UU NOMOR 38 TAHUN 1999

PENGELOLAAN ZAKAT

Status: BERLAKU (IN FORCE)
Diundangkan: 1999-01-01
Total Pasal: 25 naskah terverifikasi
URN: urn:lex:id:gov:dpr-presiden:uu:1999:38
Buka di Peramban Interaktif LexWondera → Bagikan ke WhatsApp

Batang Tubuh & Naskah Pasal Terverifikasi

PASAL 1

BAB I: KETENTUAN UMUM
Dalam Undang-undang ini yang dimaksud dengan :
1. Pengelolaan zakat adalah kegiatan perencanaan, pengorganisasian,
pelaksanaan,
dan
pengawasan
terhadap
pengumpulan
dan
pendistribusian serta pendayagunaan zakat.
2. Zakat adalah harta yang wajib disisihkan oleh seorang muslim atau
badan yang dimiliki oleh orang muslim sesuai dengan ketentuan
agama untuk diberikan kepada yang berhak menerimanya.
3. Muzakki adalah orang atau badan yang dimiliki oleh orang muslim
yang berkewajiban menunaikan zakat.
4. Mustahiq adalah orang atau badan yang berhak menerima zakat.
5. Agama adalah agama Islam.
6. Manteri adalah Menteri yang ruang lingkup tugas dan tanggung
jawabnya meliputi bidang agama.

PASAL 2

BAB I: KETENTUAN UMUM
Setiap warga negara Indonesia yang beragama Islam dan mampu atau
badan yang dimiliki oleh orang muslim berkewajiban menunaikan
zakat.

PASAL 3

BAB I: KETENTUAN UMUM
Pemerintah berkewajiban memberikan perlindungan, pembinaan, dan
pelayanan kepada muzakki, mustahiq, dan amil zakat.

BAB II
ASAS DAN TUJUAN

PASAL 4

BAB II: ASAS DAN TUJUAN
Pengelolaan zakat berasaskan iman dan takwa, keterbukaan, dan
kepastian hukum sesuai dengan Pancasila dan Undang-Undang Dasar
1945.

PASAL 5

BAB II: ASAS DAN TUJUAN
Pengelolaan zakat bertujuan :
1. meningkatnya pelayanan bagi masyarakat dalam menunaikan zakat
sesuai dengan tuntutan agama;
2. meningkatnya fungsi dan peranan pranata keagamaan dalam upaya
mewujudkan kesejahteraan masyarakat dan keadilan sosial;
3. meningkatnya hasil guna dan daya guna zakat.

BAB III
ORGANISASI PENGELOLAAN ZAKAT

PASAL 6

BAB III: ORGANISASI PENGELOLAAN ZAKAT
(1) Pengelolaan zakat dilakukan oleh badan amil zakat yang dibentuk oleh pemerintah.

(2) Pembentukan badan amil zakat:

a. nasional oleh ;

b. daerah propinsi oleh gubernur atas usul kepala kantor wilayah departemen agama propinsi;

c. daerah kabupaten atau daerah kota oleh bupati atau walikota atas usul kepala kantor departemen agama kabupaten atau kota;

d. kecamatan oleh camat atas usul kepala kantor urusan agama kecamatan.

(3) Badan amil zakat di semua tingkatan memiliki hubungan kerja yang bersifat koordinatif, konsultatif, dan informatif.

(4) Pengurus badan amil zakat terdiri atas unsur masyarakat dan pemerintah yang memenuhi persyaratan tertentu.

(5) Organisasi badan amil zakat terdiri atas unsur pertimbangan, unsur pengawas, dan unsur pelaksana.

PASAL 7

BAB III: ORGANISASI PENGELOLAAN ZAKAT
(1) Lembaga amil zakat dilakukan, dibina, dan dilindungi oleh
pemerintah.
(2) Lembaga amil zakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus
memenuhi persyaratan yang diatur lebih lanjut oleh Menteri.

PASAL 8

BAB III: ORGANISASI PENGELOLAAN ZAKAT
Badan amil zakat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 dan lembaga
amil zakat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 mempunyai tugas
pokok mengumpulkan, mendistribusikan, dan mendayagunakan zakat
sesuai dengan ketentuan agama.

PASAL 9

BAB III: ORGANISASI PENGELOLAAN ZAKAT
Dalam melaksanakan tugasnya, badan amil zakat dan lembaga amil
zakat
bertanggung
jawab
kepada
pemerintah
sesuai
dengan
tingkatannya.

PASAL 10

BAB III: ORGANISASI PENGELOLAAN ZAKAT
Ketentuan lebih lanjut mengenai susunan organisasi dan tata kerja
badan amil zakat ditetapkan dengan keputusan menteri.

BAB IV
PENGUMPULAN ZAKAT

PASAL 11

BAB IV: PENGUMPULAN ZAKAT
(1) Zakat terdiri atas zakat mal dan zakat fitrah.
(2) Harta yang dikenai zakat adalah;

a. emas, perak, dan uang;

b. perdagangan dan perusahaan;

c. hasil pertanian, hasil perkebunan, dan hasil perikanan;

d. hasil pertambangan;

e. hasil peternakan;

f. hasil pendapatan dan jasa;

g. rikaz.
(3) Penghitungan zakat mal menurut nishab, kadar, dan waktunya
ditetapkan berdasarkan hukum agama.

