pembaharuan teknologi yang nyata-nyata lebih maju daripada paten yang telah ada tersebut.

(2a) Dalam hal Lisensi Wajib diajukan atas dasar alasan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) maka:

a. Pemegang Paten berhak untuk saling memberikan Lisensi untuk menggunakan paten pihak lainnya berdasarkan persyaratan yang wajar.

b. penggunaan

b. penggunaan paten oleh Pemegang Lisensi tidak dapat dialihkan kecuali bila dialihkan bersama-sama dengan paten lainnya. (3) Ketentuan mengenai pengajuan permintaan kepada pengadilan negeri, pembayaran royalti, isi putusan pengadilan, pendaftaran dan pencatatan, serta jangka waktu atau pembatalan Lisensi Wajib yang diatur dalam Bagian Ketiga Bab ini berlaku pula dalam hal permintaan Lisensi Wajib sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2), kecuali ketentuan mengenai jangka waktu pengajuan permintaan sebagaimana diatur dalam Pasal 82 ayat (1). 34. Ketentuan Pasal 89 ayat (3) diubah, sehingga keseluruhan Pasal 89 berbunyi sebagai berikut: Pasal 89 (1) Atas permintaan Pemegang Paten, pengadilan negeri dapat membatalkan Lisensi Wajib yang semula diberikannya apabila:

a. alasan yang dijadikan dasar bagi pemberian Lisensi Wajib tidak ada lagi;

b. Penerima Lisensi Wajib ternyata tidak melaksanakan Lisensi Wajib tersebut atau tidak melakukan usaha persiapan yang sepantasnya untuk segera melaksanakannya;

c. Penerima Lisensi Wajib tidak lagi mentaati syarat dan ketentuan lainnya termasuk kewajiban pembayaran royalti yang ditetapkan dalam pemberian Lisensi Wajib. (2) Dalam hal pengadilan negeri memutuskan pembatalan Lisensi Wajib, selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari sejak tanggal putusan pengadilan negeri wajib menyampaikan salinan putusan tersebut kepada Kantor Paten untuk dicatat dalam Daftar Umum Paten dan diumumkan dalam Berita Resmi Paten. (3) Kantor Paten wajib memberitahukan pencatatan dan pengumuman putusan pengadilan negeri sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) kepada Pemegang Paten, Pemegang Lisensi Wajib yang dibatalkan dan pengadilan negeri yang memutuskan pembatalan tersebut selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari sejak Kantor Paten menerima salinan putusan pengadilan negeri tersebut. 35. Ketentuan Pasal 92 ayat (1) dan ayat (2) diubah, sehingga keseluruhan Pasal 92 berbunyi sebagai berikut: Pasal 92… Pasal 92 (1) Lisensi Wajib tidak dapat dialihkan kecuali jika dilakukan bersamaan dengan pengalihan kegiatan atau bagian kegiatan usaha yang menggunakan paten yang bersangkutan atau karena pewarisan. (2) Lisensi Wajib yang beralih karena pewarisan tetap terikat oleh syarat pemberiannya dan ketentuan lainnya terutama mengenai jangka waktu dan harus dilaporkan kepada Kantor Paten untuk dicatat dan dimuat dalam Daftar Umum Paten. 36. Ketentuan Pasal 94 diubah, sehingga berbunyi sebagai berikut: Pasal 94 Paten dinyatakan batal demi hukum oleh Kantor Paten apabila Pemegang Paten tidak memenuhi kewajibannya membayar biaya tahunan dalam jangka waktu yang ditentukan dalam Undang-undang ini. 37. Ketentuan Pasal 97 ayat (1) diubah, sehingga keseluruhan Pasal 97 berbunyi sebagai berikut: Pasal 97 (1) Gugatan pembatalan paten dapat dilakukan dalam hal:

a. menurut ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 dan Pasal 7, paten tersebut seharusnya tidak diberikan;

b. paten tersebut sama dengan paten lain yang telah diberikan kepada orang lain untuk penemuan yang sama berdasarkan Undang-undang ini;

c. pemberian Lisensi Wajib ternyata tidak mampu mencegah terus berlangsungnya pelaksanaan paten dalam bentuk dan dengan cara yang merugikan kepentingan masyarakat dalam jangka waktu 2 (dua) tahun sejak tanggal pemberian Lisensi Wajib yang bersangkutan atau tanggal pemberian Lisensi Wajib yang pertama dalam hal diberikan beberapa Lisensi Wajib. (2) Gugatan pembatalan karena alasan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a diajukan pihak ketiga kepada Pemegang Paten melalui Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. (3) Gugatan (3) Gugatan pembatalan karena alasan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf b dapat diajukan Pemegang Paten atau Pemegang Lisensi kepada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat agar paten lain yang sama dengan patennya dibatalkan. (4) Gugatan pembatalan karena alasan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf c dapat diajukan oleh Penuntut Umum kepada Pemegang Paten atau Pemegang Lisensi Wajib melalui Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. 38. Ketentuan Pasal 102 diubah, sehingga keseluruhan Pasal 102 berbunyi sebagai berikut: Pasal 102 (1) Pemegang Lisensi dari paten yang dibatalkan karena alasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 97 ayat (1) huruf b tetap berhak malaksanakan lisensi yang dimilikinya sampai dengan berakhirnya jangka waktu yang ditetapkan dalam perjanjian lisensi. (2) Pemegang Lisensi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak lagi wajib meneruskan pembayaran royalti yang seharusnya masih wajib dilakukannya kepada Pemegang Paten yang patennya dibatalkan, tetapi wajib membayar royalti untuk sisa jangka waktu lisensi yang dimilikinya kepada Pemegang Paten yang sebenarnya berhak. 39. Ketentuan Pasal 110 diubah dengan menambahkan ketentuan baru yang dijadikan ayat (3), sehingga keseluruhan Pasal 110 berbunyi sebagai berikut: Pasal 110 (1) Paten Sederhana hanya diberikan untuk satu klaim. (2) Terhadap permintaan Paten Sederhana langsung dilakukan pemeriksaan yang bersifat substantif. (3) Dalam melakukan pemeriksaan substantif, Kantor Paten hanya memeriksa syarat kebaruan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2). 40. Ketentuan Pasal 114 ayat (2) diubah, sehingga keseluruhan Pasal 112 berbunyi sebagai berikut: Pasal 112… Pasal 112 (1) Jangka waktu Paten Sederhana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 tidak dapat diperpanjang. (2) Untuk Paten Sederhana tidak dapat dimintakan Lisensi Wajib. 41. Ketentuan Pasal 114 ayat (1) diubah, sehingga keseluruhan Pasal 114 berbunyi sebagai berikut: Pasal 114 (1) Untuk setiap pengajuan permintaan paten, permintaan pemeriksaan substantif, Surat Keterangan Pemakai Terdahulu, petikan Daftar Umum Paten dan salinan Surat Paten, salinan Dokumen Paten, pencatatan pengalihan paten, pencatatan Surat Perjanjian Lisensi, pendaftaran Lisensi Wajib, serta lain-lainnya yang ditentukan dalam Undang-undang ini, wajib membayar biaya yang besarnya ditetapkan dengan Keputusan Menteri. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan, jangka waktu dan tata cara pembayaran biaya sebagaimana dimaksud dalam ayat

(1) diatur dengan Keputusan Menteri. 42. Ketentuan Pasal 116 ayat (1) dan ayat (2) diubah, sehingga keseluruhan Pasal 116 berbunyi sebagai berikut: Pasal 116 (1) Apabila selama 3 (tiga) tahun berturut-turut Pemegang Paten tidak membayar biaya tahunan sebagaimana ditentukan dalam Pasal 19 dan Pasal 115, maka paten dinyatakan batal demi hukum terhitung sejak tanggal yang menjadi akhir batas waktu kewajiban pembayaran untuk tahun ketiga tersebut. (2) Apabila tidak dipenuhi kewajiban pembayaran biaya tahunan tersebut berkaitan dengan kewajiban pembayaran biaya tahunan untuk tahun kedelapan belas dan tahun-tahun berikutnya, maka paten dianggap berakhir pada akhir batas waktu kewajiban pembayaran biaya tahunan untuk tahun yang kedelapan belas tersebut. (3) Berakhirnya jangka waktu paten karena alasan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dicatat dalam Daftar Umum Paten dan diumumkan dalam Berita Resmi Paten. 43. Judul… 43. Judul Bab XI menjadi "Hak Menggugat dan ketentuan Pasal 121 diubah dengan menyisipkan ketentuan baru yang dijadikan ayat (1a), sehingga judul Bab XI dan keseluruhan Pasal 121 berbunyi sebagai berikut: BAB XI HAK MENGGUGAT Pasal 121 (1) Jika suatu paten diberikan kepada orang lain selain daripada orang yang berdasarkan Pasal 11, Pasal 12, dan Pasal 13 berhak atas paten tersebut, maka orang yang berhak atas paten tersebut dapat menggugat ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat supaya paten yang bersangkutan berikut hak-hak yang melekat pada paten tersebut diserahkan kepadanya untuk seluruhnya atau untuk sebagian ataupun untuk dimiliki bersama.

(1a) Hak menggugat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berlaku surut sejak tanggal penerimaan paten. (2) Salinan putusan atas gugatan sebagaimana dimaksud dalam ayat

(1) oleh Panitera Pengadilan Negeri Jakarta Pusat segera disampaikan kepada Kantor Paten untuk selanjutnya dicatat dalam Daftar Umum Paten dan diumumkan dalam Berita Resmi Paten. 44. Ketentuan Pasal 122 diubah dengan menyisipkan ketentuan baru yang dijadikan ayat (1a) dan mengubah ayat (3) sehingga keseluruhan Pasal 122 berbunyi sebagai berikut: Pasal 122 (1) Pemegang Paten atau Pemegang Lisensi berhak menggugat ganti rugi melalui pengadilan negeri setempat, kepada siapapun, yang dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 terhadap haknya.

(1a) Pengadilan negeri dapat menolak gugatan ganti rugi termasuk penggantian terhadap keuntungan yang seharusnya diperoleh, apabila tergugat dapat membuktikan bahwa ia tidak mengetahui atau memiliki alasan yang kuat tentang ketidaktahuannya bahwa ia telah melanggar paten milik orang lain yang dilindungi di Indonesia. (2) Gugatan (2) Gugatan ganti rugi yang diajukan terhadap perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 97 ayat (1) huruf b hanya dapat diterima apabila hasil produksi itu terbukti dibuat dengan menggunakan penemuan yang telah diberi paten tersebut. (3) Putusan pengadilan negeri tentang gugatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), ayat (1a), dan ayat (2) oleh panitera pengadilan negeri yang bersangkutan segera disampaikan kepada Kantor Paten untuk selanjutnya dicatat dalam Daftar Umum Paten dan diumumkan dalam Berita Resmi Paten." 45. Di antara Pasal 123 dan Pasal 124 disisipkan Pasal 123A, sebagai berikut: Pasal 123A (1) Dalam pemeriksaan perkara pelanggaran terhadap proses yang dipatenkan, kewajiban pembuktian bahwa suatu produk tidak dihasilkan dengan menggunakan proses yang dipatenkan tersebut, dibebankan kepada pihak yang diduga melakukan pelanggaran apabila:

a. produk yang dihasilkan melalui proses yang dipatenkan tersebut merupakan produk baru;

b. terdapat kemungkinan bahwa produk tersebut dihasilkan dari proses yang dipatenkan; dan

c. sekalipun telah dilakukan upaya yang cukup untuk itu Pemegang Paten tidak dapat menentukan proses apa yang digunakan untuk menghasilkan produk yang diduga merupakan hasil pelanggaran. (2) Untuk kepentingan pembuktian dalam perkara pelanggaran sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) hakim berwenang:

