UU NOMOR 5 TAHUN 1999

LARANGAN PRAKTEK MONOPOLI DAN PERSAINGAN USAHA TIDAK SEHAT

Status: BERLAKU (IN FORCE)
Diundangkan: 1999-01-01
Total Pasal: 27 naskah terverifikasi
URN: urn:lex:id:gov:dpr-presiden:uu:1999:5
Buka di Peramban Interaktif LexWondera → Bagikan ke WhatsApp

Batang Tubuh & Naskah Pasal Terverifikasi

PASAL I

BAB I: KETENTUAN UMUM
Dalaln undang-undang ini yang rlinraksutl clcngan:
l. Monopoli ndalah pcnguilsilan filas prcxluksi dan atstr pctnflsarfln
barang d*n atu atali Fsnggunflfln jasa tcrtcntu oleh satu pclaku
usaha atft[r $ittu keloltrllok pelakrr rrsalra,
2, Praktek

ff"#
F}H i SIDf N
HI. trrJBr^th; tNn.i)Ftt at A
3
z. Praktuk rnunopoli adalah pcrnusatnrr kukuafan ekononri eilch satu
ntau lcbih pelaku usaha yans nrcngakibntkan diku*sainya
produk*i tlnn atau pemflsaran atas barang dan atau jasn tertentu
sehingga nrcnilrrtrulkan prrsaingarn usalra tidak schat dan dapat
nrerugikan kupentingan untunt.
3" Pemusatan kekuntan elcononri atlalah p*n1[uas&an yang nyata al.ns
suatu pflsar bersangkutan olnh satu atau lebih pelaku usaha
sehingga dapat menentukan harga barang dan atau jasa.
4. Fosisi dominan adalah kcatla*rr {,i nlnnfl pelaku usuhn tidak
rnempunyai pesaing yang b*rarti di pasar trcrcangkutan dalam
kaitan rlengan pfingsa pnsflr yarrg dikuasai, aluu pclaku u*aha
rrrempunyai posisi tcrringgi di antarfl pcsaingnya di pflsar
bersangkutan tlalalrr kaitan dcngan ke malnpuan kr:uarrgan,
ken'rampuan akscs pada pasokan at{ru pcnjualari, serta
kemanrpuan untuk rrrenyesuaikan pssokan atau pcrmintaan
barang atau jara lfrtenlu.
5. Pelaku usaha adnlah setiap ortrns perorangfln atau badan usaha,
baik yang berbentuk badnn lrukuru atau bukan badan hukum yang
didirikan dan berkedurlukan arau rnclnkukan kegiatan dalsm
wilayah hukrnn negara Reprrhlik lnclone*ia, trnik scnsliri maupun
bersarna-sama rnelalui pcrjanjian, nrenyelcnggarakan b*rhagni
kegiatan usaha dnlam bitlang ckononri.
6. Persaingnlr usalrir tidak sehat adatah persaingan anrarpclaku us*ha
dalam nrenjalankan kcgiatan produksi dan atau Fcln&saran bar*ng
dsn atau jase yans dilakukarr dengan c*ra tidak jujur atau
melawan hukum alau nlenghambal pcrsaingan usaha.
7. Pedanjian

ffi
,l '"t'l
l
'.. ' {. I'r
r,. ' ,
',J i' j ,' r',
4
7. Pcrjanjinn &dalah suatu perhurtan satu fltilu lebih pelahu ustha
untuk mcngikatknn diri terhadap sfltu etsu lebih pelaku urahn lain
dengan nama ap& prnr bnik tertulis maupun tidak tsrtulis.
8. Persekongkolan etau koilspirasi usaha ndalah bentuk kerjrsamn
ynng dilakukan olch pelaku useha dengan pelaku ustha lain
dengan maksud untuk menguasei paser bcrsangkutan bagi
kepentingan pelaku usaha yang bersekongkol.
9. Fassr ndclah lembagn ekonomi di mana pars pembeli dan pcnjual
hnik secnra langsung maupun tidak langsung dap*t meltkukan
transaksi perdagangan brrang dnn atau jasa,
10. Pasnr hersangkukn adalsh pflsflr yang brrkaitan dengan
jnngkauan nta* dnprah pemasaran lerteulu olch pelaku usahn atas
barang dan atau jasa yang $&m& fltsu sejenis atnu substitusi dari
hrrang dan atau jasa tersebut.
I 1. Struktur pnsf,r adnlah keadaan pa$ar y&ng melnberikan petunjuk
tentrtrg aspek-aspck ynng memiliki pengaruh perrting terhadap
pcrilaku pelnku usaha dan kinerja pasflr, &ntore lain junilah
penjual dan pemhcli, hambatan masuk dan ksluar pa$sr,
keragnman produk, sistem distribusi, dnn pnguas&fln pflngsa
pnssr.
12. Perilnk$ Fnss.r ndolnh tindsknn yang dilakuk$n alch pclakrr ttsnha
dalam kapasitasnys sebagei pernasok ntau penrbeli bnrang dun
atnu jrsu untuh mencapai tujuan peru*ahaan, antsrs lain
pencapaian kba, pcrturnbuhan flset, targst penjualan, dan mettxl*
persaingnn yang digunakan.
13" Pangsa .."

y
5
13. Pangsu p:l$ar ndalnh persentase nilai jual atau beli harnng atau
jasa tcrtcntu yang rlikuasai olch petaku usaha pudn p{l$*r
bersangkutrn dalam tahun kalendsr tsrtentu.
14. Hargn pfl$ar ndalah hnrga ynng ditrayar dalam transaksi burang
tlan rtau jasn eesuai k*sepakatnn antara para pihak tli pusar
hersangkutan.
15. Konsumen adal&h setinp pemakai dan stnu penggunf, barang dan
atau jasa baik untuk kepcntingan diri sendiri maupun unluk
kepentingan pihak lain,
16. Barang adalah setiap benda, baik herwujud maupun tidak
berwujud- baik bergernk maupun tidnk hergerak, yang dapat
diperdryangkan, dipakai, dipergunakan, at&u dimanfnatkrn oleh
konsumen #au pclaku usaha"
17. Jasa adalah setiap layanrn yang bcrbentuk pekerjaan etnu prcstasi
yang diperdagangkan dalam mruyarakat untuk dimanfaatkan oleh
konsumen ntau pelaku usnha.
I8. Kornisi Pengawar Fersaingan Usaha adalah komisi yang dibentuk
untuk msngnwa$i pelaku uraha dalam rnenj*ltnkan kegintan
usahanyn ilgfir tidsk melakuknn praktek monopoli dan *tau
persaingan usaha tidak sehat.
19. Pnngadilan Negeri adnlah pengadilan, sebrgaimana dimaksud
dalarn peraturan perundnng-undangan yang berlaku, di tcmpat
kedudukan hukum usaha pelaku uraha.
BAB II

ffi
FRt- :}lDtiN
HIf',UBL IK INDL}NE 3I.A
6
BAB II
ASAS DAN TUJUAN
Fasnl ?
Pelaliu usaha cli Inr.lonesia dnlarn rncnjalankan kegiatan u$ffhanyfl
berasaskan de mokrasi ckorrorui dengatr rnemperhatikan keseimbangan
entara kepentingan pelaku uxahn dan kepentingan utnum.
Fasal 3
Tujuan p*rrrtrentukan undarrg-urrdarrg ini adalah untuk:
a. rnenjaga kep*utingan urnunr dan nreningkatkon efisiensi ckonami
nasiCInal rebagai salah satu upsyil untuk rncningk*tkan
kcsejahteraan rakyut:
b. mewujudkan iklirn usahil yang kondusif melalui pengatursn
persairrgnn usaha yang schat sehingga rnenjamin adanya kepastian
kesemprtan bcrusaha yang sinuil bagi pclaku usaha besar, pelaku
usaha m*nengah, dan pclaku usaha kecil;
c. mencegah prnktck ntonupoli dan atau persaingln usaha tidak
rehat yang ditinrbulkan uleh pelaku usaha; dan
d. terciptanya ef*ktivitas dnn efisiensi dnlanr kcgiatau usaha.
BAB ITI ,

ffi}
r]FIL':iINfFJ
tir". frLruL"f }1 rNr)()Nf; 1]ll\
7
BAB III
PBRJANJIAN YANG DILARANG
Bagirn Pertama
0ligopoli
Pasal 4
(l) Petaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan polaku usaha
lain untuk $ecara bersama-canra rrrelakukan pengunsaan produksi
dnn fltflu pemasrrfln buang dan atau jasa yflng dapnt
mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan atau persaingan
usaha tidak sehst.
(2i Felaku usaha pfltut didugfl atflu dianggap sccara bcrsamn*snmn
melakukan penguffiaan proeluksi dnn atau pema$arfiIl htrang dan
atau j*sa, sebagaimana dimaksud ayat (l), apabila 2 tdua) atau 3
(tiga) pelaku usaha rtau kelompok pelaku usaht rnenguasai lebih
dsri ?5 % (tujuh puluh lima persen) pangsa paser satu jenis
barang atau jasa tertentu,
Baginn Kedua
Penetapan Harga
Paral 5
(l) Pelaku usaha dilarang ntembuat perjanjian dengan grel*u usaha
pesaingnyn untuk menetapkan harga atas suatu hnrang dan atau
jusa yang hnru* dihnyar oleh konsumen atau pclanggan pada
pflsar bcrrnngkutan yang sama.
(2) Ketentuan ..

*
Frttt rlllt-N
hLPUTILII1' IhIDT}NE 5IA
I
(2) Kctenluan schagaimanr dimaksud dalnrn ftyat tl) tid*k br'rlaku
bagi:
fl. $uatu perjnnjian yang dibuat dalanr $uatu usflha pe(ungaq atau
b. suatu perjanjian yang didasarkan undaug-undnng ynng
berlaku.
Pasal 6
Pelakrr urahn tlilarnng membuat nerianiinn yflng nrcngakibntkan
pembeli yang satu harus menrbayar dengnn hargu yang bertreda dari
huga yang harus dibtynr oleh pembeli lain untuk trnrang *lan ntau
jasa yong sflrnfl.
Fssal 7
Pelaku ucahn dilarang nrembuat perjanjian dengan pelaku usaha
pesaingnyn untuk menetapkan harga di bawah hargn pasflr, ynng
dapat mengakibatkan terjadinya persaingan usnha tidak sehat.
Pnsal I
Pclaku useh$ dilarang membuat perjanjian dengan plnku usuht lain
yang memuet porsyaratan bahwa penerimn bsrang dan ntau jusa tidak
akan menjurrl atnu memssok kernbali barang clan atau jasa yang
diterimanya, dengan hnrga yang lebih rendah daripada hlrga yang
telsh diprjanjiknn schingg* dapat urengakib*then terjadiny*
perr*ingan usflha tidrk sehat.
Bagian
F
Itr
!'4

FHt c:IDU N
Rf l'LJFll-lR INDr)Nl,]:rlA
I
Bagian Ketiga
Pcnrhagian Vilayah
Fasal 9
Pclaku usHtu dilarang m*rlbuat trrcriaujian tlcngan pelaku uselu
pesaingnya yang bsr{ujuen untuk tnemhagi wilayah per}tflsaran ateu
alokasi pasar terhadap harnng dan atau jasa schingga dapm
nrengakibatkan terjadinya praktek tnonopoli dan flt&u persaingen
usaha tidak sehat.
Bagian Kccnrpal.
Penrboikrtan
Pasal ltl
(l) Pelaku usaha dilarang menrtruat perjanjian, dengan pclaku usaha
pesaingnyar yang dapat nrcnghalangi pelaku usaha lain untuk
melakukan usahn y&ng liiltila, haik untuk tujuan pasar dalam
negeri maupun pssflr luar nrg*ri.
p) Pelaku usaha dilarang mcnrbuat perjanjian dengan pclaku usflha
pesaingnya, untuk menolak nrcnjual $etirp harang dan ntau jasn
dari pelaku usaha lain sehinggit pcrbuatafl tersebut:
a. nrerugikrn atau dapflt diduga akan merugikan pelaku useha
lilin; ;rtiur
b. nternbntasi pcluku usaha lain dalam nrenjual atau tmcrnbcli
seliap barang dalr atau jasa dari pas$r hersangkutan.
Bagian
nr,..
A

W
['H[ (:ll ]l N
RII t'LJLlt.^lK llrll'l()fi[':l/-
- l(l -
fiagian Kelirna
Kartel
Fasal I I
Pelaku usah& dilarang nrenrhuat pcrjanjian. dcngan pelaku usaha
pesaingnya, ysng bcrrnaksud untuk urcnrpengaruhi harga dengan
mengatur produksi dnn atau pr:nlssararr suatu barang dan fltau jess,
yang dapat mengakibatkan terjadinya praktek rnonopoli dan atau
persaingan usnha titlak s*hnt,
Bagian Ker:rrarrr
Trust
Ptsal I2
Felaku usahn dilarang nternbuat pcrjanjian dengan pelaku usaha lain
untuk melakukan kerja sanlfi, rlengan mcmbentuk gabungan
perusahaan atau perseroan yailg lclrih hcsar, dengan tetap menjega
dan menrpertahankarr kclangsungan hidult masing-masing pcrusahaan
atau Ferseroen ulggotanya. yang hertujuan untuk mengonlrol
produkri dan atau lxnrasflran atas barartg dan atau jasa, schirrgga
dapat nrengakibatkan ter.iadinya praktck rnon*poli dan atau
persaingan usaha tidak sehat.
Bagian ..

