Batang Tubuh & Naskah Pasal Terverifikasi
PASAL 1
BAB I: KETENTUAN UMUM
Dalam Peraturan :
1. Ruang adalah wadah yang meliputi ruang darat, ruang laut, dan ruang udara, termasuk ruang di dalam bumi sebagai satu kesatuan Wilayah, tempat manusia dan makhluk lain hidup, melakukan kegiatan, dan memelihara kelangsungan hidupnya.
2. Struktur Ruang adalah susunan pusat-pusat permukiman dan sistem jaringan prasarana dan sarana yang berfungsi sebagai pendukung kegiatan sosial ekonomi Masyarakat yang secara hierarki memiliki hubungan fungsional.
3. Pola Ruang adalah distribusi peruntukan Ruang dalam suatu Wilayah yang meliputi peruntukan Ruang untuk fungsi lindung dan peruntukan Ruang untuk fungsi budi daya.
4. Rencana A
4. Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional yang selanjutnya disingkat RTRWN adalah arahan kebijakan dan strategi Pemanfaatan Ruang Wilayah negara.
5. Rencana Tata Ruang Pulau adalah rencana rinci yang disusun sebagai penjabaran dan perangkat operasional dari RTRWN.
6. Penataan Ruang adalah suatu sistem perencanaan tata Ruang, Pemanfaatan Ruang, dan Pengendalian Pemanfaatan Ruang.
7. Pemanfaatan Ruang adalah upaya untuk mewujudkan Struktur Ruang dan Pola Ruang sesuai dengan rencana tata Ruang melalui penJrusunan dan pelaksanaan program beserta pembiayaannya.
8. Pengendalian Pemanfaatan Ruang adalah upaya untuk mewujudkan tertib tata Ruang.
9. Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang adalah kesesuaian antara rencana kegiatan Pemanfaatan Ruang dengan rencana tata Ruang. 1O. Pulau Jawa-Bali adalah kesatuan fungsional Wilayah geografis dan ekosistem yang meliputi Wilayah Provinsi DKI Jakarta, Provinsi Banten, Provinsi Jawa Barat, Provinsi Jawa Tengah, Provinsi Daerah Istimewa Yoryakarta, Provinsi Jawa Timur, dan Provinsi Bali menurut undang-undang pembentukannya. 1 1. Wilayah adalah Ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta segenap unsur terkait yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek administratif dan/ atau aspek fungsional. l2.Kawasan adalah Wilayah yang memiliki fungsi utama lindung atau budi daya.
13. Kawasan Lindung adalah Wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumber daya alam dan sumber daya buatan.
14. Kawasan Budi Daya adalah Wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi sumber daya alam, sumber daya manusia, dan sumber daya buatan. 15.Kawasan A PRESIOEN REPUBLII( INDONESIA
15. Kawasan Budi Daya yang Memiliki Nilai Strategis
Nasional adalah Kawasan Budi Daya yang memiliki kemampuan untuk memacu pertumbuhan ekonomi kawasan dan Wilayah di sekitarnya serta mendorong pemerataan perkembangan Wilayah.
16. Kawasan Perkotaan adalah Wilayah yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi.
17. Alur Laut Kepulauan Indonesia adalah alur laut yang ditetapkan sebagai alur untuk pelaksanaan hak lintas alur laut kepulauan berdasarkan konvensi hukum laut internasional.
18. Pusat Kegiatan Utama yang selanjutnya disingkat PKU adalah Pusat Kegiatan Nasional (PKN) atau Pusat Kegiatan Wilayah (PKW) yang telah ditetapkan dalam RTRWN dan berfungsi sebagai pusat pengembangan Wilayah.
19. Pusat Kegiatan Pendukung yang selanjutnya disingkat
PKP adalah Pusat Kegiatan Nasional (PKN) atau Pusat Kegiatan Wilayah (PKW) yang telah ditetapkan RTRWN dan berfungsi sebagai pendukung pusat pengembangan Wilayah.
20. Pulau Kecil adalah pulau dengan luas lebih kecil atau sama dengan 2.000 km2 (dua ribu kilometer persegi) beserta kesatuan ekosistemnya. 2l.Pulau-Pulau Kecil Terluar yang selanjutnya disingkat
PPKT adalah pulau-pulau kecil yang memiliki titik-titik dasar koordinat geografis yang menghubungkan garis pangkal laut kepulauan sesuai dengan hukum internasional dan nasional. 22.Daerah Aliran Sungai yang selanjutnya disebut DAS adalah suatu Wilayah daratan yang merupakan satu kesatuan dengan sungai dan anak-anak sungainya, yang berfungsi menampung, menyimpan dan mengalirkan air yang berasal dari curah hujan ke danau atau ke laut secara alami, yang batas di darat merupakan pemisah topografis dan batas di laut sampai dengan daerah perairan yang masih terpengaruh aktivitas daratan. 23.Daerah REFUBL|K INDONESIA
23. Daerah Otonom yang selanjutnya disebut Daerah adalah kesatuan Masyarakat hukum yang mempunyai batas-batas Wilayah yang berwenang mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dan kepentingan Masyarakat setempat menumt prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi Masyarakat dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia. 24.Pemerintah Pusat yang selanjutnya disebut Pemerintah adalah yang memegang kekuasaan pemerintahan negara Republik Indonesia yang dibantu oleh Wakil lam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
25. Pemerintah Daerah adalah kepala daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan Daerah yang memimpin pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah.
26. Masyarakat adalah orang perseorangan, kelompok orang termasuk masyarakat hukum adat, korporasi, dan/atau pemangku kepentingan nonpemerintah lain dalam penyelenggaraan Penataan Ruang. 2T.Menteri adalah menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang Penataan Ruang. BAB II PERAN DAN FUNGSI PENATAAN RUANG
PASAL 2
BAB II: PERAN DAN FUNGSI PENATAAN RUANG
Rencana Tata Ruang Pulau Jawa-Bali berperan sebagai:
a. perangkat operasional dari RTRWN serta alat koordinasi
dan sinkronisasi program pembangunan Wilayah Pulau
Jawa-Bali; dan
b. arahan bagi pelaksanaan Kesesuaian Kegiatan
Pemanfaatan Ruang di Pulau Jawa-Bali.
PASAL 3
BAB II: PERAN DAN FUNGSI PENATAAN RUANG
Rencana Tata Ruang Pulau Jawa-Bali berfungsi sebagai:
a. alat koordinasi dalam penyelenggaraan Penataan Ruang pada Pulau Jawa-Bali yang diselenggarakan oleh seluruh pemangku kepentingan;
b. acuan A PRES!DEN REPUBLIK INDONESIA
b. acuan dalam sinkronisasi program Pemerintah dengan pemerintah provinsi, dan Masyarakat dalam rangka pelaksanaan pembangunan untuk mewujudkan rencana tata Ruang; dan
c. dasar arahan Pengendalian Pemanfaatan Ruang Pulau Jawa-Bali. BAB III TUJUAN, KEBIJAKAN, DAN STRATEGI PENATAAN RUANG PULAU JAWA-BALI Bagian Kesatu T\rjuan Penataan Ruang Pulau Jawa-Bali
PASAL 4
BAB III: TUJUAN, KEBIJAKAN, DAN STRATEGI PENATAAN RUANG | Bagian Kesatu - T\rjuan Penataan Ruang Pulau Jawa-Bali
Penataan Ruang Pulau Jawa-Bali bertujuan untuk
mewujudkan:
a. lumbung pangan utama nasional;
b. pusat perekonomian nasional yang berbasis industri
serta perdagangan dan jasa;
c. pengendalian perkembangan Kawasan Perkotaan
dengan memperhatikan aspek kebencanaan serta
daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup;
d. peningkatan keterkaitan antarpusat kegiatan dengan
penegasan fungsi dan kedudukan masing-masing
pusat kegiatan;
e. pengembangan konektivitas Pulau Jawa-Bali dengan
pengembangan j aringan transportasi antarmoda; dan
f. kapasitas daya dukung dan daya tampung
lingkungan hidup yang memadai untuk
pembangunan.
Bagian Kedua
Kebijakan dan Strategi Penataan Ruang Pulau Jawa-Bali
PASAL 5
BAB III: TUJUAN, KEBIJAKAN, DAN STRATEGI PENATAAN RUANG | Bagian Kedua - Kebijakan dan Strategi Penataan Ruang Pulau Jawa-Bali
(1) Kebijakan untuk mewujudkan lumbung pangan utama nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf a meliputi:
a. pemertahanan fungsi dan luasan kawasan pertanian tanaman pangan; dan b.pengembangan REPUBuK INDONESIA
b. pengembangan sentra pertanian tanaman pangan melalui peningkatan fungsi industri pengolahan dan industri jasa hasil pertanian tanaman pangan untuk mewujudkan ketahanan pangan nasional.
(2) Strategi untuk pemertahanan fungsi dan luasan kawasan pertanian tanaman pangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a meliputi:
a. mempertahankan luas kawasan pertanian tanaman pangan dengan mengendalikan kegiatan budi daya lainnya;
b. mengendalikan alih fungsi peruntukan pertanian untuk tanaman pangan;
c. mengendalikan perkembangan fisik Kawasan Perkotaan untuk menjaga keutuhan kawasan pertanian tanaman Pangan;
d. mengembangkan dan memelihara bendungan beserta waduknya untuk mempertahankan daya tampung air yang menjamin penyediaan air baku bagi kegiatan pertanian tanaman pangan; dan
e. memelihara dan meningkatkan jaringan irigasi teknis pada daerah irigasi untuk meningkatkan produktivitas kawasan pertanian tanaman pangan.
(3) Strategi untuk pengembangan sentra pertanian tanaman pangan melalui peningkatan fungsi industri pengolahan dan industri jasa hasil pertanian tanaman pangan untuk mewujudkan ketahanan pangan nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b meliputi:
a. mengembangkan sentra pertanian tanaman pangan untuk ketahanan pangan nasional;
b. mengembangkan Kawasan Perkotaan melalui peningkatan fungsi industri pengolahan dan industri jasa hasil pertanian tanaman pangan; dan
c. mengembangkan jaringan sarana prasarana transportasi untuk mendukung pengembangan sentra pertanian tanaman Pangan.
PASAL 6
BAB III: TUJUAN, KEBIJAKAN, DAN STRATEGI PENATAAN RUANG | Bagian Kedua - Kebijakan dan Strategi Penataan Ruang Pulau Jawa-Bali
(1) Kebijakan untuk mewujudkan pusat perekonomian nasional yang berbasis industri serta perdagangan dan jasa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf b meliputi: a.pengembangan A (2t (3) (4) REPI.IBLII( iNDONHSIA
a. pengembangan dan pemantapan sistem pusat ekonomi nasional di Pulau Jawa-Bali;
b. peningkatan konektivitas rantai distribusi bahan baku antarpulau; dan
c. peningkatan fungsi dan pengembangan Kawasan Perkotaan sebagai pusat industri serta pusat perdagangan dan jasa yang berskala internasional sesuai dengan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup. Strategi untuk pengembangan dan pemantapan sistem pusat ekonomi nasional di Pulau Jawa-Bali sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a meliputi:
a. mengembangkan fungsi pusat perekonomian dan jasa skala internasional, nasional dan regional, serta memantapkan fungsi perkotaan sesuai dengan sektor unggulan daerahnYa;
b. meningkatkan keterkaitan Kawasan Perkotaan dan kawasan perdesaan dalam rangka mendukung keterpaduan peran dan fungsi melalui penyediaan infrastruktur yang terintegrasi; dan
c. pemenuhan standar pelayanan minimal yang mendukung fungsi kawasan. Strategi untuk peningkatan konektivitas rantai distribusi bahan baku antarpulau sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b meliputi:
a. mengoptimalkan sistem jaringan transportasi di Pulau Jawa - Bali untuk menghubungkan antarpusat kegiatan; dan
b. mengembangkan jalur distribusi antarpulau dengan produk unggulan yang sesuai dengan karakteristik Wilayah. Strategi untuk peningkatan fungsi dan pengembangan Kawasan Perkotaan sebagai pusat industri serta pusat perdagangan dan jasa yang berskala internasional sesuai dengan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c meliputi:
a. mengembangkan Kawasan Perkotaan sebagai pusat industri serta perdagangan dan jasa yang berskala internasional;
b. mengembangkan dan memantapkan prasarana dan sarana untuk meningkatkan keterkaitan antarpusat kegiatan di Pulau Jawa-Bali sesuai dengan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup; dan c.meningkatkan A PRESsDEN REPUBLII( INDONESIA c. meningkatkan konektivitas dan keterpaduan antarpusat kegiatan di Pulau Jawa-Bali.
PASAL 7
BAB III: TUJUAN, KEBIJAKAN, DAN STRATEGI PENATAAN RUANG | Bagian Kedua - Kebijakan dan Strategi Penataan Ruang Pulau Jawa-Bali
(1) Kebijakan untuk mewujudkan pengendalian
perkembangan Kawasan Perkotaan dengan
memperhatikan aspek kebencanaan serta daya dukung
dan daya tampung lingkungan hidup sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 4 huruf c berupa pengendalian
perkembangan Kawasan Perkotaan di kawasan rawan
bencana.
(21 Strategi untuk pengendalian perkembangan Kawasan
Perkotaan di kawasan rawan bencana sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) meliPuti:
a. menetapkan zorla-zona rawan bencana beserta
ketentuan mengenai standar bangunan dan latau
infrastruktur yang sesuai dengan karakteristik,
jenis, dan ancaman bencana di Kawasan Perkotaan
di Pulau Jawa-Bali;
b. mengendalikan perkembangan Kawasan Budi Daya
yang Memiliki Nilai Strategis Nasional terbangun di
Kawasan Perkotaan yang berpotensi terjadi
bencana; dan
c. mengembangkan prasarana dan sarana perkotaan
yang berfungsi sebagai lokasi dan jalur evakuasi
bencana sesuai dengan ancaman bencana.
PASAL 8
BAB III: TUJUAN, KEBIJAKAN, DAN STRATEGI PENATAAN RUANG | Bagian Kedua - Kebijakan dan Strategi Penataan Ruang Pulau Jawa-Bali
(1) Kebijakan untuk mewujudkan peningkatan keterkaitan antarpusat kegiatan dengan penegasan fungsi dan kedudukan masing-masing pusat kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf d meliputi:
a. pengembangan pusat-pusat kegiatan yang saling terkait; dan
b. pengendalian perkembangan Kawasan Perkotaan yang menjalar (urban sPraull. Strategi untuk pengembangan pusat-pusat kegiatan yang saling terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a meliputi:
a. meningkatkan keterkaitan antar desa-kota; dan
b. mengembangkan . A (2) EEPUBLIK INDONESIA
b. mengembangkan potensi ekonomi masing-masing pusat kegiatan sesuai dengan karakteristik Wilayah dan kemampuan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup.
(3) Strategi untuk pengendalian perkembangan Kawasan Perkotaan yang menjalar (urban spraw[l sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b meliputi:
a. mengendalikan perkembangan kawasan pernukiman, perdagangan, jasa, danf atau industri di Kawasan Perkotaan sesuai dengan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup;
b. mengendalikan perkembangan Kawasan Perkotaan yang berdekatan dengan Kawasan Lindung dan jaringan jalan nasional; dan
c. mengarusutamakan konsep mitigasi-adaptasi perubahan iklim kota kompak (compact citAl, dan/atau pengurangan risiko bencana dalam pengembangan pusat kegiatan.
PASAL 9
BAB III: TUJUAN, KEBIJAKAN, DAN STRATEGI PENATAAN RUANG | Bagian Kedua - Kebijakan dan Strategi Penataan Ruang Pulau Jawa-Bali
(1) Kebijakan untuk mewujudkan pengembangan konektivitas Rrlau Jawa-Bali dengan pengembangan jaringan transportasi antarmoda sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf e meliputi:
a. percepatan pengembangan konektivitas kawasan di Pulau Jawa bagian selatan dengan hrlau Jawa bagian utara, Pulau Bali bagian selatan dengan Pulau Bali bagian utara, serta Pulau Jawa dengan Pulau BaIi;
b. pengembangan dan pemantapan jaringan transportasi yang terpadu untuk meningkatkan keterkaitan antar Wilayah dan efisiensi ekonomi; dan
c. pemertahzrnan eksistensi 10 (sepuluh) PPKT sebagai titik-titik garis pangkal kepulauan Indonesia untuk penegasa.n Wilayah kedaulatan negara. (21 Strategi untuk percepatan pengembangan konektivitas kawasan di Pulau Jawa bagian selatan dengan Pulau Jawa bagian utara, hrlau Bali bagian selatan dengan Pulau Bali bagian utara, serta Pulau Jawa dengan Pulau Bali sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a meliputi: a.mengembangkan A REPUEUK INDONESIA
a. mengembangkan sentra produksi untuk sektor unggulan dengan berbasis pengurangan risiko bencana serta memperhatikan keberadaan Kawasan Lindung; dan
b. meningkatkan aksesibilitas yang menghubungkan antarKawasan di Pulau Jawa bagian selatan, antarKawasan di Pulau Jawa bagian utara, antara Kawasan di Pulau Jawa bagian selatan dengan Pulau Jawa bagian Lr.tara, antara Kawasan di Pulau Bali bagian selatan dengan Pulau Bali bagian utara, serta antara Pulau Jawa dan Pulau Bali.
(3) Strategi untuk pengembangan dan pemantapan jaringan transportasi yang terpadu untuk meningkatkan keterkaitan antar Wilayah dan efisiensi ekonomi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b meliputi:
a. mengembangkan dan/atau memantapkan akses prasarana dan sarana transportasi darat, laut, dan/atau udara yang menghubungkan antar Kawasan Perkotaan dan memantapkan koridor ekonomi Pulau Jawa-Bali;
b. memantapkan prasarana dan sarana transportasi darat yang meliputi jaringan jalan, jaringan jalur kereta api, serta jaringan transportasi penyeberangan yang menghubungkan Kawasan Perkotaan dengan sentra produksi, pelabuhan, dan/atau bandar udara;
c. mengembangkan jaringan transportasi dengan memperhatikan kawasan pertanian pangan berkelanjutan, Kawasan Lindung, dan kawasan rawan bencana, dan/atau penerapan prasarana dan sarana yang ramah lingkungan; dan
d. mengembangkan jaringan transportasi yang menghubungkan perkotaan dengan kawasan tertinggal dan terisolasi, termasuk pulau-pulau kecil.