a. memerintahkan pemilik paten untuk terlebih dahulu menyampaikan salinan surat paten bagi proses yang bersangkutan, dan bukti awal yang memperkuat dugaannya tentang pelanggaran atas paten yang dimilikinya; dan

b. memerintahkan pihak yang diduga melakukan pelanggaran untuk membuktikan bahwa produk yang dihasilkan tersebut tidak menggunakan proses yang dipatenkan. (3) Dalam (3) Dalam pemeriksaan perkara pelanggaran paten sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2), hakim wajib mempertimbangkan kepentingan pihak yang diduga melakukan pelanggaran untuk memperoleh perlindungan terhadap kerahasiaan proses yang telah diuraikannya dalam rangka pembuktian dipersidangan." 46. Di antara Pasal 128 dan Pasal 129 disisipkan Pasal 128A, sebagai berikut: Pasal 128A Dalam hal terbukti adanya pelanggaran paten, maka hakim dapat memerintahkan agar barang-barang hasil pelanggaran paten tersebut dirampas untuk negara guna dimusnahkan." 47. Ketentuan Pasal 130 ayat (2) diubah dan ayat (3) dipecah menjadi ayat (3) baru dan ayat (4), sehingga keseluruhan Pasal 130 berbunyi sebagai berikut: Pasal 130 (1) Selain Penyidik Pejabat Negara Republik Indonesia, juga Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan departemen yang lingkup tugas dan tanggung jawabnya meliputi pembinaan paten, diberi wewenang khusus sebagai penyidik sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana, untuk melakukan penyidikan tindak pidana di bidang paten. (2) Penyidik Pejabat Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berwenang:

a. melakukan pemeriksaan atas kebenaran laporan atau keterangan berkenaan dengan tindak pidana di bidang paten;

b. melakukan pemeriksaan terhadap orang atau badan hukum yang diduga melakukan tindak pidana di bidang paten;

c. meminta keterangan dan bahan bukti dari orang atau badan hukum sehubungan dengan peristiwa tindak pidana di bidang paten;

d. melakukan pemeriksaan atas pembukuan, pencatatan dan dokumen lain berkenaan dengan tindak pidana di bidang paten;

e. melakukan

e. melakukan pemeriksaan di tempat tertentu yang diduga terdapat bahan bukti pembukuan, pencatatan dan dokumen lain serta melakukan penyitaan terhadap bahan dan barang hasil pelanggaran yang dapat dijadikan bukti dalam tindak pidana di bidang paten; dan

f. meminta bantuan ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan tindak pidana di bidang paten. (3) Penyidik Pejabat Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) memberitahukan dimulainya penyidikan dan melaporkan hasil penyidikannya kepada Penyidik Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia. (4) Penyidik Pejabat Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) menyampaikan hasil penyidikan kepada Penuntut Umum melalui Penyidik Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia dengan mengingat ketentuan Pasal 107 Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana.

PASAL II

BAB XI: HAK MENGGUGAT
(1)
Terhitung mulai tanggal berlakunya Undang-undang ini, paten
dan
Paten
Sederhana
yang
telah
diberikan
berdasarkan
Undang-undang Nomor 6 Tahun 1989 tentang Paten dinyatakan
berlaku untuk jangka waktu 20 (dua puluh) tahun dan terhitung
sejak tanggal penerimaan permintaan paten dan 10 (sepuluh)
tahun
terhitung
sejak
tanggal
pemberian
Paten
Sederhana
tersebut.
(2)
Terhadap permintaan paten dan Paten Sederhana yang telah
diajukan berdasarkan Undang-undang Nomor 6 Tahun 1989
tentang Paten yang belum memperoleh keputusan Kantor Paten,
apabila diberikan paten, maka jangka waktu perlindungan
diberikan selama 20 (dua puluh) tahun terhitung sejak tanggal
penerimaan permintaan paten dan 10 (sepuluh) tahun terhitung

sejak tanggal pemberian Paten Sederhana tersebut.
(3)
Pelaksanaan penyesuaian jangka waktu 20 (dua puluh) tahun
bagi paten sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diberikan pada
saat pembayaran biaya tahunan untuk paten yang bersangkutan
dengan bentuk yang ditetapkan oleh Menteri.

PASAL III

BAB XI: HAK MENGGUGAT
Naskah pasal.

PASAL 3

bagian dari - Persetujuan
(1)
Suatu penemuan dianggap baru, jika pada saat pengajuan
permintaan paten penemuan tersebut tidak sama atau tidak
merupakan bagian dari penemuan terdahulu.
(2)
Penemuan terdahulu sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
adalah penemuan yang pada saat atau sebelum:
a. tanggal pengajuan permintaan paten, atau
b. tanggal penerimaan permintaan paten dengan hak prioritas
apabila permintaan paten diajukan dengan hak prioritas, telah
diumumkan di Indonesia atau di luar Indonesia dalam suatu
tulisan yang memungkinkan seorang ahli untuk melaksanakan
penemuan tersebut, atau telah diumumkan di Indonesia
dengan
penguraian
lisan
atau
melalui
peragaan
penggunaannya atau dengan cara lain yang memungkinkan
seorang ahli untuk melaksanakan penemuan tersebut.
3.
Ketentuan Pasal 4 diubah, sehingga keseluruhan Pasal 4 berbunyi
sebagai berikut:

PASAL 4

bagian dari - Persetujuan
(1)
Suatu penemuan tidak dianggap telah diumumkan jika dalam
jangka waktu paling lama 6 (enam) bulan sebelum permintaan
paten diajukan:

a. penemuan
a. penemuan itu telah dipertunjukkan dalam suatu pameran
internasional di Indonesia atau di luar negeri yang resmi atau
diakui sebagai resmi atau dalam suatu pameran nasional di
Indonesia yang resmi atau diakui sebagai resmi;
b. penemuan itu telah digunakan di Indonesia oleh penemuannya
dalam
rangka
percobaan
dengan
tujuan
penelitian
dan
pengembangan.
(2)
Penemuan juga tidak dianggap telah diumumkan apabila dalam
jangka waktu 12 (dua belas) bulan sebelum permintaan paten
diajukan, ternyata ada orang lain yang mengumumkan dengan
cara melanggar kewajiban untuk menjaga kerahasiaan penemuan
yang bersangkutan.
4.
Ketentuan Pasal 6 diubah, sehingga keseluruhan Pasal 6 berbunyi
sebagai berikut:

PASAL 6

bagian dari - Persetujuan
(1)
Setiap penemuan berupa produk atau proses yang baru dan
memiliki kualitas penemuan yang sederhana tetapi mempunyai
nilai kegunaan praktis disebabkan karena bentuk, konfigurasi,
konstruksi atau komponennya dapat memperoleh perlindungan
hukum dalam bentuk Paten Sederhana.
(2)
Syarat kebaruan pada penemuan sebagaimana dimaksud dalam
ayat (1) adalah terbatas bagi penemuan sederhana yang dilakukan
di Indonesia.
5.
Ketentuan Pasal 7 diubah dengan menghapus ketentuan huruf b dan
huruf c, sehingga keseluruhan Pasal 7 berbunyi sebagai berikut:

PASAL 7

bagian dari - Persetujuan
Paten tidak diberikan untuk:
a. penemuan tentang proses atau hasil produksi yang pengumuman
dan penggunaan atau pelaksanaannya bertentangan dengan
peraturan perundang-undangan yang berlaku, ketertiban umum
atau kesusilaan;
b. dihapus;
c. dihapus;

d. penemuan…
d. penemuan tentang metode pemeriksaan, perawatan, pengobatan
dan pembedahan yang diterapkan terhadap manusia dan hewan,
tetapi tidak menjangkau produk apapun yang digunakan atau
berkaitan dengan metode tersebut;
e. penemuan tentang teori dan metode di bidang ilmu pengetahuan
dan matematika.
6.
Ketentuan Pasal 9 ayat (1) diubah, sehingga keseluruhan Pasal 9
berbunyi sebagai berikut:

PASAL 9

bagian dari - Persetujuan
(1)
Paten diberikan untuk jangka waktu selama 20 (dua puluh) tahun
terhitung sejak tanggal penerimaan permintaan paten.
(2)
Tanggal mulai dan berakhirnya jangka waktu paten dicatat dalam
Daftar Umum Paten dan diumumkan dalam Berita Resmi Paten.
7.
Ketentuan Pasal 10 diubah, sehingga berbunyi sebagai berikut:

PASAL 10

bagian dari - Persetujuan
Naskah pasal.

PASAL 1 1

bagian dari - Persetujuan
Paten adalah hak khusus yang diberikan Negara kepada penemu
atas hasil penemuannya di bidang teknologi, untuk selama waktu
tertentu
melaksanakan
sendiri
penemuannya
tersebut
atau
memberikan
persetujuannya
kepada
orang
lain
untuk
melaksanakannya.
2. Penemuan adalah kegiatan pemecahan masalah tertentu di bidang
teknologi, yang dapat berupa proses atau hasil produksi atau
penyempurnaan dan pengembangan proses atau hasil produksi.
3. Penemu adalah seorang yang secara sendiri atau beberapa orang
yang
secara
bersama-sama
melaksanakan
kegiatan
yang
menghasilkan penemuan.

4. Pemegang
4. Pemegang Paten adalah penemu sebagai pemilik paten atau orang
yang menerima hak tersebut dari pemilik paten atau orang lain yang
menerima lebih lanjut hak dari orang tersebut di atas, yang terdaftar
dalam Daftar Umum Paten.
5. Pemeriksa Paten adalah pejabat yang karena keahliannya diangkat
oleh Manteri, atau Kantor Paten Internasional untuk melakukan
penelusuran dan pemeriksaan terhadap permintaan paten.
6. Menteri adalah Menteri yang lingkup tugas dan tanggungjawabnya
meliputi pembinaan paten.
7. Kantor Paten adalah satuan organisasi di lingkungan departemen
yang melaksanakan tugas dan kewenangan di bidang paten.
2.
Ketentuan Pasal 3 diubah, sehingga keseluruhan Pasal 3 berbunyi
sebagai berikut:
Pasal 3
(1)
Suatu penemuan dianggap baru, jika pada saat pengajuan
permintaan paten penemuan tersebut tidak sama atau tidak
merupakan bagian dari penemuan terdahulu.
(2)
Penemuan terdahulu sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
adalah penemuan yang pada saat atau sebelum:
a. tanggal pengajuan permintaan paten, atau
b. tanggal penerimaan permintaan paten dengan hak prioritas
apabila permintaan paten diajukan dengan hak prioritas, telah
diumumkan di Indonesia atau di luar Indonesia dalam suatu
tulisan yang memungkinkan seorang ahli untuk melaksanakan
penemuan tersebut, atau telah diumumkan di Indonesia
dengan
penguraian
lisan
atau
melalui
peragaan
penggunaannya atau dengan cara lain yang memungkinkan
seorang ahli untuk melaksanakan penemuan tersebut.
3.
Ketentuan Pasal 4 diubah, sehingga keseluruhan Pasal 4 berbunyi
sebagai berikut:
Pasal 4
(1)
Suatu penemuan tidak dianggap telah diumumkan jika dalam
jangka waktu paling lama 6 (enam) bulan sebelum permintaan
paten diajukan:

