PP NOMOR 24 TAHUN 2011

BADAN PERTIMBANGAN KEPEGAWAIAN

Status: BERLAKU (IN FORCE)
Diundangkan: 2011-01-01
Total Pasal: 17 naskah terverifikasi
URN: urn:lex:id:gov:pemerintah_pusat:pp:2011:24
Buka di Peramban Interaktif LexWondera → Bagikan ke WhatsApp

Batang Tubuh & Naskah Pasal Terverifikasi

PASAL 1

BAB I: KETENTUAN UMUM
Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan:
1.
Pegawai Negeri Sipil yang selanjutnya disingkat PNS
adalah PNS Pusat dan PNS Daerah.
2.
Pelanggaran disiplin adalah setiap ucapan, tulisan,
atau perbuatan PNS yang tidak menaati kewajiban
dan/atau melanggar larangan ketentuan disiplin
PNS, baik yang dilakukan di dalam maupun di luar
jam kerja.
3.
Hukuman disiplin adalah hukuman yang dijatuhkan
kepada PNS karena melanggar peraturan disiplin
PNS.
4.
Pejabat
Pembina
Kepegawaian
Pusat,
Pejabat
Pembina Kepegawaian Daerah Provinsi, dan Pejabat
Pembina
Kepegawaian
Daerah
Kabupaten/Kota
adalah Pejabat Pembina Kepegawaian sebagaimana
dimaksud dalam peraturan perundang-undangan
yang mengatur mengenai wewenang pengangkatan,
pemindahan, dan pemberhentian PNS.
5.
Pejabat yang berwenang menghukum adalah Pejabat
yang
diberi
wewenang
menjatuhkan
hukuman
disiplin bagi PNS.
6.
Banding administratif adalah upaya administratif
yang dapat ditempuh oleh PNS yang tidak puas
terhadap hukuman disiplin berupa pemberhentian
dengan hormat tidak atas permintaan sendiri atau
pemberhentian tidak dengan hormat sebagai PNS
yang dijatuhkan oleh pejabat yang berwenang
menghukum,
kepada
Badan
Pertimbangan
Kepegawaian.
7. Menteri
7.
Menteri adalah menteri yang menyelenggarakan
urusan pemerintahan di bidang pendayagunaan
aparatur negara.

BAB II
KEDUDUKAN DAN TUGAS

PASAL 2

BAB II: KEDUDUKAN DAN TUGAS
(1) Dengan Peraturan Pemerintah ini dibentuk Badan Pertimbangan Kepegawaian yang selanjutnya disebut BAPEK. (2) BAPEK berkedudukan di bawah dan bertanggungjawab langsung kepada perundang-undangan.

PASAL 3

BAB II: KEDUDUKAN DAN TUGAS
BAPEK mempunyai tugas: a. memberikan pertimbangan kepada siplin berupa pemindahan dalam rangka penurunan jabatan setingkat lebih rendah, pembebasan dari jabatan, pemberhentian dengan hormat tidak atas permintaan sendiri, dan pemberhentian tidak dengan hormat sebagai PNS, bagi PNS yang menduduki jabatan struktural eselon I dan pejabat lain yang pengangkatan dan pemberhentiannya oleh Presiden;

b. memeriksa b. memeriksa dan mengambil keputusan atas banding administratif dari PNS yang dijatuhi hukuman disiplin berupa pemberhentian dengan hormat tidak atas permintaan sendiri atau pemberhentian tidak dengan hormat sebagai PNS oleh pejabat pembina kepegawaian dan/atau gubernur selaku wakil pemerintah. BAB III SUSUNAN KEANGGOTAAN