rlF.tr,:)l[]Lp{
RF rlrJf3Llll rNDrlN[-3tA
- lt
Bagian Kctujuh
CIligop*oni
Pssal 13
(l) Pelaku u$sha dilarang membuat pcrjanjian dengan pelaku usrrhe
lain ysng hcrtujunn untuk sccarfl bersama-sama meuguasai
pembelian atau penerimaan pasokan agfir dapat mengendalikan
hnrga atns barang dan atnu jnsa dalam pfl$ilr bcrsangkutan, yang
dnpat mengahibatkan terjadinya praktek monopoli dan atau
persaingar usaha tidak sehat.
(?) Pelaku u*aha patut diduga ntsu dianggap $ecflra bsrunrna-sama
rncnguasai pembelian atau penerimaan pasokan scbagnimnna
dimakxud dalom nynt (l) apabila 2 (dua) atau 3 (tigs) pelaku
usaha atau kelompok pelaku usaha menguasai lehih dari ?5%
{tujuh puluh Iima persen) pnngsa pnser rntu jenis harang ntau jasa
tertcntu.
Bagian Kedclapan
Integrasi Vertikal
Pasal 14
Pelaku usnha dilarang membunt perjanjian dengan pl*u usflha lain
yang bertujuan untuk mengua*ai pruluksi sejumlah pruluk yang
(ermasuk dalam rangkaian produksi barang dan a{nu jasn tertentu
yang mane xeti*p rangkaian produksi merupakan hnril pe*golnhan
atau proses lanjutan, haik dalam satu rangkaian langsung maupun
tidak langsung, yang dapat rnengakibatkan terjadinys persaingun
usaha tidak sehnt dan atau merugiknn nrasyarakat.
Bagian

\
pH t.5lf1f. N
RL PU[.tLl l( rNt-]Ul',lt* 1]iA
Sagiun Kesenrtrilan
Ftlrjanjian Tertutup
Pasal l5
(l) Pelaku usaha dilarang nrcrnbual perj*njinn dengan pelaku usahe
lain yang mcmuat per$ynratnn halrwa pihuk yang menerima
barang dan atau ja*a hnnya Rkarr lnclnarok atau tidak rnemasnk
kcrnbali barang dan atau jasa ter*r;trut kepada pihak tertentu dan
atau pada tf,mpat tertcntu.
(2) Pelaku usahn dilarang memtruat prrjanjian dcngan pihak lain
yeIIB nlsmuat persyaratan bahwa pihak yang nrenerima barang
dan atau jarn tcrtcntu harus bersedia nremheli barang rlan atnu
jasa ltin dari pclaku usnha lrernasok.
(3) Pelaku usaha dilarang lnenrtruirt perjanjian mengenai harga atau
potongan harga tertcnlu fita$ b&rflng dan atnu jflsa, yang nremuat
persyeratan bahwa pelaku usaha yilng tncnerima barang dan atau
jaea dnri pelaktr usrha pcrmasok:
a. harus bersedia mcnrbcli barang dan ntau jasa lnin dari pelaku
usnha penrasok; atau
b. tidak akan mcnrheli barang dan atau jasn yolrg snma alru
scjenis clari pelakrr usaha lain yang mcnjadi pesaing dari
pclaku usahu perrtasok.
Bagian
\
EI

ffi
P.rl t- r,l1) t_ N
til.t)r,t-J[.rR tND(]Nf 5t/r
-t3-
Bngian l{esepuluh
Perjanji*n Dengan Pihak Luar Negeri
Fasnl 16
Pelaku usaftfl dilarang membuat perjanjian dengan pihak lain di lunr
negeri yang men)uat ketentuan ysng dapat nrengakibrtkan tcrjadinya
prnktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat.
BAB IV
KEGIATAN YANO DILARANG
Bagian Pcrtnma
Moneipoli
Fnsd l?
(l) Fclnku usaha dilarang melakukan penguasfferi *tas produk*i dan
fitsu pemnsaran bamng dan atau jasa yang dapat mcngfikibatkan
terjadinya prnktek monopoli dan atau persaingan u*ahn tidak
sshst.
(2) Pelaku usaha patut diduga atau dianggap melakukan penguasnan
alfls produksi dan atau pemasaran bnrang dan atffu jasa
sebngaimnna dimaksud dalam ayat (l) apabila:
a. barnng dan atau jasa yang hersangkutan belum nds
sub*titusinya; atnu
b. rnengnkibatkan pelaku usaha lain tidak dnpat masuk ke daltm
per*tringan usaha bnrang dnn atau jasa yang sanla; filau
c., satu pclaku usahn atail $atu kelompok plaku usahn menguusai
lsbih dari 50S (lirna puluh persen) pangsa paser satu jenis
barang atau jasn tertentu.
Bagiau

ffi
[,1.]r5]t)l_N
r{t r.ruiJL il.{ tND(JNf illt
-t4-
Bagian Ksdua
Monopsoni
Pasal 18
(l) Pelaku u$rhe dilarnng menguasai pcncrimflfln p&soknrt fiteu
rnenjadi pembeli tunggal atas barang dan atau jasa dnlarn pfl$ar
bersrngkutan yang dapat mengakibatkan terjadinya praktek
mnnopoli dan atau persaingan rrsaha tidak sehat,
(2) Pelaku usahe patut diduga ntau dianggap mengun$ai penerirn*an
pa$oken atau menjadi pernhcli tunggal sehagaimana dimaksurl
tlal*m ayat (l) apabila satu pelaku usaha atsu satu kclornpok
pelrku usflhfl menguasai lebih dari 50% (linra puluh perxen)
Fangsn pflsar satu jenis barang atau jasa tertcntu.
Eagian Ketiga
Penguasaan Pasar
Pasal l9
Peloku usaha dilnrang melakukan satu atau beberapa kegiatan, baik
scndiri mflupun bersalna grlaku usahn lain, y$ng dapat
mengakihatkan terjadinyn praktek monopoli dan atau persaingan
u$rhs tidak sehat berupa:
a. menols,k dm atnu menghalangi pclaku usaha tertentu untuk
melnkuknn kegiatnn usahs yang $ailra pacla pasar bersangkutan;
atau
b. menghalangi..

e
rrHr-";lriL N
Irf F[JBl tK lNf)()Nt-1t/r
-15
b. rnenghala'gi konsurnen arau peranggan pcraku usahs pcsaingnya
untuk tidak nrelakukan lrubungan usrha dcngan plaku usaha
pesaingmya itu; ilttu
c. mcrnbatasi pereclnran tlan atau penjuaran harang drn atau jasa
pada pasar bersnngkutfln: fltilu
d^ melakukan praktek tiiskrirninnsi rerhaclap pelaku usaha te rtentu.

PASAL 3U

BAB IV: KEGIATAN YANO DILARANG | Bagian Ksdua - Monopsoni
Naskah pasal.

PASAL 4

BAB III: PBRJANJIAN YANG DILARANG
(l) Petaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan polaku usaha lain untuk $ecara bersama-canra rrrelakukan pengunsaan produksi dnn fltflu pemasrrfln buang dan atau jasa yflng dapnt mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehst. (2i Felaku usaha pfltut didugfl atflu dianggap sccara bcrsamn*snmn melakukan penguffiaan proeluksi dnn atau pema$arfiIl htrang dan atau j*sa, sebagaimana dimaksud ayat (l), apabila 2 tdua) atau 3 (tiga) pelaku usaha rtau kelompok pelaku usaht rnenguasai lebih dsri ?5 % (tujuh puluh lima persen) pangsa paser satu jenis barang atau jasa tertentu, Baginn Kedua Penetapan Harga Paral 5 (l) Pelaku usaha dilarang ntembuat perjanjian dengan grel*u usaha pesaingnyn untuk menetapkan harga atas suatu hnrang dan atau jusa yang hnru* dihnyar oleh konsumen atau pclanggan pada pflsar bcrrnngkutan yang sama.

(2) Ketentuan .. * Frttt rlllt-N hLPUTILII1' IhIDT}NE 5IA I

(2) Kctenluan schagaimanr dimaksud dalnrn ftyat tl) tid*k br'rlaku bagi: fl. $uatu perjnnjian yang dibuat dalanr $uatu usflha pe(ungaq atau

b. suatu perjanjian yang didasarkan undaug-undnng ynng berlaku. Pasal 6 Pelakrr urahn tlilarnng membuat nerianiinn yflng nrcngakibntkan pembeli yang satu harus menrbayar dengnn hargu yang bertreda dari huga yang harus dibtynr oleh pembeli lain untuk trnrang *lan ntau jasa yong sflrnfl. Fssal 7 Pelaku ucahn dilarang nrembuat perjanjian dengan pelaku usaha pesaingnyn untuk menetapkan harga di bawah hargn pasflr, ynng dapat mengakibatkan terjadinya persaingan usnha tidak sehat. Pnsal I Pclaku useh$ dilarang membuat perjanjian dengan plnku usuht lain yang memuet porsyaratan bahwa penerimn bsrang dan ntau jusa tidak akan menjurrl atnu memssok kernbali barang clan atau jasa yang diterimanya, dengan hnrga yang lebih rendah daripada hlrga yang telsh diprjanjiknn schingg* dapat urengakib*then terjadiny* perr*ingan usflha tidrk sehat. Bagian F Itr !'4 FHt c:IDU N Rf l'LJFll-lR INDr)Nl,]:rlA I Bagian Ketiga Pcnrhagian Vilayah Fasal 9 Pclaku usHtu dilarang m*rlbuat trrcriaujian tlcngan pelaku uselu pesaingnya yang bsr{ujuen untuk tnemhagi wilayah per}tflsaran ateu alokasi pasar terhadap harnng dan atau jasa schingga dapm nrengakibatkan terjadinya praktek tnonopoli dan flt&u persaingen usaha tidak sehat. Bagian Kccnrpal. Penrboikrtan Pasal ltl (l) Pelaku usaha dilarang menrtruat perjanjian, dengan pclaku usaha pesaingnyar yang dapat nrcnghalangi pelaku usaha lain untuk melakukan usahn y&ng liiltila, haik untuk tujuan pasar dalam negeri maupun pssflr luar nrg*ri. p) Pelaku usaha dilarang mcnrbuat perjanjian dengan pclaku usflha pesaingnya, untuk menolak nrcnjual $etirp harang dan ntau jasn dari pelaku usaha lain sehinggit pcrbuatafl tersebut:

a. nrerugikrn atau dapflt diduga akan merugikan pelaku useha lilin; ;rtiur

b. nternbntasi pcluku usaha lain dalam nrenjual atau tmcrnbcli seliap barang dalr atau jasa dari pas$r hersangkutan. Bagian nr,.. A W ['H[ (:ll ]l N RII t'LJLlt.^lK llrll'l()fi[':l/- - l(l - fiagian Kelirna Kartel Fasal I I Pelaku usah& dilarang nrenrhuat pcrjanjian. dcngan pelaku usaha pesaingnya, ysng bcrrnaksud untuk urcnrpengaruhi harga dengan mengatur produksi dnn atau pr:nlssararr suatu barang dan fltau jess, yang dapat mengakibatkan terjadinya praktek rnonopoli dan atau persaingan usnha titlak s*hnt, Bagian Ker:rrarrr Trust Ptsal I2 Felaku usahn dilarang nternbuat pcrjanjian dengan pelaku usaha lain untuk melakukan kerja sanlfi, rlengan mcmbentuk gabungan perusahaan atau perseroan yailg lclrih hcsar, dengan tetap menjega dan menrpertahankarr kclangsungan hidult masing-masing pcrusahaan atau Ferseroen ulggotanya. yang hertujuan untuk mengonlrol produkri dan atau lxnrasflran atas barartg dan atau jasa, schirrgga dapat nrengakibatkan ter.iadinya praktck rnon*poli dan atau persaingan usaha tidak sehat. Bagian .. rlF.tr,:)l[]Lp{ RF rlrJf3Llll rNDrlN[-3tA - lt Bagian Kctujuh CIligop*oni Pssal 13 (l) Pelaku u$sha dilarang membuat pcrjanjian dengan pelaku usrrhe lain ysng hcrtujunn untuk sccarfl bersama-sama meuguasai pembelian atau penerimaan pasokan agfir dapat mengendalikan hnrga atns barang dan atnu jnsa dalam pfl$ilr bcrsangkutan, yang dnpat mengahibatkan terjadinya praktek monopoli dan atau persaingar usaha tidak sehat. (?) Pelaku u*aha patut diduga ntsu dianggap $ecflra bsrunrna-sama rncnguasai pembelian atau penerimaan pasokan scbagnimnna dimakxud dalom nynt (l) apabila 2 (dua) atau 3 (tigs) pelaku usaha atau kelompok pelaku usaha menguasai lehih dari ?5% {tujuh puluh Iima persen) pnngsa pnser rntu jenis harang ntau jasa tertcntu. Bagian Kedclapan Integrasi Vertikal Pasal 14 Pelaku usnha dilarang membunt perjanjian dengan pl*u usflha lain yang bertujuan untuk mengua*ai pruluksi sejumlah pruluk yang (ermasuk dalam rangkaian produksi barang dan a{nu jasn tertentu yang mane xeti*p rangkaian produksi merupakan hnril pe*golnhan atau proses lanjutan, haik dalam satu rangkaian langsung maupun tidak langsung, yang dapat rnengakibatkan terjadinys persaingun usaha tidak sehnt dan atau merugiknn nrasyarakat. Bagian \ pH t.5lf1f. N RL PU[.tLl l( rNt-]Ul',lt* 1]iA Sagiun Kesenrtrilan Ftlrjanjian Tertutup Pasal l5 (l) Pelaku usaha dilarang nrcrnbual perj*njinn dengan pelaku usahe lain yang mcmuat per$ynratnn halrwa pihuk yang menerima barang dan atau ja*a hnnya Rkarr lnclnarok atau tidak rnemasnk kcrnbali barang dan atau jasa ter*r;trut kepada pihak tertentu dan atau pada tf,mpat tertcntu.

