Batang Tubuh & Naskah Pasal Terverifikasi
PASAL 1
BAB I: KETENTUAN UMUM
Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan:
1. Badan Usaha Milik Negara, yang selanjutnya disebut BUMN, adalah badan usaha yang seluruh atau sebagian besar modalnya dimiliki oleh negara melalui penyertaan secara langsung yang berasal dari kekayaan negara yang dipisahkan.
2. Perusahaan Perseroan, yang selanjutnya disebut Persero, adalah BUMN yang berbentuk perseroan terbatas yang modalnya terbagi dalam saham yang seluruh atau paling sedikit 51 % (lima puluh satu persen) sahamnya dimiliki oleh Negara Republik Indonesia yang tujuan utamanya mengejar keuntungan.
3. Perusahaan Umum, yang selanjutnya disebut Perum, adalah BUMN yang seluruh modalnya dimiliki negara dan tidak terbagi atas saham, yang bertujuan untuk kemanfaatan umum berupa penyediaan barang dan/atau jasa yang bermutu tinggi dan sekaligus mengejar keuntungan berdasarkan prinsip pengelolaan perusahaan.
4. Perseroan Terbatas adalah perseroan terbatas yang tidak termasuk Persero.
5. Menteri adalah menteri yang ditunjuk dan/atau diberi kuasa untuk mewakili Pemerintah selaku rapat umum pemegang saham (RUPS) dalam hal seluruh modal Persero dimiliki negara dan sebagai pemegang saham pada Persero dalam hal sebagian modal Persero dimiliki oleh negara, serta sebagai pemilik modal pada Perum dengan memperhatikan peraturan perundang-undangan.
6. Menteri
6. Menteri Teknis adalah menteri yang mempunyai kewenangan mengatur kebijakan sektor tempat BUMN melakukan kegiatan usaha.
7. Penyertaan Modal Negara adalah pemisahan kekayaan negara dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara atau penetapan cadangan perusahaan atau sumber lain untuk dijadikan sebagai modal BUMN dan/atau Perseroan Terbatas lainnya, dan dikelola secara korporasi.
8. Penatausahaan adalah pencatatan dalam rangka pengadministrasian untuk mengetahui besarnya penyertaan negara dalam BUMN dan Perseroan Terbatas.
PASAL 2
BAB I: KETENTUAN UMUM
(1) Penyertaan Modal Negara ke dalam BUMN dan Perseroan
Terbatas bersumber dari:
a. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara;
b. kapitalisasi cadangan; dan/atau
c. sumber lainnya.
(2) Sumber yang berasal dari Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf
a adalah:
a. dana segar;
b. proyek-proyek yang dibiayai oleh Anggaran Pendapatan
dan Belanja Negara;
c. piutang negara pada BUMN atau Perseroan Terbatas;
dan/atau
d. aset-aset negara lainnya.
(3) Sumber yang berasal dari sumber lainnya sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) huruf c berupa:
a. keuntungan revaluasi aset; dan/atau
b. agio saham.
PASAL 3
BAB I: KETENTUAN UMUM
Pasal 3
(1)
Setiap
Penyertaan
Modal
Negara
atau
penambahan
Penyertaan Modal Negara ke dalam BUMN dan Perseroan
Terbatas yang dananya berasal dari Anggaran Pendapatan
dan Belanja Negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2
ayat (1) huruf a ditetapkan dengan peraturan pemerintah.
(2)
Setiap penambahan Penyertaan Modal Negara ke dalam
BUMN
dan
Perseroan
Terbatas
yang
berasal
dari
kapitalisasi cadangan dan sumber lainnya sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) huruf b dan huruf c
ditetapkan dengan keputusan RUPS untuk Persero dan
Perseroan Terbatas, dan keputusan Menteri untuk Perum.
PASAL 4
BAB I: KETENTUAN UMUM
Setiap Penyertaan dan penambahan Penyertaan Modal Negara
yang dananya berasal dari APBN dilaksanakan sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang keuangan
negara.