(4) Strategi untuk pemertahanan eksistensi 10 (sepuluh) PPKT sebagai titik-titik garis pangkal kepulauan Indonesia untuk penegasan Wilayah kedaulatan negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c meliputi: A a.mengembangkan REPUBUK INDONESIA -t2-
a. mengembangkan prasarana pengamanan pantai di Pulau Deli, Pulau Nusamanuk, Pulau Nusakambangan, Pulau Nusabarong, Pulau Ngekel, Pulau Panikan, Pulau Nusapenida, Pulau Batukolotok, Pulau Karangpabayang, dan h:lau Guhakolak;
b. membangun dan memelihara mercusuar sebagai penanda dan navigasi pelayaran di Pulau Deli, Pulau Nusamanuk, Pulau Nusakambangan, Pulau Nusabarong, Pulau Ngekel, Pulau Panikan, Pulau Nusapenida, Pulau Batukolotok, Pulau Karangpabayang, dan Pulau Guhakolak; dan
c. menyediakan dan meningkatkan prasarana dan sarana di PPKT yang berpenduduk.
PASAL 10
BAB III: TUJUAN, KEBIJAKAN, DAN STRATEGI PENATAAN RUANG | bagian utara, serta antara Pulau Jawa dan Pulau - Bali.
(1) Kebijakan untuk mewujudkan kapasitas daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup yang memadai untuk pembangunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf f meliputi:
a. peningkatan luasan kawasan berfungsi lindung sesuai dengan kondisi DAS;
b. pemertahanan kawasan berfungsi lindung untuk meningkatkan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup; dan
c. pengembangan Kawasan Budi Daya yang Memiliki Nilai Strategis Nasional sesuai kemampuan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup. (21 Strategi untuk peningkatan luasan kawasan berfungsi lindung sesuai dengan kondisi DAS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a meliputi:
a. mempertahankan luasan kawasan berfungsi lindung dan merehabilitasi kawasan berfungsi lindung yang terdegradasi;
b. mengendalikan kegiatan budi daya yang berpotensi mengganggu kawasan berfungsi lindung;
c. mengendalikan dan merehabilitasi DAS kritis;
d. mengendalikan dan merehabilitasi Kawasan Lindung di bagian hulu DAS, kawasan hutan lindung, kawasan resapan air, dan kawasan konservasi; dan
e. mengendalikan perubahan peruntukan dan/atau fungsi kawasan hutan.
(3) Strategi A REPUBL|K INDONESIA
(3) Strategi untuk pemertahanan kawasan berfungsi lindung untuk meningkatkan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b meliputi:
a. mempertahankan Kawasan Lindung;
b. mempertahankan fungsi lindung pada Kawasan Budi Daya terbatas untuk keberlanjutan pemanfaatan sumber daya alam; dan
c. memulihkan kawasan berfungsi lindung yang terdegradasi dalam rangka memelihara keseimbangan ekosistem pulau.
(4) Strategi untuk pengembangan Kawasan Budi Daya yang Memiliki Nilai Strategis Nasional sesuai kemampuan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c meliputi:
a. mengembangkan Kawasan Budi Daya yang Memiliki Nilai Strategis Nasional dengan memperhatikan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup;
b. mengendalikan kegiatan Pemanfaatan Ruang di bagian hulu DAS dan kawasan pesisir; dan
c. mengembangkan Kawasan Perkotaan dengan konsep kota hijau. BAB IV RENCANA STRUKTUR RUANG PULAU JAWA-BALI Bagian Kesatu Umum
PASAL 11
BAB IV: RENCANA STRUKTUR RUANG PULAU JAWA-BALI | Bagian Kesatu - Umum
(1) Rencana Struktur Ruang Pulau Jawa-Bali merupakan penjabaran dan arahan perwujudan kebijakan dan strategi Penataan Ruang Pulau Jawa-Bali. (21 Rencana Struktur Ruang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas:
a. sistem pusat permukiman Pulau Jawa-Bali;
b. sistem jaringan transportasi nasional;
c. sistem jaringan energi nasional;
d. sistem jaringan telekomunikasi nasional; dan
e. sistem jaringan sumber daya air. Bagian A REPUBUK INDONESIA -t4- Bagian Kedua Sistem Pusat Permukiman Pulau Jawa-Bali
PASAL 12
BAB IV: RENCANA STRUKTUR RUANG PULAU JAWA-BALI | Bagian Kedua - Sistem Pusat Permukiman Pulau Jawa-Bali
(1) Sistem pusat permukiman Pulau Jawa-Bali
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (21
huruf a ditetapkan untuk menjaga keseimbangan
Ruang dan keberlanjutan pembangunan Pulau Jawa-
Bali.
(21 Sistem pusat permukiman Pulau Jawa-Bali sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) terdiri atas:
a. PKU; dan
b. PKP.
Paragraf 1
Pusat Kegiatan Utama
PASAL 13
BAB IV: RENCANA STRUKTUR RUANG PULAU JAWA-BALI | Bagian Kedua - Sistem Pusat Permukiman Pulau Jawa-Bali
(1) PKU sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (21
huruf a ditetapkan dengan kriteria:
a. tercantum sebagai sistem pusat permukiman yang
telah ditetapkan dalam RTRWN;
b. berfungsi sebagai pusat pengembangan Kawasan
Perkotaan;
c. memberikan kontribusi atau diproyeksikan dapat
memberikan kontribusi produk domestik regional
bruto (PDRB) paling sedikit 5% (lima persen) dari
total PDRB Pulau Jawa-Bali; dan
d. merupakan Kawasan Perkotaan yang memiliki
populasi penduduk 1.000.000 (satu juta) jiwa.
(21 PKU sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan di:
a. Kawasan Perkotaan Jakarta-Bogor-Depok-
Tangerang-Bekasi (Jabodetabek) antarprovinsi DKI
Jakarta, Banten, dan Jawa Barat;
b. Kawasan Perkotaan Cikampek-Cikopo dan
Kawasan Perkotaan Bandung Raya di Provinsi
Jawa Barat;
c. Kawasan Perkotaan Kendal-Demak-Ungaran-
Salatiga-Semarang-Purwodadi (Kedungsepur) di
Provinsi Jawa Tengah;
d. Kawasan .
A
d. Kawasan Perkotaan Gresik-Bangkalan-Mojokerto-
Surabaya-Sidoarjo-Lamongan (Gerbangkertosusila)
di Provinsi Jawa Timur; dan
e. Kawasan Perkotaan Denpasar-Badung-Gianyar-
Tabanan (Sarbagita) di Provinsi Bali.
(3) Masing-masing PKU sebagaimana dimaksud pada
ayat (2) memiliki fungsi sekurang-kurangnya sebagai:
a. Kawasan Perkotaan Jabodetabek berfungsi sebagai
pusat ekonomi global, pusat perdagangan dan jasa,
pusat industri, pusat promosi pariwisata dan
komoditas unggulan berbasis potensi lokal, dan
pusat pelayanan transportasi antarprovinsi.
b. Kawasan Perkotaan Cikampek-Cikopo berfungsi
sebagai pusat perdagangan dan jasa, pusat
industri, pusat pertanian, dan pusat pelayanan
tran sportasi antarprovinsi.
c. Kawasan Perkotaan Bandung Raya berfungsi
sebagai pusat perdagangan dan jasa, pusat
industri, pusat promosi pariwisata dan komoditas
unggulan berbasis potensi lokal, dan pusat
pelayanan transportasi antarprovinsi.
d. Kawasan Perkotaan Kedungsepur berfungsi sebagai
pusat perdagangan dan jasa, pusat industri, pusat
promosi pariwisata dan komoditas unggulan
berbasis potensi lokal, pusat pertanian, dan pusat
pelayanan transportasi antarprovinsi.
e. Kawasan Perkotaan Gerbangkertosusila berfungsi
sebagai pusat perdagangan dan jasa, pusat
industri, pusat promosi pariwisata dan komoditas
unggulan berbasis potensi lokal, dan pusat
pelayanan transportasi antarprovinsi.
f. Kawasan Perkotaan Sarbagita berfungsi sebagai
pusat perdagangan dan jasa, pusat promosi
pariwisata dan komoditas unggulan berbasis
potensi lokal, pusat pertanian, dan pusat
pelayanan transportasi antarprovinsi.
Paragraf 2
Pusat Kegiatan Pendukung
PASAL 14
BAB IV: RENCANA STRUKTUR RUANG PULAU JAWA-BALI | Bagian Kedua - Sistem Pusat Permukiman Pulau Jawa-Bali
(1) PKP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (21 huruf b ditetapkan dengan kriteria:
a. tercantum sebagai sistem pusat permukiman yang telah ditetapkan dalam RTRWN; A
b. berfungsi REPUBLIK TNDONESIA
b. berfungsi sebagai kawasan pendukung PKU; dan
c. memiliki keterkaitan rantai distribusi dengan PKU dan PKP lainnya. (21 PKP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan di:
a. Kawasan Perkotaan Cilegon, Kawasan Perkotaan Serang, Kawasan Perkotaan Pandeglang, dan Kawasan Perkotaan Rangkas Bitung di Provinsi Banten;
b. Kawasan Perkotaan Pelabuhanratu, Kawasan Perkotaan Sukabumi, Kawasan Perkotaan Cidaun, Kawasan Perkotaan Indramayu, Kawasan Perkotaan Kadipaten, Kawasan Perkotaan Cirebon, Kawasan Perkotaan Tasikmalaya, dan Kawasan Perkotaan Pangandaran di Provinsi Jawa Barat;
c. Kawasan Perkotaan Cilacap, Kawasan Perkotaan Purwokerto, Kawasan Perkotaan Tegal, Kawasan Perkotaan Pekalongan, Kawasan Perkotaan Kebumen, Kawasan Perkotaan Wonosobo, Kawasan Perkotaan Magelang, Kawasan Perkotaan Boyolali, Kawasan Perkotaan Klaten, Kawasan Perkotaan Surakarta, Kawasan Perkotaan Kudus, dan Kawasan Perkotaan Cepu di Provinsi Jawa Tengah;
d. Kawasan Perkotaan Sleman, Kawasan Perkotaan Yograkarta, dan Kawasan Perkotaan Bantul di Provinsi Daerah Istimewa Yograkarta;
e. Kawasan Perkotaan Pacitan, Kawasan Perkotaan Madiun, Kawasan Perkotaan Bojonegoro, Kawasan Perkotaan T\rban, Kawasan Perkotaan Trenggalek, Kawasan Perkotaan T\:lungagung, Kawasan Perkotaan Kediri, Kawasan Perkotaan Blitar, Kawasan Perkotaan Malang, Kawasan Perkotaan Pasuruan, Kawasan Perkotaan Probolinggo, Kawasan Perkotaan Jember, Kawasan Perkotaan Ban5niwangi, Kawasan Perkotaan Pamekasan, dan Kawasan Perkotaan Sumenep di Provinsi Jawa Timur; dan
f. Kawasan Perkotaan Negara, Kawasan Perkotaan Singaraja, dan Kawasan Perkotaan Semarapura di Provinsi Bali. A BagianKetiga REPUBLTK INDONESIA -t7- Bagian Ketiga Sistem Jaringan Transportasi Nasional
PASAL 15
BAB IV: RENCANA STRUKTUR RUANG PULAU JAWA-BALI | Bagian Ketiga - Sistem Jaringan Transportasi Nasional
(1) Sistem jaringan transportasi nasional sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 11 ayat (2) huruf b ditetapkan
sesuai dengan kriteria yang tercantum pada RTRWN.
(21 Sistem jaringan transportasi nasional terdiri atas:
a. sistem jaringan transportasi darat;
b. sistem jaringan transportasi laut; dan
c. sistem jaringan transportasi udara.
(3) Sistem jaringan transportasi darat sebagaimana
dimaksud pada ayat (21huruf a terdiri atas:
a. jaringan jalan nasional;
b. jaringan lalu lintas dan angkutan jalan;
c. jaringan kereta api; dan
d. jaringan transportasi penyeberangan.
(41 Sistem jaringan transportasi laut sebagaimana
dimaksud pada ayat (21huruf b terdiri atas:
a. tatanan kepelabuhanan nasional;
b. tatanan kepelabuhanan perikanan; dan
c. alur pelayaran.
(5) Sistem jaringan transportasi udara sebagaimana
dimaksud pada ayat (21hurr.f c terdiri atas:
a. tatanan kebandarrrdaraan; dan
b. Ruang udara untuk penerbangan.
Paragraf 1
Sistem Jaringan Transportasi Darat
PASAL 16
BAB IV: RENCANA STRUKTUR RUANG PULAU JAWA-BALI | Bagian Ketiga - Sistem Jaringan Transportasi Nasional
(1) Jaringan jalan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (3) huruf a meliputi jalan arteri dan jalan kolektor dalam sistem jaringan jalan primer, jalan strategis nasional, dan jalan tol yang dikembangkan untuk menghubungkan antarpusat kegiatan sebagaimana tercantum dalam RTRWN dan menghubungkan antara pusat kegiatan sebagaimana tercantum dalam RTRWN dengan sistem jaringan transportasi nasional. A
(2) Jaringan REPUBLIK TNDONESIA (21 Jaringan jalan nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan kriteria:
a. ruas jalan dalam jaringan primer ditetapkan oleh menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pekerjaan umum;
b. ruas jalan tol dan/atau bebas hambatan yang ditetapkan dalam kebijakan strategis nasional yang ditetapkan sesuai dengan ketentuan peraturan pemndang-undangan yang berlaku; dan/atau
c. mengembangkan konektivitas kawasan di Pulau Jawa bagian selatan dengan Pulau Jawa bagian utara, serta Pulau Bali bagian selatan dengan Pulau Bali bagian utara.
(3) Jaringan jalan nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas:
a. koridor jaringan jalan nasional utara Pulau Jawa;
b. koridor jaringan jalan nasional selatan Pulau Jawa;
c. jaringan jalan nasional penghubung utara-selatan Pulau Jawa;
d. koridor jaringan jalan nasional lingkar Pulau Bali; dan
e. jaringan jalan nasional penghubung utara-selatan Pulau Bali.
PASAL 17
BAB IV: RENCANA STRUKTUR RUANG PULAU JAWA-BALI | Bagian Ketiga - Sistem Jaringan Transportasi Nasional
(1) Jaringan lalu lintas dan angkutan jalan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 15 ayat (3) huruf b ditetapkan
dalam rangka mewujudkan pelayanan lalu lintas dan
angkutan jalan yang aman, selamat, tertib, lancar, dan
terpadu dengan moda angkutan lain untuk mendorong
perekonomian dan kesejahteraan Masyarakat di Pulau
Jawa-Bali.
(2) Jaringan lalu lintas dan angkutan jalan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) berupa terminal penumpang.
(3) Terminal penumpang sebagaimana dimaksud pada
ayat (21 merupakan terminal penumpang tipe A yang
berfungsi melayani kendaraan umum untuk angkutan
lintas batas negara, dan/atau angkutan antarkota
antarprovinsi yang dipadukan dengan pelayanan
angkutan antarkota dalam provinsi, angkutan
perkotaan, dan/atau angkutan perdesaan, yang
tersebar di kabupaten/kota sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan di bidang transportasi
darat.
PASAL 18
BAB IV: RENCANA STRUKTUR RUANG PULAU JAWA-BALI | Bagian Ketiga - Sistem Jaringan Transportasi Nasional
A REPUBUK INDONESIA Pasal 18
(1) Jaringan kereta api sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (3) huruf c ditetapkan dalam rangka mengembangkan konektivitas antarpusat kegiatan, menghubungkan pusat kegiatan dengan pelabuhan dan bandar udara, serta mendukung aksesibilitas di Kawasan Perkotaan. (21 Jaringan kereta api sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa jaringan jalur kereta api nasional.
(3) Jaringan jalur kereta api nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (21ditetapkan dengan kriteria:
a. jalur kereta api yang pengembangannya ditetapkan oleh menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang perhubungan;
b. jalur kereta api yang ditetapkan dalam kebijakan strategis nasional yang ditetapkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku; dan/atau
c. meningkatkan konektivitas lintas utara Pulau Jawa, lintas selatan Pulau Jawa, penghubung lintas Pulau Jawa, dan lingkar Pulau Bali. (41 Jaringan jalur kereta api nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terdiri atas:
a. jaringan jalur kereta api lintas utara Pulau Jawa;
b. jaringan jalur kereta api lintas selatan Pulau Jawa;
c. jaringan jalur kereta api penghubung lintas Pulau Jawa; dan
d. jaringan jalur kereta api lingkar Pulau Bali.
PASAL 19
BAB IV: RENCANA STRUKTUR RUANG PULAU JAWA-BALI | Bagian Ketiga - Sistem Jaringan Transportasi Nasional
(1) Jaringan transportasi penyeberangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (3) huruf d ditetapkan dalam rangka menghubungkan antarpusat kegiatan serta antara pusat kegiatan dan pulau/kepulauan lain. (21 Jaringan transportasi penyeberangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas:
a. pelabuhan penyeberangan; dan
b. lintas penyeberangan.
(3) Pelabuhan A REPUBUK INDONESIA
(3) Pelabuhan penyeberangan sebagaimana dimaksud pada ayat (21huruf a terdiri atas:
a. pelabuhan kelas I; dan
b. pelabuhan kelas II. (41 Pelabuhan kelas I sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf a ditetapkan dengan kriteria:
a. pelabuhan yang berfungsi sebagai simpul jembatan bergerak (lintas penyeberangan);
b. terhubungkan dengan jaringan jalan nasional;
c. lokasi pelabuhan secara strategis berada pada sabuk penyeberangan nasional dan penghubung antarsabuk; dan
d. pelabuhan yang diusahakan secara komersil.
(5) Pelabuhan kelas II sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b ditetapkan dengan kriteria:
a. pelabuhan yang berfungsi sebagai simpul jembatan bergerak (lintas penyeberangan) ;
b. terhubungkan dengan jalan arteri primer, jalan tol, jalan kolektor primer 1, dan jalan strategis nasional;
c. lokasinya tidak berada pada konsepsi sabuk penyeberangan nasional; dan
d. pelabuhan yang belum diusahakan secara komersil.
