PP NOMOR 13 TAHUN 1994

PERBURUAN SATWA BURU

Status: BERLAKU (IN FORCE)
Diundangkan: 1994-01-01
Total Pasal: 45 naskah terverifikasi
URN: urn:lex:id:gov:pemerintah_pusat:pp:1994:13
Buka di Peramban Interaktif LexWondera → Bagikan ke WhatsApp

Batang Tubuh & Naskah Pasal Terverifikasi

PASAL 1

BAB I KETENTUAN UMUM
Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan : 1. Berburu adalah menangkap dan/atau membunuh satwa buru termasuk mengambil atau memindahkan telur-telur dan/atau sarang satwa buru. 2. Perburuan… 2. Perburuan adalah segala sesuatu yang bersangkut paut dengan kegiatan berburu. 3. Pemburu adalah orang atau kelompok orang yang melakukan kegiatan berburu. 4. Satwa buru adalah jenis satwa liar tertentu yang ditetapkan dapat diburu. 5. Taman buru adalah kawasan hutan yang ditetapkan sebagai tempat diselenggarakan perburuan secara teratur. 6. Kebun buru adalah lahan di luar kawasan hutan yang diusahakan oleh badan usaha dengan sesuatu alas hak, untuk kegiatan perburuan. 7. Pengusahaan kebun buru dan taman buru adalah suatu kegiatan untuk menyelenggarakan perburuan, penyediaan sarana dan prasarana berburu. 8. Areal buru adalah areal di luar taman buru dan kebun buru yang di dalamnya terdapat satwa buru yang dapat diselenggarakan perburuan. 9. Musim buru adalah waktu tertentu yang ditetapkan oleh Menteri atau pejabat yang ditunjuk olehnya untuk dapat diselenggarakan kegiatan berburu. 10. Akta Buru adalah akta otentik yang menyatakan bahwa seseorang telah memiliki/menguasai kemampuan dan ketrampilan berburu satwa buru. 11. Surat Izin Berburu adalah surat yang diberikan oleh Menteri atau pejabat yang ditunjuk olehnya, yang menyebut pemberian hak untuk berburu kepada orang yang namanya tercantum di dalamnya. 12. Hasil… 12. Hasil buruan adalah hasil yang diperoleh dari kegiatan berburu yang berwujud satwa buru baik hidup maupun mati atau bagian-bagiannya. 13. Izin pengusahaan taman buru adalah izin untuk mengusahakan kegiatan berburu serta sarana dan prasarananya di taman buru. 14. Izin usaha kebun buru adalah izin yang diberikan untuk mengusahakan kegiatan berburu serta sarana dan prasarananya di kebun buru. 15. Pungutan akta buru adalah pungutan yang dikenakan kepada seseorang untuk memperoleh akta buru sebagai pengganti biaya-biaya administrasi. 16. Pungutan izin berburu adalah pungutan yang dikenakan kepada pemegang izin berburu sesuai dengan jumlah dan jenis satwa buru yang diizinkan untuk diburu. 17. Pungutan izin pengusahaan taman buru adalah pungutan yang dikenakan kepada calon pemegang izin pengusahaan taman buru. 18. Pungutan izin usaha kebun buru adalah pungutan yang dikenakan kepada calon pemegang izin usaha kebun buru. 19. Iuran hasil usaha perburuan adalah iuran yang dikenakan kepada pemegang izin pengusahaan taman buru atau pemegang izin usaha kebun buru yang dikenakan dari hasil usahanya sekali setiap tahun. 20. Menteri adalah Menteri yang bertanggung jawab bidang kehutanan.

PASAL 2

BAB I KETENTUAN UMUM
Perburuan satwa buru diselenggarakan berdasarkan asas kelestarian manfaat dengan memperhatikan populasi, daya dukung habitat, dan keseimbangan ekosistem. BAB II… BAB II SATWA BURU, TEMPAT DAN MUSIM BERBURU Bagian Kesatu Satwa Buru

PASAL 3

BAB II SATWA BURU, TEMPAT DAN MUSIM BERBURU
(1) Satwa buru pada dasarnya adalah satwa liar yang tidak dilindungi. (2) Dalam hal tertentu, Menteri dapat menentukan satwa yang dilindungi sebagai satwa buru. (3) Satwa buru sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) digolongkan menjadi :

a. burung;

b. satwa kecil;

c. satwa besar. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai penggolongan satwa buru sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) diatur oleh Menteri.