a. penemuan
a. penemuan itu telah dipertunjukkan dalam suatu pameran
internasional di Indonesia atau di luar negeri yang resmi atau
diakui sebagai resmi atau dalam suatu pameran nasional di
Indonesia yang resmi atau diakui sebagai resmi;
b. penemuan itu telah digunakan di Indonesia oleh penemuannya
dalam
rangka
percobaan
dengan
tujuan
penelitian
dan
pengembangan.
(2)
Penemuan juga tidak dianggap telah diumumkan apabila dalam
jangka waktu 12 (dua belas) bulan sebelum permintaan paten
diajukan, ternyata ada orang lain yang mengumumkan dengan
cara melanggar kewajiban untuk menjaga kerahasiaan penemuan
yang bersangkutan.
4.
Ketentuan Pasal 6 diubah, sehingga keseluruhan Pasal 6 berbunyi
sebagai berikut:
Pasal 6
(1)
Setiap penemuan berupa produk atau proses yang baru dan
memiliki kualitas penemuan yang sederhana tetapi mempunyai
nilai kegunaan praktis disebabkan karena bentuk, konfigurasi,
konstruksi atau komponennya dapat memperoleh perlindungan
hukum dalam bentuk Paten Sederhana.
(2)
Syarat kebaruan pada penemuan sebagaimana dimaksud dalam
ayat (1) adalah terbatas bagi penemuan sederhana yang dilakukan
di Indonesia.
5.
Ketentuan Pasal 7 diubah dengan menghapus ketentuan huruf b dan
huruf c, sehingga keseluruhan Pasal 7 berbunyi sebagai berikut:
Pasal 7
Paten tidak diberikan untuk:
a. penemuan tentang proses atau hasil produksi yang pengumuman
dan penggunaan atau pelaksanaannya bertentangan dengan
peraturan perundang-undangan yang berlaku, ketertiban umum
atau kesusilaan;
b. dihapus;
c. dihapus;

d. penemuan…
d. penemuan tentang metode pemeriksaan, perawatan, pengobatan
dan pembedahan yang diterapkan terhadap manusia dan hewan,
tetapi tidak menjangkau produk apapun yang digunakan atau
berkaitan dengan metode tersebut;
e. penemuan tentang teori dan metode di bidang ilmu pengetahuan
dan matematika.
6.
Ketentuan Pasal 9 ayat (1) diubah, sehingga keseluruhan Pasal 9
berbunyi sebagai berikut:
Pasal 9
(1)
Paten diberikan untuk jangka waktu selama 20 (dua puluh) tahun
terhitung sejak tanggal penerimaan permintaan paten.
(2)
Tanggal mulai dan berakhirnya jangka waktu paten dicatat dalam
Daftar Umum Paten dan diumumkan dalam Berita Resmi Paten.
7.
Ketentuan Pasal 10 diubah, sehingga berbunyi sebagai berikut:
Pasal 10
Paten sederhana diberikan untuk jangka waktu selama 10 (sepuluh) tahun
terhitung sejak tanggal diberikannya Surat Paten Sederhana.
8.
Ketentuan Pasal 17 diubah, sehingga keseluruhan Pasal 17 berbunyi
sebagai berikut:

PASAL 17

bagian dari - Persetujuan
(1)
Pemegang Paten memiliki hak khusus untuk melaksanakan paten
yang
dimilikinya,
dan
melarang
orang
lain
yang
tanpa
persetujuannya:
a. dalam hal paten produk: membuat, menjual, mengimpor,
menyewakan, menyerahkan, memakai,
menyediakan untuk
dijual atau disewakan atau diserahkan hasil produksi yang
diberi paten;
b. dalam hal paten proses: menggunakan proses produksi yang
diberi paten untuk membuat barang dan tindakan lainnya
sebagaimana dimaksud dalam huruf a.

(2)
Dalam
(2)
Dalam hal paten proses, larangan terhadap orang lain yang tanpa
persetujuannya melakukan impor sebagaimana dimaksud dalam
ayat (1) hanya berlaku terhadap impor produk yang semata-mata
dihasilkan dari penggunaan paten proses yang bersangkutan.
9.
Ketentuan Pasal 18 diubah dengan menambahkan ketentuan baru
yang dijadikan ayat (2) dan ayat (3), sehingga keseluruhan Pasal 18
berbunyi sebagai berikut:

PASAL 18

bagian dari - Persetujuan
(1) Pemenang Paten wajib melaksanakan patennya di wilayah Negara Republik Indonesia. (2) Dikecualikan dari kewajiban sebagai mana dimaksud dalam ayat

(1) apabila pelaksanaan paten tersebut secara ekonomi hanya layak bila dibuat dengan skala regional. (3) Pengecualian sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) hanya dapat disetujui Kantor Paten apabila diajukan permintaan tertulis oleh Pemegang Paten dengan disertai alasan dan bukti-bukti yang diberikan oleh instansi yang berwenang. (4) Syarat-syarat mengenai pengecualian dan tata cara pengajuan permintaan tertulis sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. 10. Ketentuan Pasal 21 diubah, sehingga berbunyi sebagai berikut: Pasal 21 Dalam hal suatu produk diimpor ke Indonesia dan proses untuk membuat produk yang bersangkutan telah dilindungi paten berdasarkan Undang-undang ini, maka Pemegang Paten proses yang bersangkutan berhak atas dasar ketentuan Pasal 17 ayat (2) melakukan upaya hukum terhadap produk yang diimpor tersebut, apabila produk tersebut telah dibuat di Indonesia dengan menggunakan proses yang dilindungi paten. 11. Ketentuan Pasal 22 dihapus. 12. Ketentuan Pasal 33 ayat (2) diubah, sehingga keseluruhan Pasal 33 berbunyi sebagai berikut: Pasal 33… Pasal 33 (1) Permintaan paten dianggap diajukan pada tanggal penerimaan surat permintaan paten oleh Kantor Paten, setelah diselesaikannya pembayaran biaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25. (2)

Tanggal penerimaan permintaan paten adalah tanggal pada saat Kantor Paten menerima surat permintaan paten yang telah memenuhi syarat-syarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30. (3) Tanggal penerimaan surat permintaan paten dicatat secara khusus oleh Kantor Paten. 13. Ketentuan Pasal 39 ayat (1) diubah, sehingga keseluruhan Pasal 39 berbunyi sebagai berikut: Pasal 39 (1) Permintaan paten dapat diubah dengan cara menambah atau mengurangi jumlah klaim dengan ketentuan bahwa perubahan tersebut tidak boleh menambahkan hal yang baru sehingga memperluas lingkup penemuan yang telah diajukan dalam permintaan semula. (2) Perubahan permintaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dianggap diajukan pada tanggal yang sama dengan permintaan semula. 14. Ketentuan Pasal 40 ayat (1) diubah, sehingga keseluruhan Pasal 40 berbunyi sebagai berikut: Pasal 40 (1) Perubahan permintaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 39 dapat diajukan secara terpisah dalam satu permintaan atau lebih, tetapi dengan ketentuan bahwa lingkup perlindungan yang dimintakan dalam setiap permintaan tersebut tidak boleh menambahkan hal yang baru sehingga memperluas lingkup perlindungan yang telah diajukan dalam permintaan semula. (2) Dalam hal perubahan tersebut berupa pemecahan permintaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), permintaan tersebut dianggap diajukan pada tanggal yang sama dengan tanggal pengajuan permintaan semula. 15. Ketentuan… 15. Ketentuan Pasal 42 dihapus. 16. Ketentuan Pasal 43 dihapus. 17. Ketentuan Pasal 44 dihapus. 18. Ketentuan Pasal 47 diubah, sehingga keseluruhan Pasal 47 berbunyi sebagai berikut: Pasal 47 (1) Kantor Paten mengumumkan permintaan paten yang telah memenuhi ketentuan Pasal 29 dan Pasal 30 serta permintaan tidak ditarik kembali. (2) Pengumuman dilakukan:

a. 18 (delapan belas) bulan setelah tanggal penerimaan permintaan paten; atau

b. 18 (delapan belas) bulan setelah tanggal penerimaan permintaan paten yang pertama kali apabila permintaan paten diajukan dengan hak prioritas. 19. Ketentuan Pasal 49 huruf b dihapus dan ditambahkan dua ketentuan baru yang dijadikan huruf f dan g, sehingga keseluruhan Pasal 49 berbunyi sebagai berikut: Pasal 49 Pengumuman dilakukan dengan mencantumkan:

a. nama dan alamat lengkap penemu atau yang berhak atas penemuan dan kuasa apabila permintaan diajukan melalui kuasa;

b. dihapus;

c. judul penemuan;

d. tanggal pengajuan permintaan paten atau dalam hal permintaan paten dengan hak prioritas: tanggal, nomor dan negara di mana permintaan paten yang pertama kali diajukan;

e. abstrak;

f. klasifikasi penemuan;

g. gambar, jika ada. 20. Ketentuan… 20. Ketentuan Pasal 56 diubah dengan menambah ketentuan baru yang dijadikan ayat (4), sehingga keseluruhan Pasal 56 berbunyi sebagai berikut: Pasal 56 (1) Permintaan untuk dilakukannya pemeriksaan substantif harus diajukan paling lambat dalam waktu 36 (tiga puluh enam) bulan sejak tanggal penerimaan permintaan paten, tetapi tidak lebih awal dari tanggal berakhirnya pengumuman sebagaimana dimaksud dalam Pasal 48. (2) Apabila permintaan pemeriksaan tidak dilakukan setelah batas waktu sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) lewat, atau biaya untuk itu tidak dibayar, permintaan paten dianggap telah ditarik kembali. (3) Kantor Paten memberitahukan secara tertulis anggapan mengenai ditariknya kembali permintaan paten tersebut kepada orang yang mengajukan permintaan paten, dengan tembusan kepada penemu atau yang berhak atas penemuan apabila permintaan paten diajukan oleh kuasanya. (4) Pemeriksaan substantif yang diajukan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) baru dilaksanakan Kantor Paten setelah berakhirnya masa pengumuman tersebut. 21. Ketentuan Pasal 58 diubah, sehingga keseluruhan Pasal 58 berbunyi sebagai berikut: Pasal 58 (1) Untuk keperluan pemeriksaan substantif, Kantor Paten dapat meminta bantuan ahli dan atau menggunakan fasilitas yang diperlukan kepada instansi Pemerintah lainnya atau pemeriksa Paten pada Kantor Paten lain. 2) Penggunaan bantuan ahli atau fasilitas atau Pemeriksa Paten pada Kantor Paten lain sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tetap dilakukan dengan memperhatikan ketentuan mengenai kewajiban untuk menjaga kerahasiaan penemuan yang dimintakan paten. 22. Ketentuan Pasal 59 diubah, sehingga keseluruhan Pasal 59 berbunyi sebagai berikut: Pasal 59… Pasal 59 (1) Pemeriksaan substantif dilaksanakan oleh Pemeriksa Paten sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 5. (2) Pemeriksa Paten pada Kantor Paten berkedudukan sebagai pejabat fungsional yang diangkat dan diberhentikan oleh Menteri berdasarkan syarat-syarat tertentu. (3) Kepada Pemeriksa Paten sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) diberikan jenjang dan tunjangan fungsional di samping hak lainnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 23. Ketentuan Pasal 60 ayat (2) diubah, sehingga keseluruhan Pasal 60 berbunyi sebagai berikut: Pasal 60 (1) Dalam hal Pemeriksaan Paten melaporkan bahwa penemuan yang dimintakan paten ternyata mengandung ketidakjelasan atau kekurangan lain yang dinilai penting, Kantor Paten memberitahukan secara tertulis hasil pemeriksaan tersebut kepada orang yang mengajukan permintaan paten. (2) Pemberitahuan hasil pemeriksaan harus secara jelas dan rinci mencantumkan hal yang dinilai tidak jelas atau kekurangan lain yang dinilai penting dengan disertai alasan dan acuan atau referensi yang digunakan dalam pemeriksaan berikut jangka waktu pemenuhannya. (3) Apabila setelah pemberitahuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) orang yang mengajukan permintaan paten tidak memberikan penjelasan atau memenuhi kekurangan termasuk melakukan perbaikan atau perubahan terhadap permintaan yang telah diajukannya dalam waktu yang ditentukan, Kantor Paten menolak permintaan paten tersebut. 24. Ketentuan Pasal 61 diubah, sehingga berbunyi sebagai berikut: Pasal 61 Kantor Paten berkewajiban memberikan keputusan untuk menyetujui permintaan paten dan dengan demikian memberi paten, atau menolaknya, dalam waktu selambat-lambatnya 36 (tiga puluh enam) bulan terhitung sejak tanggal diterimanya surat permintaan pemeriksaan substantif. 25. Ketentuan Pasal 62 ayat (1) diubah, sehingga keseluruhan Pasal 62 berbunyi sebagai berikut: Pasal 62 (1) Apabila hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh Pemeriksa Paten menunjukkan bahwa penemuan yang dimintakan paten tidak memenuhi ketentuan Pasal 2, Pasal 3, Pasal 5, Pasal 30 ayat (1) dan ayat (2), Pasal 39, dan Pasal 60, atau merupakan penemuan yang dikecualikan berdasarkan ketentuan Pasal 7, Kantor Paten harus menolak permintaan paten tersebut dan memberitahukannya secara tertulis kepada orang yang mengajukan permintaan paten. (2) Dalam hal permintaan paten yang diajukan oleh kuasa, maka salinan surat pemberitahuan sebagaimana dimaksud dalam ayat

