Batang Tubuh & Naskah Pasal Terverifikasi
PASAL 1
BAB I: KETENTUAN UMUM
Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan :
1. Kerja sama adalah kegiatan yang diselenggarakan oleh Menteri
dengan
instansi
terkait,
badan-badan
kemasyarakatan
atau
perorangan dalam rangka pembinaan dan atau pembimbingan
terhadap Warga Binaan Pemasyarakatan, yang kegiatannya seiring
dengan penyelenggaraan sistem pemasyarakatan.
2. Pembinaan adalah kegiatan untuk meningkatkan kualitas ketaqwaan
kepada Tuhan Yang Maha Esa, intelektual, sikap dan perilaku,
profesional, kesehatan jasmani dan rohani Narapidana dan Anak
Didik Pemasyarakatan.
3. Pembimbingan adalah pemberian tuntunan untuk meningkatkan
kualitas ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, intelektual, sikap
dan perilaku, profesional, kesehatan jasmani dan rohani Klien
Pemasyarakatan.
4. Mitra kerja sama adalah instansi Pemerintah lain yang terkait,
badan-badan
kemasyarakatan,
dan
atau
perorangan
yang
mengadakan kerja sama dengan LAPAS atau BAPAS dalam rangka
kegiatan pembinaan atau pembimbingan terhadap warga Binaan
Pemasyarakatan.
5. Upah adalah imbalan jasa yang diberikan kepada Warga Binaan
Pemasyarakatan yang bekerja menghasilkan barang atau jasa.
6. Menteri adalah Menteri yang lingkup tugas dan tanggung jawabnya
meliputi bidang pemasyarakatan.
BAB II
KERJASAMA PEMBINAAN DAN PEMBIMBINGAN
Bagian Pertama
Kerja Sama Pembinaan
PASAL 2
BAB II: KERJASAMA PEMBINAAN DAN PEMBIMBINGAN | Bagian Pertama - Kerja Sama Pembinaan
(1) Menteri dapat menyelenggarakan kerja sama pembinaan dengan :
a. instansi pemerintah terkait;
b. badan-badan kemasyarakatan; dan
c. perorangan.
(2) Kerja sama dengan instansi pemerintah atau pihak sebagaimana
dimaksud
dalam
ayat
(1)
diselenggarakan
dalam
rangka
pengembangan, peningkatan dan atau perluasan pembinaan.
(3) Hubungan kerja sama sebagaimana dimaksud ayat (1) huruf a
bersifat fungsional.
(4) Hubungan kerja sama sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf b
dan c bersifat kemitraan.
PASAL 3
BAB II: KERJASAMA PEMBINAAN DAN PEMBIMBINGAN | Bagian Pertama - Kerja Sama Pembinaan
(1) Hubungan kerja sama pembinaan dilaksanakan berdasarkan program
pembinaan
untuk
meningkatkan
kemampuan
dan
kualitas
Narapidana dan Anak Didik Pemasyarakatan.
(2) Program pembinaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) meliputi:
a. ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa;
b. kesadaran berbangsa dan bernegara;
c. intelektual;
d. sikap dan perilaku;
e. kesehatan jasmani dan rohani;
f.
kesadaran hukum;
g. reintegrasi sehat dengan masyarakat;
h. keterampilan kerja; dan
i.
latihan kerja dan produksi.
PASAL 4
BAB II: KERJASAMA PEMBINAAN DAN PEMBIMBINGAN | Bagian Pertama - Kerja Sama Pembinaan
(1) Pelaksanaan program kerja sama pembinaan dibebadakan atas :
a. program pembinaan Narapidana;
b. program pembinaan Anak Didik Pemasyarakatan.
(2) Tata cara pelaksanaan program kerja sama pembinaan sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Keputusan
Menteri.
Bagian Kedua
Kerjasama Pembimbingan
PASAL 5
BAB II: KERJASAMA PEMBINAAN DAN PEMBIMBINGAN | Bagian Kedua - Kerjasama Pembimbingan
(1) Menteri dapat menyelenggarakan kerja sama pembimbingan dengan :
a. instansi pemerintah terkait;
b. badan-badan kemasyarakatan; dan
c. perorangan.
(2) Kerjasama dengan instansi Pemerintah atau pihak sebagaimana
dimaksud
dalam
ayat
(1)
diselenggarakan
dalam
rangka
pengembangan, peningkatan dan atau perluasan pembimbingan.
(3) Hubungan kerja sama sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a
bersifat fungsional.