PASAL 4

BAB II SATWA BURU, TEMPAT DAN MUSIM BERBURU
(1) Jumlah satwa buru untuk setiap tempat berburu ditetapkan berdasarkan keadaan populasi dan laju pertumbuhannya. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penetapan jumlah satwa buru diatur oleh Menteri. Pasal 5…

PASAL 5

BAB II SATWA BURU, TEMPAT DAN MUSIM BERBURU
(1) Di taman buru dan kebun buru dapat dimasukkan satwa liar yang berasal dari wilayah lain dalam Negara Republik Indonesia untuk dapat dimanfaatkan sebagai satwa buru. (2) Pemasukan satwa liar sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan dengan persyaratan sebagai berikut :

a. Tidak mengakibatkan terjadinya polusi genetik;

b. Memantapkan ekosistem yang ada;

c. Memprioritaskan jenis satwa yang pernah dan/atau masih ada di sekitar kawasan hutan tersebut. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai pemasukan satwa liar sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur oleh Menteri. Bagian Kedua Tempat dan Musim Berburu

PASAL 6

BAB II SATWA BURU, TEMPAT DAN MUSIM BERBURU
(1) Tempat berburu terdiri dari :

a. Taman Buru;

b. Areal Buru;

c. Kebun Buru. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai lokasi buru di areal buru sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf b ditetapkan oleh Menteri. Pasal 7…

PASAL 7

BAB II SATWA BURU, TEMPAT DAN MUSIM BERBURU
(1) Berburu di taman buru dan areal buru sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) huruf a dan huruf b hanya dapat dilakukan pada musim berburu. (2) Penetapan musim berburu dilakukan dengan persyaratan sebagai berikut :

a. keadaan populasi dan jenis satwa buru;

b. musim kawin;

c. musim beranak/bertelur;

d. perbandingan jantan betina;

e. umur satwa buru. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai penetapan musim berburu diatur oleh Menteri.

PASAL 8

BAB II SATWA BURU, TEMPAT DAN MUSIM BERBURU
(1) Dalam situasi terjadi peledakan populasi satwa liar yang tidak dilindungi sehingga menjadi hama dilakukan tindakan pengendalian melalui pemburuan. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai tatacara pengendalian keadaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur oleh Menteri. BAB III… BAB III ALAT BERBURU

PASAL 9

BAB III ALAT BERBURU
(1) Alat berburu terdiri dari :

a. senjata api buru;

b. senjata angin;

c. alat berburu tradisional;

d. alat berburu lainnya. (2) Penggunaan alat berburu sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) disesuaikan dengan jenis satwa buru. (3) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur oleh Menteri dan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia sesuai dengan bidang tugas masing-masing. BAB IV AKTA BURU DAN IZIN BERBURU

PASAL 10

BAB IV AKTA BURU DAN IZIN BERBURU
(1) Akta buru terdiri dari :

a. akta buru burung;

b. akta buru satwa kecil;

c. akta buru satwa besar. (2) Untuk memperoleh akta buru harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :

a. a. berumur minimal 18 tahun;

b. telah lulus ujian memperoleh akta buru;

c. membayar pungutan akta buru. (3) Akta buru sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) memuat hal-hal sebagai berikut :

a. identitas pemburu;

b. masa berlaku akta buru;

c. golongan satwa buru. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai akta buru diatur oleh Menteri setelah mendapat pertimbangan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia.

PASAL 11

BAB IV AKTA BURU DAN IZIN BERBURU
(1) Akta buru dapat diberikan kepada calon pemburu setelah yang bersangkutan lulus ujian untuk memperoleh akta buru yang diselenggarakan oleh Kepolisian Negara Republik Indonesia bersama Departemen yang mengurus bidang kehutanan. (2) Ketentuan lebih lanjut untuk memperoleh akta buru diatur oleh Menteri setelah mendapat pertimbangan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia.

PASAL 12

BAB IV AKTA BURU DAN IZIN BERBURU
(1) Berburu hanya dapat dilakukan setelah pemburu mendapat surat izin berburu. (2) Untuk memperoleh surat izin berburu harus memenuhi persyaratan:

a. a. memiliki akta buru;

b. membayar pungutan izin berburu. (3) Tata cara sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), dan ayat (2) diatur lebih lanjut oleh Menteri.

PASAL 13

BAB IV AKTA BURU DAN IZIN BERBURU
Bagi Pemburu warga negara asing yang telah memiliki akta buru atau surat keterangan sebagai pemburu dari negara asalnya tidak perlu memperoleh akta buru.

