PP NOMOR 82 TAHUN 2021

PERUBAHAN KEEMPAT ATAS PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 55 TAHUN 2014 TENTANG HAK KEUANGAN DAN FASILITAS HAKIM AGUNG DAN HAKIM KONSTITUSI

Status: BERLAKU (IN FORCE)
Diundangkan: 2021-08-10
Total Pasal: 5 naskah terverifikasi
URN: urn:lex:id:gov:pemerintah_pusat:pp:2021:82
Buka di Peramban Interaktif LexWondera → Bagikan ke WhatsApp

Batang Tubuh & Naskah Pasal Terverifikasi

PASAL I

Pasal I Beberapa ketentuan dalam peraturan pemerintah Nomor 55 Tahun 2OL4 tentang Hak Keuangan dan Fasilitas Hakim Agung dan Hakim Konstitusi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2OI4 Nomor 1S4) yang telah beberapa kali diubah dengan peraturan Pemerintah:

a. Nomor 90 Tahun 2Ol4 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2Ol4 Nomor 322);

b. Nomor 3 Tahun 2016 (, g51);

c. Nomor 56 Tahun 2016 (, ); diubah sebagai berikut:

1. Ketentuan Pasal 13 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: Pasal 13

(1) Hakim Agung diberikan honorarium dalam hal:

a. penanganan perkara pada Mahkamah Agung; dan

b. pelaksanaan tugas kedinasan lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan.

(2) Hakim Konstitusi diberikan honorarium dalam hal:

a. penanganan perkara perselisihan hasil pemilihan gubernur, bupati, dan walikota; A

b. penanganan

b. penanganan perkara pengujian undang- undang, sengketa kewenangan lembaga negara, dan perselisihan hasil pemilihan umum; dan

c. pelaksanaan tugas kedinasan lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan.

(3) Honorarium sebagaimana dimaksud pada ayat

(2) huruf a diberikan sampai dengan terbentuknya badan peradilan khusus yang memeriksa dan mengadili perkara perselisihan hasil pemilihan gubernur, bupati, dan walikota.

2. Pasal 13A dihapus.

3. Ketentuan Pasal 13B sebagai berikut: diubah sehingga berbunyi Pasal 138

(1) Ketentuan pemberian honorarium bagi Hakim Agung sebagaimana dimaksud dalam pasal 13 ayat (1) diatur dengan Peraturan Sekretaris Mahkamah Agung. (21 Ketentuan pemberian honorarium sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (2) berlaku juga bagi gugus tugas dan/atau pegawai di lingkungan Kepaniteraan dan Sekretariat Jenderal Mahkamah Konstitusi.

(3) Keanggotaan gugus tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan oleh Sekretaris Jenderal Mahkamah Konstitusi. A

(4) Ketentuan

(4) Ketentuan pemberian honorarium bagi Hakim Konstitusi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (2) dan pemberian honorarium bagi gugus tugas dan/atau pegawai sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Sekretaris Jenderal Mahkamah Konstitusi.

4. Ketentuan Pasal 13C sebagai berikut: diubah sehingga berbunyi Pasal 13C

(1) Jenis dan besaran honorarium sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (1) dan pasal 13B ayat (1) diatur dengan peraturan Sekretaris Mahkamah Agung setelah mendapat persetujuan dari menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang keuangan. (21 Jenis dan besaran honorarium sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (21 dan pasal 13B ayat (4) diatur dengan Peraturan Sekretaris Jenderal Mahkamah Konstitusi setelah mendapat persetujuan dari menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang keuangan.

PASAL II

Naskah pasal.

PASAL 13

(1) Hakim Agung diberikan honorarium dalam hal:
a. penanganan perkara pada Mahkamah Agung;
dan
b. pelaksanaan tugas kedinasan lain sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
(2) Hakim Konstitusi diberikan honorarium dalam
hal:
a. penanganan perkara perselisihan hasil
pemilihan gubernur, bupati, dan walikota;
A
b. penanganan

b. penanganan perkara pengujian undang-
undang, sengketa kewenangan lembaga
negara, dan perselisihan hasil pemilihan
umum; dan
c. pelaksanaan tugas kedinasan lain sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
(3) Honorarium sebagaimana dimaksud pada ayat
(2) huruf a diberikan sampai dengan
terbentuknya badan peradilan khusus yang
memeriksa dan mengadili perkara perselisihan
hasil pemilihan gubernur, bupati, dan walikota.
2. Pasal 13A dihapus.
3. Ketentuan Pasal 13B
sebagai berikut:
diubah sehingga berbunyi
Pasal 138
(1) Ketentuan pemberian honorarium bagi Hakim
Agung sebagaimana dimaksud dalam pasal 13
ayat (1) diatur dengan Peraturan Sekretaris
Mahkamah Agung.
(21 Ketentuan pemberian honorarium sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 13 ayat (2) berlaku juga
bagi gugus tugas dan/atau pegawai di
lingkungan Kepaniteraan dan Sekretariat
Jenderal Mahkamah Konstitusi.
(3) Keanggotaan gugus tugas sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) ditetapkan oleh
Sekretaris Jenderal Mahkamah Konstitusi.
A
(4) Ketentuan

(4) Ketentuan pemberian honorarium bagi Hakim
Konstitusi sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 13 ayat (2) dan pemberian honorarium
bagi gugus tugas dan/atau pegawai
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur
dengan Peraturan Sekretaris Jenderal
Mahkamah Konstitusi.
4. Ketentuan Pasal 13C
sebagai berikut:
diubah sehingga berbunyi

PASAL 13C

Naskah pasal.

PASAL 138

(1) Ketentuan pemberian honorarium bagi Hakim
Agung sebagaimana dimaksud dalam pasal 13
ayat (1) diatur dengan Peraturan Sekretaris
Mahkamah Agung.
(21 Ketentuan pemberian honorarium sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 13 ayat (2) berlaku juga
bagi gugus tugas dan/atau pegawai di
lingkungan Kepaniteraan dan Sekretariat
Jenderal Mahkamah Konstitusi.
(3) Keanggotaan gugus tugas sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) ditetapkan oleh
Sekretaris Jenderal Mahkamah Konstitusi.
A
(4) Ketentuan

(4) Ketentuan pemberian honorarium bagi Hakim
Konstitusi sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 13 ayat (2) dan pemberian honorarium
bagi gugus tugas dan/atau pegawai
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur
dengan Peraturan Sekretaris Jenderal
Mahkamah Konstitusi.
4. Ketentuan Pasal 13C
sebagai berikut:
diubah sehingga berbunyi
Pasal 13C
(1) Jenis dan besaran honorarium sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 13 ayat (1) dan pasal 13B
ayat (1) diatur dengan peraturan Sekretaris
Mahkamah Agung setelah mendapat
persetujuan dari
menteri
yang
menyelenggarakan urusan pemerintahan di
bidang keuangan.
(21 Jenis dan besaran honorarium sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 13 ayat (21 dan pasal 13B
ayat (4) diatur dengan Peraturan Sekretaris
Jenderal Mahkamah Konstitusi setelah mendapat
persetujuan dari menteri yang menyelenggarakan
urusan pemerintahan di bidang keuangan.
Pasal II
Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal
diundangkan.
Agar
A