(6) Lintas penyeberangan sebagaimana dimaksud pada ayat (21 huruf b berupa lintas penyeberangan antarpulau. Paragraf 2 Sistem Jaringan Transportasi Laut
PASAL 20
BAB IV: RENCANA STRUKTUR RUANG PULAU JAWA-BALI | Bagian Ketiga - Sistem Jaringan Transportasi Nasional
(1) Tatanan kepelabuhanan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (4) huruf a ditetapkan dalam rangka melaksanakan fungsi pelabuhan laut sebagai tempat kegiatan pemerintahan dan kegiatan pengusahaan yang dipergunakan sebagai tempat kapal bersandar, naik turun penumpang, danf atau bongkar muat barang. (21 Tatanan kepelabuhanan nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas:
a. pelabuhan utama; dan
b. pelabuhan pengumpul.
(3) Pelabuhan A RIPUBUK INDONESIA
(3) Pelabuhan utama sebagaimana dimaksud pada ayat (2) hurrrf a ditetapkan dengan kriteria:
a. berhadapan langsung dengan AIur Laut Kepulauan Indones ia dan I atau jalur pelayaran internasional;
b. merupakan bagian dari prasarana penunjang fungsi pelayanan PKU dalam sistem transportasi antarnegara;
c. berfungsi sebagai simpul utama pendukung distribusi hasil produksi ke pasar internasional; dan
d. berada di luar Kawasan Lindung. (41 Pelabuhan pengumpul sebagaimana dimaksud pada ayat (21hurl.f b ditetapkan dengan kriteria:
a. merupakan bagian dari prasarana penunjang fungsi pelayanan PKU dan PKP dalam sistem transportasi antarprovinsi ;
b. berfungsi sebagai simpul pendukung distribusi hasil produksi ke pasar nasional;
c. memberikan akses bagi pengembangan pulau- pulau kecil, termasuk pengembangan kawasan tertinggal; dan
d. berada di luar Kawasan Lindung.
PASAL 21
BAB IV: RENCANA STRUKTUR RUANG PULAU JAWA-BALI | Bagian Ketiga - Sistem Jaringan Transportasi Nasional
(1) Tatanan kepelabuhanan perikanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (4) huruf b merupakan sistem kepelabuhanan perikanan nasional yang ditetapkan dalam rangka melaksanakan fungsi pelabuhan perikanan sebagai tempat kegiatan pemerintahan dan kegiatan sistem bisnis perikanan yang digunakan sebagai tempat kapal perikanan bersandar, berlabuh, dan/atau bongkar muat ikan yang dilengkapi dengan fasilitas keselamatan pelayaran dan kegiatan penunjang perikanan. (21 Tatanan kepelabuhanan perikanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas:
a. pelabuhan perikanan samudera (PPS); dan
b. pelabuhan perikanan nusantara (PPN).
(3) Tatanan kepelabuhanan perikanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan kriteria:
a. mampu melayani kapal perikanan yang melakukan kegiatan perikanan di perairan Indonesia, Zorta Ekonomi Eksklusif Indonesia, dan laut lepas; b.merupakan A REPUBUK INDONESIA
b. merulpakan bagian dari prasarana penunjang fungsi pelayanan sistem pusat permukiman; dan
c. berada di luar Kawasan Lindung.
(4) Penetapan tatanan kepelabuhanan perikanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan di bidang kelautan dan perikanan.
PASAL 22
BAB IV: RENCANA STRUKTUR RUANG PULAU JAWA-BALI | Bagian Ketiga - Sistem Jaringan Transportasi Nasional
(1) Alur pelayaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15
ayat (4) huruf c ditetapkan dalam rangka mewujudkan
perairan yang aman dan selamat untuk dilayari di
Pulau Jawa-Bali.
(21 Alur pelayaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
berupa alur pelayaran di laut.
(3) Alur pelayaran di laut sebagaimana dimaksud pada
ayat (21terdiri atas:
a. alur pelayaran umum dan perlintasan; dan
b. alur pelayaran masuk pelabuhan.
(41 Alur pelayaran di laut sebagaimana dimaksud pada
ayat (2) juga memiliki Alur Laut Kepulauan Indonesia
dan skema pemisah la1u lintas (traffic separation
schemel.
(5) Alur Laut Kepulauan Indonesia dan skema pemisah
lalu lintas (traffic separation schemel sebagaimana
dimaksud pada ayat (41 ditetapkan berdasarkan
kriteria yang ditetapkan konvensi internasional dan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
Paragraf 3
Sistem Jaringan Transportasi Udara
PASAL 23
BAB IV: RENCANA STRUKTUR RUANG PULAU JAWA-BALI | Bagian Ketiga - Sistem Jaringan Transportasi Nasional
(1) Tatanan kebandarudaraan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (5) huruf a ditetapkan dalam rangka meningkatkan konektivitas antarpusat kegiatan, antara pusat kegiatan dengan pulau/kepulauan lain, serta melaksanakan fungsi bandar udara untuk menunjang keselamatan, keamanan, kelancaran, dan ketertiban arus lalu lintas pesawat udara, penumpang, kargo dan/atau Pos, tempat perpindahan intra dan/atau antarmoda serta meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional dan daerah.
(2) Tatanan . A REPUBUK TNDONESIA (21 Tatanan kebandarudaraan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa bandar udara umum.
(3) Bandar udara umum sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terdiri atas:
a. bandar udara pengumpul skala pelayanan primer;
b. bandar udara pengumpul skala pelayanan sekunder; dan
c. bandar udara pengumpul skala pelayanan tersier. (41 Bandar udara pengumpul skala pelayanan primer sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf a ditetapkan dengan kriteria:
a. merupakan bagian dari prasarana penunjang fungsi pelayanan kegiatan utama; dan
b. melayani penumpang dengan jumlah paling sedikit 5.000.00O (lima juta) orang per tahun.
(5) Bandar udara pengumpul dengan skala pelayanan sekunder sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b ditetapkan dengan kriteria:
a. merupakan bagian dari prasarana penunjang fungsi pelayanan kegiatan utama atau kegiatan pendukung terdekat; dan
b. melayani penumpang dengan jumlah antara 1.000.000 (satu juta) sampai dengan 5.000.000 (lima juta) orang per tahun.
(6) Bandar udara pengumpul dengan skala pelayanan tersier sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf c ditetapkan dengan kriteria:
a. merupakan bagian dari prasarana penunjang fungsi pelayanan kegiatan utama atau kegiatan pendukung terdekat; dan
b. melayani penumpang dengan jumlah antara 500.000 (lima ratus ribu) sampai dengan 1.000.0OO (satu juta) orang per tahun.
PASAL 24
BAB IV: RENCANA STRUKTUR RUANG PULAU JAWA-BALI | Bagian Ketiga - Sistem Jaringan Transportasi Nasional
(1) Ruang udara untuk penerbangan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 15 ayat (5) huruf b ditetapkan
dalam rangka mewujudkan ketertiban arus lalu lintas
pesawat udara, penumpang, kargo dan/atau pos di
Ruang udara di Pulau Jawa-Bali.
(2) Ruang
A
(21 Ruang udara untuk penerbangan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) terdiri atas:
a. Ruang udara di atas bandar udara yang
dipergunakan langsung untuk kegiatan bandar
udara;
b. Ruang udara di sekitar bandar udara yang
dipergunakan untuk operasi penerbangan; dan
c. Ruang udara yang ditetapkan sebagai jalur
penerbangan.
(3) Ruang udara untuk penerbangan dimanfaatkan
dengan mempertimbangkan Pemanfaatan Ruang udara
bagi pertahanan dan keamanan negara.
(4) Ruang udara untuk penerbangan diatur sesuai dengan
ketentuan peraturan perLlndang-undangan.
Bagian Keempat
Sistem Jaringan Energi Nasional
PASAL 25
BAB IV: RENCANA STRUKTUR RUANG PULAU JAWA-BALI | Bagian Keempat - Sistem Jaringan Energi Nasional
(1) Sistem jaringan energi nasional sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 11 ayat (2) huruf c ditetapkan
sesuai dengan kriteria yang tercantum pada RTRWN
dalam rangka memenuhi kebutuhan energi dalam
jumlah yang cukup dan menyediakan akses terhadap
berbagai jenis energi bagi Masyarakat untuk
kebutuhan sekarang dan yang akan datang di Pulau
Jawa-Bali.
(21 Sistem jaringan energi nasional sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) terdiri atas:
a. jaringan infrastruktur ketenagalistrikan; dan
b. jaringan infrastruktur minyak dan gas bumi.
Paragraf 1
Jaringan Infrastruktur Ketenagalistrikan
PASAL 26
BAB IV: RENCANA STRUKTUR RUANG PULAU JAWA-BALI | Bagian Keempat - Sistem Jaringan Energi Nasional
(1) Jaringan infrastruktur ketenagalistrikan dalam
Pasal 25 ayat (21 huruf a dikembangkan untuk
memenuhi penyediaan tenaga listrik sesuai dengan
kebutuhan yang mampu mendukung fungsi pusat
kegiatan.
A
(2) Jaringan
(2) Jaringan infrastruktur ketenagalistrikan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) terdiri atas:
a. infrastruktur pembangkitan tenaga listrik dan
sarana pendukungnya; dan
b. jaringan infrastruktur penyaluran tenaga listrik
dan sarana pendukungnya.
(3) Infrastruktur pembangkitan tenaga listrik dan sarana
pendukungnya sebagaimana dimaksud pada ayat l2l
huruf a berupa pembangkit tenaga listrik.
(41 Pembangkit tenaga listrik sebagaimana dimaksud pada
ayat (3) meliputi:
a. pembangkit tenaga listrik yang berasal dari sumber
energi terbarukan; dan
b. pembangkit tenaga listrik yang berasal dari sumber
energi tak terbarukan.
(5) Jaringan infrastruktur penyaluran tenaga listrik dan
sarana pendukungnya sebagaimana dimaksud pada
ayat (21 hurrrf b merupakan jaringan yang
menyalurkan tenaga listrik dari pembangkit ke sistem
distribusi.
(6) Jaringan infrastruktur penyaluran tenaga listrik dan
sarana pendukungnya sebagaimana dimaksud pada
ayat (5) berupa jaringan transmisi tenaga listrik
antarsistem.
(71 Jaringan transmisi tenaga listrik antarsistem
sebagaimana dimaksud pada ayat (6) terdiri atas:
a. jaringan transmisi pantai utara jawa;
b. jaringan transmisi pantai selatan jawa;
c. jaringan transmisi pengumpan selatan-utara jawa;
d. jaringan transmisi madura; dan
e. jaringan transmisi bali.
(8) Pembangunan jaringan infrastruktur ketenagalistrikan
sebagaimana dimaksud pada ayat (21 dapat
dikembangkan di seluruh Wilayah kabupaten/kota
berdasarkan kriteria sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
A
Paragraf 2
Paragraf 2
Jaringan Infrastruktur Minyak dan Gas Bumi
PASAL 27
BAB IV: RENCANA STRUKTUR RUANG PULAU JAWA-BALI | Bagian Keempat - Sistem Jaringan Energi Nasional
(1) Jaringan infrastruktur minyak dan gas bumi
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 ayat (21
huruf b dikembangkan untuk menyalurkan minyak
dan gas bumi dari fasilitas produksi ke kilang
pengolahan danf atau tempat penyimpanan atau dari
kilang pengolahan atau tempat penyimpanan ke
konsumen.
(21 Jaringan infrastruktur minyak dan gas bumi
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas:
a. fasilitas dan sarana infrastruktur kegiatan usaha
minyak dan gas bumi; dan
b. jaringan minyak dan gas bumi.
(3) Fasilitas dan sarana infrastruktur kegiatan usaha
minyak dan gas bumi sebagaimana dimaksud pada
ayat (21 huruf a merupakan prasarana utama yang
mendukung seluruh kebutuhan minyak dan gas bumi,
di permukaan tanah atau di bawah permukaan tanah.
(4) Jaringan minyak dan gas bumi sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) huruf b merupakan jaringan yang
mendukung seluruh kebutuhan minyak dan gas bumi
di permukaan tanah atau di bawah permukaan tanah.
(5) Jaringan minyak dan gas bumi sebagaimana dimaksud
pada ayat (21 huruf b berupa jaringan minyak dan gas
bumi pantai utara Jawa.
(6) Jaringan infrastruktur minyak dan gas bumi beserta
prioritas pengembangannya ditetapkan oleh menteri
yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di
bidang minyak dan gas bumi.
Bagian Kelima
Sistem Jaringan Telekomunikasi Nasional
PASAL 28
BAB IV: RENCANA STRUKTUR RUANG PULAU JAWA-BALI | Bagian Kelima - Sistem Jaringan Telekomunikasi Nasional
(1) Sistem jaringan telekomunikasi nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (2) huruf d ditetapkan sesuai dengan kriteria yang tercantum pada RTRWN dalam rangka meningkatkan aksesibilitas Masyarakat terhadap layanan telekomunikasi di Pulau Jawa-Bali.
(2) Sistem REPUBL|K INDONESIA (21 Sistem jaringan telekomunikasi nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas:
a. jaringan tetap; dan
b. jaringan bergerak. Paragraf 1 Jaringan Tetap
PASAL 29
BAB IV: RENCANA STRUKTUR RUANG PULAU JAWA-BALI | Bagian Kelima - Sistem Jaringan Telekomunikasi Nasional
(1) Jaringan tetap sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28
ayat (21 huruf a merupakan satu kesatuan
penyelenggaraan jaringan telekomunikasi untuk
layanan telekomunikasi tetap, termasuk pipa dan latau
kabel bawah laut untuk telekomunikasi pada Pulau
Jawa-Bali.
(21 Jaringan tetap sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
terdiri atas:
a. jaringan tetap lintas utara hrlau Jawa;
b. jaringan tetap lintas selatan Pulau Jawa; dan
c. jaringan tetap Pulau Bali.
(3) Kriteria teknis jaringan tetap sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) ditetapkan sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
Paragraf 2
Jaringan Bergerak
PASAL 30
BAB IV: RENCANA STRUKTUR RUANG PULAU JAWA-BALI | Bagian Kelima - Sistem Jaringan Telekomunikasi Nasional
(1) Jaringan bergerak sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 28 ayat (2) huruf b merupakan jaringan untuk
layanan telekomunikasi bergerak pada Pulau Jawa-
Bali.
(21 Jaringan bergerak sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) berupa jaringan bergerak satelit.
(3) Jaringan bergerak satelit sebagaimana dimaksud pada
ayat {2) merupakan jaringan yang melayani
telekomunikasi bergerak melalui satelit.
(41 Kriteria teknis jaringan bergerak sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) ditetapkan sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
BagianKeenam
Bagian Keenam
Sistem Jaringan Sumber Daya Air
PASAL 31
BAB IV: RENCANA STRUKTUR RUANG PULAU JAWA-BALI | Bagian Keenam - Sistem Jaringan Sumber Daya Air
(1) Sistem jaringan sumber daya air sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 11 ayat (2) huruf e ditetapkan
dalam rangka pengelolaan sumber daya air pada setiap
air permukaan dan air tanah yang menjadi
kewenangan Pemerintah yang dibutuhkan dalam
perwujudan pengembangan Pulau Jawa-Bali.
(2) Sistem jaringan sumber daya air sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) berada di:
a. sumber air; dan
b. prasarana sumber daya air.
Paragraf 1
Sumber Air
PASAL 32
BAB IV: RENCANA STRUKTUR RUANG PULAU JAWA-BALI | Bagian Keenam - Sistem Jaringan Sumber Daya Air
(1) Sumber air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 ayat (21hurrrf a terdiri atas:
a. sumber air permukaan pada sungai; dan
b. sumber air tanah dalam Cekungan Air Tanah (cAr). (21 Sumber air permukaan pada sungai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a terdiri atas:
a. wilayah sungai lintas provinsi; dan
b. wilayah sungai strategis nasional.
(3) Kriteria teknis sumber air permukaan pada sungai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a ditetapkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(4) Arahan Pemanfaatan Ruang pada wilayah sungai lintas provinsi dan wilayah sungai strategis nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (21 memperhatikan pola pengelolaan sumber daya air.
(5) Sumber air tanah dalam CAT sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b berupa CAT yang berada dalam wilayah sungai lintas provinsi dan wilayah sungai strategis nasional.
(6) Kriteria A REPUBUK INDONESIA
(6) Kriteria teknis sumber air tanah dalam CAT sebagaimana dimaksud pada ayat (5) ditetapkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan. Paragraf 2 Prasarana Sumber Daya Air
PASAL 33
BAB IV: RENCANA STRUKTUR RUANG PULAU JAWA-BALI | Bagian Keenam - Sistem Jaringan Sumber Daya Air
(1) Prasarana sumber daya air sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 31 ayat (2) huruf b terdiri atas:
a. sistem konservasi sumber daya air;
b. sistem pendayagunaan sumber daya air; dan
c. sistem pengendalian daya rusak air.
(2) Sistem konservasi sumber daya air sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) huruf a ditujukan untuk
menjaga kelangsungan keberadaan, daya dukung,
daya tampung, dan fungsi sumber daya air.
(3) Sistem pendayagunaan sumber daya air sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) huruf b ditujukan untuk
memanfaatkan sumber daya air secara berkelanjutan
dengan prioritas utama untuk pemenuhan air bagi
kebutuhan pokok sehari-hari Masyarakat.
(41 Sistem pengendalian daya rusak air sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) huruf c mencakup upaya
pencegahan, penanggulangan, dan pemulihan yang
diakibatkan oleh daya rusak air.
(5) Sistem pengendalian daya rusak air sebagaimana
dimaksud pada ayat (4) diutamakan pada upaya
pencegahan melalui perencanaa.n pengendalian daya
rusak air yang disusun secara terpadu dan
menyeluruh dalam pola pengelolaan sumber daya air.
(6) Pola pengelolaan sumber daya air sebagaimana
dimaksud pada ayat (5) disusun oleh Pemerintah atau
Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangannya.