(2) Pelaku usahn dilarang memtruat prrjanjian dcngan pihak lain yeIIB nlsmuat persyaratan bahwa pihak yang nrenerima barang dan atau jarn tcrtcntu harus bersedia nremheli barang rlan atnu jasa ltin dari pclaku usnha lrernasok.

(3) Pelaku usaha dilarang lnenrtruirt perjanjian mengenai harga atau potongan harga tertcnlu fita$ b&rflng dan atnu jflsa, yang nremuat persyeratan bahwa pelaku usaha yilng tncnerima barang dan atau jaea dnri pelaktr usrha pcrmasok:

a. harus bersedia mcnrbcli barang dan ntau jasa lnin dari pelaku usnha penrasok; atau

b. tidak akan mcnrheli barang dan atau jasn yolrg snma alru scjenis clari pelakrr usaha lain yang mcnjadi pesaing dari pclaku usahu perrtasok. Bagian \ EI ffi P.rl t- r,l1) t_ N til.t)r,t-J[.rR tND(]Nf 5t/r -t3- Bngian l{esepuluh Perjanji*n Dengan Pihak Luar Negeri Fasnl 16 Pelaku usaftfl dilarang membuat perjanjian dengan pihak lain di lunr negeri yang men)uat ketentuan ysng dapat nrengakibrtkan tcrjadinya prnktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat. BAB IV KEGIATAN YANO DILARANG Bagian Pcrtnma Moneipoli Fnsd l? (l) Fclnku usaha dilarang melakukan penguasfferi *tas produk*i dan fitsu pemnsaran bamng dan atau jasa yang dapat mcngfikibatkan terjadinya prnktek monopoli dan atau persaingan u*ahn tidak sshst.

(2) Pelaku usaha patut diduga atau dianggap melakukan penguasnan alfls produksi dan atau pemasaran bnrang dan atffu jasa sebngaimnna dimaksud dalam ayat (l) apabila:

a. barnng dan atau jasa yang hersangkutan belum nds sub*titusinya; atnu

b. rnengnkibatkan pelaku usaha lain tidak dnpat masuk ke daltm per*tringan usaha bnrang dnn atau jasa yang sanla; filau c., satu pclaku usahn atail $atu kelompok plaku usahn menguusai lsbih dari 50S (lirna puluh persen) pangsa paser satu jenis barang atau jasn tertentu. Bagiau ffi [,1.]r5]t)l_N r{t r.ruiJL il.{ tND(JNf illt -t4- Bagian Ksdua Monopsoni Pasal 18 (l) Pelaku u$rhe dilarnng menguasai pcncrimflfln p&soknrt fiteu rnenjadi pembeli tunggal atas barang dan atau jasa dnlarn pfl$ar bersrngkutan yang dapat mengakibatkan terjadinya praktek mnnopoli dan atau persaingan rrsaha tidak sehat,

(2) Pelaku usahe patut diduga ntau dianggap mengun$ai penerirn*an pa$oken atau menjadi pernhcli tunggal sehagaimana dimaksurl tlal*m ayat (l) apabila satu pelaku usaha atsu satu kclornpok pelrku usflhfl menguasai lebih dari 50% (linra puluh perxen) Fangsn pflsar satu jenis barang atau jasa tertcntu. Eagian Ketiga Penguasaan Pasar Pasal l9 Peloku usaha dilnrang melakukan satu atau beberapa kegiatan, baik scndiri mflupun bersalna grlaku usahn lain, y$ng dapat mengakihatkan terjadinyn praktek monopoli dan atau persaingan u$rhs tidak sehat berupa:

a. menols,k dm atnu menghalangi pclaku usaha tertentu untuk melnkuknn kegiatnn usahs yang $ailra pacla pasar bersangkutan; atau

b. menghalangi.. e rrHr-";lriL N Irf F[JBl tK lNf)()Nt-1t/r -15

b. rnenghala'gi konsurnen arau peranggan pcraku usahs pcsaingnya untuk tidak nrelakukan lrubungan usrha dcngan plaku usaha pesaingmya itu; ilttu

c. mcrnbatasi pereclnran tlan atau penjuaran harang drn atau jasa pada pasar bersnngkutfln: fltilu d^ melakukan praktek tiiskrirninnsi rerhaclap pelaku usaha te rtentu. Pasal 3U Pelaku usaha dilarang nrelakukarr pcrrra.sokan barang clan atau jasa dengan cara melakukan juat nrgi alau menstapkan harga yang $fingat rertdah dengan rnaksuil untuk nrenyingkirkun atau nrematikan usaha pesaingnya di pa$rr bersangkutan schingga dnpot nrcngakihatkan terjadinya praktek nronopoli dan atnu pcrsaingarr usaha tid*k sehat. Pnsal 2l Pelaku usaha dilarang nrelskukan kecurangan tlalam menetapknn biaya produksi dan biaya hinnyn ylng rncniacli bagian dari komponen harga barang dan atau jrrsa yang d*1lat nrengakibatkan terjadinya persaingan usaha tidak sehat. Bagian Kccnrpat Persekongkr.rlalr Fasal ?2 Pelaku usaha dilarnng hrrsukongkol dcngan pihak lain uutuk mcngalur dan atau rncnuntukan p*lnlenang tender schingga dapat mengakibatkan teriiadinya pur*aing*n usahn tidak sctrat. Pasal 23 ".. W FifrrStDrN t'(t: trLJHL. lK lf'i {-}(JNL rrl rr Fasnl 33 Pelaku usalm dilarang bersekongkol tlengan pihak lnin mendepirtkiln infcrrrnasi kr:giatan usaha pe$aio&nya diklasilikasikan sehagai ratrasia perusnhaan sehingga msngakibatkan tcrjrrlirry* pcrsaingan usaha tidak schat. Pasal t5 untuk yilr1g dapat Pas-rl 24 Pelaku usaha dilarang bersckongkol tlengan pihak lain untuk menghanlbat produksi dan atflu psmasaran harang dan atau jasa pelaku us{rha pesaingnya derrgan maksud agar harang dan aku jasa yong ditawarkan afau dipnsok di passr bcr.rangkutan menjadi berkurang baik dari junrlah. kualitas, nrflupun ketepatan waktu yang dipcrryaratkan. BAB V POSISI DON,IINAN Bngian Pcrtarrra Urtrurrr (l) Pelaku usflhn dilarang rncnggurrakan posisi dorninan baik s*cara langsung maupun tirlak langsung untuk:

a. ntenctnpkan syarat-.ryarat perdflgflngfln deng*n tujuan untuk nionr;*gah dtn fltau rnenghalangi konsuln*n nrr:*ry:rrleh tr*r*ng dan ntau jasa yang bcrsaing. buik dari scgi hargr rrrflupun kunlitas; ntau

b. rnembatasi *iffi I-!Hr{itt1t'N l{1 I'U[.j1"-lK rNDCrl''lt- l,lA -17

b. memhatfl$i pasar dnrr peng*mtrangrrn teknologi; atau

c. menghanrtrat pelaku usaha lain yang berpotrnsi rn*njadi pcsning untuk rncmasuki pasar bersangkutan, (?) Pelaku usnha urenriliki posisi rlominan sebagaimana diuraksud ayat (l) apabila: ,t. satu pelaku usaha atau satu kelompok pelaku usaha msngua$iti 50% (linra puluh pcrsen) alau lchih pangsa pasar tntu jenir harang atau jasa tertcnlu; atau

b. dua atau tiga pclaku usnha atau kelonrpok pelaku usahn mengumai 75% (tujuh puluh linra persen) rtau lebih pangsa pfi$ffr satu jenis barung atau jn$a tcrtentu. Bagian Kedua Jaba(an Rangkap Pasal 26 Seseorang yeng menduduki jahatan sebagai direksi atau komisnris dari suatu perusahaan. pada waktu yang bersarnaan dilarang merangkap menjadi dircksi atflu kornisaris pada pcrusahaan lainn apabila perusahaan*pcrusahaan tcr$chut :

a. berada dalam pa$ar bersangkutan yang sarna; atau

b. memiliki keterkaitan yang erilt dalam bidang dan atau jenit usaha; atau c, secara hersama dapat nrcnguasai pangsa pasar harang dan atau jasa tertentu, yang dapat nrengakibstkan terjadinya praktek ntonopoli dan alau persaingan usaha tidak sehat. Bagian ffi t,tiF.5tDE N t"l t- lrUl-]Ll K tN D()t',1f" :)l A - lll - Ilaginn Ketiga Penrilikan Silharn Paral 27 Pelaku u$flha rlilararrg rneuliliki saharn rnay$rita$ pltdfl h*berapa perusahaan scjenis yarrg rrrelakukiur kegiatan usahq dalam bidang yong sama pada pasar b*rsangkutarr yang satna, ntau rnendirikan beberapa perusahran yang nrcnliliki kegiatan usaha yang *anra pada pss&r bersangkutan ynng s&nra. apabila kepernilikan tersebut mengakibatkun: &. sntu pelaku usaha &tau satu kclornpok pclaku usalra msnguasai lchih drri Sfi% llirua puluh persen) pilngsa pnsar satu jenis barang atau j*srt tcrtcntu:

h. dua atflu tiga pelaku usaha atiru kelompok pelaku usahs menguasai lubilr d.lri 75 % (tujuh puluh linu pcrsen) psng$a pas,rr satu jcnis hnrang atau jasa tertrntu. Bagiarr Kcr;ltrpnt Penggnbungan, Pelctruran. tlan Pcngrunbilalihan Pasal 28 (l) Pelaku usaha dilnrang rrrclakukan penggabungan fltau pelcburan badan usahR yafig dapat nrungakibatkan tcrjudinya praltt*k monopoli dan atuu pcrsaingan usaha titlak sehat.

(2) Pelaku usnha dilnrang rnelakukan l)Bnganrbilalihnx saharn perusahaan lain apatrila tindakan tcrscbut dapat nrerrgakibatknn terjadinya praktek nronopoli dan ateru persaingan usaha tidsk sehat.

(3) Ketentuan ." ,#l

(3) Ketcntunn lebih lanjut mengcnai penggnbungan atau pctehurnn hsdan usaha yang dilarong sebagaimana dirnaksud nyat {l), dm ketrntuan mengenai pengarnbilnlihan sallnm pcruschaan sebaguimana dimaksud dalrrn ayat (2), diatur dalarn Psraturan Pcnrcrintaft. Pssal 29 (l) Penggnbungan atnu pclcburan badan usaha, ntau pengambilalihan saham sebagaimnna dimaksutl dnlam Pasnl 2S yang bcrakibat nilai sset dan atsu nilai penjualnnnya melebihi jumlah tertentu, wajib diberitahukm kcpada Komisi, selanrbrt-lamhatnya 30 {tigr puluh) hari sejrk tanggal pcnggabungan, peleburan fltflu pengambilalihan tsrsebut.

(2) Ketentufir tentang peiletapan nilni aset dan atru nilai penjualan serta tata cflra prmberitahuan sehagairnana dirnaksud dnlam ayat (l), diatur dalam Feraturnn PEmcrintah. BAB VI KOMISI PENGAWAS PER$AINGAN USAHA Bngiun Pertama Status Pasal 30 (l) Untuk mensnwe$i pelnksanaan Undang-undnng ini etib,entuk Idornisi Pengnwar Persaingan Usaha yang sela*jutnya disebut Komisi.

(2) Komisi t ! tsHFSiri\|N Rt" F5rJt Lll{ NtJ(JNthl{\ ?0

(2) Knnrisi adalah $ilatu lenrbaga indelrcndcn y*rlg tcrlcpas dari pengarult dan kr:kuasaan Pcrncrintah serta pihak lairr.

(3) Komisi bcrtanggung jawnb kepada Presidcn. Bagian Kechrn Kcanggotaan Pasal 3 I (l) Komisi tcrdiri flta$ scorang K*tu;r nrcrangkap anggota, sesr&ng Wakil Ketua rnerangkirll rngguta. dnn sekurang-kurangnya ? (tujuh) urang flnggatrr.

(2) Anggota Honrisi cliangkat dan dibcrhentikan oleh Pr*sidrn atns psrse.tujunn Dewan Perwakilarr Rakyat.

(3) Masa jatratarr qnggotir Korrri.si adnlnh 5 {lima) rahun dan dapat diangkat kenrtrali untuk I (satu) kali nrasa jabatrn herikutnya.

(4) Apabiln karclra brrakhirnya nrasa jabatan akan terjadi kekosongan dalam keanggotaan Konrisi, rnaka masa jsbatan anggota dapat diperparrjang sarrrpai ;xng'angkatan anggota baru. Pasal 32 Persyaratan keanggotasn Kotllisi adalnh :

a. wirrgfl ncgara Republik Indone.ria. lrcrusia *ckurang-kurilngnya 30 {tig* puluh) tahun dan sctinggi-tingginya 60 (enrm puluh) tahun pada snal pengangkatan;

b. setia k*pada Pancasila riarr Uldarrg-Undang Dasar Ig45;

c. berirnan dan bertaqwa kcpada Tuhan Yang Maha Esn;

d. jujur, adil, dan berk*lakunn traik; e bertemput \1. ff} f"'RE 5lt1LN F+t. rruFlL-lK rN$rlNr 5l11 1l

e. hcrtempat tinggal di wilay.rh n*gilra Republik Indonexia:

f. brrpengakman dalanr hidang usaha atau mernpuny:ri ;rerrgu{ahuan dan ku-ahlinn di bidang hukurn dan arau ekononrit

g. tidak pernah dipirlana: h" tidak pernnh dinyatakan pnilit olch pengadilan; dan

i. tidak terafiliasi dengan suatu badan usalra. Pasal 33 Kcanggotaan Konrisi berlre nti, karc*u :

t. meninggal duniu;

b. mcngurulurkan diri atas perntintaan scndiri;

c. bertr:rnpat tinggal di luar wilayah negara Republik Intloneria;

d. sakit jasmani atau ruhiuri tcrus rnenerus;

e. berakhirny& flnftsa jabatan keanggotann Konrisi; atau

f. diberhentikan. Pasal 34 {l} Pembentukan Kornisi scrt* f;usunan urganisasi, tugas, dau fungsinya ditetapkan dcngarr Kcputussn Pr*riden.