PASAL 14

BAB IV AKTA BURU DAN IZIN BERBURU
Bagi masyarakat setempat yang melaksanakan pemburuan tradisional tidak perlu memiliki akta buru, pemandu buru, dan membayar pungutan izin berburu.

PASAL 15

BAB IV AKTA BURU DAN IZIN BERBURU
(1) Surat izin berburu memuat hal-hal sebagai berikut :

a. nomor akta buru;

b. identitas pemburu;

c. jenis dan jumlah satwa buru yang akan diburu;

d. alat berburu;

e. tempat berburu;

f. masa berlaku izin berburu;

g. ketentuan larangan dan sanksi bagi pemburu. (2) (2) Surat izin berburu tidak dapat dipindahtangankan atau dipergunakan oleh orang lain. (3) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur oleh Menteri. BAB V HAK DAN KEWAJIBAN PEMBURU

PASAL 16

BAB V HAK DAN KEWAJIBAN PEMBURU
(1) Pemburu yang telah mendapat izin berburu berhak :

a. berburu di tempat yang ditetapkan dalam surat izin berburu;

b. memiliki dan membawa hasil buruan. (2) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf b diatur oleh Menteri.

PASAL 17

BAB V HAK DAN KEWAJIBAN PEMBURU
Pemburu yang melakukan kegiatan berburu wajib : a. memiliki izin berburu; b. menggunakan alat yang tercantum dalam izin berburu; c. melapor kepada pejabat Kehutanan dan Kepolisian setempat pada saat akan dan setelah selesai berburu; d. memanfaatkan hasil buruan yang diperoleh; e. didampingi pemandu buru;

f. berburu… f. berburu di tempat yang ditetapkan dalam izin berburu; g. berburu satwa buru sesuai dengan jenis dan jumlah yang ditetapkan dalam surat izin berburu; h. memperhatikan keamanan masyarakat dan ketertiban umum.

PASAL 18

BAB V HAK DAN KEWAJIBAN PEMBURU
(1) Menteri atau pejabat yang ditunjuk dapat memberikan perintah kepada petugas untuk berburu dalam rangka :

a. penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan;

b. pengendalian hama dan penyakit;

c. mengatasi gangguan satwa yang membahayakan kehidupan manusia;

d. pengendalian populasi. (2) Petugas yang mendapat perintah dari Menteri atau pejabat yang ditunjuk untuk melaksanakan kegiatan berburu wajib :

a. memiliki surat perintah;

b. memiliki akta buru;

c. melaporkan kepada pejabat Kehutanan dan Kepolisian setempat;

d. berburu di tempat yang ditunjuk dalam surat perintah;

e. berburu satwa buru sesuai dengan jenis dan jumlah yang tercantum dalam surat perintah;

f. melaporkan hasil pelaksanaan tugas kepada yang menerbitkan surat perintah. (3) (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pelaksanaan kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan (2) diatur oleh Menteri.

PASAL 19

BAB V HAK DAN KEWAJIBAN PEMBURU
(1) Hasil buruan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (1) huruf b dapat berupa satwa hidup maupun mati dan atau bagian-bagiannya dan/atau hasil dari satwa buru. (2) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur oleh Menteri.

PASAL 20

BAB V HAK DAN KEWAJIBAN PEMBURU
(1) Perburuan tidak boleh dilakukan dengan cara :

a. menggunakan kendaraan bermotor atau pesawat terbang sebagai tempat berpijak;

b. menggunakan bahan peledak dan/atau granat;

c. menggunakan binatang pelacak;

d. menggunakan bahan kimia;

e. membakar tempat berburu;

f. menggunakan alat lain untuk menarik atau menggiring satwa buru secara massal;

g. menggunakan jerat/perangkap dan lubang perangkap;

h. menggunakan senjata api yang bukan untuk berburu. (2) Untuk kepentingan penelitian, Menteri dapat menetapkan pengecualian terhadap ketentuan dalam ayat (1) huruf c, huruf f, dan huruf g. (3) (3) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) diatur oleh Menteri. BAB VI PENGUSAHAAN TAMAN BURU Bagian Kesatu Pengusahaan Taman Buru

PASAL 21

BAB VI PENGUSAHAAN TAMAN BURU
Pengusahaan taman buru dilakukan berdasarkan asas konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.