PASAL 34
BAB IV: RENCANA STRUKTUR RUANG PULAU JAWA-BALI | Bagian Keenam - Sistem Jaringan Sumber Daya Air
Rencana Strrrktur Ruang Pulau Jawa-Bali sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 sampai dengan Pasal 33 digambarkan dalam peta rencana Struktur Ruang Pulau Jawa-Bali dengan tingkat ketelitian skala 1:500.000 sebagaimana tercantum dalam Lampiran I yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Presiden ini. BAB V REPUBUK INDONESIA BAB V RENCANA POLA RUANG PULAU JAWA-BALI Bagian Kesatu Umum
PASAL 35
BAB V: RENCANA POLA RUANG PULAU JAWA-BALI | Bagian Kesatu - Umum
(1) Rencana Pola Ruang Pulau Jawa-Bali merupakan
penjabaran dan arahan perwujudan kebijakan dan
strategi Penataan Ruang Pulau Jawa-Bali.
(21 Rencana Pola Ruang terdiri atas:
a. Kawasan Lindung Pulau Jawa-Bali; dan
b. Kawasan Budi Daya yang Memiliki Nilai Strategis
Nasional.
(3) Rencana Pola Ruang sebagaimana dimaksud pada
ayat (21 ditetapkan dengan memperhatikan
kemampuan daya dukung dan daya tampung
lingkungan hidup Pulau Jawa-Bali.
Bagian Kedua
Kawasan Lindung Pulau Jawa-Bali
PASAL 36
BAB V: RENCANA POLA RUANG PULAU JAWA-BALI | Bagian Kedua - Kawasan Lindung Pulau Jawa-Bali
Kawasan Lindung Pulau Jawa-Bali sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 35 ayat (2) huruf a terdiri atas perwujudan:
a. kawasan yang memberikan perlindungan terhadap
kawasan bawahannya;
b. kawasan perlindungan setempat;
c. kawasan konservasi; dan
d. Kawasan Lindung geologi.
Paragraf 1
Kawasan yang Memberikan Perlindungan
Terhadap Kawasan Bawahannya
PASAL 37
BAB V: RENCANA POLA RUANG PULAU JAWA-BALI | Bagian Kedua - Kawasan Lindung Pulau Jawa-Bali
(1) Kawasan yang memberikan perlindungan terhadap kawasan bawahannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 huruf a ditetapkan dengan tujuan:
a. mencegah terjadinya erosi dan sedimentasi; A
b. menjaga REPUEUK INDONESIA
b. menjaga fungsi hidrologis tanah untuk menjamin ketersediaan unsur hara tanah, air tanah, dan air permukaan; dan/atau
c. memberikan Ruang yang cukup bagi peresapan air hujan pada Daerah tertentu untuk keperluan penyediaan kebutuhan air tanah dan penanggulangan banjir, baik untuk kawasan bawahannya maupun kawasan yang bersangkutan. (21 Kawasan yang memberikan perlindungan terhadap kawasan bawahannya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas:
a. kawasan hutan lindung; dan
b. kawasan resapan air.
(3) Kawasan hutan lindung sebagaimana dimaksud pada ayat (21 huruf a ditetapkan oleh menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang lingkungan hidup dan kehutanan. (41 Kawasan resapan air sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b ditetapkan dengan kriteria kawasan yang mempunyai kemampuan tinggi untuk meresapkan air hujan dan sebagai pengontrol tata air permukaan.
(5) Kawasan yang memberikan perlindungan terhadap kawasan bawahannya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan di:
a. Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Serang, Kota Cilegon, Kabupaten [,ebak, dan Kabupaten Tangerang pada Provinsi Banten;
b. Kota Jakarta Utara pada Provinsi DKI Jakarta;
c. Kabupaten Sukabumi, Kabupaten Bogor, Kabupaten Karawang, Kabupaten Bekasi, Kabupaten Purwakarta, Kabupaten Cianjur, Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Banduog, Kabupaten Subang, Kabupaten Indrama5ru, Kabupaten Sumedang, Kabupaten Majalengka, Kabupaten Garut, dan Kabupaten Tasikmalaya pada Provinsi Jawa Barat;
d. Kabupaten A
d. Kabupaten Brebes, Kabupaten Ban5rumas, Kabupaten Tegal, Kabupaten Pemalang, Kabupaten Purbalingga, Kabupaten Kebumen, Kabupaten Banjarnegara, Kabupaten Pekalongan, Kabupaten Batang, Kabupaten Wonosobo, Kabupaten Kendal, Kabupaten Temanggung, Kabupaten Magelang, Kabupaten Semarang, Kabupaten Sragen, Kabupaten Jepara, Kabupaten Karanganyar, Kabupaten Klaten, Kabupaten Sukohado, Kabupaten Kudus, Kabupaten Pati, Kabupaten Blora, Kabupaten Rembang, dan Kabupaten Wonogiri pada Provinsi Jawa Tengah;
e. Kabupaten Kulonprogo, Kabupaten Bantul, dan Kabupaten Gunung Kidul pada Provinsi Daerah Istimewa Yograkarta;
f. Kabupaten Pacitan, Kabupaten Ngawi, Kabupaten Magetan, Kabupaten Madiun, Kabupaten Ponorogo, Kabupaten Trenggalek, Kabupaten Ttrlunggagung, Kabupaten Blitar, Kabupaten Kediri, Kota Kediri, Kabupaten Nganjuk, Kabupaten Bojonegoro, Kabupaten Tfiban, Kabupaten Lamongan, Kabupaten Jombang, Kabupaten Mojokerto, Kabupaten Malang, Kota Batu, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Lumajang, Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Jember, Kabupaten Bondowoso, Kabupaten Situbondo, Kabupaten Ban5ruwangi, Kabupaten Bangkalan, Kabupaten Pamekasan, dan Kabupaten Sumenep pada Provinsi Jawa Timur; dan
g. Kabupaten Buleleng, Kabupaten Jembrana, Kabupaten Tabanan, Kabupaten Badung, Kabupaten Karangasem, Kabupaten Bangli, dan Kabupaten Klungkung pada Provinsi Bali. Paragraf 2 Kawasan Perlindungan Setempat
PASAL 38
BAB V: RENCANA POLA RUANG PULAU JAWA-BALI | Bagian Kedua - Kawasan Lindung Pulau Jawa-Bali
(1) Kawasan perlindungan setempat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 huruf b ditetapkan dengan tujuan melindungi kawasan dari kegiatan budi daya yang dapat mengganggu kelestarian fungsinya.
(2) Kawasan A REPUBUK INDONESIA (21 Kawasan perlindungan setempat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas:
a. sempadan pantai;
b. sempadan sungai;
c. sempadan danau; dan
d. Ruang terbuka hijau (RTH).
(3) Sempadan pantai sebagaimana dimaksud pada ayat (21 huruf a ditetapkan dengan kriteria:
a. berupa daratan sepanjang tepian laut yang lebarnya proporsional dengan bentuk dan kondisi fisik pantai; dan/atau
b. berjarak minimal 1OO m (seratus meter) dari titik pasang tertinggi ke arah darat.
(4) Penetapan sempadan pantai sebagaimana dimaksud pada ayat (21 huruf a dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(5) Sempadan sungai sebagaimana dimaksud pada ayat (21huruf b ditetapkan dengan kriteria:
a. berrrpa area di kiri dan kanan palung sungai; dan
b. berfungsi sebagai batas perlindungan sungai.
(6) Sempadan sungai sebagaimana dimaksud pada ayat (21 huruf b ditetapkan oleh menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pekerjaan umum. (71 Sempadan danau sebagaimana dimaksud pada ayat (21 huruf c ditetapkan dengan kriteria:
a. berupa area yang mengelilingi dan berjarak tertentu dari tepi badan danau; dan
b. berfungsi sebagai kawasan pelindung danau.
(8) Sempadan danau sebagaimana dimaksud pada ayat (21 huruf c ditetapkan oleh menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pekerjaan umum.
(9) RTH sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf d ditetapkan dengan kriteria:
a. berupa area memanjang/jalur dan/atau mengelompok yang penggunErannya lebih bersifat terbuka; dan
b. berupa tempat tumbuh tanaman, baik yang tumbuh secara alamiah maupun yang sengaja ditanam, dengan mempertimbangkan aspek fungsi ekologis, resapEln air, ekonomi, sosial budaya, dan estetika.
(10) Distribusi A (1O) Distribusi RTH pada kota/perkotaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf d ditetapkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Paragraf 3 Kawasan Konservasi
PASAL 39
BAB V: RENCANA POLA RUANG PULAU JAWA-BALI | Bagian Kedua - Kawasan Lindung Pulau Jawa-Bali
(1) Kawasan konservasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 huruf c ditetapkan dalam rangka melindungi keanekaragaman biota, tipe ekosistem, gejala, dan keunikan alam bagi kepentingan plasma nutfah, ilmu pengetahllan, dan pembangunan pada umumnya di Pulau Jawa-Bali. (21 Kawasan konservasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas:
a. kawasan suaka alam;
b. kawasan pelestarian alam; dan
c. kawasan taman buru.
(3) Kawasan suaka alam sebagaimana dimaksud pada ayat (21 huruf a merupakan kawasan dengan ciri khas tertentu, baik di daratan maupun di perairan, yang mempunyai fungsi pokok sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya yang juga berfungsi sebagai Wilayah sistem penyangga kehidupan.
(4) Kawasan suaka alam sebagaimana dimaksud pada ayat (21huruf a terdiri atas:
a. suaka margasatwa; dan
b. cagar alam.
(5) Kawasan suaka' alam sebagaimana dimaksud pada ayat (21 huruf a ditetapkan oleh menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang lingkunga-n hidup dan kehutanan.
(6) Kawasan pelestarian alam sebagaimana dimaksud pada ayat (21 huruf b merupakan kawasan dengan ciri khas tertentu, baik di daratan maupun di perairan yang mempunyai fungsi pokok perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa, serta pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.
(7) Kawasan A
(7) Kawasan pelestarian alam sebagaimana dimaksud pada ayat (21huruf b terdiri atas:
a. taman nasional;
b. taman hutan raya; dan
c. taman wisata alam.
(8) Kawasan pelestarian alam sebagaimana dimaksud pada ayat (21 huruf b ditetapkan oleh menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang lingkungan hidup dan kehutanan.
(9) Kawasan taman buru sebagaimana dimaksud pada ayat (21huruf c ditetapkan dengan kriteria:
a. memiliki luas yang cukup dan tidak membahayakan untuk kegiatan berburu; dan
b. terdapat satwa buru yang dikembangbiakkan yang memungkinkan perburuan secara teratur dan berkesinambungan dengan mengutamakan segi aspek rekreasi, olahraga, dan kelestarian satwa.
(10) Kawasan taman buru sebagaimana dimaksud pada ayat (21 huruf c ditetapkan oleh menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang lingkungan hidup dan kehutanan.
(11) Kawasan konservasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan di:
a. Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Serang, Kota Cilegon, dan Kabupaten Irbak pada Provinsi Banten;
b. Kota Jakarta Utara dan Kabupaten Kepulauan Seribu pada Provinsi DKI Jakarta;
c. Kabupaten Sukabumi, Kabupaten Bogor, Kota Depok, Kabupaten Purwak arta, Kabupaten Cianjur, Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Bandurg, Kota Bandung, Kabupaten Subang, Kabupaten Sumedang, Kabupaten Majalengka, Kabupaten Garut, Kabupaten Tasikmalaya, Kabupaten Ciamis, Kabupaten Cirebon, dan Kabupaten Kuningan pada Provinsi Jawa Barat;
d. Kabupaten Cilacap, Kabupaten Brebes, Kabupaten Tegal, Kabupaten Pemalang, Kabupaten Banjarnegara, Kabupaten Batang, Kabupaten Wonosobo, Kabupaten Kendal, Kabupaten Magelang, Kabupaten Semarang, Kabupaten Klaten, Kabupaten Jepara, Kabupaten Karanganyar, Kabupaten Wonogiri, Kabupaten Sragen, Kabupaten Blora, dan Kabupaten Rembang pada Provinsi Jawa Tengah:
e. Kabupaten REPUBLIT INDONESIA
e. Kabupaten Kulonprogo, Kabupaten Sleman, Kabupaten Bantul, dan Kabupaten Gunung Kidul pada Provinsi Daerah Istimewa Yoryakarta;
f. Kabupaten Madiun, Kabupaten Ponorogo, Kabupaten Kediri, Kabupaten T\rban, Kabupaten Gresik, Kabupaten Jombang, Kabupaten Ban5ruwangi, Kabupaten Bondowoso, Kabupaten Jember, Kabupaten Lumajang, Kabupaten Malang, Kota Batu, Kabupaten Mojokerto, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Situbondo, dan Kabupaten Sumenep pada Provinsi Jawa Timur; dan
g. Kabupaten Buleleng, Kabupaten Jembrana, Kabupaten Tabanan, Kabupaten Badung, Kota Denpasar, dan Kabupaten Bangli pada Provinsi Bali. Paragraf 4 Kawasan Lindung Geologi
PASAL 40
BAB V: RENCANA POLA RUANG PULAU JAWA-BALI | Bagian Kedua - Kawasan Lindung Pulau Jawa-Bali
(1) Kawasan Lindung geologi sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 36 huruf d ditetapkan dengan tujuan
melindungi kelestarian gejala geologi yang mencakup
kawasan cagar alam geologi dan Kawasan yang
memberikan perlindungan terhadap air tanah.
(21 Kawasan Lindung geologi sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) terdiri atas:
a. kawasan cagar alam geologi;
b. kawasan bentang alam karst; dan
c. kawasan yang memberikan perlindungan terhadap
air tanah.
(3) Kawasan cagar alam geologi sebagaimana dimaksud
pada ayat (21hurlf a dan kawasan bentang alam karst
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b
ditetapkan oleh menteri yang menyelenggarakan
urusan pemerintahan di bidang energi dan sumber
daya mineral.
(4) Kawasan yang memberikan perlindungan terhadap air
tanah sebagaimana dimaksud pada ayat (21 huruf c
berupa kawasan imbuhan air tanah.
(5) Kawasan imbuhan air tanah sebagaimana dimaksud
pada ayat (4) ditetapkan oleh menteri yang
menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang
pekerjaan umum.
Bagian Ketiga
l8 A
Bagian Ketiga
Kawasan Budi Daya yang Memiliki Nilai Strategis Nasional
PASAL 41
BAB V: RENCANA POLA RUANG PULAU JAWA-BALI | Bagian Ketiga - Kawasan Budi Daya yang Memiliki Nilai Strategis Nasional
(1) Kawasan Budi Daya yang Memiliki Nilai Strategis
Nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35
ayat (21huruf b terdiri atas:
a. Kawasan Budi Daya potensial dikembangkan; dan
b. Kawasan Budi Daya terbatas.
(2) Kawasan Budi Daya yang Memiliki Nilai Strategis
Nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dikembangkan sesuai daya dukung dan daya tampung
lingkungan hidup nasional dengan peruntukan Ruang
yang diarahkan untuk sektor unggulan:
a. perdagangan dan jasa;
b. industri;
c. pariwisata;
d. kehutanan;
e. pertanian; dan
f. kelautan dan perikanan.
Paragraf 1
Kawasan Budi Daya Potensial Dikembangkan
PASAL 42
BAB V: RENCANA POLA RUANG PULAU JAWA-BALI | Bagian Ketiga - Kawasan Budi Daya yang Memiliki Nilai Strategis Nasional
(1) Kawasan Budi Daya potensial dikembangkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4l ayat (1) huruf a merupakan kawasan dengan karakteristik kemampuan lahan sedang, tinggi, dan sangat tinggi yang ditetapkan dalam rangka mendukung pertumbuhan ekonomi Wilayah sebagai perwujudan tujuan Penataan Ruang Pulau Jawa-Bali. (21 Kawasan Budi Daya poteqsial dikembangkan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan kriteria:
a. berupa Kawasan Perkotaan dengan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan budi daya dengan sektor unggulan yang mendukung tujuan Penataan Ruang Pulau Jawa-Bali;
b. meningkatkan keterkaitan antarpusat kegiatan dengan sistem distribusi dan pusat bahan baku; c.mendukung A
c. mendukung upaya pelestarian budaya, keindahan alam, dan lingkungan; dan/atau
d. tidak melampaui kapasitas daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup.
(3) Kawasan Budi Daya potensial dikembangkan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan di:
a. Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Serang, Kota Cilegon, Kota Serang, Kabupaten Lebak, Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang, dan Kota Tangerang Selatan pada Provinsi Banten;
b. Kota Jakarta Barat, Kota Jakarta Utara, Kota Jakarta Pusat, Kota Jakarta Selatan, Kota Jakarta Timur, dan Kabupaten Kepulauan Seribu pada Provinsi DKI Jakarta;
c. Kabupaten Sukabumi, Kota Sukabumi, Kabupaten Bogor, Kota Bogor, Kota Depok, Kota Bekasi, Kabupaten Bekasi, Kabupaten Karawang, Kabupaten Purwakarta, Kabupaten Cianjur, Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten BanduflB, Kota Cimahi, Kota Bandung, Kabupaten Subang, Kabupaten Indramayu, Kabupaten Sumedang, Kabupaten Majalengka, Kabupaten Garut, Kabupaten Tasikmalaya, Kota Tasikmalaya, Kabupaten Pangandaran, Kabupaten Ciamis, Kota Banjar, Kabupaten Kuningan, Kabupaten Cirebon, dan Kota Cirebon pada Provinsi Jawa Barat;
d. Kabupaten Cilacap, Kabupaten Brebes, Kabupaten Ban5rumas, Kota Tegal, Kabupaten Tegal, Kabupaten Pemalang, Kabupaten Purbalingga, Kabupaten Kebumen, Kabupaten Banjarnegara, Kabupaten Pekalongan, Kota Pekalongan, Kabupaten Batang, Kabupaten Wonosobo, Kabupaten Purworejo, Kabupaten Kendal, Kabupaten Temanggung, Kabupaten Magelang, Kota Magelang, Kota Semarang, Kabupaten Semarang, Kota Salatiga, Kabupaten Boyolali, Kabupaten Sragen, Kabupaten Klaten, Kabupaten Sukoharjo, Kota Surakarta, Kabupaten Karanganyar, Kabupaten Wonogiri, Kabupaten Demak, Kabupaten Jepara, Kabupaten Kudus, Kabupaten Pati, Kabupaten Grobogan, Kabupaten Blora, dan Kabupaten Rembang pada Provinsi Jawa Tengah;
e. Kabupaten A REPUBLIK TNDONESIA
e. Kabupaten Kulon Progo, Kabupaten Sleman, Kabupaten Bantul, Kota Yoryakarta dan Kabupaten Gunungkidul pada Provinsi Daerah Istimewa Yograkarta;
f. Kabupaten Pacitan, Kabupaten Ngawi, Kabupaten Magetan, Kabupaten Madiun, Kota Madiun, Kabupaten Ponorogo, Kabupaten Trenggalek, Kabupaten Tfilungagung, Kabupaten Blitar, Kota Blitar, Kabupaten Kediri, Kota Kediri, Kabupaten Nganjuk, Kabupaten Bojonegoro, Kabupaten Tuban, Kabupaten Lamongan, Kabupaten Gresik, Kota Surabaya, Kabupaten Jombang, Kabupaten Mojokerto, Kota Mojokerto, Kabupaten Sidoado, Kabupaten Malang, Kota Malang, Kota Batu, Kabupaten Pasuruan, Kota Pasuruan, Kabupaten Lumajang, Kabupaten Probolinggo, Kota Probolinggo, Kabupaten Jember, Kabupaten Bondowoso, Kabupaten Situbondo, Kabupaten Ban5ruwangi, Kabupaten Bangkalan, Kabupaten Sampang, Kabupaten Pamekasan, dan Kabupaten Sumenep pada Provinsi Jawa Timur; dan
g. Kabupaten Buleleng, Kabupaten Jembrana, Kabupaten Tabanan, Kabupaten Badung, Kota Denpasar, Kabupaten Gianyar, Kabupaten Bangli, Kabupaten Karangasem, dan Kabupaten Klungkung pada Provinsi Bali. Paragraf 2 Kawasan Budi Daya Terbatas
PASAL 43
BAB V: RENCANA POLA RUANG PULAU JAWA-BALI | Bagian Ketiga - Kawasan Budi Daya yang Memiliki Nilai Strategis Nasional
(1) Kawasan Budi Daya terbatas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4l ayat (1) huruf b merupakan kawasan dengan karakteristik kemampuan lahan sangat rendah dan rendah yang ditetapkan dalam rangka mendukung pertumbuhan ekonomi Wilayah sebagai perwujudan tujuan Penataan Ruang Pulau Jawa-Bali.
