UU NOMOR 9 TAHUN 1998

KEMERDEKAAN MENYAMPAIKAN PENDAPAT DI DEPAN UMUM

Status: BERLAKU (IN FORCE)
Diundangkan: 1998-01-01
Total Pasal: 20 naskah terverifikasi
URN: urn:lex:id:gov:dpr-presiden:uu:1998:9
Buka di Peramban Interaktif LexWondera → Bagikan ke WhatsApp

Batang Tubuh & Naskah Pasal Terverifikasi

PASAL 1

BAB I: KETENTUAN UMUM
Dalam Undang-undang ini yang dimaksud dengan:

1. Kemerdekaan menyampaikan pendapat adalah hak setiap warga negara untuk menyampaikan pikiran dengan lisan, tulisan, dan sebagainya secara bebas dan bertanggung jawab sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

2. Di muka umum adalah dihadapan orang banyak, atau orang lain termasuk juga di tempat yang dapat didatangi dan atau dilihat setiap orang.

3. Unjuk rasa atau Demonstrasi adalah kegiatan yang dilakukan oleh seorang atau lebih untuk mengeluarkan pikiran dengan lisan, tulisan, dan sebagainya secara demonstratif di muka umum.

4. Pawai adalah cara penyampaian pendapat dengan arak-arakan di jalan umum.

5. Rapat umum adalah pertemuan terbuka yang dilakukan untuk menyampaikan pendapat dengan tema tertentu.

6. Mimbar bebas adalah kegiatan penyampaian pendapat di muka umum yang dilakukan secara bebas dan terbuka tanpa tema tertentu.

7. Warga negara adalah warga negara Republik Indonesia.

8. Polri adalah Kepolisian Negara Republik Indonesia.

PASAL 2

BAB I: KETENTUAN UMUM
(1) Setiap
warga
negara,
secara
perorangan
atau
kelompok
menyampaikan pendapat sebagai perwujudan hak dan tanggung
jawab berdemokrasi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan
bernegara.
(2) Penyampaian pendapat di muka umum dilaksanakan sesuai dengan
ketentuan Undang-Undang ini.
BAB II
ASAS DAN TUJUAN

PASAL 3

BAB II: ASAS DAN TUJUAN
Kemerdekaan menyampaikan pendapat di muka umum dilaksanakan
berlandaskan pada :
a. asas keseimbangan antara hak dan kewajiban;
b. asas musyawarah dan mufakat;
c. asas kepastian hukum dan keadilan;
d. asas proporsionalitas; dan
e. asas manfaat.

PASAL 4

BAB II: ASAS DAN TUJUAN
Naskah pasal.

PASAL 5

ayat (1), Pasal 20 ayat (1), dan Pasal 28 Undang-Undang Dasar 1945 Dengan persetujuan MEMUTUSKAN: Menetapkan : UNDANG-UNDANG TENTANG KEMERDEKAAN MENYAMPAI- KAN PENDAPAT DI MUKA UMUM. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Undang-undang ini yang dimaksud dengan:

1. Kemerdekaan menyampaikan pendapat adalah hak setiap warga negara untuk menyampaikan pikiran dengan lisan, tulisan, dan sebagainya secara bebas dan bertanggung jawab sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

2. Di muka umum adalah dihadapan orang banyak, atau orang lain termasuk juga di tempat yang dapat didatangi dan atau dilihat setiap orang.

3. Unjuk rasa atau Demonstrasi adalah kegiatan yang dilakukan oleh seorang atau lebih untuk mengeluarkan pikiran dengan lisan, tulisan, dan sebagainya secara demonstratif di muka umum.

4. Pawai adalah cara penyampaian pendapat dengan arak-arakan di jalan umum.

5. Rapat umum adalah pertemuan terbuka yang dilakukan untuk menyampaikan pendapat dengan tema tertentu.

6. Mimbar bebas adalah kegiatan penyampaian pendapat di muka umum yang dilakukan secara bebas dan terbuka tanpa tema tertentu.