(4) Hubungan kerja sama sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf b
dan c bersifat kemitraan.
PASAL 6
BAB II: KERJASAMA PEMBINAAN DAN PEMBIMBINGAN | Bagian Kedua - Kerjasama Pembimbingan
(1) Hubungan kerja sama pembimbingan dilaksanakan berdasarkan
program pembimbingan dalam rangka meningkatkan kemampuan
dan kualitas Klien Pemasyarakatan.
(2) Progrram pembimbingan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
meliputi :
a. ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa;
b. kesadaran berbangsa dan bernegara;
c. intelektual;
d. sikap dan perilaku;
e. kesehatan jasmani dan rohani;
f.
kesadaran hukum;
g. reintegrasi sehat dengan masyarakat;
h. keterampilan kerja; dan
i.
latihan kerja dan produksi.
PASAL 7
BAB II: KERJASAMA PEMBINAAN DAN PEMBIMBINGAN | Bagian Kedua - Kerjasama Pembimbingan
(1) Pelaksanaan program kerja sama pembimbingan dibedakan atas :
a. proggram pembimbingan klien dewasa; dan
b. program pembimbingan klien anak.
(2) Tata
cara
pelaksanaan
program
kerjasama
pembimbingan
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan
Keputusan Menteri.
Bagian Ketiga
Jangka Waktu Kerja Sama
PASAL 8
BAB II: KERJASAMA PEMBINAAN DAN PEMBIMBINGAN | Bagian Ketiga - Jangka Waktu Kerja Sama
(1) Jangka
waktu
pelaksanaan
kerja
sama
pembinaan
dan
atau
pembimbingan terdiri atas :
a. kerja sama jangka panjang, apabila pelaksanaannya 5 (lima)
tahun atau lebih;
b. kerja sama jangka menengah, apabila pelaksanaannya 2 (dua)
tahun sampai 5 (lima) tahun; dan
c. kerja sama jangka pendek, apabila pelaksanaannya tidak lebih
dari 2 (dua) tahun.
(2) Mitra kerja sama dapat mengajukan permintaan kepada Menteri agar
kerja sama yang telah habis jangka waktunya sebagaimana dimaksud
dalam ayat (1) dapat diperpanjang.
BAB III
MITRA KERJA SAMA
PASAL 9
BAB III: MITRA KERJA SAMA
(1) Kerja sama pembinaan dan atau pembimbingan dimaksud dalam
Pasal 2 ayat (1) huruf a dan Pasal 5 ayat (1) huruf a, dapat
dilaksanakan dengan instansi pemerintah yang lingkup tugasnya
meliputi :
a. bidang keagamaan;
b. bidang pertanian;
c. bidang pendidikan dan kebudayaan;
d. bidang kesehatan;
e. bidang sosial;
f.
bidang tenaga kerja;
g. bidang perindustrian dan perdagangan; dan
h. Pemerintah Daerah
(2) Instansi pemerintah selain yang dimaksud dalam ayat (1) dapat pula
mengadakan kerja sama pembinaan dan atau pembimbingan.
PASAL 10
BAB III: MITRA KERJA SAMA
(1) Badan-badan kemasyarakatan yang dapa mengadakan kerja sama
pembinaan dan atau pembimbingan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 2 ayat (1) huruf b dan Pasal 5 ayat (1) huruf b meliputi :
a. yayasan;
b. koperasi; dan
c. lembaga swadaya masyarakat.
(2) Badan-badan kemasyarakatan selain yang dimaksud dalam ayat (1)
dapat
pula
mengadakan
kerja
sama
pembinaan
dan
atau
pembimbingan.
PASAL 11
BAB III: MITRA KERJA SAMA
(1) Perorangan yang dapat mengadakan kerja sama pembinaan dan atau
pembimbingan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) huruf c
dan Pasal 5 ayat (1) huruf c adalah dokter, psikolog, pendidik,
pemuka agama, pengusaha, dan tenaga lain yang memiliki keahlian
tertentu yang dibutuhkan.
(2) Perorangan selain yang dimaksud dalam ayat (1) dapat pula
mengadakan kerja sama pembinaan dan atau pembimbingan.
PASAL 12
BAB III: MITRA KERJA SAMA
Menteri dapat juga menyelenggarakan kerja sama dengan organisasi
internasional dalam rangka pembinaan dan atau pembimbingan Warga
Binaan
Pemasyarakatan
yang
kegiatannya
seiring
dengan
penyelenggaraan sistem pemasyarakatan.