(2) Kawasan Budi Daya terbatas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikembangkan dengan kriteria:
a. berupa Kawasan Perkotaan dan perdesaan yang daya dukung dan daya tampungnya dapat dimanfaatkan untuk kegiatan budi daya dengan sektor unggulan kehutanan, pertanian, kelautan dan perikanan; b.meningkatkan A REPUBLTK INDONESIA
b. meningkatkan keterkaitan antarpusat kegiatan dengan pusat bahan baku;
c. mewujudkan kemandirian, ketahanan, dan kedaulatan pangan nasional; dan/atau
d. tidak melampaui kapasitas daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup.
(3) Kawasan Budi Daya terbatas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan di:
a. Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Serang, Kota Cilegon, Kota Serang, Kabupaten Lebak, Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang, dan Kota Tangerang Selatan pada Provinsi Banten;
b. Kota Jakarta Barat, Kota Jakarta Utara, Kota Jakarta Pusat, Kota Jakarta Selatan, Kota Jakarta Timur, dan Kabupaten Kepulauan Seribu pada Provinsi DKI Jakarta;
c. Kabupaten Sukabumi, Kota Sukabumi, Kabupaten Bogor, Kota Bogor, Kota Depok, Kota Bekasi, Kabupaten Bekasi, Kabupaten Karawang, Kabupaten Purwakarta, Kabupaten Cianjur, Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Bandurg, Kota Cimahi, Kota Bandung, Kabupaten Subang, Kabupaten Indramayu, Kabupaten Sumedang, Kabupaten Majalengka, Kabupaten Garut, Kabupaten Tasikmalaya, Kota Tasikmalaya, Kabupaten Pangandaran, Kabupaten Ciamis, Kota Banjar, Kabupaten Kuningan, Kabupaten Cirebon, dan Kota Cirebon pada Provinsi Jawa Barat;
d. Kabupaten Cilacap, Kabupaten Brebes, Kabupaten Ban5rumas, Kota Tegal, Kabupaten Tegal, Kabupaten Pemalang, Kabupaten Purbalingga, Kabupaten Kebumen, Kabupaten Banjarnegara, Kabupaten Pekalongan, Kota Pekalongan, Kabupaten Batang, Kabupaten Wonosobo, Kabupaten Purworejo, Kabupaten Kendal, Kabupaten Temanggung, Kabupaten Magelang, Kota Magelang, Kota Semarang, Kabupaten Semarang, Kota Salatiga, Kabupaten Boyolali, Kabupaten Sragen, Kabupaten Klaten, Kabupaten Sukoharjo, Kota Surakarta, Kabupaten Karanganyar, Kabupaten Wonogiri, Kabupaten Demak, Kabupaten Jepara, Kabupaten Kudus, Kabupaten Pati, Kabupaten Grobogan, Kabupaten Blora, dan Kabupaten Rembang pada Provinsi Jawa Tengah; e.Kabupaten REPUBLIK TNDONESIA -4t-
e. Kabupaten Kulon Progo, Kabupaten Sleman, Kabupaten Bantul, Kota Yoryakarta dan Kabupaten Gunungkidul pada Provinsi Daerah Istimewa Yoryakarta;
f. Kabupaten Pacitan, Kabupaten Ngawi, Kabupaten Magetan, Kabupaten Madiun, Kota Madiun, Kabupaten Ponorogo, Kabupaten Trenggalek, Kabupaten T\rlungagung, Kabupaten Blitar, Kota Blitar, Kabupaten Kediri, Kota Kediri, Kabupaten Nganjuk, Kabupaten Bojonegoro, Kabupaten T\rban, Kabupaten Lamongan, Kabupaten Gresik, Kota Surabaya, Kabupaten Jombang, Kabupaten Mojokerto, Kota Mojokerto, Kabupaten Sidoarjo, Kabupaten Malang, Kota Malang, Kota Batu, Kabupaten Pasuruan, Kota Pasuruan, Kabupaten Lumajang, Kabupaten Probolinggo, Kota Probolinggo, Kabupaten Jember, Kabupaten Bondowoso, Kabupaten Situbondo, Kabupaten Banyuwangi, Kabupaten Bangkalan, Kabupaten Sampang, Kabupaten Pamekasan, dan Kabupaten Sumenep pada Provinsi Jawa Timur; dan
g. Kabupaten Buleleng, Kabupaten Jembrana, Kabupaten Tabanan, Kabupaten Badung, Kota Denpasar, Kabupaten Gianyar, Kabupaten Bangli, Kabupaten Karangasem, dan Kabupaten Klungkung pada Provinsi Bali.
PASAL 44
BAB V: RENCANA POLA RUANG PULAU JAWA-BALI | Bagian Ketiga - Kawasan Budi Daya yang Memiliki Nilai Strategis Nasional
Rencana Pola Ruang Pulau Jawa-Bali sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 sampai dengan Pasal 43 digambarkan dalam peta rencana Pola Ruang Pulau Jawa- Bali dengan tingkat ketelitian skala 1:500.000 sebagaimana tercantum dalam Lampiran II yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Presiden ini. BABVI A Bagian Kedua Arahan Pelaksanaan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang Pasal 46 REPUBLII( INDONESIA BAB VI ARAHAN PEMANFAATAN RUANG PULAU JAWA-BALI Bagian Kesatu Umum
PASAL 45
BAB VI: ARAHAN PEMANFAATAN RUANG PULAU JAWA-BALI | Bagian Kesatu - Umum
Naskah pasal.
PASAL 46
BAB V: RENCANA POLA RUANG PULAU JAWA-BALI | Bagian Kedua - Arahan Pelaksanaan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang
REPUBLII( INDONESIA BAB VI ARAHAN PEMANFAATAN RUANG PULAU JAWA-BALI Bagian Kesatu Umum Pasal 45
(1) Arahan Pemanfaatan Ruang Pulau Jawa-Bali merupakan acuan untuk mewujudkan rencana Strrrktur Ruang dan rencana Pola Ruang Pulau Jawa- Bali sebagai perangkat operasional RTRWN di Pulau Jawa-Bali.
(2) Arahan Pemanfaatan Ruang Pulau Jawa-Bali terdiri atas:
a. arahan pelaksanaan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang; dan
b. indikasi program utama jangka menengah lima tahunan.
(1) Arahan pelaksanaan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45 ayat (2) huruf a meliputi:
a. Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang untuk kegiatan berusaha;
b. Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang untuk kegiatan nonberusaha; dan
c. Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang untuk kegiatan yang bersifat strategis nasional. (21 Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diterbitkan oleh Menteri.
(3) Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. A
(4) Pemanfaatan NEPUBLIK TNDONESIA
(4) Pemanfaatan dan penggunaan Ruang di Kawasan Hutan dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang kehutanan. Bagian Ketiga Indikasi Program Utama Jangka Menengah Lima Tahunan
PASAL 47
BAB VI: ARAHAN PEMANFAATAN RUANG PULAU JAWA-BALI | Bagian Ketiga - Indikasi Program Utama Jangka Menengah Lima Tahunan
(1) Indikasi program utama jangka menengah lima tahunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45 pada ayat (21 huruf b merupakan acuan sektor dan daerah untuk men5rusun program dalam rangka mewujudkan rencana tata Ruang di Pulau Jawa-Bali dalam jangka waktu perencanaan 5 (lima) tahunan sampai akhir tahun perencanaan. (21 Indikasi program utama jangka menengah lima tahunan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:
a. indikasi program utama rencana Struktur Ruang; dan
b. indikasi program utama rencana Pola Ruang.
(3) Indikasi program utama jangka menengah lima tahunan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas:
a. indikasi program utama;
b. lokasi;
c. sumber pendanaan;
d. instansi pelaksana; dan
e. waktu pelaksanaan.
(4) Sumber pendanaan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) hurufc berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, dan/atau sumber lain yang sah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(5) Instansi pelaksana sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf d terdiri atas Pemerintah, Pemerintah Daerah provinsi, dan/ atau Masyarakat.
(6) Pelaksanaan
(6) Pelaksanaan indikasi program utama lintas Wilayah dapat diselenggarakan dengan kerja sama antar Pemerintah Daerah maupun kerja sama antara Pemerintah dan Pemerintah Daerah.
(7) Waktu pelaksanaan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf e terdiri atas 5 (lima) tahapan, sebagai dasar bagi pelaksana kegiatan dalam menetapkan prioritas pembangunan di Pulau Jawa-Bali, meliputi:
a. tahap pertama pada periode tahun 2023-2024;
b. tahap kedua pada periode tahun 2025-2029;
c. tahap ketiga pada periode tahun 2O3O-2O34;
d. tahap keempat pada periode tahun 2035-2039; dan
e. tahap kelima pada periode tahun 2O4O-2O42.
(8) Indikasi program utama, lokasi, sumber pendanaan, instansi pelaksana, dan waktu pelaksanaan secara rinci tercantum dalam Lampiran III yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Presiden ini. BAB VII ARAHAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG PULAU JAWA-BALI Bagian Kesatu Umum
PASAL 48
BAB VII: ARAHAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG PULAU JAWA-BALI | Bagian Kesatu - Umum
(1) Arahan Pengendalian Pemanfaatan Ruang Pulau Jawa-
Bali digunakan sebagai acuan dalam pelaksanaan
Pengendalian Pemanfaatan Ruang Pulau Jawa-Bali.
(2) Arahan Pengendalian Pemanfaatan Ruang Pulau Jawa-
Bali terdiri atas:
a. indikasi arahan zonasi sistem nasional;
b. arahan insentif dan disinsentif;
c. arahan sanksi; dan
d. penilaian pelaksanaan Pemanfaatan Ruang.
Bagian Kedua
Indikasi Arahan Zonasi Sistem Nasional
PASAL 49
BAB VII: ARAHAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG PULAU JAWA-BALI | Bagian Kedua - Indikasi Arahan Zonasi Sistem Nasional
(1) Indikasi arahan zonasi sistem nasional sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 48 ayat (2) huruf a berfungsi
sebagai pedoman bagi Pemerintah dalam men5rusun
arahan zonasi sistem nasional dan Pemerintah Daerah
provinsi dan kabupaten/kota dalam men5rusun
ketentuan umum zonasi dan peraturan zonasi yang
termuat dalam rencana tata Ruang.
(2) Indikasi
A
Paragraf 1
Indikasi Arahan Zonasi Sistem Nasional untuk Struktur Ruang
PASAL 50
BAB VII: ARAHAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG PULAU JAWA-BALI | Bagian Kedua - Indikasi Arahan Zonasi Sistem Nasional
(21 Indikasi arahan zonasi sistem nasional sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) terdiri atas:
a. indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk
Struktur Ruang; dan
b. indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk Pola
Ruang.
(1) Indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk Struktur
Ruang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49 ayat (21
huruf a terdiri atas:
a. indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk
sistem pusat permukiman Pulau Jawa-Bali;
b. indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk
sistem jaringan transportasi nasional;
c. indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk
sistem jaringan energi nasional;
d. indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk
sistem jaringan telekomunikasi nasional; dan
e. indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk
sistem jaringan sumber daya air.
(21 Indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk Struktur
Ruang Pulau Jawa-Bali disusun dengan
memperhatikan:
a. Pemanfaatan Ruang di sekitar jaringan prasarana
untuk mendukung berfungsinya sistem pusat
permukiman dan sistem jaringan prasarana Pulau
Jawa-Bali;
b. ketentuan pelarangan Pemanfaatan Ruang yang
menyebabkan gangguan terhadap perwujudan
fungsi sistem pusat permukiman dan sistem
jaringan prasarana Pulau Jawa-Bali; dan
c. pembatasan intensitas Pemanfaatan Ruang agar
tidak mengganggu perwujudan fungsi sistem pusat
permukiman dan sistem jaringan prasarana Pulau
Jawa-Bali.
A
Paragraf 2
Paragraf 2
Indikasi Arahan Zonasi Sistem Nasional untuk
Sistem Pusat Permukiman Pulau Jawa-Bali
PASAL 51
BAB VII: ARAHAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG PULAU JAWA-BALI | Bagian Kedua - Indikasi Arahan Zonasi Sistem Nasional
(1) Indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk sistem
pusat permukiman Pulau Jawa-Bali sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 50 ayat (1) huruf a meliputi:
a. indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk PKU;
dan
b. indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk PKP.
(21 Indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk PKU
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a disusun
dengan memperhatikan:
a. Pemanfaatan Ruang untuk kegiatan ekonomi
perkotaan berskala nasional maupun lintas
provinsi yang didukung dengan fasilitas dan
infrastruktur perkotaan yang sesuai dengan skala
pelayanannya;
b. pengembangan fungsi Kawasan Perkotaan sebagai
pusat permukiman dengan intensitas Pemanfaatan
Ruang sedang hingga tinggi; dan
c. arahan intensitas Pemanfaatan Ruang meliputi:
1. pengembangan PKU diarahkan pada kawasan
dengan kemampuan lahan sangat tinggi, tinggi,
dan sedang;
2. pengembangan PKU
memperhatikan
kemampuan daya dukung dan daya tampung
lingkungan hidup serta kawasan rawan
bencana; dan
3. penyediaan RTH paling sedikit 30% (tiga puluh
persen) dari luas Kawasan Perkotaan yang
masuk dalam PKU.
(3) Indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk PKP
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b disusun
dengan memperhatikan:
a. Pemanfaatan Ruang untuk kegiatan ekonomi
perkotaan berskala provinsi maupun lintas
kabupaten/kota yang didukung dengan fasilitas
dan infrastruktur perkotaan yang sesuai dengan
skala pelayanannya;
b.pengembangan
b. pengembangan fungsi Kawasan Perkotaan sebagai
pusat permukiman dengan intensitas Pemanfaatan
Ruang sedang; dan
c. arahan intensitas Pemanfaatan Ruang meliputi:
1. pengembangan PKP diarahkan pada kawasan
dengan kemampuan lahan sangat tinggi, tinggi,
dan sedang;
2. pengembangan PKP
memperhatikan
kemampuan daya dukung dan daya tampung
lingkungan hidup serta kawasan rawan
bencana; dan
3. penyediaan RTH paling sedikit 30% (tiga puluh
persen) dari luas Kawasan Perkotaan yang
masuk dalam PKP.
Paragraf 3
Indikasi Arahan Zonasi Sistem Nasional
untuk Sistem Jaringan Transportasi Nasional
PASAL 52
BAB VII: ARAHAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG PULAU JAWA-BALI | Bagian Kedua - Indikasi Arahan Zonasi Sistem Nasional
Indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk sistem
jaringan transportasi nasional sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 50 ayat (1) huruf b meliputi:
a. indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk sistem
jaringan transportasi darat;
b. indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk sistem
jaringan transportasi laut; dan
c. indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk sistem
jaringan transportasi udara.
PASAL 53
BAB VII: ARAHAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG PULAU JAWA-BALI | Bagian Kedua - Indikasi Arahan Zonasi Sistem Nasional
(1) Indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk sistem jaringan transportasi darat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 huruf a terdiri atas:
a. indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk jaringan jalan nasional;
b. indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk jaringan lalu lintas dan angkutan jalan;
c. indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk jaringan kereta api nasional; dan
d. indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk jaringan transportasi penyeberangan.
(2) Indikasi A (21 Indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk jaringan jalan nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a meliputi:
a. Pemanfaatan Ruang untuk pengembangan dan pemantapan jaringan jalan nasional dalam rangka meningkatkan keterkaitan antarpusat kegiatan dan mendorong perekonomian di Pulau Jawa-Bali;
b. Pemanfaatan Ruang untuk pengembangan jaringan jalan nasional yang menghubungkan pusat kegiatan dengan pelabuhan dan bandar udara untuk mendukung pemasaran dan distribusi produk unggulan;
c. Pemanfaatan Ruang untuk pengembangan jaringan jalan nasional yang terpadu dengan jaringan jalur kereta api, pelabuhan, bandar udara, serta penyeberangan;
d. Pemanfaatan Ruang di sepanjang sisi jalan nasional dengan tingkat intensitas menengah hingga tinggi yang kecenderungan pengembangan Ruangnya dibatasi; dan
e. ketentuan pelarangan alih fungsi lahan yang berfungsi lindung di sepanjang sisi jaringan jalan nasional.