(2) Untuk kelancaran pel*ksanaan tugas. Kornisi dibantu olsh sckretariaf.

(3) Kornisi dnpat rnemberrtuk kck:nrpok kcrja.

(4) Ketentuan nrengrrrui $uriunlrl organisasi. lugas, dan fungsi se krcl.ariat dan kclurnprrk kur.ja diatur lchih lanjut dengrn kqputusan Komisi" Bagian $# PFlr-.5rDEhl HE PUtfI-,K IhJD(.]NL5iA Bagian Ketiga Tugas Pnsal 35 Tugas Komisi rncliputi:

a. melakukan penilnian tcrlradap perjanjian yang dapat mengakibatkan terjarlinya praktck nronop*li dan atau persaingarr usaha tidak sehat sctragainrnna diatur dalaln Pasal 4 sarnpai dengan Pasal I6;

b. mslakuhan pcnilaian tcrhndap kcgiatan usahfi dnn atau tind*kan pelaku usaha y&ng dapnt rrrengakibatkan terjndinya praktek nranopoli dan atau pcrsairrgan usaha tidak sehal sebagaimitnn diatur dalnnr Far*l l? sanrpai dengan Pasal ?4;

c. mckkukan pnilaian tcrhaclap nda atau tidak adanyu pcnynlntrgunaan posisi donrinan yang rlapat nrengnkihatkan terjadinya praktek monopoli dan atau pers*irrgan u*aha tidak sehat sebagaimana diatur dalam Pasal 25 sarnpai clcngnn Pn.ral 381

d. mengarnbil tindakan scsuai d*rrgan wewenrrng Kornisi sebagairnana diatur dalurn Fasal 30:

a. mcmbe"rikan .snran dnn pc.rtirnbangnn tcrhadap kcbijakan Pernerinlah yang b*rkiltan dcrrgan praktck monopoli dan atau persaingan usaha tidak schat;

f. nlenyilsun pedonr*rt dan atau putllrkasi yang bcrkaita* derrgarr Undang-undang ini:

g. nrenrherikar l*lrorun secflra hcrkaln atas h*sil k*rja Koffiisi kepadn . 2: Bagian .." q I' U. FtrF$l{ri. hJ Rt" trUtill-lK 1f9D(}NI bli\ Bagialr K*c'rrrpat Wewcnang Pasal 3(r Wewenang Knnrisi nrcliputi ; E. menerima lapnran dari lnasyarakat dan atau dari pelaku usahs tentang dugaan tcrjadirrya prnktek nronopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat;

b. ntelakukan penelitian terrtung dugaitn ndanyn kegiatan usaha dm atau lindaka* pelaku usaha yarrg rlalrat rrrcngnkibalkan terjndinya praktek monopoli dan atau persaingan u$aha tidnk sehat;

c. melakuknn penyelidiktn dan atau pcmeriksaan tcrhadap kasus dugaan praktck mon*poli dan atnu persaingan usaht tidak sehnt yang ttilaporkan al*h nrnsyarakat atau *leh pelaku usaha atau yang ditcrrrukarr oleh Korrrisi sebagai hasil dari penelitiannya:

d. mcnyinrpulkan hasil penyelidih*n dnn ntau pemcriksaan tentang ada atau tidak adarrya praktek nlCIn*poli dan atau persaingan usaha tidak sehat;

e. mcmanggil pclaku usaha yang tliduga telah melakuknn pelanggaran terhadap kctentuan undarg-undnng ini ; f, nrenranggil dan rrr*rrglradirkan saksi" saksi ahli, dan *etiap orang yans dianggap rnengctahui pclarrggaran tcrhadap kefenturn undang-undang ini;

g. nrenrinta,.. /1 i::i'. t F}EE S ,TN f-tI t"t.JHI_tK rND()Nf 5lA ?4 B. meminta ti*ntuan pcnyitlik untuk menghadirkan pelaku usahs, saksi, riak*i ahli, atnu sctiap orans s*bagairnana dirrraksud huruf e tlan huruf f" yang tidirk hr;rseclia rncrnenuhi panggilnn Komisi;

h. m*ntinta kcterangalr tlari instnnsi Penrcrintah dnlanr kaitannya dengan pcnyelietikan dan iltelu pcntcriksaan terhadap pclaku usahn ynng nr*langgar ketentuan urilang-undang ini;

i. mendapatkan, nsneliti, dan atau ntcnilai surat, dokunren, atau alat hukti lain guna pcnyelidikan dan atau perncriksaan; j. memutuskan dan menetapkan ada atau tidak adanya kcrugian di pihak pelaku usalra lain atau nrasyarakat;

k. nrenrtrcritahukan []utusan Konrisi kepada pelaku usaha yans didrrgn rnelnkrrkan prakt*.k rnnnopnli rlan Rfau prrc*ingan rrrrha tidah xchat;

l. menjatuhkflr sank$i herupa tinrlakan adnrinistratif kcpatla pclaku usaha yang melangsar kctentuan Undang-undang ini. Bagitn Kelinra Penrhiayaan Pasal 37 Eiayn untuk pcl*ksanaan tuglils Kr:rrriri dihehankan kepaela Anggaran P*ndapatan dan Belarr.ia Nr:garn rlan atan suntber-sunrbcr lain yrng dipcrbalehk*n oleh peraturtn ;rcrurrdarrg-undangan yang berlaku. BAB VII ." 4 i. tl F,frt Srut r',J t.rt lrrJBLlK tNDr)Nt" 5i A 25 BAB YTI TATA CARA PEHANGANAN PERKARA Pa*al 38 (l) Setiap orang yang mengetahui tclah tcrjadi atau putut diduga telah terjadi pelanggaran terhadap Undang-undong ini dnpal melaporkan sscsra tertulis kepada Komisi dengnn keterangnn yflng jclas tentang telah terjadinya yxlanggarnn- dengan menycrtaknn identitas trxlnpor. (?) Pihek yeng dirugikm sebagai akibat terjndinya pelanggaran terhadnp Undang-undang ini dapat melaporkan sscara tertulis keprdn Kornisi dengan keterangan yang lcngkap dan jelas tentang telnh terjadinya pelonggaran serta kerugian ymg ditiurbulkan, dcngan menycrtakan idcntitas pelapor.

(3) Identitns pclapor sebagaimana dimnksud dalam aynt (l) wajib dirahasisknn oleh Komisi.

(4) Tata cilra llcnyampaian laporan scbagaimana dinraksud dalam ayat (l) dan ayat (2) diatur lebih lanjut oleh Konriri- Pasal 39 (I) Burdasarksn laporan sebagainrana dirnaksud dalam Fasrrl 38 ayat

(1) dan ny6t (2), Komisi wajib nrclakukan perneriksnan pendahulunn, dn* dalnm wnktu selarnbnt-lanrbatnyn 30 {tigfl puluh) hsri $stelah menerirna laporan, Konrisi wajib mun*tnpkan pcrlu atau tidaknyr dilakukan pemeriksaan lanjutan '":-l\r. 'l'7'-'r" \\ ,:iffi --Tir{---"

(2) Dalam .. ffib FrHt strlrfit RI PUHL-IK INN{JNf, 9iA 76

(2) Dalam pemrriksaan lanjuten, Kornisi wajitr nrclakukan pemeriksaan terhadnp pelaku usaha yang dilnporkan.

(3) Knrni*i wajih menjaga kerahnsiaan infarnrasi yang diperoleh dnri pelahu usrha ynng dikategorikan acbagai rahasia perusuhaan. (a) Apabila dipordang perlu Komisi dapat mendengrr ketcrangnn saksi, saksi nhli, dan atau pihnk lain.

(5) Dalam melukukan kegiatan sebagaimnna dimaksud dalam ayat (2) dan ayat (4), anggota Komisi dilengknpi dengan surat tugar. Pasal 4O

(1) Komi*i dapat melakukan pemeriksaan terhudap pelaku usaha apabila ada dugaan terjadi pelanggaran Undang*undnng ini walaupun tflnpf, adanya laporrn. (?) Pemeriksaan sehagoinrana dimaksud dalarn tynt (l) dilnksanaknn sesuai dcngan trta cara *ehagainrana diatur dalam Pasal 39. Fasal 4l

(1) Pelaku usaha dan nt6u pihak lain ynng diperiksa wajih rnenyerahkan alat bukti yang diperlukan dalarn penyelidikan dnn atau pemeriksaan.

(2) Pclaku usaha dilarang rnenolnk diperiksa, nrenolak menrbsrihan inforrnasi yarg diperlukan dalanr penyelidikan dnn Risu pemeriks*an, f,tflu menghanrbet prose$ penyelidikan dan ntnu pemeriksaan.

(3) Pelanggaran.,. ffi PRt^ ",tL-lf N tr{'pr11t.],_,,a rNi)()Nf 5iA -2? -

(3) Pelanggarnn terhadnp ketentuan ayat (2). oleh Konrisi tliserahktn kepad* penyidik untuk dilakukan penyidikan s$$uni dengan ketentusn ynng berlaku. Pasal 42 Alat-alnt bukti pemeriksaan Komisi berupn: &. ketcrangan seksi, b keterangan ahli,

c. ourat drn atru dokumen,

d. petunjuk,

e. kcterangan pclaku us*ha. Pasal 43 {l) Komisi wnjib mcnyelesaikan pemeriks*an lanjur,an sclarnhat- lnmbatnya 60 {enarn puluh} hari sejnk dilakukqn pemeriksran Ianjntan sebagnimana dimaksud dalanr Pasal 39 aya{ (t).

(2) Bikmana diperlukan, jangkn waktu pemcriksaan lanjutan scbagaimana dimaksud dalam aynt (1) dapat dipcrpnnjnng paling Irma 30 (tiga puluh) hari.

(3) Kornisi wajib memutuskan telah terjadi atau tidnk tcrjadi pelanggaran terhadap undang-undang ini sclambat-lnmhatnya 30 (tiga puluh) hari tcrhitung sejak selcsninya pemeriksaan larrjutan eebagaimona dimaksud dalam nyat (l) atau ayat (2).

(4) Putusan Kornisi aebagaimana dimaksud dakm eyal {3} harus dih*cakan dalam suatu sidang yang dinyatakan tcrhukn untuk umum clan regera dibcritahukan kepada pclaku ucaha, Pasnl 44 .." ffi i.Hl 5,li[.N Qr t){JtJl-- l}( .P.t p#Nt ..it.a -;E- Pasal 44 (l) Dnlam waktu 30 (tiga puluh) hari sejak pelaku usaha rnrnerinra penrberilrhuan putusan Konrisi sebagairnaua dinrnksud dalanr Prsnl 43 ayat (4), pelaku usahn wajib mekksanakan putu$en tersehut dsn mcnyarnpaikan laporan pelaksanaannya kcpada Komisi.

(2) Pelaku usaha dapat nrengajukan keberatan kepada pengadilan Negeri selambat*lambatnya I4 {empat belas) hari setelah menerima pemberitahufl n putu$arr lErscbut"

(3) Felaku usaha ynng tidek mengqiukrn kehernran dulam jnngka waktu scbagaimnna dimaksud dnlnm ayat (2) dianggap menerimu Futus*n Komisi,

(4) Annbila ketentuan sebasaimana dimsk*ud dal*rn synt (l\ dnn nyst

(2) tidnk dijalankan oleh pelaku usaha, Koruisi menyerahkxn putusan tersebut kepada penyidik untuk dilakuhan penyidikan sesuai dengan ketentuan peratilran perundang-undnngan ya$g bedaku.

(5) Putusan Kornisi s*bagaimana dimaksud dalunr Posal 43 ayut (41 merupnkan bukti pcrmulaan yang cukup bagi pnyidik untuk melakukan penyidikan. Paeal 45 (l) Pengadiltn Negeri harus memeriksa kebcratar pctaku usaha sehagdrnnna dinraksud dalam Pasal 44 aynt (2), dalam waktil 14 (enrpat helns) hari mjak diterimanya kebcratan terscbut"

(2) Pengadilan Negeri herus memheriknn putusan dal*m waktu 30 (tiga puluh) hmi sejnk dimulainya pemeriksaan keberatan teruebut,

(3) Pihak ., - ffil t.Ht ltr)f .N HI tsULiL"IK INTJO\L5 A 29

(3) Pihek yans keberattn turhadap putusan pengadilan Negeri uebagairnana dimaksud dalam ayat (2), dalam waktu 14 (empat belar) hari dapat mengnjukan kasasi kepada Mahknrnnh Agung Rcpublik Indonesia.

(4) rvlahknmnh Agung harus rnemberikan putusan dalam waktu 30 (tiga puluh) hari sejak permohonan kasasi diterirna. Pasal 46 (l) Apabila tidak terdapat keberatan, purusan Komisi sehagainrana dimnksud dalam Pasal 43 ayat (3) telah mcmpunyai kckuatan hukum yung tetap.