PASAL 22

BAB VI PENGUSAHAAN TAMAN BURU
(1) Pengusahaan taman buru sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 dapat dilakukan oleh badan usaha yang berbentuk badan hukum. (2) Pengusahaan taman buru sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan berdasarkan izin. (3) Pengusahaan taman buru diberikan oleh Menteri setelah mendapat pertimbangan dari Menteri yang menangani urusan kepariwisataan dan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I yang bersangkutan. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemberian izin sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) diatur oleh Menteri. Pasal 23…

PASAL 23

BAB VI PENGUSAHAAN TAMAN BURU
(1) Pengusahaan taman buru meliputi usaha perburuan serta penyediaan sarana dan prasarana perburuan. (2) Pengusahaan taman buru tidak memberikan hak pemilikan dan penguasaan atas kawasan taman buru.

PASAL 24

BAB VI PENGUSAHAAN TAMAN BURU
(1) Pengusahaan taman buru diberikan untuk jangka waktu paling lama 30 tahun. (2) Pengusahaan taman buru yang jangka waktunya telah berakhir dapat diperpanjang. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara perpanjangan izin pengusahaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur oleh Menteri.

PASAL 25

BAB VI PENGUSAHAAN TAMAN BURU
(1) Pengusaha taman buru tidak dapat mengagunkan kawasan taman buru yang diusahakannya. (2) Izin pengusahaan taman buru tidak dapat dipindahtangankan pada pihak lain tanpa persetujuan Menteri. Bagian… Bagian Kedua Hak dan Kewajiban Pengusaha Taman Buru

PASAL 26

BAB VI PENGUSAHAAN TAMAN BURU
Pengusaha taman buru berhak untuk : a. mengelola kegiatan sesuai dengan yang tercantum dalam izin pengusahaannya; b. menerima imbalan dari pengunjung yang menggunakan jasa yang diusahakannya.

PASAL 27

BAB VI PENGUSAHAAN TAMAN BURU
Pengusaha taman buru wajib : a. membuat dan menyerahkan rencana karya pengusahaan kepada Menteri; b. melaksanakan kegiatan secara nyata dalam waktu 12 bulan sejak hak diberikan; c. penyediaan sarana dan prasarana perburuan sesuai dengan rencana karya yang telah disahkan; d. mempekerjakan tenaga ahli sesuai dengan jenis kegiatan usaha yang dikelolanya; e. mengikutsertakan masyarakat di sekitar taman buru dalam kegiatan usahanya; f. membuat dan menyampaikan laporan kegiatan pengusahaan secara berkala atas pelaksanaan usahanya kepada Menteri; g. merehabilitasi kerusakan yang diakibatkan oleh kegiatan pengusahaannya; h. menjamin… h. menjamin keamanan dan ketertiban para pengunjung; i. turut menjaga kelestarian fungsi taman buru dan satwa yang terdapat didalamnya; j. melaksanakan penangkaran satwa buru untuk memenuhi kepentingan perburuan yang diusahakan; k. memantau dan menanggulangi adanya penyakit hewan menular dan penyakit zoonosis serta melaporkan kepada instansi yang berwenang; l. berpartisipasi dalam pembangunan masyarakat sekitar taman buru.

PASAL 28

BAB VI PENGUSAHAAN TAMAN BURU
(1) Pengusaha taman buru wajib membayar pungutan izin pengusahaan taman buru dan iuran hasil usaha perburuan. (2) Ketentuan mengenai besarnya pungutan izin pengusahaan taman buru dan iuran hasil usaha perburuan diatur oleh Menteri setelah mendapat persetujuan dari Menteri yang bertanggung jawab bidang keuangan. Bagian Ketiga Berakhirnya Pengusahaan Taman Buru

PASAL 29

BAB VI PENGUSAHAAN TAMAN BURU
(1) Pengusahaan taman buru berakhir karena :

a. jangka waktu yang diberikan telah berakhir;

b. dicabut oleh Menteri;

c. c. diserahkan kembali oleh pengusaha taman buru kepada Pemerintah sebelum jangka waktu yang diberikan berakhir. (2) Berakhirnya pengusahaan taman buru sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak menghapuskan kewajibannya untuk :

a. melunasi iuran hasil usaha perburuan dan kewajiban pungutan negara lainnya kepada Pemerintah;

b. melaksanakan semua ketentuan yang ditetapkan dalam rangka berakhirnya izin pengusahaan taman buru.

PASAL 30

BAB VI PENGUSAHAAN TAMAN BURU
Pada saat berakhirnya pengusahaan taman buru sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29, maka sarana dan prasarana perburuan yang tidak bergerak yang berada di dalam taman buru menjadi milik negara.