7. Warga negara adalah warga negara Republik Indonesia.

8. Polri adalah Kepolisian Negara Republik Indonesia. Pasal 2

(1) Setiap warga negara, secara perorangan atau kelompok menyampaikan pendapat sebagai perwujudan hak dan tanggung jawab berdemokrasi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

(2) Penyampaian pendapat di muka umum dilaksanakan sesuai dengan ketentuan Undang-Undang ini. BAB II ASAS DAN TUJUAN Pasal 3 Kemerdekaan menyampaikan pendapat di muka umum dilaksanakan berlandaskan pada :

a. asas keseimbangan antara hak dan kewajiban;

b. asas musyawarah dan mufakat;

c. asas kepastian hukum dan keadilan;

d. asas proporsionalitas; dan

e. asas manfaat. Pasal 4 Tujuan pengaturan tentang kemerdekaan menyampaikan pendapat di muka umum adalah :

a. mewujudkan kebebasan yang bertanggung jawab sebagai salah satu pelaksanaan hak asasi manusia sesuai dengan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945;

b. mewujudkan perlindungan hukum yang konsisten dan berkesinambungan dalam menjamin kemerdekaan menyampaikan pendapat;

c. mewujudkan iklim yang kondusif bagi berkembangnya partisipasi dan kreativitas setiap warga negara sebagai perwujudan hak dan tanggung jawab dalam kehidupan berdemokrasi;

d. menempatkan tanggung jawab sosial dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, tanpa mengabaikan kepentingan perorangan atau kelompok. BAB III HAK DAN KEWAJIBAN Pasal 5 Warga negara yang menyampaikan pendapat di muka umum berhak untuk:

a. mengeluarkan pikiran secara bebas;

b. memperoleh perlindungan hukum.

PASAL 6

BAB III: HAK DAN KEWAJIBAN
Warga
negara
yang
menyampaikan
pendapat
di
muka
umum
berkewajiban dan bertanggung jawab untuk :

a. menghormati hak-hak dan kebebasan orang lain;
b. menghormati aturan-aturan moral yang diakui umum;
c. menaati hukum dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang
berlaku;
d. menjaga dan menghormati keamanan dan ketertiban umum; dan
e. menjaga keutuhan persatuan dan kesatuan bangsa.

PASAL 7

BAB III: HAK DAN KEWAJIBAN
Dalam pelaksanaan penyampaian pendapat di muka umum oleh warga
negara, aparatur pemerintah berkewajiban dan bertanggung jawab
untuk:
a. melindungi hak asasi manusia;
b. menghargai asas legalitas;
c. menghargai prinsip praduga tidak bersalah; dan
d. menyelenggarakan pengamanan.

PASAL 8

BAB III: HAK DAN KEWAJIBAN
Masyarakat berhak berperan serta secara bertanggung jawab untuk
berupaya agar penyampaian pendapat di muka umum dapat berlangsung
secara aman, tertib, dan damai.
BAB IV
BENTUK-BENTUK DAN TATA CARA PENYAMPAIAN PENDAPAT DI MUKA
UMUM

PASAL 9

BAB IV: BENTUK-BENTUK DAN TATA CARA PENYAMPAIAN PENDAPAT DI MUKA
(1) bentuk penyampaian pendapat di muka umum dapat dilaksanakan dengan:

a. unjuk rasa atau demonstrasi;

b. pawai;

c. rapat umum; dan atau

d. mimbar bebas.

(2) Penyampaian pendapat di muka umum sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), dilaksanakan di tempat-tempat terbuka untuk umum, kecuali:

a. di lingkungan istana kepresidenan, tempat ibadah, instalasi militer, rumah sakit, pelabuhan udara atau laut, stasiun kereta api, terminal angkutan darat, dan obyek-obyek vital nasional;

b. pada hari besar nasional.

(3) Pelaku atau peserta penyampaian pendapat di muka umum sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilarang membawa benda-benda yang dapat membahayakan keselamatan umum.

PASAL 10

BAB IV: BENTUK-BENTUK DAN TATA CARA PENYAMPAIAN PENDAPAT DI MUKA
(1)
Penyampaian pendapat di muka umum sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 9 wajib diberitahukan secara tertulis kepada Polri.
(2) pemberitahuan secara tertulis sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
disampaikan oleh yang bersangkutan, pemimpin, atau penanggung
jawab kelompok.
(3) pemberitahuan
sebagaimana
dimaksud
dalam
ayat
(1)
selambat-lambatnya 3 x 24 (tiga kali dua puluh empat) jam sebelum
kegiatan dimulai telah diterima oleh Polri setempat.
(4) Pemberitahuan secara tertulis sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
tidak berlaku bagi kegiatan ilmiah di dalam kampus dan kegiatan
keagamaan.