(2) Putusan Knmisi sebagaimana dimaksutl dalam ayat (l) dimintnkan penetapan eksekusi kepada Pengadilan N*geri. BAB VIII SANKSI Bagian Pertama Tindahan Administrati f Pasal 47 (l) Kornisi berwenang menjatuhkan sanksi berupa tindaknn administratif terhadap pelaku usaha yang melanggsr ketentuan Undnng-undang ini. (?) Tindaksn administrarif mbagaimana dimnksud dalam ayat {l) dapat hcrupn: &. p*netapan pembatalan pcrjanjian rclragairnana dinraksud dal*m Paoal 4 srmpai dengan Pasal 13, Pasal 15, dan patal 16; dcn ntau

h. pcrintah tJHLl,'L)L N ,?l f rt,lUt.llt NI*rr.)Ni^ 1:rzl 30

b. perintah kepada pelaftu usaha untuk nrcnghentiknn intcgrari vertiknl sebngainrann dirnalcsud dalarn pasal 14; dsn atau

c. perinrnh kepada pelaku usaha untuk menghentikrn kegintan yeng terbukti menimbulkan praktek nronopoli dan ntfiu mcnyebabkan persaingan usaha tielak sehat dnn atau mcrugikan masyarakat; dan atnu

d. perintah kcpada peluku usaha untuk nrenghenr^ikan penyalahguna&n posisi donrinan; rlan atau

e. penetapan pembatnlan ata$ penggabungan slau peleburan hadan usaha dan penganrbilalihan saham rebagainrana dimaksud dalam Pasal 28; dan atau

f. penctapan pembayaran ganti rugi; clan atau

g. pengena*n denda serendah-rendahnya Rp 1.000.CI00.000,0fr (satu milinr rupiatr) dan seringgi-tingginya Rp 2$.CIfi).0()0"flX),00 (dua puluh lirnn miliar rupirh). Bagian Kedur Pidana Pokok Pasnl 48 (l) Pelanggaran terhadnp ketentuan Pusnl 4, pnsal g saurpai dengan Fnsal 14, Pasal 15 uampai dengan parnl Ig, pasttl 25, pasal Z?, dun Pasal 28 diancsm pidana denda serendflh-rendahnyr Rp 25,000.000.000,CI0 (dua puluh lima rniliar rupiah) dan retinggi-tingginya Rp 100.000.000,000,00 (seratus nriliar rupiah), atau pidana kurungan pcngganti denda sslama-tarnanya 6 (enam) bulan.

(2) Pclanggaran r;ffii -31

(2) Pelanggaran terhadap ketentuan Pasal 5 sampai dengan pasnr g, Paurl 15, Pasd 20 sanrpai dengan Prsal 24, dan pasal 26 undang'undang ini diancam pidnna denda serenduh-rendahnya Rp 000,00 ( lirna nriliar rupiah) dan uetinggi-ringginya Rp 25.00fi"000.000,00 (dua puluh lirna rniliar rupiah), ar*u pidana kurungan pengganti ds.nda sclama-lnmanya 5 {lirna} hulan, (31 Felanggeran terhadap kete.rluen Pasnl 4l Unclang-undang ini rliancam pidann denda ser*ndah-rendahnya Rp I .000.000.000,t10 (satu miliar rupiah) dan setinggi-tingginya Rp 000,00 (linra miliar rupiah), atau pidana kurungan pcnggnnti denda selama-lamanya 3 (tiga) bulan. Bagian Ketiga Pidana Tsmbahan Pasal 49 Dengan menunjuk ketentuan Pasal l0 Kitab Undang-undung Hukum Pidanan terhadap pidana scbagaimena diatur dslam Pasal 48 dapat dijatuhkan pidana tambahan berupa: a- pencuhutan izin usaha; atau

h. larangan kepada pelaku usnha yang telah lsrbulrti rnelakukan pelanggaran terhadap undrng-undang ini untuk rnenduduki jabatan direksi atnu komisaris sskurang-kurangnyn 2 (dua) tahun dan selarna*lamanya 5 (lima) tahun; atuu (. penghentian kegiatan rtau tinrlaknn tcrtentu ysng rncnycbabkan timbulnya kerugian pada pihak lain. BAB IX ."" ffie PH''-;t{)i:Fl l<[ 0uLJL.$\ trri{1}tJNL fi,rr -32 BAB IX KI]TENTUAN LAIN Pasal 50 Yang diker;ualikan dari kctcnrurn unclang-undrng ini adalah: B. pcrbuatan dan at*u pcrjanjian y;ulgi bertujuan melaksanakan peraturan peruudang-urrdanglur yang Lrerlaku; atau

b. perjanjian yang berkaitan tlcngan hak ntm kekayaan intelcktual scperti liscnsi, patc,r! lnerrk dagang, hak cipta, desain produk industri, rangkainn elektronik tcrpatru. dan ralrasia dagang, serta perjanii*n yang herknitan dcrrgarr waralabal atau

c. pcrjanjian pcn*(apan srandar tcknis produk barang dan atau jasa yang tidak nrcngckang dan atau rrrenghalangi persaingan; atau

d. perjnnjian dtlarn rangka keagenan yarrg isinya tidak nremuat ketsntuan untuk nrerrrasok kernlrari barang dan atau jasa dengan harga yang lebih rcniJah claripada harga yang telah diperjanjikan; atau

e. perjanjian kerja sflrrln pcneliriarr untuk peningkatan atau perbnikan standar hidup rrrasyarakat luiis; atflu f" perjanjian internasiorral yang tchlr diratifikasi olch pcmerintah Reprrblik lndoncsia; atau

g. perjanjian dan atau perbuatan yang b*rtujuan untuk ek;por yrng tidak m*nggilnggu kebutuhan dan atau pasokan pasflr dalanr neg*ri; atau h, pelnku usaha yctng tcrgolong dalnu usaha kecil; atnu

i. kegietan us*ha koperasi yflng secara khusus bcrtujuan untuk melayani anggofanya.

PASAL 5L

BAB IX: KI]TENTUAN LAIN
Naskah pasal.

PASAL l5

BAB III: PBRJANJIAN YANG DILARANG | Bagian \ - pH t.5lf1f. N
Naskah pasal.

PASAL 6

BAB III: PBRJANJIAN YANG DILARANG
Pelakrr urahn tlilarnng membuat nerianiinn yflng nrcngakibntkan
pembeli yang satu harus menrbayar dengnn hargu yang bertreda dari
huga yang harus dibtynr oleh pembeli lain untuk trnrang *lan ntau
jasa yong sflrnfl.
Fssal 7
Pelaku ucahn dilarang nrembuat perjanjian dengan pelaku usaha
pesaingnyn untuk menetapkan harga di bawah hargn pasflr, ynng
dapat mengakibatkan terjadinya persaingan usnha tidak sehat.
Pnsal I
Pclaku useh$ dilarang membuat perjanjian dengan plnku usuht lain
yang memuet porsyaratan bahwa penerimn bsrang dan ntau jusa tidak
akan menjurrl atnu memssok kernbali barang clan atau jasa yang
diterimanya, dengan hnrga yang lebih rendah daripada hlrga yang
telsh diprjanjiknn schingg* dapat urengakib*then terjadiny*
perr*ingan usflha tidrk sehat.
Bagian
F
Itr
!'4

FHt c:IDU N
Rf l'LJFll-lR INDr)Nl,]:rlA
I
Bagian Ketiga
Pcnrhagian Vilayah
Fasal 9
Pclaku usHtu dilarang m*rlbuat trrcriaujian tlcngan pelaku uselu
pesaingnya yang bsr{ujuen untuk tnemhagi wilayah per}tflsaran ateu
alokasi pasar terhadap harnng dan atau jasa schingga dapm
nrengakibatkan terjadinya praktek tnonopoli dan flt&u persaingen
usaha tidak sehat.
Bagian Kccnrpal.
Penrboikrtan
Pasal ltl
(l) Pelaku usaha dilarang menrtruat perjanjian, dengan pclaku usaha
pesaingnyar yang dapat nrcnghalangi pelaku usaha lain untuk
melakukan usahn y&ng liiltila, haik untuk tujuan pasar dalam
negeri maupun pssflr luar nrg*ri.
p) Pelaku usaha dilarang mcnrbuat perjanjian dengan pclaku usflha
pesaingnya, untuk menolak nrcnjual $etirp harang dan ntau jasn
dari pelaku usaha lain sehinggit pcrbuatafl tersebut:
a. nrerugikrn atau dapflt diduga akan merugikan pelaku useha
lilin; ;rtiur
b. nternbntasi pcluku usaha lain dalam nrenjual atau tmcrnbcli
seliap barang dalr atau jasa dari pas$r hersangkutan.
Bagian
nr,..
A

W
['H[ (:ll ]l N
RII t'LJLlt.^lK llrll'l()fi[':l/-
- l(l -
fiagian Kelirna
Kartel
Fasal I I
Pelaku usah& dilarang nrenrhuat pcrjanjian. dcngan pelaku usaha
pesaingnya, ysng bcrrnaksud untuk urcnrpengaruhi harga dengan
mengatur produksi dnn atau pr:nlssararr suatu barang dan fltau jess,
yang dapat mengakibatkan terjadinya praktek rnonopoli dan atau
persaingan usnha titlak s*hnt,
Bagian Ker:rrarrr
Trust
Ptsal I2
Felaku usahn dilarang nternbuat pcrjanjian dengan pelaku usaha lain
untuk melakukan kerja sanlfi, rlengan mcmbentuk gabungan
perusahaan atau perseroan yailg lclrih hcsar, dengan tetap menjega
dan menrpertahankarr kclangsungan hidult masing-masing pcrusahaan
atau Ferseroen ulggotanya. yang hertujuan untuk mengonlrol
produkri dan atau lxnrasflran atas barartg dan atau jasa, schirrgga
dapat nrengakibatkan ter.iadinya praktck rnon*poli dan atau
persaingan usaha tidak sehat.
Bagian ..

rlF.tr,:)l[]Lp{
RF rlrJf3Llll rNDrlN[-3tA
- lt
Bagian Kctujuh
CIligop*oni
Pssal 13
(l) Pelaku u$sha dilarang membuat pcrjanjian dengan pelaku usrrhe
lain ysng hcrtujunn untuk sccarfl bersama-sama meuguasai
pembelian atau penerimaan pasokan agfir dapat mengendalikan
hnrga atns barang dan atnu jnsa dalam pfl$ilr bcrsangkutan, yang
dnpat mengahibatkan terjadinya praktek monopoli dan atau
persaingar usaha tidak sehat.
(?) Pelaku u*aha patut diduga ntsu dianggap $ecflra bsrunrna-sama
rncnguasai pembelian atau penerimaan pasokan scbagnimnna
dimakxud dalom nynt (l) apabila 2 (dua) atau 3 (tigs) pelaku
usaha atau kelompok pelaku usaha menguasai lehih dari ?5%
{tujuh puluh Iima persen) pnngsa pnser rntu jenis harang ntau jasa
tertcntu.
Bagian Kedclapan
Integrasi Vertikal
Pasal 14
Pelaku usnha dilarang membunt perjanjian dengan pl*u usflha lain
yang bertujuan untuk mengua*ai pruluksi sejumlah pruluk yang
(ermasuk dalam rangkaian produksi barang dan a{nu jasn tertentu
yang mane xeti*p rangkaian produksi merupakan hnril pe*golnhan
atau proses lanjutan, haik dalam satu rangkaian langsung maupun
tidak langsung, yang dapat rnengakibatkan terjadinys persaingun
usaha tidak sehnt dan atau merugiknn nrasyarakat.
Bagian

\
pH t.5lf1f. N
RL PU[.tLl l( rNt-]Ul',lt* 1]iA
Sagiun Kesenrtrilan
Ftlrjanjian Tertutup
Pasal l5
(l) Pelaku usaha dilarang nrcrnbual perj*njinn dengan pelaku usahe
lain yang mcmuat per$ynratnn halrwa pihuk yang menerima
barang dan atau ja*a hnnya Rkarr lnclnarok atau tidak rnemasnk
kcrnbali barang dan atau jasa ter*r;trut kepada pihak tertentu dan
atau pada tf,mpat tertcntu.
(2) Pelaku usahn dilarang memtruat prrjanjian dcngan pihak lain
yeIIB nlsmuat persyaratan bahwa pihak yang nrenerima barang
dan atau jarn tcrtcntu harus bersedia nremheli barang rlan atnu
jasa ltin dari pclaku usnha lrernasok.
(3) Pelaku usaha dilarang lnenrtruirt perjanjian mengenai harga atau
potongan harga tertcnlu fita$ b&rflng dan atnu jflsa, yang nremuat
persyeratan bahwa pelaku usaha yilng tncnerima barang dan atau
jaea dnri pelaktr usrha pcrmasok:
a. harus bersedia mcnrbcli barang dan ntau jasa lnin dari pelaku
usnha penrasok; atau
b. tidak akan mcnrheli barang dan atau jasn yolrg snma alru
scjenis clari pelakrr usaha lain yang mcnjadi pesaing dari
pclaku usahu perrtasok.
Bagian
\
EI

ffi
P.rl t- r,l1) t_ N
til.t)r,t-J[.rR tND(]Nf 5t/r
-t3-
Bngian l{esepuluh
Perjanji*n Dengan Pihak Luar Negeri
Fasnl 16
Pelaku usaftfl dilarang membuat perjanjian dengan pihak lain di lunr
negeri yang men)uat ketentuan ysng dapat nrengakibrtkan tcrjadinya
prnktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat.
BAB IV
KEGIATAN YANO DILARANG
Bagian Pcrtnma
Moneipoli
Fnsd l?
(l) Fclnku usaha dilarang melakukan penguasfferi *tas produk*i dan
fitsu pemnsaran bamng dan atau jasa yang dapat mcngfikibatkan
terjadinya prnktek monopoli dan atau persaingan u*ahn tidak
sshst.
(2) Pelaku usaha patut diduga atau dianggap melakukan penguasnan
alfls produksi dan atau pemasaran bnrang dan atffu jasa
sebngaimnna dimaksud dalam ayat (l) apabila:
a. barnng dan atau jasa yang hersangkutan belum nds
sub*titusinya; atnu
b. rnengnkibatkan pelaku usaha lain tidak dnpat masuk ke daltm
per*tringan usaha bnrang dnn atau jasa yang sanla; filau
c., satu pclaku usahn atail $atu kelompok plaku usahn menguusai
lsbih dari 50S (lirna puluh persen) pangsa paser satu jenis
barang atau jasn tertentu.
Bagiau

ffi
[,1.]r5]t)l_N
r{t r.ruiJL il.{ tND(JNf illt
-t4-
Bagian Ksdua
Monopsoni
Pasal 18
(l) Pelaku u$rhe dilarnng menguasai pcncrimflfln p&soknrt fiteu
rnenjadi pembeli tunggal atas barang dan atau jasa dnlarn pfl$ar
bersrngkutan yang dapat mengakibatkan terjadinya praktek
mnnopoli dan atau persaingan rrsaha tidak sehat,
(2) Pelaku usahe patut diduga ntau dianggap mengun$ai penerirn*an
pa$oken atau menjadi pernhcli tunggal sehagaimana dimaksurl
tlal*m ayat (l) apabila satu pelaku usaha atsu satu kclornpok
pelrku usflhfl menguasai lebih dari 50% (linra puluh perxen)
Fangsn pflsar satu jenis barang atau jasa tertcntu.
Eagian Ketiga
Penguasaan Pasar

PASAL l9

BAB IV: KEGIATAN YANO DILARANG | Bagian Ksdua - Monopsoni
Naskah pasal.