PASAL 4

BAB III: SUSUNAN KEANGGOTAAN
(1) BAPEK terdiri atas:

a. Seorang Ketua merangkap Anggota;

b. Seorang Sekretaris merangkap Anggota; dan

c. 5 (lima) orang Anggota. (2) Susunan keanggotaan BAPEK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah sebagai berikut:

a. Menteri selaku Ketua merangkap Anggota;

b. Kepala Badan Kepegawaian Negara selaku Sekretaris merangkap Anggota;

c. Sekretaris Kabinet selaku Anggota;

d. Kepala Badan Intelijen Negara selaku Anggota;

e. Jaksa Agung Muda yang membidangi urusan keperdataan dan tata usaha negara, Kejaksaan Agung selaku Anggota;

f. Direktur Jenderal yang membidangi urusan peraturan perundang-undangan, Kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang hukum dan hak asasi manusia selaku Anggota; dan

g. Ketua

g. Ketua Dewan Pengurus Nasional Korps Pegawai Republik Indonesia selaku Anggota.

PASAL 5

BAB III: SUSUNAN KEANGGOTAAN
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata kerja Ketua,
Sekretaris, dan Anggota BAPEK sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 4 diatur dengan Peraturan Menteri.

PASAL 6

BAB III: SUSUNAN KEANGGOTAAN
(1)
Untuk membantu kelancaran pelaksanaan tugas
BAPEK sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3
dibentuk Sekretariat BAPEK yang dipimpin oleh
Sekretaris BAPEK.
(2)
Susunan organisasi dan tata kerja Sekretariat
BAPEK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur
dengan
Peraturan
Kepala
Badan
Kepegawaian
Negara.
(3)
Pegawai Sekretariat BAPEK berasal dari PNS yang
diangkat dan diberhentikan oleh Kepala Badan
Kepegawaian
Negara
sesuai
dengan
ketentuan
peraturan perundang-undangan.

BAB IV
BANDING ADMINISTRATIF

PASAL 7

BAB IV: BANDING ADMINISTRATIF
(1)
PNS
yang
dijatuhi
hukuman
disiplin
berupa
pemberhentian
dengan
hormat
tidak
atas
permintaan
sendiri
atau
pemberhentian
tidak
dengan hormat sebagai PNS oleh Pejabat Pembina
Kepegawaian
atau
Gubernur
selaku
Wakil
Pemerintah dapat mengajukan banding administratif
kepada BAPEK.
(2) Banding
(2)
Banding administratif sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) diajukan secara tertulis kepada BAPEK dan
tembusannya disampaikan kepada Pejabat Pembina
Kepegawaian
atau
Gubernur
selaku
Wakil
Pemerintah yang memuat alasan dan/atau bukti
sanggahan.
(3)
Banding administratif sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) diajukan paling lama 14 (empat belas) hari,
terhitung sejak tanggal surat keputusan hukuman
disiplin diterima.
(4)
Banding
administratif
yang
diajukan
melebihi
tenggang waktu sebagaimana dimaksud pada ayat
(3), tidak dapat diterima.

PASAL 8

BAB IV: BANDING ADMINISTRATIF
(1)
Pejabat Pembina Kepegawaian atau Gubernur selaku
Wakil Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 7 ayat (2), wajib memberikan tanggapan
dan/atau
bukti
pelanggaran
disiplin
yang
disampaikan kepada BAPEK paling lama 21 (dua
puluh satu) hari kerja sejak tanggal diterimanya
tembusan banding administratif.
(2)
Apabila
Pejabat
Pembina
Kepegawaian
atau
Gubernur
selaku
Wakil
Pemerintah
tidak
memberikan tanggapan dalam waktu sebagaimana
dimaksud
pada
ayat
(1),
BAPEK
mengambil
keputusan
terhadap
banding
administratif
berdasarkan bukti yang ada.

PASAL 9

BAB IV: BANDING ADMINISTRATIF
(1)
BAPEK wajib memeriksa dan mengambil keputusan
dalam waktu paling lama 180 (seratus delapan
puluh) hari sejak diterimanya banding administratif.
(2) BAPEK
(2)
BAPEK dalam mengambil keputusan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan melalui sidang
BAPEK.