(3) Indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk jaringan lalu lintas dan angkutan jalan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b meliputi:
a. Pemanfaatan Ruang untuk pengembangan jaringan lalu lintas dan angkutan jalan untuk menghubungkan pusat kegiatan, sentra produksi komoditas unggulan, pelabuhan, dan bandar udara; dan
b. pembatasan Pemanfaatan Ruang yang peka terhadap dampak lingkungan akibat lalu lintas terminal penumpang. (41 Indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk jaringan kereta api nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c meliputi:
a. Pemanfaatan Ruang untuk pengembangan jaringan jalur kereta api untuk menghubungkan pusat kegiatan, sentra produksi komoditas unggulan, pelabuhan, dan bandar udara;
b. pembatasan Pemanfaatan Ruang yang peka terhadap dampak lingkungan akibat lalu lintas kereta api di sepanjang jalur kereta api;
c. pembatasan REPUBLIK TNDONESIA
c. pembatasan jumlah perlintasan sebidang antara jaringan jalur kereta api dengan jaringan jalan nasional;
d. Pemanfaatan Ruang di sepanjang sisi jaringan jalur kereta api dilakukan dengan tingkat intensitas menengah hingga tinggi yang kecenderungan pengembangan Ruangnya dibatasi; dan
e. ketentuan pelarangan Pemanfaatan Ruang pengawasan jalur kereta api yang dapat mengganggu kepentingan operasi dan keselamatan tran sportasi perkeretaapian.
(5) Indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk jaringan transportasi penyeberangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d meliputi:
a. Pemanfaatan Ruang untuk pengembangan jaringan transportasi penyeberangan untuk melayani pergerakan orang dan/atau barang;
b. Pemanfaatan Ruang untuk pengembangan lintas penyeberangan yang dilakukan untuk membuka keterisolasian Wilayah dan meningkatkan keterkaitan Pulau Jawa-Bali dengan pulau lain;
c. Pemanfaatan Ruang di dalam dan di sekitar pelabuhan penyeberangan dengan memperhatikan kebutuhan Ruang operasional dan pengembangan kawasan pelabuhan;
d. penerapan ketentuan mengenai keamanan dan keselamatan pelayaran; dan
e. Pemanfaatan Ruang di dalam daerah lingkungan kerja pelabuhan dan daerah lingkungan kepentingan pelabuhan harus mendapatkan izin sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
PASAL 54
BAB VII: ARAHAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG PULAU JAWA-BALI | Bagian Kedua - Indikasi Arahan Zonasi Sistem Nasional
(1) Indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk sistem
jaringan transportasi laut sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 52 huruf b terdiri atas:
a. indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk
tatanan kepelabuhanan nasional; dan
b. indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk
tatanan kepelabuhanan perikanan.
A
(2) Indikasi
(2) Indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk tatanan
kepelabuhanan nasional sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) huruf a meliputi:
a. Pemanfaatan Ruang untuk kebutuhan operasional
dan pengembangan pelabuhan yang melayani
Kawasan Perkotaan sebagai pusat kegiatan menuju
pasar nasional dan internasional;
b. Pemanfaatan Ruang untuk pengembangan
pelabuhan yang terpadu dengan pengembangan
jaringan transportasi lainnya;
c. Pemanfaatan Ruang bersama pelabuhan guna
kepentingan pertahanan dan keamarlan negara;
d. pembatasan Pemanfaatan Ruang di dalam daerah
lingkungan kerja pelabuhan dan daerah
lingkungan kepentingan pelabuhan harus
mendapatkan izin sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan; dan
e. Pemanfaatan Ruang untuk pengembangan terminal
khusus dan terminal untuk kepentingan sendiri
dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
(3) Indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk tatanan
kepelabuhanan perikanan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) huruf b meliputi:
a. Pemanfaatan Ruang untuk kebutuhan operasional
dan pengembangan pelabuhan perikanan yang
melayani pusat kegiatan dengan fungsi sebagai
industri pengolahan ikan dan industri penunjang
lainnya;
b. Pemanfaatan Ruang untuk pengembangan
pelabuhan perikanan yang terpadu dengan
pengembangan jaringan transportasi lainnya; dan
c. pembatasan Pemanfaatan Ruang di dalam zorLa
Wilayah kerja dan pengoperasian pelabuhan
perikanan harus mendapatkan izin sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
PASAL 55
BAB VII: ARAHAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG PULAU JAWA-BALI | Bagian Kedua - Indikasi Arahan Zonasi Sistem Nasional
(1) Indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk sistem
jaringan transportasi udara sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 52 huruf c terdiri atas:
a. indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk
tatanan kebandarudaraan; dan.
b. indikasi
A
b. indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk
Ruang udara.
(2) Indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk tatanan
kebandarudaraan sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) huruf a meliputi:
a. Pemanfaatan Ruang untuk kebutuhan operasional,
pengembangan, dan pemantapan bandar udara
yang terpadu dengan sistem jaringan transportasi
darat untuk meningkatkan keterkaitan antar
Wilayah;
b. Pemanfaatan Ruang untuk pengembangan bandar
udara guna melayani pusat kegiatan sebagai pintu
gerbang internasional dalam rangka mendukung
pertumbuhan ekonomi;
c. Pemanfaatan Ruang bersama bandar udara guna
kepentingan pertahanan dan keamanan negara;
d. Pemanfaatan Ruang dengan memperhatikan
batas-batas Kawasan keselamatan operasi
penerbangan;
e. Pemanfaatan Ruang di sekitar bandar udara sesuai
dengan kebutuhan pengembangan bandar udara
berdasarkan ketentuan peraturan perundang-
undangan; dan
f. Pemanfaatan Ruang untuk pengembangan bandar
udara khusus dilaksanakan sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
(3) Indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk Ruang
udara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b
meliputi:
a. Pemanfaatan Ruang bersama Ruang udara untuk
penerbangan guna kepentingan pertahanan dan
keamanan negara; dan
b. pembatasan Pemanfaatan Ruang udara yang
digunakan untuk penerbangan agar tidak
mengganggu sistem operasional penerbangan
sesuai
dengan ketentuan
peraturan
perundang-undangan.
A
Paragraf4
Paragraf 4
Indikasi Arahan Zonasi Sistem Nasional untuk
Sistem Jaringan Energi Nasional
PASAL 56
BAB VII: ARAHAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG PULAU JAWA-BALI | Bagian Kedua - Indikasi Arahan Zonasi Sistem Nasional
Indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk sistem
jaringan energi nasional sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 50 ayat (1) huruf c terdiri atas:
a. indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk jaringan
infrastruktur ketenagalistrikan; dan
b. indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk jaringan
infrastruktur minyak dan gas bumi.
PASAL 57
BAB VII: ARAHAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG PULAU JAWA-BALI | Bagian Kedua - Indikasi Arahan Zonasi Sistem Nasional
(1) Indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk sistem
jaringan infrastrrrktur ketenagalistrikan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 56 huruf a terdiri atas:
a. indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk
infrastruktur pembangkit tenaga listrik dan sarana
pendukungnya; dan
b. indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk
jaringan infrastruktur penyaluran tenaga listrik
dan sarana pendukungnya.
(21 Indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk
infrastruktur pembangkit tenaga listrik dan sarana
pendukungnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
huruf a meliputi:
a. Pemanfaatan Ruang untuk pengembangan
pembangkit tenaga listrik yang berasal dari sumber
energi terbarukan dan pembangkit tenaga listrik
yang berasal dari sumber energi tak terbarukan
untuk memenuhi kebutuhan energi listrik Pulau
Jawa-Bali;
b. Pemarrfaatan Ruang di sekitar pembangkit tenaga
listrik dengan memperhatikan jarak aman dari
kegiatan lain; dan
c. Pemanfaatan Ruang untuk pengembangan
pembangkit tenaga listrik sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
(3) Indikasi
A
(3) Indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk jaringan
infrastruktur penyaluran tenaga listrik dan sarana
pendukungnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
huruf b meliputi:
a. Pemanfaatan Ruang untuk pengembangan jaringan
transmisi tenaga listrik untuk melayani PKU dan
PKP di Pulau Jawa-Bali;
b. Pemanfaatan Ruang untuk pengembangan
interkoneksi jaringan transmisi tenaga listrik
antara Pulau Jawa-Bali dan Wilayah lain di luar
Pulau Jawa-Bali untuk mendukung sistem
penyediaan tenaga listrik nasional; dan
c. penerapan ketentuan mengenai pelarangan
Pemanfaatan Ruang bebas di sepanjang jalur
transmisi sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
PASAL 58
BAB VII: ARAHAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG PULAU JAWA-BALI | Bagian Kedua - Indikasi Arahan Zonasi Sistem Nasional
(1) Indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk jaringan
infrastruktur minyak dan gas bumi sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 56 huruf b terdiri atas:
a. indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk
fasilitas dan sarana infrastruktur kegiatan usaha
minyak dan gas bumi; dan
b. indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk
jaringan minyak dan gas bumi.
(2) Indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk fasilitas
dan sarana infrastruktur kegiatan usaha minyak dan
gas bumi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a
meliputi:
a. penerapan ketentuan mengenai keamanan dan
keselamatan kawasan di sekitar fasilitas produksi,
pengolahan danf atau penyimpanan; dan
b. Pemanfaatan Ruang untuk fasilitas dan sarana
infrastruktur kegiatan usaha minyak dan gas bumi
sesuai
dengan ketentuan
peraturan
perundang-undangan.
A
(3) Indikasi
(3) Indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk jaringan
minyak dan gas bumi sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) huruf b meliputi:
a. Pemanfaatan Ruang untuk pengembangan jaringan
minyak dan gas bumi yang mengintegrasikan
fasilitas produksi, pengolahan dan/atau
penyimpanan, hingga akses menuju Kawasan
Perkotaan dalam mendukung sistem pasokan
energi nasional di Pulau Jawa-Bali;
b. penerapan ketentuan mengenai keamanan dan
keselamatan kawasan di sekitar jaringan minyak
dan gas bumi; dan
c. Pemanfaatan Ruang untuk pengembangan jaringan
minyak dan gas bumi sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
Paragraf 5
Indikasi Arahan Zonasi Sistem Nasional untuk
Sistem Jaringan Telekomunikasi Nasional
PASAL 59
BAB VII: ARAHAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG PULAU JAWA-BALI | Bagian Kedua - Indikasi Arahan Zonasi Sistem Nasional
Indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk sistem
jaringan telekomunikasi nasional sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 50 ayat (1) huruf d terdiri atas:
a. indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk jaringan
tetap; dan
b. indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk jaringan
bergerak.
PASAL 60
BAB VII: ARAHAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG PULAU JAWA-BALI | Bagian Kedua - Indikasi Arahan Zonasi Sistem Nasional
(1) Indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk
pengembangan jaringan tetap sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 59 huruf a meliputi:
a. Pemanfaatan Ruang pengembangan jaringan tetap
dengan memperhatikan aspek keamanan dan daya
dukung lingkungan hidup kawasan di sekitarnya;
b. penerapan ketentuan mengenai pelarangan
Pemanfaatan Ruang bebas di sepanjang jaringan
tetap sesuai dengan ketentuan peraturan
perrrndang-undan gan ; dan
c. ketentuan lain untuk jaringan telekomunikasi
meliputi ketentuan khusus yang diatur sesuai
dengan ketentuan peraturan perurndang-undangan
dengan tetap memperhatikan fungsi pelayanan
telekomunikasi.
(2) Indikasi
(2) Indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk jaringan
bergerak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59
huruf b meliputi:
a. Pemanfaatan Ruang jaringan bergerak untuk
melayani PKU dan PKP; dan
b. ketentuan lain untuk jaringan telekomunikasi
meliputi ketentuan khusus untuk pembangunan
yang diatur sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan dengan tetap memperhatikan
fungsi pelayanan telekomunikasi.
Paragraf 6
Indikasi Arahan Zonasi Sistem Nasional untuk
Sistem Jaringan Sumber Daya Air
PASAL 61
BAB VII: ARAHAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG PULAU JAWA-BALI | Bagian Kedua - Indikasi Arahan Zonasi Sistem Nasional
Indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk sistem
jaringan sumber daya air sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 50 ayat (1) huruf e terdiri atas:
a. indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk sumber
air; dan
b. indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk prasarana
sumber air.
PASAL 62
BAB VII: ARAHAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG PULAU JAWA-BALI | Bagian Kedua - Indikasi Arahan Zonasi Sistem Nasional
(1) Indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk sumber
air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 61 huruf a
terdiri atas:
a. indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk
sumber air permukaan pada sungai; dan
b. indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk
sumber air tanah dalam CAT.
(21 Indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk sumber
air permukaan pada sungai sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) huruf a meliputi:
a. Pemanfaatan Ruang untuk pendayagunaan sumber
air berbasis pada wilayah sungai;
b. Pemanfaatan Ruang pada kawasan di sekitar
wilayah sungai dengan tetap menjaga kelestarian
lingkungan dan fungsi lindung kawasan;
c. Pemanfaatan Ruang di sekitar wilayah sungai lintas
provinsi dan wilayah sungai strategis nasional
secara selaras dengan Pemanfaatan Ruang pada
wilayah sungai di provinsi yang berbatasan; dan
A
d. Pengendalian
d. Pengendalian Pemanfaatan Ruang pada wilayah
sungai lintas provinsi dan strategis nasional.
(3) Indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk sumber
air tanah dalam CAT sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) huruf b meliputi:
a. Pemanfaatan Ruang untuk pendayagunaan sumber
air pada potensi CAT;
b. Pemanfaatan Ruang pada kawasan di sekitar CAT
dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan dan
fungsi lindung kawasan; dan
c. Pengendalian Pemanfaatan Ruang pada kawasan
imbuhan air tanah dan pelepasan air tanah pada
daerah CAT.
PASAL 63
BAB VII: ARAHAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG PULAU JAWA-BALI | Bagian Kedua - Indikasi Arahan Zonasi Sistem Nasional
(1) Indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk prasarana sumber air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 61 huruf b terdiri atas:
a. indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk sistem konservasi sumber daya air;
b. indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk sistem pendayagunaan sumber daya air; dan
c. indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk sistem pengendalian daya rusak air. (21 Indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk sistem konservasi sumber daya air sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a meliputi:
a. Pemanfaatan Ruang untuk konservasi sumber air dengan kegiatan pelindungan dan pelestarian sumber air, pengawetan air, pengelolaan kualitas air, dan pengendalian pencemaran air;
b. Pengendalian Pemanfaatan Ruang pada konservasi sumber daya air;
c. penerapan ketentuan mengenai pelarangan Pemanfaatan Ruang yang dapat merusak atau mengganggu kondisi sumber air sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; dan
d. ketentuan lain untuk konservasi sumber air diatur sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(3) Indikasi REPUBUK INDONESIA
(3) Indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk sistem pendayagunaan sumber daya air sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b meliputi:
a. Pemanfaatan Ruang untuk pendayagunaan sumber air dengan kegiatan penatagunaan sumber daya air, penyediaan sumber daya air, penggunaan sumber daya air, dan pengembangan sumber daya air;
b. Pemanfaatan Ruang pada pendayagunaan sumber daya air dengan memperhatikan keseimbangan aspek ekologi, ekonomi, dan sosial budaya;
c. pendayagunaan sumber daya air untuk kegiatan usaha diatur sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; dan
d. penerapan ketentuan mengenai pelarangan Pemanfaatan Ruang yang dapat mencemarkan atau merusak prasarana sumber air sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. (41 Indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk sistem pengendalian daya rusak air sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c meliputi:
a. penerapan mitigasi bencana yang diakibatkan oleh daya rusak air dengan pencegahan daya rusak air;
b. penerapan rekonstruksi dan rehabilitasi sebagai pemulihan daya rusak; dan
c. ketentuan lain pengendalian daya rusak air diatur sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan. Paragraf 7 Indikasi Arahan Zonasi Sistem Nasional untuk Pola Ruang
PASAL 64
BAB VII: ARAHAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG PULAU JAWA-BALI | Bagian Kedua - Indikasi Arahan Zonasi Sistem Nasional
Indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk Pola Ruang
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49 ayat (2) huruf b
terdiri atas:
a. indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk Kawasan
Lindung Pulau Jawa-Bali; dan
b. indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk Kawasan
Budi Daya yang Memiliki Nilai Strategis Nasional.
A
Paragraf8
Paragraf 8
Indikasi Arahan Zonasi Sistem Nasional untuk
Kawasan Lindung Pulau Jawa-Bali
PASAL 65
BAB VII: ARAHAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG PULAU JAWA-BALI | Bagian Kedua - Indikasi Arahan Zonasi Sistem Nasional
Indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk Kawasan
Lindung Pulau Jawa-Bali sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 64 huruf a terdiri atas:
a. indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk kawasan
yang memberikan perlindungan terhadap kawasan
bawahannya;
b. indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk kawasan
perlindungan setempat;
c. indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk kawasan
konservasi; dan
d. indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk Kawasan
Lindung geologi.
PASAL 66
BAB VII: ARAHAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG PULAU JAWA-BALI | Bagian Kedua - Indikasi Arahan Zonasi Sistem Nasional
(1) Indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk kawasan yang memberikan perlindungan terhadap kawasan bawahannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 65 huruf a terdiri atas:
a. indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk kawasan hutan lindung; dan
b. indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk kawasan resapan air. (21 Indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk kawasan hutan lindung sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a meliputi:
a. Pemanfaatan Ruang untuk perlindungan dan pelestarian keanekaragaman hayati tumbuhan dan satwa endemik di kawasan hutan lindung;
b. Pemanfaatan Ruang untuk pemertahanan luasan yang memberikan perlindungan terhadap kawasan bawahannya;
c. Pemanfaatan Ruang untuk kegiatan rehabilitasi hutan lindung yang terdegradasi dalam rangka memelihara keseimbangan ekosistem pulau;
d. Pemanfaatan Ruang untuk pemertahanan permukiman Masyarakat adat dan menyediakan akses bagi Masyarakat adat yang tidak mengganggu hutan lindung; A
e. Pemanfaatan REPUBUK INDONESIA
e. Pemanfaatan Ruang untuk wisata alam tanpa mengubah bentang alam;
f. pengendalian kegiatan Pemanfaatan Ruang di hutan lindung;
g. penerapan ketentuan mengenai pelarangan seluruh kegiatan yang berpotensi mengurangi luas hutan lindung; dan
h. Pemanfaatan Ruang kawasan untuk kegiatan budi daya hanya diizinkan bagi penduduk asli dengan luasan tetap, tidak mengurangi fungsi lindung kawasan, dan di bawah pengawasan ketat.