PASAL 14

BAB III: PBRJANJIAN YANG DILARANG | Bagian Kedclapan - Integrasi Vertikal
Pelaku usnha dilarang membunt perjanjian dengan pl*u usflha lain
yang bertujuan untuk mengua*ai pruluksi sejumlah pruluk yang
(ermasuk dalam rangkaian produksi barang dan a{nu jasn tertentu
yang mane xeti*p rangkaian produksi merupakan hnril pe*golnhan
atau proses lanjutan, haik dalam satu rangkaian langsung maupun
tidak langsung, yang dapat rnengakibatkan terjadinys persaingun
usaha tidak sehnt dan atau merugiknn nrasyarakat.
Bagian

\
pH t.5lf1f. N
RL PU[.tLl l( rNt-]Ul',lt* 1]iA
Sagiun Kesenrtrilan
Ftlrjanjian Tertutup
Pasal l5
(l) Pelaku usaha dilarang nrcrnbual perj*njinn dengan pelaku usahe
lain yang mcmuat per$ynratnn halrwa pihuk yang menerima
barang dan atau ja*a hnnya Rkarr lnclnarok atau tidak rnemasnk
kcrnbali barang dan atau jasa ter*r;trut kepada pihak tertentu dan
atau pada tf,mpat tertcntu.
(2) Pelaku usahn dilarang memtruat prrjanjian dcngan pihak lain
yeIIB nlsmuat persyaratan bahwa pihak yang nrenerima barang
dan atau jarn tcrtcntu harus bersedia nremheli barang rlan atnu
jasa ltin dari pclaku usnha lrernasok.
(3) Pelaku usaha dilarang lnenrtruirt perjanjian mengenai harga atau
potongan harga tertcnlu fita$ b&rflng dan atnu jflsa, yang nremuat
persyeratan bahwa pelaku usaha yilng tncnerima barang dan atau
jaea dnri pelaktr usrha pcrmasok:
a. harus bersedia mcnrbcli barang dan ntau jasa lnin dari pelaku
usnha penrasok; atau
b. tidak akan mcnrheli barang dan atau jasn yolrg snma alru
scjenis clari pelakrr usaha lain yang mcnjadi pesaing dari
pclaku usahu perrtasok.
Bagian
\
EI

ffi
P.rl t- r,l1) t_ N
til.t)r,t-J[.rR tND(]Nf 5t/r
-t3-
Bngian l{esepuluh
Perjanji*n Dengan Pihak Luar Negeri
Fasnl 16
Pelaku usaftfl dilarang membuat perjanjian dengan pihak lain di lunr
negeri yang men)uat ketentuan ysng dapat nrengakibrtkan tcrjadinya
prnktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat.
BAB IV
KEGIATAN YANO DILARANG
Bagian Pcrtnma
Moneipoli
Fnsd l?
(l) Fclnku usaha dilarang melakukan penguasfferi *tas produk*i dan
fitsu pemnsaran bamng dan atau jasa yang dapat mcngfikibatkan
terjadinya prnktek monopoli dan atau persaingan u*ahn tidak
sshst.
(2) Pelaku usaha patut diduga atau dianggap melakukan penguasnan
alfls produksi dan atau pemasaran bnrang dan atffu jasa
sebngaimnna dimaksud dalam ayat (l) apabila:
a. barnng dan atau jasa yang hersangkutan belum nds
sub*titusinya; atnu
b. rnengnkibatkan pelaku usaha lain tidak dnpat masuk ke daltm
per*tringan usaha bnrang dnn atau jasa yang sanla; filau
c., satu pclaku usahn atail $atu kelompok plaku usahn menguusai
lsbih dari 50S (lirna puluh persen) pangsa paser satu jenis
barang atau jasn tertentu.
Bagiau

ffi
[,1.]r5]t)l_N
r{t r.ruiJL il.{ tND(JNf illt
-t4-
Bagian Ksdua
Monopsoni

PASAL 18

BAB IV: KEGIATAN YANO DILARANG | Bagian Ksdua - Monopsoni
(l) Pelaku u$rhe dilarnng menguasai pcncrimflfln p&soknrt fiteu
rnenjadi pembeli tunggal atas barang dan atau jasa dnlarn pfl$ar
bersrngkutan yang dapat mengakibatkan terjadinya praktek
mnnopoli dan atau persaingan rrsaha tidak sehat,
(2) Pelaku usahe patut diduga ntau dianggap mengun$ai penerirn*an
pa$oken atau menjadi pernhcli tunggal sehagaimana dimaksurl
tlal*m ayat (l) apabila satu pelaku usaha atsu satu kclornpok
pelrku usflhfl menguasai lebih dari 50% (linra puluh perxen)
Fangsn pflsar satu jenis barang atau jasa tertcntu.
Eagian Ketiga
Penguasaan Pasar
Pasal l9
Peloku usaha dilnrang melakukan satu atau beberapa kegiatan, baik
scndiri mflupun bersalna grlaku usahn lain, y$ng dapat
mengakihatkan terjadinyn praktek monopoli dan atau persaingan
u$rhs tidak sehat berupa:
a. menols,k dm atnu menghalangi pclaku usaha tertentu untuk
melnkuknn kegiatnn usahs yang $ailra pacla pasar bersangkutan;
atau
b. menghalangi..

e
rrHr-";lriL N
Irf F[JBl tK lNf)()Nt-1t/r
-15
b. rnenghala'gi konsurnen arau peranggan pcraku usahs pcsaingnya
untuk tidak nrelakukan lrubungan usrha dcngan plaku usaha
pesaingmya itu; ilttu
c. mcrnbatasi pereclnran tlan atau penjuaran harang drn atau jasa
pada pasar bersnngkutfln: fltilu
d^ melakukan praktek tiiskrirninnsi rerhaclap pelaku usaha te rtentu.
Pasal 3U
Pelaku usaha dilarang nrelakukarr pcrrra.sokan barang clan atau jasa
dengan cara melakukan juat nrgi alau menstapkan harga yang $fingat
rertdah dengan rnaksuil untuk nrenyingkirkun atau nrematikan usaha
pesaingnya di pa$rr bersangkutan schingga dnpot nrcngakihatkan
terjadinya praktek nronopoli dan atnu pcrsaingarr usaha tid*k sehat.
Pnsal 2l
Pelaku usaha dilarang nrelskukan kecurangan tlalam menetapknn
biaya produksi dan biaya hinnyn ylng rncniacli bagian dari komponen
harga barang dan atau jrrsa yang d*1lat nrengakibatkan terjadinya
persaingan usaha tidak sehat.
Bagian Kccnrpat
Persekongkr.rlalr
Fasal ?2
Pelaku usaha dilarnng hrrsukongkol dcngan pihak lain uutuk
mcngalur dan atau rncnuntukan p*lnlenang tender schingga dapat
mengakibatkan teriiadinya pur*aing*n usahn tidak sctrat.
Pasal 23 "..

W
FifrrStDrN
t'(t: trLJHL. lK lf'i {-}(JNL rrl rr
Fasnl 33
Pelaku usalm dilarang bersekongkol tlengan pihak lnin
mendepirtkiln infcrrrnasi kr:giatan usaha pe$aio&nya
diklasilikasikan sehagai ratrasia perusnhaan sehingga
msngakibatkan tcrjrrlirry* pcrsaingan usaha tidak schat.
Pasal t5
untuk
yilr1g
dapat
Pas-rl 24
Pelaku usaha dilarang bersckongkol tlengan pihak lain untuk
menghanlbat produksi dan atflu psmasaran harang dan atau jasa
pelaku us{rha pesaingnya derrgan maksud agar harang dan aku jasa
yong ditawarkan afau dipnsok di passr bcr.rangkutan menjadi
berkurang baik dari junrlah. kualitas, nrflupun ketepatan waktu yang
dipcrryaratkan.
BAB V
POSISI DON,IINAN
Bngian Pcrtarrra
Urtrurrr
(l) Pelaku usflhn dilarang rncnggurrakan posisi dorninan baik s*cara
langsung maupun tirlak langsung untuk:
a. ntenctnpkan syarat-.ryarat perdflgflngfln deng*n tujuan untuk
nionr;*gah dtn fltau rnenghalangi konsuln*n nrr:*ry:rrleh
tr*r*ng dan ntau jasa yang bcrsaing. buik dari scgi hargr
rrrflupun kunlitas; ntau
b. rnembatasi

*iffi
I-!Hr{itt1t'N
l{1 I'U[.j1"-lK rNDCrl''lt- l,lA
-17
b. memhatfl$i pasar dnrr peng*mtrangrrn teknologi; atau
c. menghanrtrat pelaku usaha lain yang berpotrnsi rn*njadi
pcsning untuk rncmasuki pasar bersangkutan,
(?) Pelaku usnha urenriliki posisi rlominan sebagaimana diuraksud
ayat (l) apabila:
,t. satu pelaku usaha atau satu kelompok pelaku usaha msngua$iti
50% (linra puluh pcrsen) alau lchih pangsa pasar tntu jenir
harang atau jasa tertcnlu; atau
b. dua atau tiga pclaku usnha atau kelonrpok pelaku usahn
mengumai 75% (tujuh puluh linra persen) rtau lebih pangsa
pfi$ffr satu jenis barung atau jn$a tcrtentu.
Bagian Kedua
Jaba(an Rangkap

PASAL 26

BAB V: POSISI DON,IINAN | Bagian Kedua - Jaba(an Rangkap
Seseorang yeng menduduki jahatan sebagai direksi atau komisnris
dari suatu perusahaan. pada waktu yang bersarnaan dilarang
merangkap menjadi dircksi atflu kornisaris pada pcrusahaan lainn
apabila perusahaan*pcrusahaan tcr$chut :
a. berada dalam pa$ar bersangkutan yang sarna; atau
b. memiliki keterkaitan yang erilt dalam bidang dan atau jenit
usaha; atau
c, secara hersama dapat nrcnguasai pangsa pasar harang dan atau
jasa tertentu,
yang dapat nrengakibstkan terjadinya praktek ntonopoli dan alau
persaingan usaha tidak sehat.
Bagian

ffi
t,tiF.5tDE N
t"l t- lrUl-]Ll K tN D()t',1f" :)l A
- lll -
Ilaginn Ketiga
Penrilikan Silharn
Paral 27
Pelaku u$flha rlilararrg rneuliliki saharn rnay$rita$ pltdfl h*berapa
perusahaan scjenis yarrg rrrelakukiur kegiatan usahq dalam bidang
yong sama pada pasar b*rsangkutarr yang satna, ntau rnendirikan
beberapa perusahran yang nrcnliliki kegiatan usaha yang *anra pada
pss&r bersangkutan ynng s&nra. apabila kepernilikan tersebut
mengakibatkun:
&. sntu pelaku usaha &tau satu kclornpok pclaku usalra msnguasai
lchih drri Sfi% llirua puluh persen) pilngsa pnsar satu jenis
barang atau j*srt tcrtcntu:
h. dua atflu tiga pelaku usaha atiru kelompok pelaku usahs
menguasai lubilr d.lri 75 % (tujuh puluh linu pcrsen) psng$a pas,rr
satu jcnis hnrang atau jasa tertrntu.
Bagiarr Kcr;ltrpnt
Penggnbungan, Pelctruran. tlan Pcngrunbilalihan

PASAL 28

BAB V: POSISI DON,IINAN | Bagian ffi - t,tiF.5tDE N
(l) Pelaku usaha dilnrang rrrclakukan penggabungan fltau pelcburan
badan usahR yafig dapat nrungakibatkan tcrjudinya praltt*k
monopoli dan atuu pcrsaingan usaha titlak sehat.
(2) Pelaku usnha dilnrang rnelakukan l)Bnganrbilalihnx saharn
perusahaan lain apatrila tindakan tcrscbut dapat nrerrgakibatknn
terjadinya praktek nronopoli dan ateru persaingan usaha tidsk
sehat.
(3) Ketentuan ."