PASAL 11

BAB IV: BENTUK-BENTUK DAN TATA CARA PENYAMPAIAN PENDAPAT DI MUKA
Surat pemberitahuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (1)
memuat:
a. maksud dan tujuan;
b. tempat, lokasi, dan rute;
c. waktu dan lama;
d. bentuk;
e. penanggung jawab;
f.
nama dan alamat organisasi, kelompok atau perorangan;
g. alat peraga yang dipergunakan; dan atau
h. jumlah peserta.

PASAL 12

BAB IV: BENTUK-BENTUK DAN TATA CARA PENYAMPAIAN PENDAPAT DI MUKA
(1)Penanggung jawab kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6,
Pasal 9, dan Pasal 11 wajib bertanggung jawab agar kegiatan
tersebut terlaksana secara aman, tertib dan damai.
(2) Setiap sampai 100 (seratus) orang pelaku atau peserta unjuk rasa
atau
demonstrasi
dan
pawai
harus
ada
seorang
sampai dengan 5 (lima) orang penanggung jawab.

PASAL 13

BAB IV: BENTUK-BENTUK DAN TATA CARA PENYAMPAIAN PENDAPAT DI MUKA
(1) Setelah menerima surat pemberitahuan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 11 Polri wajib:
a. segera memberikan surat tanda terima pemberitahuan;
b. berkoordinasi dengan penanggung jawab penyampaian pendapat

di muka umum;
c. berkoordinasi dengan pimpinan instansi/lembaga yang akan
menjadi tujuan penyampaian pendapat;
d. mempersiapkan pengamanan tempat, lokasi, dan rute.
(2) Dalam pelaksanaan penyampaian pendapat di muka umum, Polri
bertanggung jawab memberikan perlindungan terhadap pelaku atau
peserta penyampaian pendapat di muka umum.
(3) Dalam pelaksanaan penyampaian pendapat di muka umum, Polri
bertanggung jawab menyelenggarakan pengamanan untuk menjamin
keamanan dan ketertiban umum sesuai dengan prosedur yang
berlaku.

PASAL 14

BAB IV: BENTUK-BENTUK DAN TATA CARA PENYAMPAIAN PENDAPAT DI MUKA
Pembatalan
pelaksanaan
penyampaian
pendapat
di
muka
umum
disampaikan secara tertulis dan langsung oleh penanggung jawab
kepada Polri selambat-lambatnya 24 (dua puluh empat) jam sebelum
waktu pelaksanaan.
BAB V
SANKSI

PASAL 15

BAB V: SANKSI
Pelaksanaan penyampaian pendapat di muka umum dibubarkan apabila
tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6, Pasal
9 ayat (2) dan ayat (3), Pasal 10 dan Pasal 11.

PASAL 16

BAB V: SANKSI
Pelaku atau peserta pelaksanaan penyampaian pendapat di muka umum
yang melakukan perbuatan melanggar hukum, dapat dikenakan sanksi
hukum sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.

PASAL 17

BAB V: SANKSI
Penanggung jawab pelaksanaan penyampaian pendapat di muka umum
yang melakukan tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16
Undang-undang
ini
dipidana
sesuai
dengan
ketentuan
peraturan
perundang-undangan yang berlaku ditambah dengan 1/3 (satu per tiga)
dari pidana pokok.

PASAL 18

BAB V: SANKSI
(1) Barang
siapa
dengan
kekerasan
atau
ancaman
kekerasan
menghalang-halangi
hak
warga
negara
untuk
menyampaikan
pendapat
di
muka
umum
yang
telah
memenuhi
ketentuan
Undang-undang ini dipidana dengan pidana penjara paling lama 1
(satu) tahun.
(2) Tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) adalah
kejahatan.
BAB VI
KETENTUAN PERALIHAN

PASAL 19

BAB VI: KETENTUAN PERALIHAN
Segala ketentuan peraturan perundang-undangan yang telah ada
dinyatakan
tetap
berlaku
sepanjang
tidak
diatur
khusus
atau
bertentangan dengan ketentuan-ketentuan dalam Undang-undang ini.
BAB VII
KETENTUAN PENUTUP

PASAL 20

BAB VII: KETENTUAN PENUTUP
Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Undang-undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.