(1) diberikan pula kepada penemu atau yang berhak atas penemuan tersebut. (3) Surat Pemberitahuan yang berisikan penolakan permintaan paten harus dengan jelas mencantumkan pula alasan dan pertimbangan yang menjadi dasar penolakan. 26. Ketentuan Pasal 63 dihapus. 27. Ketentuan Pasal 71 ayat (1) dirubah, sehingga keseluruhan Pasal 71 berbunyi sebagai berikut: Pasal 71 (1) Permintaan banding mulai diperiksa oleh Komisi Banding Paten selambat-lambatnya 3 (tiga) bulan sejak tanggal penerimaan permintaan banding. (2) Keputusan Komisi Banding Paten bersifat final. (3) Dalam hal Komisi Banding Paten menerima permintaan banding, Kantor Paten memberikan Surat Paten sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini. (4) Apabila Komisi Banding Paten menolak permintaan banding, Kantor Paten segera memberitahukan penolakan tersebut. 28. Ketentuan Pasal 79 diubah dengan menyisipkan ketentuan baru yang dijadikan ayat (1a), sehingga keseluruhan Pasal 79 berbunyi sebagai berikut: Pasal 79… Pasal 79 (1) Perjanjian lisensi wajib dicatatkan pada Kantor Paten dan dimuat dalam daftar Umum Paten dengan membayar biaya yang besarnya ditetapkan dengan Keputusan Menteri.

(1a) Dalam hal perjanjian lisensi tidak dicatatkan di Kantor Paten sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), maka perjanjian lisensi tersebut tidak mempunyai akibat hukum terhadap pihak ketiga. (2) syarat dan tata cara pencatatan perjanjian lisensi diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. 29. Ketentuan Pasal 82 diubah dengan menyisipkan ketentuan baru yang dijadikan ayat (2a), sehingga keseluruhan Pasal 82 berbunyi sebagai berikut: Pasal 82 (1) Setiap orang setelah lewat jangka waktu 36 (tiga puluh enam) bulan terhitung sejak tanggal pemberian paten, dapat, mengajukan permintaan Lisensi Wajib kepada pengadilan negeri untuk melaksanakan paten yang bersangkutan. (2) Permintaan Lisensi Wajib sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) hanya dapat dilakukan dengan alasan bahwa paten yang bersangkutan tidak dilaksanakan di Indonesia oleh Pemegang Paten padahal kesempatan untuk melaksanakannya secara komersial sepatutnya ditempuh.

(2a) Permintaan Lisensi Wajib dapat pula diajukan setiap saat setelah paten diberikan atas dasar alasan bahwa paten telah dilaksanakan oleh Pemegang Paten atau Pemegang Lisensinya dalam bentuk dan dengan cara yang merugikan kepentingan masyarakat. (3) Dengan memperhatikan kemampuan dan perkembangan keadaan, Pemerintah dapat menetapkan bahwa pada tahap awal pelaksanaan Undang-undang ini permintaan Lisensi Wajib, diajukan kepada pengadilan negeri tertentu. 30. Ketentuan Pasal 83 ayat (1) diubah, sehingga keseluruhan Pasal 83 berbunyi sebagai berikut: Pasal 83… Pasal 83 (1) Selain kebenaran alasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 82 ayat (2), Lisensi Wajib hanya dapat diberikan apabila:

a. orang yang mengajukan permintaan tersebut dapat menunjukkan bukti yang menyakinkan bahwa ia: 1) mempunyai kemampuan untuk melaksanakan sendiri paten yang bersangkutan secara penuh. 2) mempunyai sendiri fasilitas untuk melaksanakan paten yang bersangkutan secepatnya. 3) telah berusaha mengambil langkah-langkah dalam jangka waktu yang cukup untuk mendapatkan lisensi dari Pemegang Paten atas dasar persyaratan dan kondisi yang wajar, tetapi tidak memperoleh hasil.

b. pengadilan negeri berpendapat bahwa paten tersebut dapat dilaksanakan di Indonesia dalam skala ekonomi yang layak dan dapat memberi kemanfaatan kepada sebagian besar masyarakat. (2) Pemeriksaan atas permintaan Lisensi Wajib dilakukan oleh pengadilan negeri dalam suatu persidangan dengan mendengarkan pula pendapat ahli dari Kantor Paten dan Pemegang Paten yang bersangkutan. (3) Lisensi Wajib diberikan untuk jangka waktu yang tidak lebih lama dari jangka waktu pelaksanaan paten yang diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. 31. Ketentuan Pasal 84 diubah, sehingga berbunyi sebagai berikut: Pasal 84 Apabila berdasarkan bukti serta pendapat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 83 pengadilan negeri memperoleh keyakinan bahwa jangka waktu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 82 belum cukup bagi Pemegang Paten untuk melaksanakannya secara komersial di Indonesia, atau dalam lingkup wilayah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (2) pengadilan negeri dapat menetapkan penundaan untuk sementara waktu proses persidangan tersebut atau menolaknya. 32. Ketentuan Pasal 86 diubah dengan menambahkan dua ketentuan baru yang dijadikan huruf a dan huruf g, sehingga keseluruhan Pasal 86 berbunyi sebagai berikut: Pasal 86… Pasal 86 Dalam putusan pengadilan negeri mengenai pemberian Lisensi Wajib dicantumkan hal-hal sebagai berikut:

a. Lisensi Wajib bersifat non-eksklusif;

b. alasan pemberian Lisensi Wajib;

c. bukti termasuk keterangan atau penjelasan yang diyakini untuk dijadikan dasar pemberian Lisensi Wajib;

d. jangka waktu Lisensi Wajib;

e. besarnya royalti yang harus dibayarkan Pemegang Lisensi Wajib kepada Pemegang Paten dan cara pembayarannya;

f. syarat berakhirnya Lisensi Wajib dan hal yang dapat membatalkannya;

g. Lisensi Wajib semata-mata digunakan untuk memenuhi kebutuhan pasar di dalam negeri;

h. lain-lain yang diperlukan untuk menjaga kepentingan para pihak yang bersangkutan secara adil. 33. Ketentuan Pasal 88 diubah dengan menyisipkan ketentuan baru yang dijadikan ayat (2a), sehingga keseluruhan Pasal 88 berbunyi sebagai berikut: Pasal 88 (1) Lisensi Wajib dapat pula sewaktu-waktu dimintakan oleh Pemegang Paten atas dasar alasan bahwa pelaksanaan patennya tidak mungkin dapat dilakukan tanpa melanggar paten lainnya yang telah ada. (2) Permintaan Lisensi Wajib sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) hanya dapat dipertimbangkan apabila paten yang akan dilaksanakan benar-benar mengandung unsur pembaharuan teknologi yang nyata-nyata lebih maju daripada paten yang telah ada tersebut.

(2a) Dalam hal Lisensi Wajib diajukan atas dasar alasan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) maka:

a. Pemegang Paten berhak untuk saling memberikan Lisensi untuk menggunakan paten pihak lainnya berdasarkan persyaratan yang wajar.

b. penggunaan

b. penggunaan paten oleh Pemegang Lisensi tidak dapat dialihkan kecuali bila dialihkan bersama-sama dengan paten lainnya. (3) Ketentuan mengenai pengajuan permintaan kepada pengadilan negeri, pembayaran royalti, isi putusan pengadilan, pendaftaran dan pencatatan, serta jangka waktu atau pembatalan Lisensi Wajib yang diatur dalam Bagian Ketiga Bab ini berlaku pula dalam hal permintaan Lisensi Wajib sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2), kecuali ketentuan mengenai jangka waktu pengajuan permintaan sebagaimana diatur dalam Pasal 82 ayat (1). 34. Ketentuan Pasal 89 ayat (3) diubah, sehingga keseluruhan Pasal 89 berbunyi sebagai berikut: Pasal 89 (1) Atas permintaan Pemegang Paten, pengadilan negeri dapat membatalkan Lisensi Wajib yang semula diberikannya apabila:

a. alasan yang dijadikan dasar bagi pemberian Lisensi Wajib tidak ada lagi;

b. Penerima Lisensi Wajib ternyata tidak melaksanakan Lisensi Wajib tersebut atau tidak melakukan usaha persiapan yang sepantasnya untuk segera melaksanakannya;

c. Penerima Lisensi Wajib tidak lagi mentaati syarat dan ketentuan lainnya termasuk kewajiban pembayaran royalti yang ditetapkan dalam pemberian Lisensi Wajib. (2) Dalam hal pengadilan negeri memutuskan pembatalan Lisensi Wajib, selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari sejak tanggal putusan pengadilan negeri wajib menyampaikan salinan putusan tersebut kepada Kantor Paten untuk dicatat dalam Daftar Umum Paten dan diumumkan dalam Berita Resmi Paten. (3) Kantor Paten wajib memberitahukan pencatatan dan pengumuman putusan pengadilan negeri sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) kepada Pemegang Paten, Pemegang Lisensi Wajib yang dibatalkan dan pengadilan negeri yang memutuskan pembatalan tersebut selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari sejak Kantor Paten menerima salinan putusan pengadilan negeri tersebut. 35. Ketentuan Pasal 92 ayat (1) dan ayat (2) diubah, sehingga keseluruhan Pasal 92 berbunyi sebagai berikut: Pasal 92… Pasal 92 (1) Lisensi Wajib tidak dapat dialihkan kecuali jika dilakukan bersamaan dengan pengalihan kegiatan atau bagian kegiatan usaha yang menggunakan paten yang bersangkutan atau karena pewarisan. (2) Lisensi Wajib yang beralih karena pewarisan tetap terikat oleh syarat pemberiannya dan ketentuan lainnya terutama mengenai jangka waktu dan harus dilaporkan kepada Kantor Paten untuk dicatat dan dimuat dalam Daftar Umum Paten. 36. Ketentuan Pasal 94 diubah, sehingga berbunyi sebagai berikut: Pasal 94 Paten dinyatakan batal demi hukum oleh Kantor Paten apabila Pemegang Paten tidak memenuhi kewajibannya membayar biaya tahunan dalam jangka waktu yang ditentukan dalam Undang-undang ini. 37. Ketentuan Pasal 97 ayat (1) diubah, sehingga keseluruhan Pasal 97 berbunyi sebagai berikut: Pasal 97 (1) Gugatan pembatalan paten dapat dilakukan dalam hal:

a. menurut ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 dan Pasal 7, paten tersebut seharusnya tidak diberikan;

b. paten tersebut sama dengan paten lain yang telah diberikan kepada orang lain untuk penemuan yang sama berdasarkan Undang-undang ini;