(3) Indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk kawasan resapan air sebagaimana dimaksud pada ayat (U huruf b meliputi:
a. Pemanfaatan Ruang untuk pemertahanan dan peningkatan fungsi kawasan resapan air, khususnya pada hulu sungai;
b. pengendalian kegiatan Pemanfaatan Ruang di kawasan resapan air;
c. Pemanfaatan Ruang secara terbatas untuk kegiatan budi daya tidak terbangun yang memiliki kemampuan tinggi dalam menahan limpasan air hujan;
d. penyediaan sumur resapan danlatau waduk pada lahan terbangun yang sudah ada; dan
e. penerapan prinsip zero delta Q poticg terhadap setiap kegiatan budi daya terbangun yang diajukan izinnya.
PASAL 67
BAB VII: ARAHAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG PULAU JAWA-BALI | Bagian Kedua - Indikasi Arahan Zonasi Sistem Nasional
(1) Indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk kawasan perlindungan setempat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 65 huruf b terdiri atas: a, indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk sempadan pantai;
b. indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk sempadan sungai;
c. indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk sempadan danau; dan
d. indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk RTH. A
(2) Indikasi REPUBLIK TNDONESIA (21 Indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk sempadan pantai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a meliputi:
a. Pemanfaatan Ruang untuk RTH;
b. Pemanfaatan Ruang untuk pengembangan struktur alami dan struktur buatan untuk mencegah abrasi;
c. Pengendalian Pemanfaatan Ruang pada sempadan pantai yang berpotensi mengganggu dan/atau merusak fungsi sempadan pantai;
d. Pemanfaatan Ruang untuk pendirian bangunan yang dibatasi hanya untuk menunjang kegiatan rekreasi pantai; dan
e. penerapan ketentuan mengenai pelarangan semua jenis kegiatan yang dapat menurunkan luas, nilai ekologis, dan estetika kawasan.
(3) Indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk sempadan sungai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b meliputi:
a. Pemanfaatan Ruang untuk RTH;
b. Pemanfaatan Ruang untuk pendirian bangunan dibatasi hanya untuk menunjang fungsi rekreasi;
c. pengendalian perkembangan kawasan terbangun yang mengganggu dan/atau merusak fungsi sempadan sungai;
d. penerapan ketentuan mengenai pelara.ngan pendirian bangunan kecuali bangunan sebagaimana diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan; dan
e. penetapan lebar sempadan sungai diatur sesuai dengan ketentuan peraturan perulndang-undangan. (41 Indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk sempadan danau sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c meliputi:
a. Pemanfaatan Ruang untuk RTH;
b. Pemanfaatan Ruang untuk pendirian bangunan dibatasi hanya untuk menunjang fungsi rekreasi;
c. penerapan ketentuan mengenai pelarangan pendirian bangunan kecuali bangunan sebagaimana diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan; dan
d. penetapan kawasan sekitar danau atau waduk diatur sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(5) Indikasi A -6r-
(5) Indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk RTH sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d meliputi:
a. Pemanfaatan Ruang untuk pendirian bangunan dibatasi hanya untuk menunjang fungsi rekreasi; dan
b. penerapan ketentuan mengenai pelarangan pendirian bangunan kecuali bangunan sebagaimana dimaksud dalam huruf a diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan.
PASAL 68
BAB VII: ARAHAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG PULAU JAWA-BALI | Bagian Kedua - Indikasi Arahan Zonasi Sistem Nasional
(1) Indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk kawasan konservasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 65 huruf c terdiri atas:
a. indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk kawasan suaka alam;
b. indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk kawasan pelestarian alam; dan
c. indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk taman buru. (21 Indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk kawasan suaka alam sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a meliputi:
a. indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk kawasan suaka margasatwa:
1. Pemanfaatan Ruang untuk perlindungan dan pelestarian keanekaragaman satwa endemik kawasan;
2. Pemanfaatan Ruang untuk penelitian, pendidikan, dan wisata alam;
3. penerapan ketentuan mengenai pendirian bangunan dibatasi hanya untuk menunjang kegiatan sebagaimana dimaksud pada angka 1 dan angka 2; dan
4. penerapan ketentuan mengenai pelarangan terhadap penanaman tumbuhan dan pelepasan satwa yang bukan merupakan tumbuhan dan satwa endemik kawasan.
b. indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk kawasan cagar alam:
1. Pemanfaatan Ruang untuk perlindungan dan pelestarian keanekaragaman hayati tumbuhan dan satwa endemik kawasan;
2. Pemanfaatan REPUBLIK TNDONESIA
2. Pemanfaatan Ruang untuk penelitian, pendidikan, dan wisata alam;
3. penerapan ketentuan mengenai pendirian bangunan dibatasi hanya untuk menunjang kegiatan sebagaimana dimaksud pada angka 1 dan angka 2; dan
4. penerapan ketentuan mengenai pelarangan terhadap penanaman tumbuhan dan pelepasan satwa yang bukan merupakan tumbuhan dan satwa endemik kawasan.
(3) Indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk kawasan pelestarian alam sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b meliputi:
a. indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk kawasan taman nasional:
1. Pemanfaatan Ruang untuk perlindungan dan pelestarian keanekaragaman hayati tumbuhan dan satwa endemik kawasan;
2. Pemanfaatan Ruang untuk penelitian, pendidikan, dan wisata alam;
3. penerapan ketentuan mengenai pendirian bangunan dibatasi hanya untuk menunjang kegiatan sebagaimana dimaksud pada angka 1 dan angka 2;
4. penerapan ketentuan mengenai pelarangan terhadap penanaman tumbuhan dan pelepasan satwa yang bukan merrrpakan tumbuhan dan satwa endemik kawasan;
5. Pemanfaatan Ruang untuk pemertahanan fungsi taman nasional;
6. Pemanfaatan Ruang untuk wisata alam tanpa mengubah bentang alam;
7. Pemanfaatan Ruang kawasan untuk kegiatan budi daya hanya diizinkan bagi penduduk asli di zona penyangga dengan luasan tetap, tidak mengurangi fungsi lindung kawasan, dan di bawah pengawasan ketat; dan
8. penerapan ketentuan mengenai pelarangan kegiatan budi daya di zona inti.
b. indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk kawasan taman nasional laut:
1. Pemanfaatan Ruang untuk perlindungan dan pelestarian keanekaragaman hayati tumbuhan dan satwa endemik kawasan taman nasional laut; 2.Pemanfaatan A REPUBUK TNDONESIA _63_
2. Pemanfaatan Ruang untuk penelitian, pendidikan, dan wisata alam;
3. penerapan ketentuan mengenai pendirian bangunan dibatasi hanya untuk menunjang kegiatan sebagaimana dimaksud pada angka 1 dan angka 2;
4. Pemanfaatan Ruang untuk pemertahanan fungsi taman nasional laut;
5. Pemanfaatan Ruang untuk wisata alam tanpa mengubah bentang alam;
6. Pemanfaatan Ruang kawasan untuk kegiatan budi daya hanya diizinkan bagi penduduk asli di zona penyangga dengan luasan tetap, tidak mengurangi fungsi lindung kawasan, dan di bawah pengawasan keta! dan
7. penerapan ketentuan mengenai pelarangan kegiatan budi daya di zona inti.
c. indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk kawasan taman hutan raya:
1. Pemanfaatan Ruang untuk perlindungan dan pelestarian keanekaragaman hayati tumbuhan dan satwa endemik kawasan;
2. Pemanfaatan Ruang untuk penelitian, pendidikan, dan wisata alam; dan
3. penerapan ketentuan mengenai pendirian bangunan dibatasi hanya untuk menunjang kegiatan sebagaimana dimaksud pada angka 1 dan angka 2.
d. indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk kawasan taman wisata alam:
1. Pemanfaatan Ruang untuk pemertahanan luasan taman wisata alam;
2. Pemanfaatan Ruang untuk pengembangan pengelolaan terhadap kawasan taman wisata alam;
3. Pemanfaatan Ruang untuk wisata alam tanpa mengubah bentuk bentang alam;
4. penerapan ketentuan mengenai pelarangan kegiatan selain yang dimaksud pada angka 3; dan
5. penerapan ketentuan mengenai pendirian bangunan yang dibatasi hanya untuk menunjang kegiatan sebagaimana dimaksud pada angka indikasi A
e. indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk kawasan taman wisata alam laut:
1. Pemanfaatan Ruang untuk pemertahanan luasan taman wisata alam laut;
2. Pemanfaatan Ruang untuk pengembangan pengelolaan terhadap kawasan taman wisata alam laut;
3. Pemanfaatan Ruang untuk wisata alam laut tanpa mengubah bentuk bentang alam;
4. penerapan ketentuan mengenai pelarangan kegiatan selain sebagaimana dimaksud pada angka 3; dan
5. penerapan ketentuan mengenai pendirian bangunan yang dibatasi hanya untuk menunjang kegiatan sebagaimana dimaksud pada angka 3. (41 Indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk taman buru sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c meliputi:
a. Pemanfaatan Ruang untuk pemertahanan, pelestarian, dan pengembangan pengelolaan taman buru;
b. Pemanfaatan Ruang untuk kegiatan perburuan secara terkendali;
c. Pemanfaatan Ruang untuk penangkaran dan pengembangbiakan satwa untuk perburuan;
d. penerapan ketentuan mengenai standar keselamatan bagi pemburu dan Masyarakat di sekitarnya; dan
e. penerapan ketentuan mengenai pelarangan perburuan satwa yang tidak ditetapkan sebagai satwa buruan.
PASAL 69
BAB VII: ARAHAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG PULAU JAWA-BALI | Bagian Kedua - Indikasi Arahan Zonasi Sistem Nasional
(1) Indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk Kawasan
Lindung geologi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 65
huruf d terdiri atas:
a. indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk
kawasan cagar alam geologi;
b. indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk
kawasan bentang alam karst; dan
c.indikasi
c. indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk
kawasan yang memberikan perlindungan terhadap
air tanah berupa kawasan imbuhan air tanah.
(21 Indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk kawasan
cagar alam geologi sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) huruf a meliputi:
a. indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk
kawasan keunikan batuan dan fosil:
1. Pemanfaatan Ruang untuk pengembangan
pengelolaan guna pelestarian kawasan
keunikan batuan dan fosil;
2. pengendalian perkembangan Kawasan Budi
Daya terbangun di sekitar kawasan keunikan
batuan dan fosil;
3. Pemanfaatan Ruang untuk pariwisata tanpa
mengubah bentang alam;
4. Pemanfaatan Ruang untuk kegiatan penggalian
dibatasi hanya untuk penelitian arkeologi dan
geologi; dan
5. penerapan ketentuan mengenai pelarangan
kegiatan pemanfaatan batuan selain yang
dimaksud pada angka 1 dan angka 2.
b. indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk
kawasan keunikan bentang alam:
1. Pemanfaatan Ruang untuk pemertahanan
fungsi kawasan yang memiliki keunikan
bentang alam; dan
2. Pemanfaatan Ruang untuk perlindungan
bentang alam yang memiliki ciri langka
dan/atau bersifat indah untuk pengembangan
ilmu
pengetahuan, budaya, dan/atau
pariwisata.
c. indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk
keunikan proses geologi:
1. Pemanfaatan Ruang untuk pengembangan
pengelolaan guna melestarikan kawasan
keunikan proses geologi;
2. pengendalian perkembangan Kawasan Budi
Daya terbangun di sekitar kawasan keunikan
proses geologi; dan
3. Pemanfaatan Ruang untuk perlindungan
kawasan yang memiliki ciri langka berupa
proses geologi tertentu untuk pengembangan
ilmu pengetahuan dan/atau pariwisata.
(2) Indikasi
A
(3) Indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk kawasan
bentang alam karst sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) huruf b meliputi:
a. Pemanfaatan Ruang untuk pemertahanan fungsi
kawasan yang memiliki keunikan bentang alam
karst; dan
b. Pemanfaatan Ruang untuk perlindungan bentang
alam karst yang memiliki ciri langka dan/atau
bersifat indah untuk pengembangan ilmu
pengetahuan, budaya, dan/ atau pariwisata.
(4) Indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk kawasan
yang memberikan perlindungan terhadap air tanah
berupa kawasan imbuhan air tanah sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) huruf c meliputi:
a. pengendalian perkembangan kegiatan budi daya
terbangun pada kawasan imbuhan air tanah;
b. Pemanfaatan Ruang secara terbatas untuk kegiatan
budi daya tidak terbangun yang memiliki
kemampuan tinggi dalam menahan limpasan air
hujan; dan
c. penerapan prinsip zero delta Q policy terhadap
setiap kegiatan budi daya terbangun yang diajukan
izinnya.
Paragraf 9
Indikasi Arahan Zonasi Sistem Nasional untuk
Kawasan Budi Daya yang Memiliki Nilai Strategis Nasional
PASAL 70
BAB VII: ARAHAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG PULAU JAWA-BALI | Bagian Kedua - Indikasi Arahan Zonasi Sistem Nasional
Indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk Kawasan
Budi Daya yang Memiliki Nilai Strategis Nasional
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 64 huruf b terdiri atas:
a. indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk Kawasan
Budi Daya yang potensial dikembangkan; dan
b. indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk Kawasan
Budi Daya terbatas.
PASAL 71
BAB VII: ARAHAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG PULAU JAWA-BALI | Bagian Kedua - Indikasi Arahan Zonasi Sistem Nasional
(1) Indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk Kawasan Budi Daya yang potensial dikembangkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 70 huruf a terdiri atas:
a. indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk Kawasan Budi Daya potensial dikembangkan dengan sektor unggulan perdagangan dan jasa;
b. indikasi A REPUBUK INDONESIA
b. indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk Kawasan Budi Daya potensial dikembangkan dengan sektor unggulan industri;
c. indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk Kawasan Budi Daya potensial dikembangkan dengan sektor unggulan pariwisata;
d. indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk Kawasan Budi Daya potensial dikembangkan dengan sektor unggulan kehutanan;
e. indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk Kawasan Budi Daya potensial dikembangkan dengan sektor unggulan pertanian; dan
f. indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk Kawasan Budi Daya potensial dikembangkan dengan sektor unggulan kelautan dan perikanan. (21 Indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk Kawasan Budi Daya potensial dikembangkan dengan sektor unggulan perdagangan dan jasa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a meliputi:
a. Pemanfaatan Ruang untuk pengembangan kegiatan perdagangan dan jasa yang berdaya saing nasional;
b. Pemanfaatan Ruang untuk pengembangan kegiatan perdagangan dan jasa sesuai dengan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup; dan
c. arahan intensitas Pemanfaatan Ruang meliputi:
1. pengembangan rencana Pola Ruang diarahkan pada kawasan dengan kemampuan lahan sangat tinggi dan tinggi;
2. pengembangan fungsi kawasan sebagai pusat perdagangan dan jasa dengan intensitas Pemanfaatan Ruang tinggi; dan
3. penyediaan RTH paling sedikit 30% (tiga puluh persen) dari luas kawasan yang masuk dalam delineasi pengembangan kegiatan perdagangan dan jasa.
(3) Indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk Kawasan Budi Daya potensial dikembangkan dengan sektor unggulan industri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b meliputi:
a. Pemanfaatan Ruang untuk pengembangan kawasan peruntukan industri yang berdaya saing nasional, berbasis ekonomi hijau, dan ramah Iingkungan; b.Pemanfaatan A REPTJBLTK INDONESTA
b. Pemanfaatan Ruang untuk kegiatan industri yang sesuai dengan kemampuan penggunaan teknologi, potensi sumber daya alam, dan sumber daya manusia di Wilayah sekitarnya;
c. Pemanfaatan Ruang untuk pengembangan prasarana dan sarana transportasi yang menghubungkan antara kawasan peruntukan industri dengan sumber bahan baku;
d. penerapan ketentuan khusus mengenai Pemanfaatan Ruang di kawasan peruntukan industri dan sekitarnya mengikuti ketentuan dari sektor terkait;
e. penerapan pengendalian pengembangan kegiatan industri pada kawasan rawan bencana tinggi serta pada kawasan dengan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup terlampaui; dan
f. arahan intensitas Pemanfaatan Ruang meliputi:
1. pengembangan rencana Pola Ruang diarahkan pada kawasan dengan kemampuan lahan sangat tinggi, tinggi, dan sedang;
2. pengembangan fungsi kawasan sebagai pusat kegiatan industri dengan intensitas Pemanfaatan Ruang sedang hingga tinggi; dan
3. penyediaan RTH paling sedikit 30% (tiga puluh persen) dari luas kawasan yang masuk dalam delineasi pengembangan kegiatan industri.
(4) Indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk Kawasan Budi Daya potensial dikembangkan dengan sektor unggulan pariwisata sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c meliputi:
a. Pemanfaatan Ruang untuk pengembangan kegiatan pariwisata berbasis potensi lokal yang sesuai dengan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup;
b. Pemanfaatan Ruang untuk pengembangan prasarana dan sarana pendukung kegiatan pariwisata dengan prinsip keberlanjutan dan pengurangan risiko bencana;
c. Pemanfaatan Ruang untuk pengembangan prasarana dan sarana transportasi yang menghubungkan antara kawasan pariwisata dengan pusat kegiatan; dan
d. penerapan REPUBLIK INDONESTA
d. penerapan ketentuan khusus mengenai pembangunan sarana dan prasarana pariwisata mengikuti ketentuan dari sektor terkait.