PASAL 31

BAB VI PENGUSAHAAN TAMAN BURU
(1) Izin pengusahaan taman buru sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 ayat (1) huruf b dapat dicabut apabila pengusaha :

a. tidak membayar iuran hasil usaha perburuan dalam jangka waktu yang telah ditetapkan; atau

b. tidak melaksanakan kegiatannya secara nyata dalam waktu 12 bulan sejak izin diberikan; atau

c. meninggalkan usahanya sebelum jangka waktu yang diberikan berakhir; atau

d. tidak menyerahkan rencana karya pengusahaan dalam waktu 6 bulan sejak izin diberikan; atau

e. e. memindahtangankan izin pengusahaan taman buru kepada pihak lain tanpa persetujuan Menteri; atau

f. tidak memantau dan tidak menanggulangi adanya penyakit hewan dan penyakit zoonosis serta tidak melaporkan kepada instansi yang berwenang; atau

g. pemegang izin menyewakan dan/atau menggunakan senjata yang tidak sesuai dengan surat izin buru; atau

h. tidak memenuhi kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (1) huruf c, atau huruf d, atau huruf e, atau huruf f, atau huruf g, atau huruf h, atau huruf i, atau huruf j, atau huruf l, dan telah diberi peringatan tertulis tiga kali berturut-turut oleh Menteri. (2) Tata cara pencabutan izin pengusahaan taman buru sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut oleh Menteri. BAB VII PENGUSAHAAN KEBUN BURU Bagian Kesatu Pengusahaan Kebun Buru

PASAL 32

BAB VII PENGUSAHAAN KEBUN BURU
(1) Pengusahaan kebun buru dilaksanakan berdasarkan asas perusahaan tanpa meninggalkan asas konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. (2) Berburu di kebun buru hanya dapat dilakukan untuk kegiatan olah raga berburu dan/atau untuk memperoleh trofi buru. Pasal 33…

PASAL 33

BAB VII PENGUSAHAAN KEBUN BURU
(1) Pengusahaan kebun buru dapat diselenggarakan oleh badan usaha yang berbentuk badan hukum. (2) Izin pengusahaan kebun buru diberikan oleh Menteri setelah mendapat pertimbangan dari Gubernur Kepala Daerah Tingkat I yang bersangkutan. (3) Persyaratan dan tata cara untuk memperoleh izin sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) diatur oleh Menteri.

PASAL 34

BAB VII PENGUSAHAAN KEBUN BURU
Pengusahaan kebun buru meliputi usaha perburuan serta penyediaan sarana dan prasarana perburuan.

PASAL 35

BAB VII PENGUSAHAAN KEBUN BURU
(1) Jangka waktu pengusahaan kebun buru diberikan paling lama 30 tahun dan dapat diperpanjang. (2) Jangka waktu tersebut diberikan berdasarkan pertimbangan jenis satwa dan jangka waktu masa berlakunya hak atas tanah kebun buru tersebut. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur oleh Menteri. Bagian… Bagian Kedua Hak dan Kewajiban Pengusaha Kebun Buru

PASAL 36

BAB VII PENGUSAHAAN KEBUN BURU
(1) Pengusaha kebun buru berhak untuk :

a. mengelola kegiatan yang sesuai dengan bidang usaha yang tercantum dalam izin usaha kebun buru;

b. menerima imbalan dari pengunjung yang menggunakan jasa yang diusahakannya;

c. mengenakan pungutan hasil buruan. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai besarnya pungutan hasil buruan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf c diatur oleh Menteri.

PASAL 37

BAB VII PENGUSAHAAN KEBUN BURU
Pengusaha kebun buru wajib : a. membuat dan menyerahkan rencana karya pengusahaan kepada Menteri; b. melaksanakan kegiatan secara nyata dalam waktu 12 bulan sejak hak diberikan; c. menyediakan sarana dan prasarana perburuan sesuai dengan rencana karya yang disahkan; d. mempekerjakan tenaga ahli sesuai dengan kegiatan usahanya; e. mengikutsertakan masyarakat di sekitar kebun buru dalam kegiatan usahanya; f. membuat laporan kegiatan pengusahaan secara berkala atas pelaksanaan usahanya kepada Menteri; g. menjamin… g. menjamin keamanan dan ketertiban para pengunjung; h. memantau dan menanggulangi adanya penyakit hewan menular dan penyakit zoonosis serta melaporkan kepada instansi yang berwenang; i. wajib memagar seluruh areal kebun buru; j. berpartisipasi dalam pembangunan masyarakat sekitar kebun buru; k. menyediakan satwa buru.