c. pemberian Lisensi Wajib ternyata tidak mampu mencegah terus berlangsungnya pelaksanaan paten dalam bentuk dan dengan cara yang merugikan kepentingan masyarakat dalam jangka waktu 2 (dua) tahun sejak tanggal pemberian Lisensi Wajib yang bersangkutan atau tanggal pemberian Lisensi Wajib yang pertama dalam hal diberikan beberapa Lisensi Wajib. (2) Gugatan pembatalan karena alasan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a diajukan pihak ketiga kepada Pemegang Paten melalui Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. (3) Gugatan (3) Gugatan pembatalan karena alasan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf b dapat diajukan Pemegang Paten atau Pemegang Lisensi kepada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat agar paten lain yang sama dengan patennya dibatalkan. (4) Gugatan pembatalan karena alasan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf c dapat diajukan oleh Penuntut Umum kepada Pemegang Paten atau Pemegang Lisensi Wajib melalui Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. 38. Ketentuan Pasal 102 diubah, sehingga keseluruhan Pasal 102 berbunyi sebagai berikut: Pasal 102 (1) Pemegang Lisensi dari paten yang dibatalkan karena alasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 97 ayat (1) huruf b tetap berhak malaksanakan lisensi yang dimilikinya sampai dengan berakhirnya jangka waktu yang ditetapkan dalam perjanjian lisensi. (2) Pemegang Lisensi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak lagi wajib meneruskan pembayaran royalti yang seharusnya masih wajib dilakukannya kepada Pemegang Paten yang patennya dibatalkan, tetapi wajib membayar royalti untuk sisa jangka waktu lisensi yang dimilikinya kepada Pemegang Paten yang sebenarnya berhak. 39. Ketentuan Pasal 110 diubah dengan menambahkan ketentuan baru yang dijadikan ayat (3), sehingga keseluruhan Pasal 110 berbunyi sebagai berikut: Pasal 110 (1) Paten Sederhana hanya diberikan untuk satu klaim. (2) Terhadap permintaan Paten Sederhana langsung dilakukan pemeriksaan yang bersifat substantif. (3) Dalam melakukan pemeriksaan substantif, Kantor Paten hanya memeriksa syarat kebaruan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2). 40. Ketentuan Pasal 114 ayat (2) diubah, sehingga keseluruhan Pasal 112 berbunyi sebagai berikut: Pasal 112… Pasal 112 (1) Jangka waktu Paten Sederhana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 tidak dapat diperpanjang. (2) Untuk Paten Sederhana tidak dapat dimintakan Lisensi Wajib. 41. Ketentuan Pasal 114 ayat (1) diubah, sehingga keseluruhan Pasal 114 berbunyi sebagai berikut: Pasal 114 (1) Untuk setiap pengajuan permintaan paten, permintaan pemeriksaan substantif, Surat Keterangan Pemakai Terdahulu, petikan Daftar Umum Paten dan salinan Surat Paten, salinan Dokumen Paten, pencatatan pengalihan paten, pencatatan Surat Perjanjian Lisensi, pendaftaran Lisensi Wajib, serta lain-lainnya yang ditentukan dalam Undang-undang ini, wajib membayar biaya yang besarnya ditetapkan dengan Keputusan Menteri. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan, jangka waktu dan tata cara pembayaran biaya sebagaimana dimaksud dalam ayat

(1) diatur dengan Keputusan Menteri. 42. Ketentuan Pasal 116 ayat (1) dan ayat (2) diubah, sehingga keseluruhan Pasal 116 berbunyi sebagai berikut: Pasal 116 (1) Apabila selama 3 (tiga) tahun berturut-turut Pemegang Paten tidak membayar biaya tahunan sebagaimana ditentukan dalam

PASAL 19

bagian dari - Persetujuan
Naskah pasal.

PASAL 21

bagian dari - Persetujuan
Dalam hal suatu produk diimpor ke Indonesia dan proses untuk membuat
produk
yang
bersangkutan
telah
dilindungi
paten
berdasarkan
Undang-undang ini, maka Pemegang Paten proses yang bersangkutan
berhak atas dasar ketentuan Pasal 17 ayat (2) melakukan upaya hukum
terhadap produk yang diimpor tersebut, apabila produk tersebut telah
dibuat di Indonesia dengan menggunakan proses yang dilindungi paten.
11.
Ketentuan Pasal 22 dihapus.
12.
Ketentuan Pasal 33 ayat (2) diubah, sehingga keseluruhan Pasal 33
berbunyi sebagai berikut:

Pasal 33…
Pasal 33
(1)
Permintaan paten dianggap diajukan pada tanggal penerimaan
surat
permintaan
paten
oleh
Kantor
Paten,
setelah
diselesaikannya pembayaran biaya sebagaimana dimaksud dalam

PASAL 25

bagian dari - Persetujuan
Naskah pasal.

PASAL 33

bagian dari - Persetujuan
(1)
Permintaan paten dianggap diajukan pada tanggal penerimaan
surat
permintaan
paten
oleh
Kantor
Paten,
setelah
diselesaikannya pembayaran biaya sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 25.
(2)
Tanggal penerimaan permintaan paten adalah tanggal pada saat
Kantor Paten menerima surat permintaan paten yang telah
memenuhi syarat-syarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30.
(3)
Tanggal penerimaan surat permintaan paten dicatat secara khusus
oleh Kantor Paten.
13.
Ketentuan Pasal 39 ayat (1) diubah, sehingga keseluruhan Pasal 39
berbunyi sebagai berikut:

PASAL 39

bagian dari - Persetujuan
(1)
Permintaan paten dapat diubah dengan cara menambah atau
mengurangi jumlah klaim dengan ketentuan bahwa perubahan
tersebut tidak boleh menambahkan hal yang baru sehingga
memperluas lingkup penemuan yang telah diajukan dalam
permintaan semula.
(2)
Perubahan permintaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
dianggap diajukan pada tanggal yang sama dengan permintaan
semula.
14.
Ketentuan Pasal 40 ayat (1) diubah, sehingga keseluruhan Pasal 40
berbunyi sebagai berikut:

PASAL 40

bagian dari - Persetujuan
(1)
Perubahan permintaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 39
dapat diajukan secara terpisah dalam satu permintaan atau lebih,
tetapi dengan ketentuan bahwa lingkup perlindungan yang
dimintakan
dalam
setiap
permintaan
tersebut
tidak
boleh
menambahkan hal yang baru sehingga memperluas lingkup
perlindungan yang telah diajukan dalam permintaan semula.
(2)
Dalam hal perubahan tersebut berupa pemecahan permintaan
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), permintaan tersebut
dianggap diajukan pada tanggal yang sama dengan tanggal
pengajuan permintaan semula.

15.
Ketentuan…
15.
Ketentuan Pasal 42 dihapus.
16.
Ketentuan Pasal 43 dihapus.
17.
Ketentuan Pasal 44 dihapus.
18.
Ketentuan Pasal 47 diubah, sehingga keseluruhan Pasal 47 berbunyi
sebagai berikut:

PASAL 47

bagian dari - Persetujuan
(1)
Kantor Paten mengumumkan permintaan paten yang telah
memenuhi ketentuan Pasal 29 dan Pasal 30 serta permintaan
tidak ditarik kembali.
(2)
Pengumuman dilakukan:
a. 18
(delapan
belas)
bulan
setelah
tanggal
penerimaan
permintaan paten; atau
b. 18
(delapan
belas)
bulan
setelah
tanggal
penerimaan
permintaan paten yang pertama kali apabila permintaan paten
diajukan dengan hak prioritas.
19.
Ketentuan Pasal 49 huruf b dihapus dan ditambahkan dua ketentuan
baru yang dijadikan huruf f dan g, sehingga keseluruhan Pasal 49
berbunyi sebagai berikut:

PASAL 49

bagian dari - Persetujuan
Pengumuman dilakukan dengan mencantumkan:
a. nama dan alamat lengkap penemu atau yang berhak atas
penemuan dan kuasa apabila permintaan diajukan melalui kuasa;
b. dihapus;
c. judul penemuan;
d. tanggal pengajuan permintaan paten atau dalam hal permintaan
paten dengan hak prioritas: tanggal, nomor dan negara di mana
permintaan paten yang pertama kali diajukan;
e. abstrak;
f. klasifikasi penemuan;
g. gambar, jika ada.

20.
Ketentuan…
20.
Ketentuan Pasal 56 diubah dengan menambah ketentuan baru yang
dijadikan ayat (4), sehingga keseluruhan Pasal 56 berbunyi sebagai
berikut:

PASAL 56

bagian dari - Persetujuan
(1)
Permintaan untuk dilakukannya pemeriksaan substantif harus
diajukan paling lambat dalam waktu 36 (tiga puluh enam) bulan
sejak tanggal penerimaan permintaan paten, tetapi tidak lebih
awal dari tanggal
berakhirnya pengumuman sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 48.
(2)
Apabila permintaan pemeriksaan tidak dilakukan setelah batas
waktu sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) lewat, atau biaya
untuk itu tidak dibayar, permintaan paten dianggap telah ditarik
kembali.
(3)
Kantor Paten memberitahukan secara tertulis anggapan mengenai
ditariknya kembali permintaan paten tersebut kepada orang yang
mengajukan permintaan paten, dengan tembusan kepada penemu
atau yang berhak atas penemuan apabila permintaan paten
diajukan oleh kuasanya.
(4)
Pemeriksaan substantif yang diajukan sebagaimana dimaksud
dalam
ayat
(1)
baru
dilaksanakan
Kantor
Paten
setelah
berakhirnya masa pengumuman tersebut.
21.
Ketentuan Pasal 58 diubah, sehingga keseluruhan Pasal 58 berbunyi
sebagai berikut:

PASAL 58

bagian dari - Persetujuan
(1)
Untuk keperluan pemeriksaan substantif, Kantor Paten dapat
meminta bantuan ahli dan atau menggunakan fasilitas
yang
diperlukan kepada instansi Pemerintah lainnya atau pemeriksa
Paten pada Kantor Paten lain.
2)
Penggunaan bantuan ahli atau fasilitas atau Pemeriksa Paten pada
Kantor Paten lain sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tetap
dilakukan dengan memperhatikan ketentuan mengenai kewajiban
untuk menjaga kerahasiaan penemuan yang dimintakan paten.
22.
Ketentuan Pasal 59 diubah, sehingga keseluruhan Pasal 59 berbunyi

sebagai berikut:
Pasal 59…

PASAL 59

bagian dari - Persetujuan
(1)
Pemeriksaan substantif
dilaksanakan oleh Pemeriksa Paten
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 5.
(2)
Pemeriksa Paten pada Kantor Paten berkedudukan sebagai
pejabat fungsional yang diangkat dan diberhentikan oleh Menteri
berdasarkan syarat-syarat tertentu.
(3)
Kepada Pemeriksa Paten sebagaimana dimaksud dalam ayat (2)
diberikan jenjang dan tunjangan fungsional di samping hak
lainnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.
23.
Ketentuan Pasal 60 ayat (2) diubah, sehingga keseluruhan Pasal 60
berbunyi sebagai berikut:

PASAL 60

bagian dari - Persetujuan
(1)
Dalam hal Pemeriksaan Paten melaporkan bahwa penemuan
yang dimintakan paten ternyata mengandung ketidakjelasan atau
kekurangan
lain
yang
dinilai
penting,
Kantor
Paten
memberitahukan
secara
tertulis
hasil
pemeriksaan
tersebut
kepada orang yang mengajukan permintaan paten.
(2)
Pemberitahuan hasil pemeriksaan harus secara jelas dan rinci
mencantumkan hal yang dinilai tidak jelas atau kekurangan lain
yang dinilai penting dengan disertai alasan dan acuan atau
referensi yang digunakan dalam pemeriksaan berikut jangka
waktu pemenuhannya.
(3)
Apabila setelah pemberitahuan sebagaimana dimaksud dalam
ayat
(1)
orang
yang
mengajukan
permintaan
paten
tidak
memberikan penjelasan atau memenuhi kekurangan termasuk
melakukan perbaikan atau perubahan terhadap permintaan yang
telah diajukannya dalam waktu yang ditentukan, Kantor Paten
menolak permintaan paten tersebut.
24.
Ketentuan Pasal 61 diubah, sehingga berbunyi sebagai berikut:

PASAL 61

bagian dari - Persetujuan
Kantor Paten berkewajiban memberikan keputusan untuk menyetujui

permintaan paten dan dengan demikian memberi paten, atau menolaknya,
dalam waktu selambat-lambatnya 36 (tiga puluh enam) bulan terhitung
sejak tanggal diterimanya surat permintaan pemeriksaan substantif.
25.
Ketentuan
25.
Ketentuan Pasal 62 ayat (1) diubah, sehingga keseluruhan Pasal 62
berbunyi sebagai berikut:

PASAL 62

bagian dari - Persetujuan
(1)
Apabila hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh Pemeriksa Paten
menunjukkan bahwa penemuan yang dimintakan paten tidak
memenuhi ketentuan Pasal 2, Pasal 3, Pasal 5, Pasal 30 ayat (1)
dan ayat (2), Pasal 39, dan Pasal 60, atau merupakan penemuan
yang dikecualikan berdasarkan ketentuan Pasal 7, Kantor Paten
harus
menolak
permintaan
paten
tersebut
dan
memberitahukannya
secara
tertulis
kepada
orang
yang
mengajukan permintaan paten.
(2)
Dalam hal permintaan paten yang diajukan oleh kuasa, maka
salinan surat pemberitahuan sebagaimana dimaksud dalam ayat
(1) diberikan pula kepada penemu atau yang berhak atas
penemuan tersebut.
(3)
Surat Pemberitahuan yang berisikan penolakan permintaan paten
harus dengan jelas mencantumkan pula alasan dan pertimbangan
yang menjadi dasar penolakan.
26.
Ketentuan Pasal 63 dihapus.
27.
Ketentuan Pasal 71 ayat (1) dirubah, sehingga keseluruhan Pasal 71
berbunyi sebagai berikut:

PASAL 71

bagian dari - Persetujuan
(1)
Permintaan banding mulai diperiksa oleh Komisi Banding Paten
selambat-lambatnya 3 (tiga) bulan sejak tanggal penerimaan
permintaan banding.
(2)
Keputusan Komisi Banding Paten bersifat final.
(3)
Dalam hal Komisi Banding Paten menerima permintaan banding,
Kantor Paten memberikan Surat Paten sebagaimana diatur dalam
Undang-Undang ini.
(4)
Apabila Komisi Banding Paten menolak permintaan banding,
Kantor Paten segera memberitahukan penolakan tersebut.
28.
Ketentuan Pasal 79 diubah dengan menyisipkan ketentuan baru

yang dijadikan ayat (1a), sehingga keseluruhan Pasal 79 berbunyi
sebagai berikut:
Pasal 79…

PASAL 79

bagian dari - Persetujuan
(1)
Perjanjian lisensi wajib dicatatkan pada Kantor Paten dan dimuat
dalam daftar Umum Paten dengan membayar biaya yang
besarnya ditetapkan dengan Keputusan Menteri.
(1a) Dalam hal perjanjian lisensi tidak dicatatkan di Kantor Paten
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), maka perjanjian lisensi
tersebut tidak mempunyai akibat hukum terhadap pihak ketiga.
(2)
syarat dan tata cara pencatatan perjanjian lisensi diatur lebih
lanjut dengan Peraturan Pemerintah.
29.
Ketentuan Pasal 82 diubah dengan menyisipkan ketentuan baru
yang dijadikan ayat (2a), sehingga keseluruhan Pasal 82 berbunyi
sebagai berikut:

PASAL 82

bagian dari - Persetujuan
(1)
Setiap orang setelah lewat jangka waktu 36 (tiga puluh enam)
bulan
terhitung
sejak
tanggal
pemberian
paten,
dapat,
mengajukan permintaan Lisensi Wajib kepada pengadilan negeri
untuk melaksanakan paten yang bersangkutan.
(2)
Permintaan Lisensi Wajib sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
hanya
dapat
dilakukan
dengan
alasan
bahwa
paten
yang
bersangkutan tidak dilaksanakan di Indonesia oleh Pemegang
Paten
padahal
kesempatan
untuk
melaksanakannya
secara
komersial sepatutnya ditempuh.
(2a) Permintaan Lisensi Wajib dapat pula diajukan setiap saat setelah
paten diberikan atas dasar alasan bahwa paten telah dilaksanakan
oleh Pemegang Paten atau Pemegang Lisensinya dalam bentuk
dan dengan cara yang merugikan kepentingan masyarakat.
(3)
Dengan
memperhatikan
kemampuan
dan
perkembangan
keadaan, Pemerintah dapat menetapkan bahwa pada tahap awal
pelaksanaan Undang-undang ini permintaan Lisensi Wajib,
diajukan kepada pengadilan negeri tertentu.
30.
Ketentuan Pasal 83 ayat (1) diubah, sehingga keseluruhan Pasal 83
berbunyi sebagai berikut:

Pasal 83…

PASAL 83

bagian dari - Persetujuan
(1)
Selain kebenaran alasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 82
ayat (2), Lisensi Wajib hanya dapat diberikan apabila:
a. orang
yang
mengajukan
permintaan
tersebut
dapat
menunjukkan bukti yang menyakinkan bahwa ia:
1)
mempunyai
kemampuan
untuk
melaksanakan
sendiri
paten yang bersangkutan secara penuh.
2)
mempunyai sendiri fasilitas untuk melaksanakan paten
yang bersangkutan secepatnya.
3)
telah berusaha mengambil langkah-langkah dalam jangka
waktu
yang
cukup
untuk
mendapatkan
lisensi
dari
Pemegang Paten atas dasar persyaratan dan kondisi yang
wajar, tetapi tidak memperoleh hasil.
b. pengadilan negeri berpendapat bahwa paten tersebut dapat
dilaksanakan di Indonesia dalam skala ekonomi yang layak
dan dapat memberi kemanfaatan kepada sebagian besar
masyarakat.
(2)
Pemeriksaan atas permintaan Lisensi Wajib dilakukan oleh
pengadilan
negeri
dalam
suatu
persidangan
dengan
mendengarkan pula pendapat ahli dari Kantor Paten dan
Pemegang Paten yang bersangkutan.
(3)
Lisensi Wajib diberikan untuk jangka waktu yang tidak lebih
lama dari jangka waktu pelaksanaan paten yang
diatur
lebih
lanjut dengan Peraturan Pemerintah.
31.
Ketentuan Pasal 84 diubah, sehingga berbunyi sebagai berikut:

PASAL 84

bagian dari - Persetujuan
Apabila berdasarkan bukti serta pendapat sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 83 pengadilan negeri memperoleh keyakinan bahwa jangka waktu
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 82 belum cukup bagi Pemegang
Paten untuk melaksanakannya secara komersial di Indonesia, atau dalam
lingkup wilayah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (2)
pengadilan negeri dapat menetapkan penundaan untuk sementara waktu
proses persidangan tersebut atau menolaknya.

32.
Ketentuan Pasal 86 diubah dengan menambahkan dua ketentuan
baru yang dijadikan huruf a dan huruf g, sehingga keseluruhan

PASAL 86

bagian dari - Persetujuan
berbunyi sebagai berikut:
Pasal 86…
Pasal 86
Dalam putusan pengadilan negeri mengenai pemberian Lisensi
Wajib dicantumkan hal-hal sebagai berikut:
a. Lisensi Wajib bersifat non-eksklusif;
b. alasan pemberian Lisensi Wajib;
c. bukti termasuk keterangan atau penjelasan yang diyakini untuk
dijadikan dasar pemberian Lisensi Wajib;
d. jangka waktu Lisensi Wajib;
e. besarnya royalti yang harus dibayarkan Pemegang Lisensi Wajib
kepada Pemegang Paten dan cara pembayarannya;
f. syarat
berakhirnya
Lisensi
Wajib
dan
hal
yang
dapat
membatalkannya;
g. Lisensi
Wajib
semata-mata
digunakan
untuk
memenuhi
kebutuhan pasar di dalam negeri;
h. lain-lain yang diperlukan untuk menjaga kepentingan para pihak
yang bersangkutan secara adil.
33.
Ketentuan Pasal 88 diubah dengan menyisipkan ketentuan baru
yang dijadikan ayat (2a), sehingga keseluruhan Pasal 88 berbunyi
sebagai berikut:

PASAL 88

bagian dari - Persetujuan
(1)
Lisensi
Wajib
dapat pula sewaktu-waktu dimintakan oleh
Pemegang Paten atas dasar alasan bahwa pelaksanaan patennya
tidak mungkin dapat dilakukan tanpa melanggar paten lainnya
yang telah ada.
(2)
Permintaan Lisensi Wajib sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
hanya
dapat
dipertimbangkan
apabila
paten
yang
akan
dilaksanakan
benar-benar
mengandung
unsur
pembaharuan
teknologi yang nyata-nyata lebih maju daripada paten yang telah
ada tersebut.
(2a) Dalam hal Lisensi Wajib diajukan atas dasar alasan sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) maka:

a. Pemegang Paten berhak untuk saling memberikan Lisensi
untuk
menggunakan
paten
pihak
lainnya
berdasarkan
persyaratan yang wajar.
b. penggunaan
b. penggunaan
paten
oleh
Pemegang
Lisensi
tidak
dapat
dialihkan kecuali bila dialihkan bersama-sama dengan paten
lainnya.
(3)
Ketentuan mengenai pengajuan permintaan kepada pengadilan
negeri, pembayaran royalti, isi putusan pengadilan, pendaftaran
dan pencatatan, serta jangka waktu atau pembatalan Lisensi
Wajib yang diatur dalam Bagian Ketiga Bab ini berlaku pula
dalam hal permintaan Lisensi Wajib sebagaimana dimaksud
dalam ayat (1) dan ayat (2), kecuali ketentuan mengenai jangka
waktu pengajuan permintaan sebagaimana diatur dalam Pasal 82
ayat (1).
34.
Ketentuan Pasal 89 ayat (3) diubah, sehingga keseluruhan Pasal 89
berbunyi sebagai berikut:

PASAL 89

bagian dari - Persetujuan
(1)
Atas permintaan Pemegang Paten, pengadilan negeri dapat
membatalkan Lisensi Wajib yang semula diberikannya apabila:
a. alasan yang dijadikan dasar bagi pemberian Lisensi Wajib
tidak ada lagi;
b. Penerima Lisensi Wajib ternyata tidak melaksanakan Lisensi
Wajib tersebut atau tidak melakukan usaha persiapan yang
sepantasnya untuk segera melaksanakannya;
c. Penerima Lisensi Wajib tidak lagi mentaati syarat dan
ketentuan lainnya termasuk kewajiban pembayaran royalti
yang ditetapkan dalam pemberian Lisensi Wajib.
(2)
Dalam hal pengadilan negeri memutuskan pembatalan Lisensi
Wajib, selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari sejak tanggal
putusan pengadilan negeri wajib menyampaikan salinan putusan
tersebut kepada Kantor Paten untuk dicatat dalam Daftar Umum
Paten dan diumumkan dalam Berita Resmi Paten.
(3)
Kantor
Paten
wajib
memberitahukan
pencatatan
dan
pengumuman putusan pengadilan negeri sebagaimana dimaksud
dalam ayat (2) kepada Pemegang Paten, Pemegang Lisensi Wajib
yang
dibatalkan
dan
pengadilan
negeri
yang
memutuskan
pembatalan tersebut selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari

sejak Kantor Paten menerima salinan putusan pengadilan negeri
tersebut.
35.
Ketentuan Pasal 92 ayat (1) dan ayat (2) diubah, sehingga
keseluruhan Pasal 92 berbunyi sebagai berikut:
Pasal 92…