PASAL 5
BAB I: KETENTUAN UMUM
Negara dapat melakukan penyertaan modal untuk :
a.
Pendirian BUMN atau Perseroan Terbatas;
b.
Penyertaan Modal Negara pada Perseroan Terbatas yang di
dalamnya belum terdapat saham milik Negara; atau
c.
Penambahan Penyertaan Modal Negara pada BUMN atau
Perseroan Terbatas yang di dalamnya telah terdapat saham
milik Negara.
PASAL 6
BAB I: KETENTUAN UMUM
Penyertaan modal ke dalam Perseroan Terbatas sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 5 huruf b, dilakukan dalam keadaan
tertentu untuk menyelamatkan perekonomian nasional.
PASAL 7
BAB I: KETENTUAN UMUM
Pasal 7
Penambahan penyertaan modal Negara ke dalam suatu BUMN
dan Perseroan Terbatas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5
huruf c dilakukan dalam rangka :
a. memperbaiki struktur permodalan BUMN dan Perseroan
Terbatas; dan/atau
b. meningkatkan kapasitas usaha BUMN dan Perseroan
Terbatas.
PASAL 8
BAB I: KETENTUAN UMUM
Penyertaan Modal Negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5
huruf a dan b, dan penambahan Penyertaan Modal Negara
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf c dilakukan dengan
memperhatikan kemampuan keuangan negara.
PASAL 9
BAB I: KETENTUAN UMUM
(1) Pengurangan Penyertaan Modal Negara pada BUMN dan
Perseroan Terbatas dilakukan dalam rangka:
a. penjualan saham milik negara pada Persero dan
Perseroan Terbatas;
b. pengalihan aset BUMN untuk Penyertaan Modal Negara
pada BUMN lain atau Perseroan Terbatas, pendirian
BUMN baru, atau dijadikan kekayaan negara yang tidak
dipisahkan;
c. pemisahan anak perusahaan BUMN menjadi BUMN;
dan/atau
d. restrukturisasi perusahaan.
(2) Pengurangan
Penyertaan
Modal
Negara
sebagaimana
dimaksud
pada
ayat
(1)
dilakukan
dengan
tetap
memperhatikan kepentingan BUMN dan Perseroan Terbatas
yang bersangkutan.
(3) Pengurangan
(3) Pengurangan
Penyertaan
Modal
Negara
sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) tidak boleh merugikan kepentingan
kreditor.
BAB II
TATA CARA PENYERTAAN MODAL NEGARA
PASAL 10
BAB II: TATA CARA PENYERTAAN MODAL NEGARA
(1) Penyertaan Modal Negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf a dan huruf b diusulkan oleh Menteri Keuangan kepada disertai dengan dasar pertimbangan setelah dikaji bersama dengan Menteri dan Menteri Teknis.
(2) Rencana Penyertaan Modal Negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan atas inisiatif Menteri Keuangan, Menteri atau Menteri Teknis.
(3) Pengkajian bersama atas rencana Penyertaan Modal Negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikoordinasikan oleh Menteri Keuangan.
(4) Pengkajian sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dapat pula mengikutsertakan menteri lain dan/atau pimpinan instansi lain yang dianggap perlu atau menggunakan konsultan independen.
PASAL 11
BAB II: TATA CARA PENYERTAAN MODAL NEGARA
Apabila berdasarkan hasil pengkajian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10, menyatakan rencana Penyertaan Modal Negara tersebut layak dilakukan, maka Menteri Keuangan menyampaikan usul Penyertaan Modal Negara dimaksud kepada .
PASAL 12
BAB II: TATA CARA PENYERTAAN MODAL NEGARA
Pasal 12
Pelaksanaan pendirian BUMN sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 5 huruf a dan penyertaan modal Negara sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 5 huruf b setelah diterbitkannya
peraturan pemerintah, dilakukan oleh Menteri Keuangan dengan
memperhatikan ketentuan peraturan perundang-undangan.