BAB IV
TATA CARA KERJA SAMA
PASAL 13
BAB IV: TATA CARA KERJA SAMA
(1) Dalam
hal
kerja
sama
pembinaan
dan
atau
pembimbingan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1) huruf a, kesepakatan
kerja sama dibuat bersama oleh mitra kerja sama dengan Menteri
atau pejabat yang ditunjuk.
(2) Dalam
hal
kerja
sama
pembinaan
dan
atau
pembimbingan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1) huruf b, kesepakatan
kerja sama dibuat bersama oleh mitra kerja sama dengan Kantor
Wilayah Departemen Kehakiman.
(3) Dalam
hal
kerja
sama
pembinaan
dan
atau
pembimbingan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1) huruf c, kesepakatan
kerja sama dibuat bersama oleh mitra kerja sama dengan LAPAS dan
atau BAPAS.
PASAL 14
BAB IV: TATA CARA KERJA SAMA
Kesepakatan kerja sama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 diatur
lebih lanjut dengan Keputusan Menteri.
PASAL 15
BAB IV: TATA CARA KERJA SAMA
Menteri
dan
mitra
kerja
sama menyediakan sumber daya yang
diperlukan
bagi
penyelenggaraan
program
pembinaan
dan
atau
pembimbingan.
BAB V
UPAH
PASAL 16
BAB V: UPAH
Dalam hal kerja sama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (4)
menghasilkan barang atau jasa, Warga Binaan Pemasyarakatan berhak
memperoleh upah yang besarnya sesuai dengan sistem pengupahan yang
berlaku dalam masyarakat.
PASAL 17
BAB V: UPAH
(1) Upah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 diberikan oleh mitra
kerja sama kepada Warga Binaan Pemasyarakatan melalui Kepala
LAPAS dan atau Kepala BAPAS.
(2) Tata
cara
penyampaian
dan
penyimpanan
upah
sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Keputusan
Menteri.
BAB VI
PENGAWASAN
PASAL 18
BAB VI: PENGAWASAN
(1) Kepala LAPAS dan Kepala BAPAS yang melaksanakan kerja sama
wajib menyampaikan laporan berkala secara tertulis mengenai
pelaksanaan kerja sama kepada Menteri.
(2) Kewajiban menyampaikan laporan sebagaimana dimaksud dalam
ayat (1) berlaku pula bagi mitra kerja sama sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 9 sampai dengan Pasal 12.
(3) Tata cara penyampaian laporan sebagaimana dimaksud dalam ayat
(1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Keputusan Menteri.
PASAL 19
BAB VI: PENGAWASAN
Menteri, Direktur Jenderal Pemasyarakatan, Kepala Kantor Wilayah
Departemen Kehakiman, Kepala LAPAS, atau Kepala BAPAS sesuai
dengan tingkat kerja sama dapat menghentikan kerja sama apabila
pelaksanaannya
tidak
seiring
dengan
penyelenggaraan
sistem
pemasyarakatan.
BAB VII
KETENTUAN PERALIHAN
PASAL 20
BAB VII: KETENTUAN PERALIHAN
Pada saat berlakunya Peraturan Pemerintah ini semua peraturan
pelaksanaan mengenai kerja sama penyelenggaraan pembinaan dan
pembimbingan Warga Binaan Pemasyarakatan tetap berlaku, sepanjang
tidak bertentangan atau belum diganti dengan yang baru berdasarkan
Peraturan Pemerintah ini.
PASAL 21
BAB VII: KETENTUAN PERALIHAN
(1) Mitra kerja sama yang sedang melaksanakan kerja sama pada saat
berlakunya Peraturan Pemerintah ini, melanjutkan kegiatannya
sampai berakhirnya jangka waktu kerja sama yang telah disepakati.
(2) Mitra kerja sama yang telah mengajukan permohonan kerja sama
tetapi belum diterima pada saat berlakunya Peraturan Pemerintah ini,
tata cara pengajuan permohonan tersebut dilaksanakan menurut tata
cara yang ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah ini.
BAB VIII
KETENTUAN PENUTUP
PASAL 22
BAB VIII: KETENTUAN PENUTUP
Pada saat berlakunya Peraturan Pemerintah ini segala peraturan
perundang-undangan yang bertentangan dengan Peraturan Pemerintah
ini dinyatakan tidak berlaku.
PASAL 23
BAB VIII: KETENTUAN PENUTUP
Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada saat diundangkan. Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.