PASAL 92

bagian dari - Persetujuan
(1)
Lisensi Wajib tidak dapat dialihkan kecuali jika dilakukan
bersamaan dengan pengalihan kegiatan atau bagian
kegiatan
usaha yang menggunakan paten yang bersangkutan atau karena
pewarisan.
(2)
Lisensi Wajib yang beralih karena pewarisan tetap terikat oleh
syarat pemberiannya dan ketentuan lainnya terutama mengenai
jangka waktu dan harus dilaporkan kepada Kantor Paten untuk
dicatat dan dimuat dalam Daftar Umum Paten.
36.
Ketentuan Pasal 94 diubah, sehingga berbunyi sebagai berikut:

PASAL 94

bagian dari - Persetujuan
Paten dinyatakan batal demi hukum oleh Kantor Paten apabila Pemegang
Paten tidak memenuhi kewajibannya membayar biaya tahunan dalam
jangka waktu yang ditentukan dalam Undang-undang ini.
37.
Ketentuan Pasal 97 ayat (1) diubah, sehingga keseluruhan Pasal 97
berbunyi sebagai berikut:

PASAL 97

bagian dari - Persetujuan
(1)
Gugatan pembatalan paten dapat dilakukan dalam hal:
a. menurut ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 dan
Pasal 7, paten tersebut seharusnya tidak diberikan;
b. paten tersebut sama dengan paten lain yang telah diberikan
kepada orang lain untuk penemuan yang sama berdasarkan
Undang-undang ini;
c. pemberian Lisensi Wajib ternyata tidak mampu mencegah
terus berlangsungnya pelaksanaan paten dalam bentuk dan
dengan cara yang merugikan kepentingan masyarakat dalam
jangka waktu 2 (dua) tahun sejak tanggal pemberian Lisensi
Wajib yang bersangkutan atau tanggal pemberian Lisensi
Wajib yang pertama dalam hal diberikan beberapa Lisensi

Wajib.
(2)
Gugatan pembatalan karena alasan sebagaimana dimaksud dalam
ayat (1) huruf a diajukan pihak ketiga kepada Pemegang Paten
melalui Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.
(3)
Gugatan
(3)
Gugatan pembatalan karena alasan sebagaimana dimaksud dalam
ayat (1) huruf b dapat diajukan Pemegang Paten atau Pemegang
Lisensi kepada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat agar paten lain
yang sama dengan patennya dibatalkan.
(4)
Gugatan pembatalan karena alasan sebagaimana dimaksud dalam
ayat (1) huruf c dapat diajukan oleh Penuntut Umum kepada
Pemegang
Paten
atau
Pemegang
Lisensi
Wajib
melalui
Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.
38.
Ketentuan Pasal 102 diubah, sehingga keseluruhan Pasal 102
berbunyi sebagai berikut:

PASAL 102

bagian dari - Persetujuan
(1) Pemegang Lisensi dari paten yang dibatalkan karena alasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 97 ayat (1) huruf b tetap berhak malaksanakan lisensi yang dimilikinya sampai dengan berakhirnya jangka waktu yang ditetapkan dalam perjanjian lisensi. (2) Pemegang Lisensi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak lagi wajib meneruskan pembayaran royalti yang seharusnya masih wajib dilakukannya kepada Pemegang Paten yang patennya dibatalkan, tetapi wajib membayar royalti untuk sisa jangka waktu lisensi yang dimilikinya kepada Pemegang Paten yang sebenarnya berhak. 39. Ketentuan Pasal 110 diubah dengan menambahkan ketentuan baru yang dijadikan ayat (3), sehingga keseluruhan Pasal 110 berbunyi sebagai berikut: Pasal 110 (1) Paten Sederhana hanya diberikan untuk satu klaim. (2) Terhadap permintaan Paten Sederhana langsung dilakukan pemeriksaan yang bersifat substantif. (3) Dalam melakukan pemeriksaan substantif, Kantor Paten hanya memeriksa syarat kebaruan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2). 40. Ketentuan Pasal 114 ayat (2) diubah, sehingga keseluruhan Pasal 112 berbunyi sebagai berikut: Pasal 112… Pasal 112 (1) Jangka waktu Paten Sederhana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 tidak dapat diperpanjang. (2) Untuk Paten Sederhana tidak dapat dimintakan Lisensi Wajib. 41. Ketentuan Pasal 114 ayat (1) diubah, sehingga keseluruhan Pasal 114 berbunyi sebagai berikut: Pasal 114 (1) Untuk setiap pengajuan permintaan paten, permintaan pemeriksaan substantif, Surat Keterangan Pemakai Terdahulu, petikan Daftar Umum Paten dan salinan Surat Paten, salinan Dokumen Paten, pencatatan pengalihan paten, pencatatan Surat Perjanjian Lisensi, pendaftaran Lisensi Wajib, serta lain-lainnya yang ditentukan dalam Undang-undang ini, wajib membayar biaya yang besarnya ditetapkan dengan Keputusan Menteri. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan, jangka waktu dan tata cara pembayaran biaya sebagaimana dimaksud dalam ayat

(1) diatur dengan Keputusan Menteri. 42. Ketentuan Pasal 116 ayat (1) dan ayat (2) diubah, sehingga keseluruhan Pasal 116 berbunyi sebagai berikut: Pasal 116 (1) Apabila selama 3 (tiga) tahun berturut-turut Pemegang Paten tidak membayar biaya tahunan sebagaimana ditentukan dalam Pasal 19 dan Pasal 115, maka paten dinyatakan batal demi hukum terhitung sejak tanggal yang menjadi akhir batas waktu kewajiban pembayaran untuk tahun ketiga tersebut. (2) Apabila tidak dipenuhi kewajiban pembayaran biaya tahunan tersebut berkaitan dengan kewajiban pembayaran biaya tahunan untuk tahun kedelapan belas dan tahun-tahun berikutnya, maka paten dianggap berakhir pada akhir batas waktu kewajiban pembayaran biaya tahunan untuk tahun yang kedelapan belas tersebut. (3) Berakhirnya jangka waktu paten karena alasan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dicatat dalam Daftar Umum Paten dan diumumkan dalam Berita Resmi Paten. 43. Judul… 43. Judul Bab XI menjadi "Hak Menggugat dan ketentuan Pasal 121 diubah dengan menyisipkan ketentuan baru yang dijadikan ayat (1a), sehingga judul Bab XI dan keseluruhan Pasal 121 berbunyi sebagai berikut: BAB XI HAK MENGGUGAT Pasal 121 (1) Jika suatu paten diberikan kepada orang lain selain daripada orang yang berdasarkan Pasal 11, Pasal 12, dan Pasal 13 berhak atas paten tersebut, maka orang yang berhak atas paten tersebut dapat menggugat ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat supaya paten yang bersangkutan berikut hak-hak yang melekat pada paten tersebut diserahkan kepadanya untuk seluruhnya atau untuk sebagian ataupun untuk dimiliki bersama.

(1a) Hak menggugat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berlaku surut sejak tanggal penerimaan paten. (2) Salinan putusan atas gugatan sebagaimana dimaksud dalam ayat

(1) oleh Panitera Pengadilan Negeri Jakarta Pusat segera disampaikan kepada Kantor Paten untuk selanjutnya dicatat dalam Daftar Umum Paten dan diumumkan dalam Berita Resmi Paten. 44. Ketentuan Pasal 122 diubah dengan menyisipkan ketentuan baru yang dijadikan ayat (1a) dan mengubah ayat (3) sehingga keseluruhan Pasal 122 berbunyi sebagai berikut: Pasal 122 (1) Pemegang Paten atau Pemegang Lisensi berhak menggugat ganti rugi melalui pengadilan negeri setempat, kepada siapapun, yang dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 terhadap haknya.

(1a) Pengadilan negeri dapat menolak gugatan ganti rugi termasuk penggantian terhadap keuntungan yang seharusnya diperoleh, apabila tergugat dapat membuktikan bahwa ia tidak mengetahui atau memiliki alasan yang kuat tentang ketidaktahuannya bahwa ia telah melanggar paten milik orang lain yang dilindungi di Indonesia. (2) Gugatan (2) Gugatan ganti rugi yang diajukan terhadap perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 97 ayat (1) huruf b hanya dapat diterima apabila hasil produksi itu terbukti dibuat dengan menggunakan penemuan yang telah diberi paten tersebut. (3) Putusan pengadilan negeri tentang gugatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), ayat (1a), dan ayat (2) oleh panitera pengadilan negeri yang bersangkutan segera disampaikan kepada Kantor Paten untuk selanjutnya dicatat dalam Daftar Umum Paten dan diumumkan dalam Berita Resmi Paten." 45. Di antara Pasal 123 dan Pasal 124 disisipkan Pasal 123A, sebagai berikut: Pasal 123A (1) Dalam pemeriksaan perkara pelanggaran terhadap proses yang dipatenkan, kewajiban pembuktian bahwa suatu produk tidak dihasilkan dengan menggunakan proses yang dipatenkan tersebut, dibebankan kepada pihak yang diduga melakukan pelanggaran apabila:

a. produk yang dihasilkan melalui proses yang dipatenkan tersebut merupakan produk baru;

b. terdapat kemungkinan bahwa produk tersebut dihasilkan dari proses yang dipatenkan; dan

c. sekalipun telah dilakukan upaya yang cukup untuk itu Pemegang Paten tidak dapat menentukan proses apa yang digunakan untuk menghasilkan produk yang diduga merupakan hasil pelanggaran. (2) Untuk kepentingan pembuktian dalam perkara pelanggaran sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) hakim berwenang:

a. memerintahkan pemilik paten untuk terlebih dahulu menyampaikan salinan surat paten bagi proses yang bersangkutan, dan bukti awal yang memperkuat dugaannya tentang pelanggaran atas paten yang dimilikinya; dan

b. memerintahkan pihak yang diduga melakukan pelanggaran untuk membuktikan bahwa produk yang dihasilkan tersebut tidak menggunakan proses yang dipatenkan. (3) Dalam (3) Dalam pemeriksaan perkara pelanggaran paten sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2), hakim wajib mempertimbangkan kepentingan pihak yang diduga melakukan pelanggaran untuk memperoleh perlindungan terhadap kerahasiaan proses yang telah diuraikannya dalam rangka pembuktian dipersidangan." 46. Di antara Pasal 128 dan Pasal 129 disisipkan Pasal 128A, sebagai berikut: Pasal 128A Dalam hal terbukti adanya pelanggaran paten, maka hakim dapat memerintahkan agar barang-barang hasil pelanggaran paten tersebut dirampas untuk negara guna dimusnahkan." 47. Ketentuan Pasal 130 ayat (2) diubah dan ayat (3) dipecah menjadi ayat (3) baru dan ayat (4), sehingga keseluruhan Pasal 130 berbunyi sebagai berikut: Pasal 130 (1) Selain Penyidik Pejabat Negara Republik Indonesia, juga Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan departemen yang lingkup tugas dan tanggung jawabnya meliputi pembinaan paten, diberi wewenang khusus sebagai penyidik sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana, untuk melakukan penyidikan tindak pidana di bidang paten. (2) Penyidik Pejabat Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berwenang:

a. melakukan pemeriksaan atas kebenaran laporan atau keterangan berkenaan dengan tindak pidana di bidang paten;

b. melakukan pemeriksaan terhadap orang atau badan hukum yang diduga melakukan tindak pidana di bidang paten;

c. meminta keterangan dan bahan bukti dari orang atau badan hukum sehubungan dengan peristiwa tindak pidana di bidang paten;

d. melakukan pemeriksaan atas pembukuan, pencatatan dan dokumen lain berkenaan dengan tindak pidana di bidang paten;

e. melakukan

e. melakukan pemeriksaan di tempat tertentu yang diduga terdapat bahan bukti pembukuan, pencatatan dan dokumen lain serta melakukan penyitaan terhadap bahan dan barang hasil pelanggaran yang dapat dijadikan bukti dalam tindak pidana di bidang paten; dan

f. meminta bantuan ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan tindak pidana di bidang paten. (3) Penyidik Pejabat Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) memberitahukan dimulainya penyidikan dan melaporkan hasil penyidikannya kepada Penyidik Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia. (4) Penyidik Pejabat Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) menyampaikan hasil penyidikan kepada Penuntut Umum melalui Penyidik Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia dengan mengingat ketentuan

PASAL 107

BAB XI: HAK MENGGUGAT
Naskah pasal.