,#l
(3) Ketcntunn lebih lanjut mengcnai penggnbungan atau pctehurnn
hsdan usaha yang dilarong sebagaimana dirnaksud nyat {l), dm
ketrntuan mengenai pengarnbilnlihan sallnm pcruschaan
sebaguimana dimaksud dalrrn ayat (2), diatur dalarn Psraturan
Pcnrcrintaft.
Pssal 29
(l) Penggnbungan atnu pclcburan badan usaha, ntau pengambilalihan
saham sebagaimnna dimaksutl dnlam Pasnl 2S yang bcrakibat
nilai sset dan atsu nilai penjualnnnya melebihi jumlah tertentu,
wajib diberitahukm kcpada Komisi, selanrbrt-lamhatnya 30 {tigr
puluh) hari sejrk tanggal pcnggabungan, peleburan fltflu
pengambilalihan tsrsebut.
(2) Ketentufir tentang peiletapan nilni aset dan atru nilai penjualan
serta tata cflra prmberitahuan sehagairnana dirnaksud dnlam
ayat (l), diatur dalam Feraturnn PEmcrintah.
BAB VI
KOMISI PENGAWAS PER$AINGAN USAHA
Bngiun Pertama
Status

PASAL 30

BAB VI: KOMISI PENGAWAS PER$AINGAN USAHA
(l) Untuk mensnwe$i pelnksanaan Undang-undnng ini etib,entuk
Idornisi Pengnwar Persaingan Usaha yang sela*jutnya disebut
Komisi.
(2) Komisi
t
!

tsHFSiri\|N
Rt" F5rJt Lll{
NtJ(JNthl{\
?0
(2) Knnrisi adalah $ilatu lenrbaga indelrcndcn y*rlg tcrlcpas dari
pengarult dan kr:kuasaan Pcrncrintah serta pihak lairr.
(3) Komisi bcrtanggung jawnb kepada Presidcn.
Bagian Kechrn
Kcanggotaan

PASAL 31

BAB VI: KOMISI PENGAWAS PER$AINGAN USAHA | Bagian Kechrn - Kcanggotaan
(l) Komisi tcrdiri flta$ scorang K*tu;r nrcrangkap anggota, sesr&ng
Wakil Ketua rnerangkirll rngguta. dnn sekurang-kurangnya ?
(tujuh) urang flnggatrr.
(2) Anggota Honrisi cliangkat dan dibcrhentikan oleh Pr*sidrn atns
psrse.tujunn Dewan Perwakilarr Rakyat.
(3) Masa jatratarr qnggotir Korrri.si adnlnh 5 {lima) rahun dan dapat
diangkat kenrtrali untuk I (satu) kali nrasa jabatrn herikutnya.
(4) Apabiln karclra brrakhirnya nrasa jabatan akan terjadi
kekosongan dalam keanggotaan Konrisi, rnaka masa jsbatan
anggota dapat diperparrjang sarrrpai ;xng'angkatan anggota baru.

PASAL 32

BAB VI: KOMISI PENGAWAS PER$AINGAN USAHA | Bagian Kechrn - Kcanggotaan
Persyaratan keanggotasn Kotllisi adalnh :
a. wirrgfl ncgara Republik Indone.ria. lrcrusia *ckurang-kurilngnya
30 {tig* puluh) tahun dan sctinggi-tingginya 60 (enrm puluh)
tahun pada snal pengangkatan;
b. setia k*pada Pancasila riarr Uldarrg-Undang Dasar Ig45;
c. berirnan dan bertaqwa kcpada Tuhan Yang Maha Esn;
d. jujur, adil, dan berk*lakunn traik;
e
bertemput
\1.

ff}
f"'RE 5lt1LN
F+t. rruFlL-lK rN$rlNr 5l11
1l
e. hcrtempat tinggal di wilay.rh n*gilra Republik Indonexia:
f. brrpengakman dalanr hidang usaha atau mernpuny:ri ;rerrgu{ahuan
dan ku-ahlinn di bidang hukurn dan arau ekononrit
g. tidak pernah dipirlana:
h" tidak pernnh dinyatakan pnilit olch pengadilan; dan
i. tidak terafiliasi dengan suatu badan usalra.

PASAL 33

BAB VI: KOMISI PENGAWAS PER$AINGAN USAHA | Bagian Kechrn - Kcanggotaan
Kcanggotaan Konrisi berlre nti, karc*u :
t. meninggal duniu;
b. mcngurulurkan diri atas perntintaan scndiri;
c. bertr:rnpat tinggal di luar wilayah negara Republik Intloneria;
d. sakit jasmani atau ruhiuri tcrus rnenerus;
e. berakhirny& flnftsa jabatan keanggotann Konrisi; atau
f. diberhentikan.

PASAL 34

BAB VI: KOMISI PENGAWAS PER$AINGAN USAHA | Bagian Kechrn - Kcanggotaan
{l} Pembentukan Kornisi scrt* f;usunan urganisasi, tugas, dau fungsinya ditetapkan dcngarr Kcputussn Pr*riden.

(2) Untuk kelancaran pel*ksanaan tugas. Kornisi dibantu olsh sckretariaf.

(3) Kornisi dnpat rnemberrtuk kck:nrpok kcrja.

(4) Ketentuan nrengrrrui $uriunlrl organisasi. lugas, dan fungsi se krcl.ariat dan kclurnprrk kur.ja diatur lchih lanjut dengrn kqputusan Komisi" Bagian $# PFlr-.5rDEhl HE PUtfI-,K IhJD(.]NL5iA Bagian Ketiga Tugas Pnsal 35 Tugas Komisi rncliputi:

a. melakukan penilnian tcrlradap perjanjian yang dapat mengakibatkan terjarlinya praktck nronop*li dan atau persaingarr usaha tidak sehat sctragainrnna diatur dalaln Pasal 4 sarnpai dengan Pasal I6;

b. mslakuhan pcnilaian tcrhndap kcgiatan usahfi dnn atau tind*kan pelaku usaha y&ng dapnt rrrengakibatkan terjndinya praktek nranopoli dan atau pcrsairrgan usaha tidak sehal sebagaimitnn diatur dalnnr Far*l l? sanrpai dengan Pasal ?4;

c. mckkukan pnilaian tcrhaclap nda atau tidak adanyu pcnynlntrgunaan posisi donrinan yang rlapat nrengnkihatkan terjadinya praktek monopoli dan atau pers*irrgan u*aha tidak sehat sebagaimana diatur dalam Pasal 25 sarnpai clcngnn Pn.ral 381

d. mengarnbil tindakan scsuai d*rrgan wewenrrng Kornisi sebagairnana diatur dalurn Fasal 30:

a. mcmbe"rikan .snran dnn pc.rtirnbangnn tcrhadap kcbijakan Pernerinlah yang b*rkiltan dcrrgan praktck monopoli dan atau persaingan usaha tidak schat;

f. nlenyilsun pedonr*rt dan atau putllrkasi yang bcrkaita* derrgarr Undang-undang ini:

g. nrenrherikar l*lrorun secflra hcrkaln atas h*sil k*rja Koffiisi kepadn . 2: Bagian .." q I' U. FtrF$l{ri. hJ Rt" trUtill-lK 1f9D(}NI bli\ Bagialr K*c'rrrpat Wewcnang Pasal 3(r Wewenang Knnrisi nrcliputi ; E. menerima lapnran dari lnasyarakat dan atau dari pelaku usahs tentang dugaan tcrjadirrya prnktek nronopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat;

b. ntelakukan penelitian terrtung dugaitn ndanyn kegiatan usaha dm atau lindaka* pelaku usaha yarrg rlalrat rrrcngnkibalkan terjndinya praktek monopoli dan atau persaingan u$aha tidnk sehat;

c. melakuknn penyelidiktn dan atau pcmeriksaan tcrhadap kasus dugaan praktck mon*poli dan atnu persaingan usaht tidak sehnt yang ttilaporkan al*h nrnsyarakat atau *leh pelaku usaha atau yang ditcrrrukarr oleh Korrrisi sebagai hasil dari penelitiannya:

d. mcnyinrpulkan hasil penyelidih*n dnn ntau pemcriksaan tentang ada atau tidak adarrya praktek nlCIn*poli dan atau persaingan usaha tidak sehat;

e. mcmanggil pclaku usaha yang tliduga telah melakuknn pelanggaran terhadap kctentuan undarg-undnng ini ; f, nrenranggil dan rrr*rrglradirkan saksi" saksi ahli, dan *etiap orang yans dianggap rnengctahui pclarrggaran tcrhadap kefenturn undang-undang ini;

g. nrenrinta,.. /1 i::i'. t F}EE S ,TN f-tI t"t.JHI_tK rND()Nf 5lA ?4 B. meminta ti*ntuan pcnyitlik untuk menghadirkan pelaku usahs, saksi, riak*i ahli, atnu sctiap orans s*bagairnana dirrraksud huruf e tlan huruf f" yang tidirk hr;rseclia rncrnenuhi panggilnn Komisi;

h. m*ntinta kcterangalr tlari instnnsi Penrcrintah dnlanr kaitannya dengan pcnyelietikan dan iltelu pcntcriksaan terhadap pclaku usahn ynng nr*langgar ketentuan urilang-undang ini;

i. mendapatkan, nsneliti, dan atau ntcnilai surat, dokunren, atau alat hukti lain guna pcnyelidikan dan atau perncriksaan; j. memutuskan dan menetapkan ada atau tidak adanya kcrugian di pihak pelaku usalra lain atau nrasyarakat;

k. nrenrtrcritahukan []utusan Konrisi kepada pelaku usaha yans didrrgn rnelnkrrkan prakt*.k rnnnopnli rlan Rfau prrc*ingan rrrrha tidah xchat;

l. menjatuhkflr sank$i herupa tinrlakan adnrinistratif kcpatla pclaku usaha yang melangsar kctentuan Undang-undang ini. Bagitn Kelinra Penrhiayaan

PASAL 37

BAB VI: KOMISI PENGAWAS PER$AINGAN USAHA | Bagian .." - q
Eiayn untuk pcl*ksanaan tuglils Kr:rrriri dihehankan kepaela Anggaran
P*ndapatan dan Belarr.ia Nr:garn rlan atan suntber-sunrbcr lain yrng
dipcrbalehk*n oleh peraturtn ;rcrurrdarrg-undangan yang berlaku.
BAB VII ."
4
i.

tl
F,frt Srut r',J
t.rt lrrJBLlK tNDr)Nt" 5i A
25
BAB YTI
TATA CARA PEHANGANAN PERKARA
Pa*al 38
(l) Setiap orang yang mengetahui tclah tcrjadi atau putut diduga
telah terjadi pelanggaran terhadap Undang-undong ini dnpal
melaporkan sscsra tertulis kepada Komisi dengnn keterangnn
yflng jclas tentang telah terjadinya yxlanggarnn- dengan
menycrtaknn identitas trxlnpor.
(?) Pihek yeng dirugikm sebagai akibat terjndinya pelanggaran
terhadnp Undang-undang ini dapat melaporkan sscara tertulis
keprdn Kornisi dengan keterangan yang lcngkap dan jelas tentang
telnh terjadinya pelonggaran serta kerugian ymg ditiurbulkan,
dcngan menycrtakan idcntitas pelapor.
(3) Identitns pclapor sebagaimana dimnksud dalam aynt (l) wajib
dirahasisknn oleh Komisi.
(4) Tata cilra llcnyampaian laporan scbagaimana dinraksud dalam
ayat (l) dan ayat (2) diatur lebih lanjut oleh Konriri-

PASAL 39

BAB VI: KOMISI PENGAWAS PER$AINGAN USAHA | Bagian .." - q
(I) Burdasarksn laporan sebagainrana dirnaksud dalam Fasrrl 38 ayat

(1) dan ny6t (2), Komisi wajib nrclakukan perneriksnan pendahulunn, dn* dalnm wnktu selarnbnt-lanrbatnyn 30 {tigfl puluh) hsri $stelah menerirna laporan, Konrisi wajib mun*tnpkan pcrlu atau tidaknyr dilakukan pemeriksaan lanjutan '":-l\r. 'l'7'-'r" \\ ,:iffi --Tir{---"

(2) Dalam .. ffib FrHt strlrfit RI PUHL-IK INN{JNf, 9iA 76

(2) Dalam pemrriksaan lanjuten, Kornisi wajitr nrclakukan pemeriksaan terhadnp pelaku usaha yang dilnporkan.

(3) Knrni*i wajih menjaga kerahnsiaan infarnrasi yang diperoleh dnri pelahu usrha ynng dikategorikan acbagai rahasia perusuhaan. (a) Apabila dipordang perlu Komisi dapat mendengrr ketcrangnn saksi, saksi nhli, dan atau pihnk lain.

(5) Dalam melukukan kegiatan sebagaimnna dimaksud dalam ayat (2) dan ayat (4), anggota Komisi dilengknpi dengan surat tugar.

PASAL 40

BAB VI: KOMISI PENGAWAS PER$AINGAN USAHA | Bagian .." - q
(1) Komi*i dapat melakukan pemeriksaan terhudap pelaku usaha
apabila ada dugaan terjadi pelanggaran Undang*undnng ini
walaupun tflnpf, adanya laporrn.
(?) Pemeriksaan sehagoinrana dimaksud dalarn tynt (l) dilnksanaknn
sesuai dcngan trta cara *ehagainrana diatur dalam Pasal 39.
Fasal 4l
(1) Pelaku usaha dan nt6u pihak lain ynng diperiksa wajih
rnenyerahkan alat bukti yang diperlukan dalarn penyelidikan dnn
atau pemeriksaan.
(2) Pclaku usaha dilarang rnenolnk diperiksa, nrenolak menrbsrihan
inforrnasi yarg diperlukan dalanr penyelidikan dnn Risu
pemeriks*an, f,tflu menghanrbet prose$ penyelidikan dan ntnu
pemeriksaan.
(3) Pelanggaran.,.

ffi
PRt^ ",tL-lf N
tr{'pr11t.],_,,a rNi)()Nf 5iA
-2? -
(3) Pelanggarnn terhadnp ketentuan ayat (2). oleh Konrisi tliserahktn
kepad* penyidik untuk dilakukan penyidikan s$$uni dengan
ketentusn ynng berlaku.