PASAL 13
BAB II: TATA CARA PENYERTAAN MODAL NEGARA
Kewenangan Menteri Keuangan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 10 ayat (1) dan ayat (3), Pasal 11 dan Pasal 12 dapat
dikuasakan kepada Menteri.
BAB III
TATA CARA PENAMBAHAN PENYERTAAN
MODAL NEGARA
PASAL 14
BAB III: TATA CARA PENAMBAHAN PENYERTAAN
(1) Penambahan Penyertaan Modal Negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf c diusulkan oleh Menteri Keuangan kepada disertai dengan dasar pertimbangan berdasarkan hasil kajian bersama dengan Menteri.
(2) Penambahan Penyertaan Modal Negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan atas inisiatif Menteri Keuangan, Menteri atau Menteri Teknis. (3) Pengkajian bersama atas rencana penambahan Penyertaan Modal Negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikoordinasikan oleh Menteri. (4) Pengkajian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat pula mengikutsertakan Menteri Teknis dan/atau menteri lain dan/atau pimpinan instansi lain yang dianggap perlu dan/atau menggunakan konsultan independen.
PASAL 15
BAB III: TATA CARA PENAMBAHAN PENYERTAAN
Pasal 15 Apabila berdasarkan hasil pengkajian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 menyatakan bahwa rencana penambahan Penyertaan Modal Negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf c tersebut layak dilakukan, maka Menteri Keuangan menyampaikan usul penambahan Penyertaan Modal Negara dimaksud kepada .
PASAL 16
BAB III: TATA CARA PENAMBAHAN PENYERTAAN
Pelaksanaan
penambahan
Penyertaan
Modal
Negara
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf c setelah
diterbitkannya peraturan pemerintah, dilakukan oleh Menteri
dan Menteri Keuangan secara bersama-sama atau sendiri-
sendiri sesuai dengan lingkup bidang tugas masing-masing
dengan
memperhatikan
ketentuan
peraturan
perundang-
undangan.
PASAL 17
BAB III: TATA CARA PENAMBAHAN PENYERTAAN
Kewenangan Menteri Keuangan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 10 ayat (1) dan Pasal 11 dapat dikuasakan kepada
Menteri.
BAB IV
TATA CARA PENGURANGAN PENYERTAAN
MODAL NEGARA
PASAL 18
BAB IV: TATA CARA PENGURANGAN PENYERTAAN
(1) Pengurangan Penyertaan Modal Negara diusulkan oleh Menteri Keuangan kepada setelah dikaji bersama dengan Menteri.
(2) Rencana Pengurangan Penyertaan Modal Negara dapat dilakukan atas inisiatif Menteri Keuangan atau Menteri.
(3) Pengkajian
(3) Pengkajian bersama atas rencana pengurangan Penyertaan Modal Negara dikoordinasikan oleh Menteri. (4) Pengkajian sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat mengikutsertakan Menteri Teknis dan/atau menteri lain dan/atau pimpinan instansi lain yang dianggap perlu dan/atau menggunakan konsultan independen.
PASAL 19
BAB IV: TATA CARA PENGURANGAN PENYERTAAN
Apabila berdasarkan hasil pengkajian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 menyatakan bahwa rencana pengurangan Penyertaan Modal Negara layak dilakukan, maka Menteri Keuangan menyampaikan usul pengurangan Penyertaan Modal Negara dimaksud kepada untuk mendapatkan persetujuan.
PASAL 20
BAB IV: TATA CARA PENGURANGAN PENYERTAAN
Pelaksanaan pengurangan Penyertaan Modal Negara setelah
diterbitkannya peraturan pemerintah tentang pengurangan
Penyertaan Modal Negara pada BUMN dan Perseroan Terbatas
dilakukan oleh Menteri dan Menteri Keuangan secara bersama-
sama atau sendiri-sendiri sesuai dengan lingkup bidang tugas
masing-masing dengan memperhatikan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
PASAL 21
BAB IV: TATA CARA PENGURANGAN PENYERTAAN
Kewenangan Menteri Keuangan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 18 ayat (1) dan Pasal 19 dapat dikuasakan kepada
Menteri.