PASAL 110

bagian dari - Persetujuan
(1)
Paten Sederhana hanya diberikan untuk satu klaim.
(2)
Terhadap
permintaan
Paten
Sederhana
langsung
dilakukan
pemeriksaan yang bersifat substantif.
(3)
Dalam melakukan pemeriksaan substantif, Kantor Paten hanya
memeriksa syarat kebaruan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6

ayat (2).
40.
Ketentuan Pasal 114 ayat (2) diubah, sehingga keseluruhan Pasal
112 berbunyi sebagai berikut:
Pasal 112…

PASAL 112

bagian dari - Persetujuan
(1)
Jangka waktu Paten Sederhana sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 10 tidak dapat diperpanjang.
(2)
Untuk Paten Sederhana tidak dapat dimintakan Lisensi Wajib.
41.
Ketentuan Pasal 114 ayat (1) diubah, sehingga keseluruhan Pasal
114 berbunyi sebagai berikut:

PASAL 114

bagian dari - Persetujuan
(1)
Untuk
setiap
pengajuan
permintaan
paten,
permintaan
pemeriksaan substantif, Surat Keterangan Pemakai Terdahulu,
petikan Daftar Umum Paten dan salinan Surat Paten, salinan
Dokumen Paten, pencatatan pengalihan paten, pencatatan Surat
Perjanjian Lisensi, pendaftaran Lisensi Wajib, serta lain-lainnya
yang ditentukan dalam Undang-undang ini, wajib membayar
biaya yang besarnya ditetapkan dengan Keputusan Menteri.
(2)
Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan, jangka waktu dan
tata cara pembayaran biaya sebagaimana dimaksud dalam ayat
(1) diatur dengan Keputusan Menteri.
42.
Ketentuan Pasal 116 ayat (1) dan ayat (2) diubah, sehingga
keseluruhan Pasal 116 berbunyi sebagai berikut:

PASAL 116

bagian dari - Persetujuan
(1)
Apabila selama 3 (tiga) tahun berturut-turut Pemegang Paten
tidak membayar biaya tahunan sebagaimana ditentukan dalam
Pasal 19 dan Pasal 115, maka paten dinyatakan batal demi
hukum terhitung sejak tanggal yang menjadi akhir batas waktu
kewajiban pembayaran untuk tahun ketiga tersebut.
(2)
Apabila tidak dipenuhi kewajiban pembayaran biaya tahunan
tersebut berkaitan dengan kewajiban pembayaran biaya tahunan
untuk tahun kedelapan belas dan tahun-tahun berikutnya, maka
paten dianggap berakhir pada akhir batas waktu kewajiban

pembayaran biaya tahunan untuk tahun yang kedelapan belas
tersebut.
(3)
Berakhirnya jangka waktu paten karena alasan sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1) dicatat dalam Daftar Umum Paten dan
diumumkan dalam Berita Resmi Paten.
43.
Judul…
43.
Judul Bab XI menjadi "Hak Menggugat dan ketentuan Pasal 121
diubah dengan menyisipkan ketentuan baru yang dijadikan ayat
(1a), sehingga judul Bab XI dan keseluruhan Pasal 121 berbunyi
sebagai berikut:
BAB XI
HAK MENGGUGAT

PASAL 121

BAB XI: HAK MENGGUGAT
(1)
Jika suatu paten diberikan kepada orang lain selain daripada
orang yang berdasarkan Pasal 11, Pasal 12, dan Pasal 13 berhak
atas paten tersebut, maka orang yang berhak atas paten tersebut
dapat menggugat ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat supaya
paten yang bersangkutan berikut hak-hak yang melekat pada
paten tersebut diserahkan kepadanya untuk seluruhnya atau untuk
sebagian ataupun untuk dimiliki bersama.
(1a) Hak menggugat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berlaku
surut sejak tanggal penerimaan paten.
(2)
Salinan putusan atas gugatan sebagaimana dimaksud dalam ayat
(1) oleh Panitera Pengadilan Negeri Jakarta Pusat segera
disampaikan kepada Kantor Paten untuk selanjutnya dicatat
dalam Daftar Umum Paten dan diumumkan dalam Berita Resmi
Paten.
44.
Ketentuan Pasal 122 diubah dengan menyisipkan ketentuan baru
yang
dijadikan
ayat
(1a)
dan
mengubah
ayat
(3)
sehingga
keseluruhan Pasal 122 berbunyi sebagai berikut:

PASAL 122

BAB XI: HAK MENGGUGAT
(1)
Pemegang Paten atau Pemegang Lisensi berhak menggugat ganti
rugi melalui pengadilan negeri setempat, kepada siapapun, yang
dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 17 terhadap haknya.
(1a) Pengadilan negeri dapat menolak gugatan ganti rugi

termasuk penggantian terhadap keuntungan yang seharusnya
diperoleh, apabila tergugat dapat membuktikan bahwa ia tidak
mengetahui
atau
memiliki
alasan
yang
kuat
tentang
ketidaktahuannya bahwa ia telah melanggar paten milik orang
lain yang dilindungi di Indonesia.
(2)
Gugatan
(2)
Gugatan
ganti
rugi
yang
diajukan
terhadap
perbuatan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 97 ayat (1) huruf b hanya
dapat diterima apabila hasil produksi itu terbukti dibuat dengan
menggunakan penemuan yang telah diberi paten tersebut.
(3)
Putusan
pengadilan
negeri
tentang
gugatan
sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1), ayat (1a), dan ayat (2) oleh panitera
pengadilan negeri yang bersangkutan segera disampaikan kepada
Kantor Paten untuk selanjutnya dicatat dalam Daftar Umum
Paten dan diumumkan dalam Berita Resmi Paten."
45.
Di antara Pasal 123 dan Pasal 124 disisipkan Pasal 123A, sebagai
berikut:

PASAL 123A

BAB XI: HAK MENGGUGAT
(1)
Dalam pemeriksaan perkara pelanggaran terhadap proses yang
dipatenkan, kewajiban pembuktian bahwa suatu produk tidak
dihasilkan
dengan
menggunakan
proses
yang
dipatenkan
tersebut, dibebankan kepada pihak yang diduga melakukan
pelanggaran apabila:
a. produk yang dihasilkan melalui proses yang dipatenkan
tersebut merupakan produk baru;
b. terdapat kemungkinan bahwa produk tersebut dihasilkan dari
proses yang dipatenkan; dan
c. sekalipun telah dilakukan upaya yang cukup untuk itu
Pemegang Paten tidak dapat menentukan proses apa yang
digunakan
untuk
menghasilkan
produk
yang
diduga
merupakan hasil pelanggaran.
(2)
Untuk kepentingan pembuktian dalam perkara pelanggaran
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) hakim berwenang:
a. memerintahkan
pemilik
paten
untuk
terlebih
dahulu
menyampaikan
salinan
surat
paten
bagi
proses
yang
bersangkutan, dan bukti awal yang memperkuat dugaannya

tentang pelanggaran atas paten yang dimilikinya; dan
b. memerintahkan pihak yang diduga melakukan pelanggaran
untuk membuktikan bahwa produk yang dihasilkan tersebut
tidak menggunakan proses yang dipatenkan.
(3)
Dalam
(3)
Dalam pemeriksaan perkara pelanggaran paten sebagaimana
dimaksud
dalam
ayat
(1)
dan
ayat
(2),
hakim
wajib
mempertimbangkan kepentingan pihak yang diduga melakukan
pelanggaran
untuk
memperoleh
perlindungan
terhadap
kerahasiaan
proses yang telah diuraikannya dalam rangka
pembuktian dipersidangan."
46.
Di antara Pasal 128 dan Pasal 129 disisipkan Pasal 128A,
sebagai berikut:

PASAL 128A

BAB XI: HAK MENGGUGAT
Dalam hal terbukti adanya pelanggaran paten, maka hakim dapat
memerintahkan agar barang-barang hasil pelanggaran paten tersebut
dirampas untuk negara guna dimusnahkan."
47.
Ketentuan Pasal 130 ayat (2) diubah dan ayat (3) dipecah menjadi
ayat (3) baru dan ayat (4), sehingga keseluruhan Pasal 130 berbunyi
sebagai berikut:

PASAL 130

BAB XI: HAK MENGGUGAT
(1) Selain Penyidik Pejabat Negara Republik Indonesia, juga Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan departemen yang lingkup tugas dan tanggung jawabnya meliputi pembinaan paten, diberi wewenang khusus sebagai penyidik sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana, untuk melakukan penyidikan tindak pidana di bidang paten. (2) Penyidik Pejabat Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berwenang:

a. melakukan pemeriksaan atas kebenaran laporan atau keterangan berkenaan dengan tindak pidana di bidang paten;

b. melakukan pemeriksaan terhadap orang atau badan hukum yang diduga melakukan tindak pidana di bidang paten;

c. meminta keterangan dan bahan bukti dari orang atau badan hukum sehubungan dengan peristiwa tindak pidana di bidang paten;

d. melakukan pemeriksaan atas pembukuan, pencatatan dan dokumen lain berkenaan dengan tindak pidana di bidang paten;

e. melakukan

e. melakukan pemeriksaan di tempat tertentu yang diduga terdapat bahan bukti pembukuan, pencatatan dan dokumen lain serta melakukan penyitaan terhadap bahan dan barang hasil pelanggaran yang dapat dijadikan bukti dalam tindak pidana di bidang paten; dan

f. meminta bantuan ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan tindak pidana di bidang paten. (3) Penyidik Pejabat Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) memberitahukan dimulainya penyidikan dan melaporkan hasil penyidikannya kepada Penyidik Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia. (4) Penyidik Pejabat Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) menyampaikan hasil penyidikan kepada Penuntut Umum melalui Penyidik Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia dengan mengingat ketentuan Pasal 107 Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana. Pasal II (1) Terhitung mulai tanggal berlakunya Undang-undang ini, paten dan Paten Sederhana yang telah diberikan berdasarkan Undang-undang Nomor 6 Tahun 1989 tentang Paten dinyatakan berlaku untuk jangka waktu 20 (dua puluh) tahun dan terhitung sejak tanggal penerimaan permintaan paten dan 10 (sepuluh) tahun terhitung sejak tanggal pemberian Paten Sederhana tersebut. (2) Terhadap permintaan paten dan Paten Sederhana yang telah diajukan berdasarkan Undang-undang Nomor 6 Tahun 1989 tentang Paten yang belum memperoleh keputusan Kantor Paten, apabila diberikan paten, maka jangka waktu perlindungan diberikan selama 20 (dua puluh) tahun terhitung sejak tanggal penerimaan permintaan paten dan 10 (sepuluh) tahun terhitung sejak tanggal pemberian Paten Sederhana tersebut. (3) Pelaksanaan penyesuaian jangka waktu 20 (dua puluh) tahun bagi paten sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diberikan pada saat pembayaran biaya tahunan untuk paten yang bersangkutan dengan bentuk yang ditetapkan oleh Menteri. Pasal III Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Agar… Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Undang-undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.