PASAL 42

BAB VI: KOMISI PENGAWAS PER$AINGAN USAHA | Bagian .." - q
Alat-alnt bukti pemeriksaan Komisi berupn:
&. ketcrangan seksi,
b keterangan ahli,
c. ourat drn atru dokumen,
d. petunjuk,
e. kcterangan pclaku us*ha.

PASAL 43

BAB VI: KOMISI PENGAWAS PER$AINGAN USAHA | Bagian .." - q
{l) Komisi wnjib mcnyelesaikan pemeriks*an lanjur,an sclarnhat-
lnmbatnya 60 {enarn puluh} hari sejnk dilakukqn pemeriksran
Ianjntan sebagnimana dimaksud dalanr Pasal 39 aya{ (t).
(2) Bikmana diperlukan, jangkn waktu pemcriksaan lanjutan
scbagaimana dimaksud dalam aynt (1) dapat dipcrpnnjnng paling
Irma 30 (tiga puluh) hari.
(3) Kornisi wajib memutuskan telah terjadi atau tidnk tcrjadi
pelanggaran terhadap undang-undang ini sclambat-lnmhatnya 30
(tiga puluh) hari tcrhitung sejak selcsninya pemeriksaan larrjutan
eebagaimona dimaksud dalam nyat (l) atau ayat (2).
(4) Putusan Kornisi aebagaimana dimaksud dakm eyal {3} harus
dih*cakan dalam suatu sidang yang dinyatakan tcrhukn untuk
umum clan regera dibcritahukan kepada pclaku ucaha,
Pasnl 44 .."

ffi
i.Hl 5,li[.N
Qr t){JtJl-- l}(
.P.t p#Nt ..it.a
-;E-

PASAL 44

BAB VI: KOMISI PENGAWAS PER$AINGAN USAHA | Bagian .." - q
(l) Dnlam waktu 30 (tiga puluh) hari sejak pelaku usaha rnrnerinra
penrberilrhuan putusan Konrisi sebagairnaua dinrnksud dalanr
Prsnl 43 ayat (4), pelaku usahn wajib mekksanakan putu$en
tersehut dsn mcnyarnpaikan laporan pelaksanaannya kcpada
Komisi.
(2) Pelaku usaha dapat nrengajukan keberatan kepada pengadilan
Negeri selambat*lambatnya I4 {empat belas) hari setelah
menerima pemberitahufl n putu$arr lErscbut"
(3) Felaku usaha ynng tidek mengqiukrn kehernran dulam jnngka
waktu scbagaimnna dimaksud dnlnm ayat (2) dianggap menerimu
Futus*n Komisi,
(4) Annbila ketentuan sebasaimana dimsk*ud dal*rn synt (l\ dnn nyst
(2) tidnk dijalankan oleh pelaku usaha, Koruisi menyerahkxn
putusan tersebut kepada penyidik untuk dilakuhan penyidikan
sesuai dengan ketentuan peratilran perundang-undnngan ya$g
bedaku.
(5) Putusan Kornisi s*bagaimana dimaksud dalunr Posal 43 ayut (41
merupnkan bukti pcrmulaan yang cukup bagi pnyidik untuk
melakukan penyidikan.
Paeal 45
(l) Pengadiltn Negeri harus memeriksa kebcratar pctaku usaha
sehagdrnnna dinraksud dalam Pasal 44 aynt (2), dalam waktil 14
(enrpat helns) hari mjak diterimanya kebcratan terscbut"
(2) Pengadilan Negeri herus memheriknn putusan dal*m waktu 30
(tiga puluh) hmi sejnk dimulainya pemeriksaan keberatan
teruebut,
(3) Pihak ., -

ffil
t.Ht ltr)f .N
HI tsULiL"IK INTJO\L5 A
29
(3) Pihek yans keberattn turhadap putusan pengadilan Negeri
uebagairnana dimaksud dalam ayat (2), dalam waktu 14 (empat
belar) hari dapat mengnjukan kasasi kepada Mahknrnnh Agung
Rcpublik Indonesia.
(4) rvlahknmnh Agung harus rnemberikan putusan dalam waktu 30
(tiga puluh) hari sejak permohonan kasasi diterirna.

PASAL 46

BAB VI: KOMISI PENGAWAS PER$AINGAN USAHA | Bagian .." - q
(l) Apabila tidak terdapat keberatan, purusan Komisi sehagainrana
dimnksud dalam Pasal 43 ayat (3) telah mcmpunyai kckuatan
hukum yung tetap.
(2) Putusan Knmisi sebagaimana dimaksutl dalam ayat (l)
dimintnkan penetapan eksekusi kepada Pengadilan N*geri.
BAB VIII
SANKSI
Bagian Pertama
Tindahan Administrati f

PASAL 47

BAB VIII: SANKSI | Bagian Pertama - Tindahan Administrati f
(l) Kornisi berwenang menjatuhkan sanksi berupa tindaknn
administratif terhadap pelaku usaha yang melanggsr ketentuan
Undnng-undang ini.
(?) Tindaksn administrarif mbagaimana dimnksud dalam ayat {l)
dapat hcrupn:
&. p*netapan pembatalan pcrjanjian rclragairnana dinraksud
dal*m Paoal 4 srmpai dengan Pasal 13, Pasal 15, dan patal
16; dcn ntau
h. pcrintah

tJHLl,'L)L N
,?l f rt,lUt.llt
NI*rr.)Ni^ 1:rzl
30
b. perintah kepada pelaftu usaha untuk nrcnghentiknn intcgrari
vertiknl sebngainrann dirnalcsud dalarn pasal 14; dsn atau
c. perinrnh kepada pelaku usaha untuk menghentikrn kegintan
yeng terbukti menimbulkan praktek nronopoli dan ntfiu
mcnyebabkan persaingan usaha tielak sehat dnn atau
mcrugikan masyarakat; dan atnu
d. perintah kcpada peluku usaha untuk nrenghenr^ikan
penyalahguna&n posisi donrinan; rlan atau
e. penetapan pembatnlan ata$ penggabungan slau peleburan
hadan usaha dan penganrbilalihan saham rebagainrana
dimaksud dalam Pasal 28; dan atau
f. penctapan pembayaran ganti rugi; clan atau
g. pengena*n denda serendah-rendahnya Rp 1.000.CI00.000,0fr
(satu milinr rupiatr) dan seringgi-tingginya Rp 2$.CIfi).0()0"flX),00
(dua puluh lirnn miliar rupirh).
Bagian Kedur
Pidana Pokok
Pasnl 48
(l) Pelanggaran terhadnp ketentuan Pusnl 4, pnsal g saurpai dengan
Fnsal 14, Pasal 15 uampai dengan parnl Ig, pasttl 25, pasal Z?,
dun Pasal 28 diancsm pidana denda serendflh-rendahnyr
Rp 25,000.000.000,CI0 (dua puluh lima rniliar rupiah) dan
retinggi-tingginya Rp 100.000.000,000,00 (seratus nriliar
rupiah), atau pidana kurungan pcngganti denda sslama-tarnanya 6
(enam) bulan.
(2) Pclanggaran

r;ffii
-31
(2) Pelanggaran terhadap ketentuan Pasal 5 sampai dengan pasnr g,
Paurl 15, Pasd 20 sanrpai dengan Prsal 24, dan pasal 26
undang'undang ini diancam pidnna denda serenduh-rendahnya
Rp 5.000.000.000,00 ( lirna nriliar rupiah) dan uetinggi-ringginya
Rp 25.00fi"000.000,00 (dua puluh lirna rniliar rupiah), ar*u
pidana kurungan pengganti ds.nda sclama-lnmanya 5 {lirna} hulan,
(31 Felanggeran terhadap kete.rluen Pasnl 4l Unclang-undang ini
rliancam pidann denda ser*ndah-rendahnya Rp I .000.000.000,t10
(satu miliar rupiah) dan setinggi-tingginya Rp 5.000.000.000,00
(linra miliar rupiah), atau pidana kurungan pcnggnnti denda
selama-lamanya 3 (tiga) bulan.
Bagian Ketiga
Pidana Tsmbahan

PASAL 49

BAB VIII: SANKSI | Bagian Ketiga - Pidana Tsmbahan
Dengan menunjuk ketentuan Pasal l0 Kitab Undang-undung Hukum
Pidanan terhadap pidana scbagaimena diatur dslam Pasal 48 dapat
dijatuhkan pidana tambahan berupa:
a- pencuhutan izin usaha; atau
h. larangan kepada pelaku usnha yang telah lsrbulrti rnelakukan
pelanggaran terhadap undrng-undang ini untuk rnenduduki
jabatan direksi atnu komisaris sskurang-kurangnyn 2 (dua) tahun
dan selarna*lamanya 5 (lima) tahun; atuu
(. penghentian kegiatan rtau tinrlaknn tcrtentu ysng rncnycbabkan
timbulnya kerugian pada pihak lain.
BAB IX .""

ffie
PH''-;t{)i:Fl
l<[ 0uLJL.$\ trri{1}tJNL fi,rr
-32
BAB IX
KI]TENTUAN LAIN

PASAL 50

BAB IX: KI]TENTUAN LAIN
Yang diker;ualikan dari kctcnrurn unclang-undrng ini adalah:
B. pcrbuatan dan at*u pcrjanjian y;ulgi bertujuan melaksanakan
peraturan peruudang-urrdanglur yang Lrerlaku; atau
b. perjanjian yang berkaitan tlcngan hak ntm kekayaan intelcktual
scperti liscnsi, patc,r! lnerrk dagang, hak cipta, desain produk
industri, rangkainn elektronik tcrpatru. dan ralrasia dagang, serta
perjanii*n yang herknitan dcrrgarr waralabal atau
c. pcrjanjian pcn*(apan srandar tcknis produk barang dan atau jasa
yang tidak nrcngckang dan atau rrrenghalangi persaingan; atau
d. perjnnjian dtlarn rangka keagenan yarrg isinya tidak nremuat
ketsntuan untuk nrerrrasok kernlrari barang dan atau jasa dengan
harga yang lebih rcniJah claripada harga yang telah diperjanjikan;
atau
e. perjanjian kerja sflrrln pcneliriarr untuk peningkatan atau
perbnikan standar hidup rrrasyarakat luiis; atflu
f" perjanjian internasiorral yang tchlr diratifikasi olch pcmerintah
Reprrblik lndoncsia; atau
g. perjanjian dan atau perbuatan yang b*rtujuan untuk ek;por yrng
tidak m*nggilnggu kebutuhan dan atau pasokan pasflr dalanr
neg*ri; atau
h, pelnku usaha yctng tcrgolong dalnu usaha kecil; atnu
i. kegietan us*ha koperasi yflng secara khusus bcrtujuan untuk
melayani anggofanya.
Pasal 5l

ffi
PHESIDI- N
Rr t,utiLiK lt,l()()NE 5lr.
-33
Pusal .51
Mnnnpoli dan ata$ peru*s*an kcgiat;rn yanx hcrkaitan dengan
produksi dan atau pernflsaran barang dan atau jasa yang *rcnguasai
hajat hitlup oraog tranyak scrln c{rbflng-cabang produksi ynng pentirrg
bagi negtra diatur dcngan undang-unclang rlan diselenggarakan oleh
Badan usrha Milik Negara tran ata, tradan rtnu lcnrbaga ynng
dibentuk atau ditunjuk oleh perncrirrlah.
BAB X
KETENTUAN FERALIHAN

PASAL 53

BAB X: KETENTUAN FERALIHAN
(t) $ejak bcrlakunya uudang*undrrrg ini, seffiua lleraturen
peruudang-undrrngan yang rlrerr$atur atau berk*itan dengan
praktek nronolxrli dan atau persaingan ussha dinyalaknn tetap
hcrlaku sepanjang tidak bertenlangan atau bclunr diganti dengan
yang bnru herdasarkan Urrdang-undang ini.
(2) Pelnku usalra yang tulah nrernbual perjanjian dan ntau nrplakukan
kegiatan dan atau tindakan yilng ticlak sesuai dengan ketentuan
undang-undarrg irri dihr.'ri waktu 6 (cnum) hulan sejak undang-
undang ini diherlal(ukan unluk nrclakukan pcnyesuaian.
BAB XI
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 53
undang-undang ini nrulai berlaku terhitung I (satu) tahun sejak
tanggnl diuudangkan
Agar

Ptt r ill]r't.r
nrt,l,lI..ll{ tflt r{.rhlL Ltn
-14
Agar rctiap o,'ang rrengctarruirrya, rrrclrrcrintahkan pcngunerangan
Undang-undang ini denga, pcncnrpatannya darar, l.embaran Negara
Republik Indoncsia.
Ilisairkan di.fnkarta
patln tanglal S Mare{ 1$gg
I,KI;SIDUN RITUNI.IH INI)ON[IiIA
ild
trAcr TARUDOIN Jr.JSlJr HABr BII
I)i undrrngkau rli .fr karta
pada tanggal II Mar.ct II)Dg
M[:N'T[RI NICA RA .q[KRilTARIIi NI,(;A RA
RIJI'TJ I} I,I K IN T)t)NHSIA
I ttl
AKITAH .tANDJtrN(;
I,};MIIARAN NX;ARA RIPTJBI,IK INIIT)rur:SIA l,AIIUN I f}99 NOMOR 33
Sirlintn scsuli rlerrgatr aslinya
aI
R['rAHtA't'lt^tltNr:'r Rt
a l?irn ltcrrlurafi
-rrndnngnn I
'4,*,5.^
V. Nahattanils
lr{

ffi
R r p',rf;:["]lil;] *u =, ^