PASAL 10

BAB IV: BANDING ADMINISTRATIF
(1)
Sidang BAPEK sebagaimana dimaksud dalam Pasal
9 ayat (2) dilakukan paling sedikit 1 (satu) kali
dalam setiap bulan.
(2)
Sidang BAPEK dinyatakan sah apabila dihadiri oleh
Ketua, Sekretaris, dan paling sedikit 3 (tiga) orang
Anggota.

PASAL 11

BAB IV: BANDING ADMINISTRATIF
(1)
BAPEK dalam mengambil keputusan dilakukan
dengan musyawarah untuk mufakat.
(2)
Dalam hal musyawarah untuk mufakat sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) tidak tercapai, keputusan
diambil dengan suara terbanyak.
(3)
Keputusan
BAPEK
dapat
memperkuat,
memperberat, memperingan, atau membatalkan
keputusan
Pejabat
Pembina
Kepegawaian
atau
Gubernur selaku Wakil Pemerintah.
(4)
Keputusan BAPEK ditandatangani oleh Ketua dan
Sekretaris;
(5)
Keputusan BAPEK mengikat dan wajib dilaksanakan
oleh semua pihak yang terkait;
(6)
Keputusan BAPEK disampaikan kepada PNS yang
mengajukan banding administratif, Pejabat Pembina
Kepegawaian
atau
Gubernur
selaku
Wakil
Pemerintah, dan Pejabat lain yang terkait.

PASAL 12

BAB IV: BANDING ADMINISTRATIF
Pasal 12

Dalam
melaksanakan
tugas
pemeriksaan,
BAPEK
berwenang meminta keterangan tambahan dari PNS yang
bersangkutan, Pejabat, atau pihak lain yang dianggap
perlu.

BAB V
PENDANAAN

PASAL 13

BAB V: PENDANAAN
Segala pendanaan yang diperlukan bagi pelaksanaan
tugas BAPEK dibebankan pada Anggaran Pendapatan
dan Belanja Negara yang ditempatkan pada anggaran
Badan Kepegawaian Negara.

BAB VI
KETENTUAN PERALIHAN

PASAL 14

BAB VI: KETENTUAN PERALIHAN
Keberatan yang dalam Peraturan Pemerintah ini disebut
banding administratif yang diajukan kepada BAPEK
sebelum berlakunya Peraturan Pemerintah ini, berlaku
ketentuan:
1.
keberatan dan tanggapan yang telah diterima oleh
BAPEK, tetapi belum diputus maka penyelesaiannya
dilakukan
berdasarkan
ketentuan
sebelum
Peraturan Pemerintah ini.
2.
keberatan yang telah diterima oleh BAPEK, tetapi
tanggapan belum diterima, maka penyelesaiannya
dilakukan berdasarkan Peraturan Pemerintah ini.

BAB VII
BAB VII
KETENTUAN PENUTUP

PASAL 15

BAB VII: KETENTUAN PENUTUP
Pada saat Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku
ketentuan peraturan pelaksanaan mengenai BAPEK yang
telah ada sebelum Peraturan Pemerintah ini berlaku,
dinyatakan tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan
dan belum diubah berdasarkan Peraturan Pemerintah
ini.

PASAL 16

BAB VII: KETENTUAN PENUTUP
Pada saat Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku, Keputusan 67 Tahun 1980 tentang Badan Pertimbangan Kepegawaian, sebagaimana telah diubah dengan Keputusan 71 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas Keputusan 67 Tahun 1980 tentang Badan Pertimbangan Kepegawaian, dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.

PASAL 17

BAB VII: KETENTUAN PENUTUP
Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal
diundangkan.

Agar
Agar
setiap
orang
mengetahuinya,
memerintahkan
pengundangan
Peraturan
Pemerintah
ini
dengan
penempatannya
dalam
Lembaran
Negara
Republik
Indonesia.