PASAL 12

BAB IV: PENGUMPULAN ZAKAT
(1) Pengumpulan zakat dilakukan oleh badan amil zakat dengan cara
mnerima atau mengambil dari muzakki atas dasar pemberitahuan
muzakki.

(2) Badan amil zakat dapat bekerja sama dengan bank dalam
pengumpulan zakat harta muzakki yang berada di bank atas
permintaan muzakki.

PASAL 13

BAB IV: PENGUMPULAN ZAKAT
Badan amil zakat dapat menerima harta selain zakat, seperti infaq,
shadaqah, hibah, wasiat, waris, dan kafarat.

PASAL 14

BAB IV: PENGUMPULAN ZAKAT
(1) Muzakki melakukan penghitungan sendiri hartanya dan kewajiban
zakatnya berdasarkan hukum agama.
(2) Dalam hal tidak dapat menghitung sendiri hartanya dan kewajiban
zakatnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1), muzakki dapat
meminta bantuan kepada badan amil zakat atau badan amil zakat
memberikan bantuan kepada muzakki untuk menghitungnya.
(3) Zakat yang telah dibayarkan kepada badan amil zakat atau lembaga
amil zakat dikurangkan dari laba/pendapatan sisa kena pajak dari
wajib
pajak
yang
bersangkutan
sesuai
dengan
peraturan
perundang-undangan yang berlaku.

PASAL 15

BAB IV: PENGUMPULAN ZAKAT
Lingkup kewenangan pengumpulan zakat oleh badan amil zakat
ditetapkan dengan keputusan menteri.

BAB V
PENDAYAGUNAAN ZAKAT

PASAL 16

BAB V: PENDAYAGUNAAN ZAKAT
(1) Hasil pengumpulan zakat didayagunakan untuk mustahiq sesuai
dengan ketentuan agama.
(2) Pendayagunaan hasil pengumpulan zakat berdasarkan skala prioritas
kebutuhan mustahiq dan dapat dimanfaatkan untuk usaha yang
produktif.
(3) Persyaratan dan prosedur pendayagunaan hasil pengumpulan zakat
sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) diatur dengan keputusan
menteri.

PASAL 17

BAB V: PENDAYAGUNAAN ZAKAT
Hasil penerimaan infaq, shadaqah, hibah, wasiat, waris, dan kafarat
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 didayagunakan terutama untuk
usaha yang produktif.

BAB VI
PENGAWASAN

PASAL 18

BAB VI: PENGAWASAN
(1) Pengawasan terhadap pelaksanaan tugas badan amil zakat dilakukan
oleh unsur pengawas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (5).
(2) Pimpinan unsur pengawas dipilih langsung oleh anggota.
(3) Unsur pengawas berkedudukan di semua tingkatan badan amil zakat.
(4) Dalam melakukan pemeriksaan keuangan badan amil zakat, unsur
pengawas dapat meminta bantuan akuntan publik.

PASAL 19

BAB VI: PENGAWASAN
Badan amil zakat memberikan laporan tahunan pelaksanaan tugasnya kepada Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia atau kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah sesuai dengan tingkatannya.

PASAL 20

BAB VI: PENGAWASAN
Masyarakat dapat berperan serta dalam pengawasan badan amil zakat
dan lembaga amil zakat.

BAB VII
SANKSI

PASAL 21

BAB VII: SANKSI
(1) Setiap pengelola zakat yang karena kelalaiannya tidak mencatat atau
mencatat dengan tidak benar harta zakat, infaq, shadaqah, hibah,
wasiat, waris, dan kafarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8,
Pasal 12, dan Pasal 13 dalam undang-undang ini diancam dengan
hukuman kurungan selama-lamanya tiga bulan dan/atau denda
sebanyak-banyaknya Rp. 30.000.000,00 (tiga puluh juta rupiah).
(2) Tindak pidana yang dimaksud pada ayat (1) di atas merupakan
pelanggaran.

(3) Setiap petugas badan amil zakat dan petugas lembaga amil zakat
yang melakukan tindak pidana kejahatan dikenai sanksi sesuai
dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

BAB VIII
KETNTUAN-KETENTUAN LAIN

PASAL 22

BAB VIII: KETNTUAN-KETENTUAN LAIN
Dalam hal muzakki berada atau menetap di luar negeri, pengumpulan zakatnya dilakukan oleh unit pengumpul zakat pada perwakilan Republik Indonesia, yang selanjutnya diteruskan kepada badan amil zakat nasional.

PASAL 23

BAB VIII: KETNTUAN-KETENTUAN LAIN
Dalam menunjang pelaksanaan tugas badan amil zakat sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 8, pemerintah wajib membantu biaya operasional
badan amil zakat.

BAB IX
KETENTUAN PERALIHAN

PASAL 24

BAB IX: KETENTUAN PERALIHAN
(1) Semua peraturan perundang-undangan yang mengatur pengelolaan
zakat masih tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dan/atau
belum
diganti
dengan
peraturan
yang
baru
berdasarkan
Undang-undang ini.
(2) Selambat-lambatnya
dua
tahun
sejak
diundangkannya
undang-undang ini, setiap organisasi pengelolaan zakat yang telah
ada wajib menyesuaikan menurut ketentuan Undang-undang ini.

BAB X
KETENTUAN PENUTUP

PASAL 25

BAB X: KETENTUAN PENUTUP
Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.