PASAL 38

BAB VII PENGUSAHAAN KEBUN BURU
(1) Pengusaha kebun buru wajib membayar pungutan izin usaha kebun buru dan iuran hasil usaha perburuan. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai pungutan dan iuran sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ditetapkan oleh Menteri setelah mendapat persetujuan Menteri yang bertanggung jawab bidang keuangan. Bagian Ketiga Berakhirnya Pengusahaan Kebun Buru

PASAL 39

BAB VII PENGUSAHAAN KEBUN BURU
(1) Pengusahaan kebun buru berakhir karena :

a. jangka waktu yang diberikan telah berakhir;

b. dicabut oleh Menteri;

c. atas permintaan pengusaha kebun buru kepada Pemerintah sebelum jangka waktunya berakhir. (2) (2) Berakhirnya pengusahaan kebun buru sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak menghapuskan kewajiban pemegang izin untuk :

a. melunasi iuran hasil usaha perburuan dan kewajiban pungutan negara lainnya;

b. melaksanakan semua ketentuan yang ditetapkan dalam rangka berakhirnya izin usaha kebun buru. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan ayat (1) dan ayat (2) diatur oleh Menteri.

PASAL 40

BAB VII PENGUSAHAAN KEBUN BURU
(1) Pencabutan izin usaha kebun buru sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 ayat (1) huruf b dilakukan apabila pengusaha kebun buru :

a. tidak melaksanakan kegiatannya secara nyata dalam waktu 12 bulan sejak izin diberikan; atau

b. meninggalkan usahanya sebelum jangka waktu yang diberikan berakhir; atau

c. tidak menyerahkan rencana karya pengusahaan dalam waktu 6 bulan sejak izin diberikan; atau

d. memindahtangankan izin usaha kebun buru kepada pihak lain tanpa persetujuan dari Menteri; atau

e. tidak memantau dan tidak menanggulangi adanya penyakit hewan menular dan penyakit zoonosis serta tidak melaporkan kepada instansi yang bertanggung jawab di bidang kesehatan hewan; atau

f. f. Pemegang izin menyewakan dan/atau menggunakan senjata yang tidak sesuai dengan surat izin buru; atau

g. tidak memenuhi kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 huruf c, atau huruf d, atau huruf e, atau huruf f, atau huruf g, atau huruf i, atau huruf j, atau huruf k dan telah diberikan peringatan tiga kali berturut-turut oleh Menteri. (2) Tata cara pencabutan izin usaha perburuan kebun buru sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut oleh Menteri. BAB VIII PENGAWASAN

PASAL 41

BAB VIII PENGAWASAN
(1) Pengawasan terhadap kegiatan perburuan satwa buru dilakukan oleh Menteri. (2) Pelaksanaan pengawasan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan secara terkoordinasi dengan instansi Pemerintah yang terkait.

PASAL 42

BAB VIII PENGAWASAN
(1) Pengawasan pemburuan satwa buru bertujuan untuk mengendalikan kegiatan berburu agar perburuan berjalan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. (2) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur oleh Menteri. BAB IX… BAB IX SANKSI

PASAL 43

BAB IX SANKSI
(1) Pemegang izin pengusahaan taman buru yang tidak merehabilitasi kerusakan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 ayat (1) huruf g dan atau karena kegiatannya menimbulkan kerusakan taman buru wajib membayar ganti rugi sesuai dengan berat dan intensitas kerusakan yang ditimbulkan. (2) Ganti rugi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak menghilangkan tuntutan pidana atas pelanggaran yang dilakukannya sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan yang berlaku. BAB X KETENTUAN PENUTUP

PASAL 44

BAB X KETENTUAN PENUTUP
Dengan berlakunya Peraturan Pemerintah ini, maka : 1. Jachtverordening Java en Madoera 1940 (Staatsblad 1940 Nomor 247 jo Staatsblad 1941 Nomor 51) yang telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 1952; 2. Jachtverordening Java en Madoera 1941 (Stbl. 1941 No. 57). dinyatakan tidak berlaku.

PASAL 45

BAB X KETENTUAN PENUTUP
Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Agar… Agar setiap orang mengetahuinya memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 16 April 1994 , ttd SOEHARTO Diundangkan di Jakarta pada tanggal 16 Juni 1981 MENTERI NEGARA SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA, ttd MOERDIONO, SH. LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1994 NOMOR 19