PASAL 22
BAB IV: TATA CARA PENGURANGAN PENYERTAAN
(1)
Setiap pengurangan Penyertaan Modal Negara pada BUMN
dan Perseroan Terbatas ditetapkan dengan peraturan
pemerintah.
(2) Penetapan
(2)
Penetapan peraturan pemerintah sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) untuk pengurangan Penyertaan Modal Negara
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf a,
didahului dengan keputusan Menteri selaku pemegang
saham milik negara pada Persero dan Perseroan Terbatas.
(3)
Penetapan peraturan pemerintah sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) untuk pengurangan Penyertaan Modal Negara
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf b,
huruf c dan huruf d didahului dengan keputusan RUPS
untuk Persero dan Perseroan Terbatas dan keputusan
Menteri untuk Perum.
PASAL 23
BAB IV: TATA CARA PENGURANGAN PENYERTAAN
(1)
Pelaksanaan pengurangan Penyertaan Modal Negara pada
Persero sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1)
huruf a dilakukan berdasarkan ketentuan peraturan
perundang-undangan mengenai privatisasi.
(2)
Pelaksanaan pengurangan Penyertaan Modal Negara pada
Persero dan Perseroan Terbatas sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 9 ayat (1) huruf b, huruf c dan huruf d
dilakukan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-
undangan di bidang perseroan terbatas.
PASAL 24
BAB IV: TATA CARA PENGURANGAN PENYERTAAN
(1)
Direksi wajib mengumumkan keputusan pengurangan
Penyertaan
Modal
Negara
pada
Perum
sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf b dan huruf c paling
sedikit dalam 1 (satu) surat kabar paling lambat 7 (tujuh)
hari
terhitung
sejak
tanggal
keputusan
Menteri
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (3).
(2)
Dalam waktu 14 (empat belas) hari terhitung sejak
pengumuman
sebagaimana
dimaksud
pada
ayat
(1),
kreditor dapat mengajukan keberatan secara tertulis
disertai
alasannya
kepada
Perum
atas
keputusan
pengurangan Penyertaan Modal Negara dengan tembusan
kepada Menteri.
(3) Dalam
(3)
Dalam waktu 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak keberatan
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diterima, Perum wajib
memberikan jawaban atas keberatan yang diajukan disertai
alasannya.
(4) Dalam
hal
Perum
menolak
keberatan
atau
tidak
memberikan penyelesaian yang disepakati kreditor, maka
dalam waktu 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak jawaban
Perum diterima, kreditor dapat mengajukan gugatan ke
pengadilan negeri yang daerah hukumnya meliputi tempat
kedudukan Perum.
(5)
Pengurangan Penyertaan Modal Negara pada Perum mulai
berlaku sejak tanggal berlakunya Peraturan Pemerintah
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (3).
BAB V
TATA CARA PENATAUSAHAAN
PENYERTAAN MODAL NEGARA
PASAL 25
BAB V: TATA CARA PENATAUSAHAAN
Pelaksanaan penyertaan Modal Negara sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 5 dan pengurangan Penyertaan Modal Negara
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 dilaporkan oleh Menteri
kepada Menteri Keuangan untuk dilakukan Penatausahaan.
PASAL 26
BAB V: TATA CARA PENATAUSAHAAN
Menteri Keuangan menyelenggarakan Penatausahaan setiap
Penyertaan Modal Negara pada BUMN dan Perseroan Terbatas
berikut perubahannya.
BAB VI
KETENTUAN PENUTUP
PASAL 27
BAB VI: KETENTUAN PENUTUP
Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Agar Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.