(5) Indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk Kawasan Budi Daya potensial dengan sektor unggulan kehutanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d meliputi:
a. Pemanfaatan Ruang untuk pengembangan kegiatan budi daya kehutanan yang sesuai dengan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup;
b. Pemanfaatan Ruang untuk pengembangan prasarana dan sarana pendukung kegiatan budi daya kehutanan dengan prinsip keberlanjutan;
c. penerapan ketentuan mengenai pembatasan pemanfaatan hasil hutan untuk menjaga kestabilan neraca sumber daya kehutanan;
d. penerapan ketentuan mengenai pendirian bangunan yang dibatasi hanya untuk menunjang kegiatan pemanfaatan hasil hutan; dan
e. penerapan ketentuan khusus mengenai Kawasan Budi Daya kehutanan dan sekitarnya mengikuti ketentuan sektor terkait.
(6) Indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk Kawasan Budi Daya potensial dengan sektor unggulan pertanian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hurtrf e meliputi: '
a. Pemanfaatan Ruang untuk pemertahanan luasan dan fungsi kawasan peruntukan pertanian yang mendukung perw'ujudan ketahanan pangan nasional;
b. Pemanfaatan Ruang untuk pengembangan kegiatan pertanian dengan prinsip keberlanjutan;
c. Pemanfaatan Ruang untuk pengembangan sentra pertanian, hilirisasi industri hasil pertanian, dan sarana pendukung lainnya dengan memperhatikan kemampuan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup;
d. penerapan pengendalian perkembangan kawasan peruntukan pertanian yang berbatasan langsung dengan Kawasan Lindung; dan
e. penerapan ketentuan pelarangan alih fungsi lahan pertanian pangan berkelanjutan menjadi kegiatan budi daya terbangun selain yang diatur melalui ketentuan peraturan perundang-undangan.
(7) Indikasi. . A REPUBUK INDONESIA
(7) Indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk Kawasan Budi Daya potensial dengan sektor unggulan kelautan dan perikanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf f meliputi:
a. Pemanfaatan Ruang untuk pengembangan kegiatan kelautan dan perikanan yang sesuai dengan kemampuan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup;
b. Pemanfaatan Ruang untuk pengembangan sentra produksi kelautan dan perikanan terpadu dengan memperhatikan potensi lestari perikanan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku;
c. penerapan pengendalian perkembangan kawasan peruntukan kelautan dan perikanan yang berbatasan langsung dengan Kawasan Lindung; dan
d. penerapan ketentuan pelarangan pengembangan sentra produksi kelautan dan perikanan terpadu pada kawasan rawan bencana tinggi dan pada kawasan dengan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup terlampaui.
PASAL 72
BAB VII: ARAHAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG PULAU JAWA-BALI | Bagian Kedua - Indikasi Arahan Zonasi Sistem Nasional
(1) Indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk Kawasan Budi Daya terbatas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 70 huruf b terdiri atas:
a. indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk Kawasan Budi Daya terbatas dengan sektor unggulan perdagangan dan jasa;
b. indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk Kawasan Budi Daya terbatas dengan sektor unggulan industri;
c. indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk Kawasan Budi Daya terbatas dengan sektor unggulan pariwisata;
d. indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk Kawasan Budi Daya terbatas dengan sektor unggulan kehutanan;
e. indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk Kawasan Budi Daya terbatas dengan sektor unggulan pertanian; dan
f. indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk Kawasan Budi Daya terbatas dengan sektor unggulan kelautan dan Perikanan.
(2) Indikasi A -7t- (21 Indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk Kawasan Budi Daya terbatas dengan sektor unggulan perdagangan dan jasa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a meliputi:
a. Pemanfaatan Ruang untuk pengembangan kegiatan perdagangan dan j asa berskala kabupaten / kota;
b. penerapan pengendalian pengembangan kegiatan perdagangan dan jasa pada kawasan rawan bencana sedang hingga tinggi serta pada kawasan dengan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup terlampaui;
c. arahan intensitas Pemanfaatan Ruang meliputi:
1. pengembangan rencana Pola Ruang diarahkan pada kawasan dengan kemampuan lahan yang sesuai;
2. pengembangan fungsi kawasan sebagai pusat perdagangan dan jasa dengan intensitas Pemanfaatan Ruang tinggi; dan
3. penyediaan RTH paling sedikit 30% (tiga puluh persen) dari luas kawasan yang masuk dalam delineasi pengembangan kegiatan perdagangan dan jasa.
(3) Indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk Kawasan Budi Daya terbatas dengan sektor unggulan industri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b meliputi:
a. Pemanfaatan Ruang untuk pengembangan kawasan peruntukan industri berbasis ekonomi hijau dan ramah lingkungan;
b. Pemanfaatan Ruang untuk kegiatan industri yang sesuai dengan kemampuan penggunaan teknologi, potensi sumber daya alam, dan sumber daya manusia di Wilayah sekitarnya;
c. Pemanfaatan Ruang untuk pengembangan prasarana dan sarana transportasi yang menghubungkan antara kawasan peruntukan industri dengan pusat bahan baku;
d. penerapan ketentuan khusus mengenai Pemanfaatan Ruang di kawasan peruntukan industri dan sekitarnya mengikuti ketentuan dari sektor terkait; A
e. penerapan REPUBLIK INDONESIA
e. penerapan ketentuan pelarangan pengembangan kegiatan industri pada kawasan rawan bencana sedang hingga tinggi dan pada kawasan dengan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup terlampaui;
f. arahan intensitas Pemanfaatan Ruang meliputi:
1. pengembangan fungsi kawasan sebagai pusat perindustrian dengan intensitas Pemanfaatan Ruang tinggi; dan
2. penyediaan RTH paling sedikit 30% (tiga puluh persen) dari luas kawasan yang masuk dalam delineasi pengembangan kegiatan perindustrian. (41 Indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk Kawasan Budi Daya terbatas dengan sektor unggulan pariwisata sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c meliputi:
a. Pemanfaatan Ruang untuk pengembangan kegiatan pariwisata berbasis potensi lokal yang sesuai dengan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup;
b. Pemanfaatan Ruang untuk pengembangan prasarana dan sarana pendukung kegiatan pariwisata dengan prin sip- prinsip keberlanjutan ;
c. Pemanfaatan Ruang untuk pengembangan prasarana dan sarana transportasi yang menghubungkan antara kawasan pariwisata dengan pusat kegiatan; dan
d. penerapan ketentuan khusus mengenai pembangunan sarana dan prasarana pendukung kawasan pariwisata mengikuti ketentuan dari sektor terkait.
(5) Indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk Kawasan Budi Daya terbatas dengan sektor unggulan kehutanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d meliputi:
a. penerapan ketentuan mengenai pembatasan pemanfaatan hasil hutan untuk menjaga kestabilan neraca sumber daya kehutanan;
b. penerapan ketentuan mengenai pendirian bangunan yang dibatasi hanya untuk menunjang kegiatan pemanfaatan hasil hutan; dan
c. penerapan ketentuan mengenai pelarangan pendirian bangunan selain yang dimaksud dalam huruf b.
(6) Indikasi A REPUBUK INDONESIA
(6) Indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk Kawasan Budi Daya terbatas dengan sektor unggulan pertanian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e meliputi:
a. Pemanfaatan Ruang untuk pemertahanan luasan dan fungsi kawasan perLlntukan pertanian untuk mendukung perwujudan ketahanan pangan nasional;
b. pengendalian alih fungsi lahan sawah menjadi non sawah pada sawah beririgasi teknis;
c. pengendalian perkembangan kawasan pertanian yang berbatasan langsung dengan Kawasan Lindung;
d. Pemanfaatan Ruang untuk pengembangan Kawasan Budi Daya perkebunan dengan prinsip tata kelola perkebunan yang berkelanjutan;
e. Pemanfaatan Ruang untuk pengembangan hilirisasi industri hasil pertanian dengan memperhatikan daya dukung dan daya tampung; dan
f. penerapan ketentuan pelarangan alih fungsi lahan pertanian pangan berkelanjutan menjadi kegiatan budi daya terbangun selain yang diatur dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. (71 Indikasi arahan zonasi sistem nasional untuk Kawasan Budi Daya terbatas dengan sektor unggulan kelautan dan perikanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hurtrf f meliputi:
a. Pemanfaatan Ruang untuk pengembangan sentra produksi kelautan dan perikanan terpadu dengan memperhatikan potensi lestari perikanan;
b. Pemanfaatan Ruang untuk pengembangan kampung perikanan budi daya berbasis Masyarakat;
c. Pemanfaatan Ruang untuk pengembangan kegiatan perikanan budi daya dengan memperhatikan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup;
d. Pemanfaatan Ruang untuk sentra perikanan terpadu dengan memperhatikan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup serta sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; dan
e. Pemanfaatan Ruang untuk kawasan pelabuhan perikanan yang terintegrasi disesuaikan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. BagianKetiga A Bagian Ketiga Arahan Insentif dan Disinsentif
PASAL 73
BAB VII: ARAHAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG PULAU JAWA-BALI | Bagian Ketiga - Arahan Insentif dan Disinsentif
Arahan insentif dan disinsentif sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 48 ayat (21 huruf b merupakan acuan bagi
Pemerintah dan Pemerintah Daerah sebagai upaya
Pengendalian Pemanfaatan Ruang dalam rangka
mewujudkan Rencana Tata Ruang Pulau Jawa-Bali.
PASAL 74
BAB VII: ARAHAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG PULAU JAWA-BALI | Bagian Ketiga - Arahan Insentif dan Disinsentif
Insentif dan disinsentif sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 73 diberikan oleh:
a. Pemerintah kepada Pemerintah Daerah;
b. Pemerintah Daerah kepada Pemerintah Daerah lainnya
di Pulau Jawa-Bali; dan
c. Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah kepada
Masyarakat.
PASAL 75
BAB VII: ARAHAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG PULAU JAWA-BALI | Bagian Ketiga - Arahan Insentif dan Disinsentif
(1) Pemberian insentif dari Pemerintah kepada Pemerintah
Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 74 huruf a
dapat berupa:
a. subsidi;
b. penyediaan prasarana dan sarana di daerah;
c. pemberiankompensasi;
d. penghargaan; dan I atau
e. publikasi atau promosi daerah.
(21 Pemberian insentif dari Pemerintah Daerah kepada
Pemerintah Daerah lainnya di Pulau Jawa-Bali
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 74 huruf b dapat
berupa:
a. pemberiankompensasi;
b. pemberian penyediaan prasarana dan sarana;
c. penghargaan; dan I atau
d. publikasi atau promosi daerah.
(3) Pemberian Insentif dari Pemerintah dan/atau
Pemerintah Daerah kepada Masyarakat sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 74 huruf c dapat berupa:
a. pemberian keringanan pajak dan/atau retribusi;
b. subsidi;
c. pemberian
A
_75_
c. pemberiankompensasi;
d. imbalan;
e. sewa Ruang;
f. urun saham;
g. fasilitasi persetujuan Kesesuaian
Pemanfaatan Ruang;
h. penyediaan prasarana dan sarana;
i. penghargaan; dan latau
j. publikasi atau promosi.
Kegiatan
PASAL 76
BAB VII: ARAHAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG PULAU JAWA-BALI | Bagian Ketiga - Arahan Insentif dan Disinsentif
(1) Disinsentif dari Pemerintah kepada Pemerintah Daerah
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 74 huruf a dapat
diberikan dalam bentuk:
a. pembatasan penyediaan prasarana dan sarana di
daerah; dan/atau
b. pemberian status tertentu.
(21 Disinsentif dari Pemerintah Daerah kepada Pemerintah
Daerah iainnya di Pulau Jawa-Bali sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 74 huruf b dapat berupa
pembatasan penyediaan prasarana dan sarana.
(3) Disinsentif dari Pemerintah dan/atau Pemerintah
Daerah kepada Masyarakat sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 74 huruf c dapat berrrpa:
a. pengenaan pajak dan/atau retribusi yang tinggi;
b. kewajiban memberi kompensasi atau imbalan;
dan/atau
c. pembatasan penyediaan prasarana dan sarana.
Pasal TT
Ketentuan mengenai
dilaksanakan sesuai
perrrndang-undangan.
arahan insentif dan
dengan ketentuan
disinsentif
peraturan
Bagian Keempat
Arahan Sanksi
PASAL 78
BAB VII: ARAHAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG PULAU JAWA-BALI | Bagian Keempat - Arahan Sanksi
(1) Arahan sanksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 48
ayat (21huruf c dilakukan melalui sanksi administratif.
A
(2) Sanksi
-1.<
(2) Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) diberikan kepada:
a. setiap orang yang tidak mematuhi rencana tata
Ruang hrlau Jawa-Bali yang telah ditetapkan yang
mengakibatkan perubahan fungsi Ruang dalam
rencana tata Ruang Pulau Jawa-Bali;
b. orang yang tidak mematuhi ketentuan
Pemanfaatan Ruang dalam Rencana Tata Ruang
Pulau Jawa-Bali; dan
c. orang yang menghalangi akses terhadap Kawasan
yang oleh ketentuan peraturan perundang-
undangan dinyatakan sebagai milik umum.
(3) Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) berupa:
a. peringatan tertulis;
b. denda administratif;
c. penghentian sementara kegiatan;
d. penghentian sementara pelayanan umum;
e. penutupan lokasi;
f. pencabutan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan
Ruang;
g. pembatalan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan
Ruang;
h. pembongkaran bangunan; dan/atau
i. pemulihan fungsi Ruang.
(41 Pengenaan sanksi administratif sebagaimana
dimaksud pada ayat (3) dilakukan oleh Pemerintah dan
Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangannya.
(5) Ketentuan mengenai tahapan pengenaan sanksi
administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (3)
dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
Bagian Kelima
Penilaian Pelaksanaan Pemanfaatan Ruang
PASAL 79
BAB VII: ARAHAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG PULAU JAWA-BALI | Bagian Kelima - Penilaian Pelaksanaan Pemanfaatan Ruang
(1) Penilaian pelaksanaan Pemanfaatan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 48
huruf d terdiri atas:
a. penilaian pelaksanaan Kesesuaian
Pemanfaatan Ruang; dan
b. penilaian perwujudan rencana tata Ruang.
Ruang
ayat (21
Kegiatan
(2) Penilaian. .
PRESTDEN
REPUBUK TNDONESIA
(2) Penilaian pelaksanaan Kesesuaian Kegiatan
Pemanfaatan Ruang sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) huruf a dilaksanakan untuk memastikan:
a. kepatuhan pelaksanaan Kesesuaian Kegiatan
Pemanfaatan Ruang; dan
b. pemenuhan prosedur perolehan Kesesuaian
Kegiatan Pemanfaatan Ruang.
(3) Penilaian pelaksanaan Kesesuaian Kegiatan
Pemanfaatan Ruang dilakukan terhadap seluruh
dokumen Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang
yang diterbitkan berupa persetujuan Kesesuaian
Kegiatan Pemanfaatan Ruang.
(4) Penilaian pelaksanaan Kesesuaian Kegiatan
Pemanfaatan Ruang sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) huruf a dilakukan oleh Menteri.
(5) Penilaian pelaksanaan Kesesuaian Kegiatan
Pemanfaatan Ruang sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) huruf a dilakukan sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
(6) Penilaian perwujudan Rencana Tata Ruang
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b
dilakukan dengan penilaian perwujudan rencana
Struktur Ruang dan rencana Pola Ruang.
(7) Penilaian perwujudan rencana Struktur Ruang dan
rencana Pola Ruang sebagaimana dimaksud pada
ayat (6) dilakukan dengan:
a. penilaian tingkat perwujudan rencana Struktur
Ruang; dan
b. penilaian tingkat perwujudan rencana Pola Ruang.
(8) Penilaian perwujudan rencana Struktur Ruang dan
rencana Pola Ruang sebagaimana dimaksud pada
ayat (71 dilakukan terhadap:
a. kesesuaian program;
b. kesesuaian lokasi; dan
c. kesesuaian waktu pelaksanaan kegiatan
Pemanfaatan Ruang.
(9) Penilaian perwujudan rencana tata Ruang dilakukan
oleh Pemerintah dan Pemerintah Daerah sesuai
kewenangannya.
BABVIII
A
FRESIDEN
REPUBUK INDONESIA
BAB VIII
KOORDINASI PENYELENGGARAAN PENATAAN RUANG
PULAU JAWA-BALI
PASAL 80
BAB VIII: KOORDINASI PENYELENGGARAAN PENATAAN RUANG
(1) Penyelenggaraan Penataan Ruang Pulau Jawa-Bali
dilakukan melalui koordinasi:
a. dalam satu Wilayah administrasi;
b. antardaerah; dan
c. antartingkatan pemerintahan.
(2) Koordinasi dalam satu Wilayah administrasi
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a
merupakan koordinasi antar instansi dalam masing-
masing Wilayah provinsi.
(3) Koordinasi antardaerah sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) huruf b merupakan koordinasi yang
dilaksanakan oleh lebih dari satu Pemerintah Daerah
provinsi.
(41 Koordinasi antartingkatan pemerintahan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) huruf c merupakan koordinasi
antara Pemerintah dan Pemerintah Daerah provinsi
serta antara Pemerintah Daerah provinsi dan
Pemerintah Daerah kabupaten/ kota.
PASAL 81
BAB VIII: KOORDINASI PENYELENGGARAAN PENATAAN RUANG
(1) Koordinasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 80
ayat (1) huruf b dan huruf c dilakukan oleh Menteri
melalui rapat koordinasi.
(2) Dalam menjalankan fungsi koordinasi sebagaimana
dimaksud pada ayat (1), Menteri dapat melibatkan
forum penataan Ruang daerah.
(3) Koordinasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan
ayat (21 dilaksanakan sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
,
A
BAB IX
BAB IX
PERAN MASYARAKAT DALAM PENATAAN RUANG
PULAU JAWA-BALI
PASAL 82
BAB IX: BAB IX
(1) Peran Masyarakat dalam penyelenggaraan Penataan
Ruang Pulau Jawa-Bali dilakukan pada tahap:
a. perencanaan tata Ruang;
b. Pemanfaatan Ruang; dan
c. Pengendalian Pemanfaatan Ruang.
(21 Dalam rangka meningkatkan peran Masyarakat,
Pemerintah Daerah di Pulau Jawa-Bali membangun
sistem informasi dan dokumentasi Penataan Ruang
yang dapat diakses dengan mudah oleh Masyarakat.
(3) Peran Masyarakat sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
BAB X
JANGKA WAKTU DAN PENINJAUAN KEMBALI
PASAL 83
BAB X: JANGKA WAKTU DAN PENINJAUAN KEMBALI
(1) Jangka waktu rencana tata Ruang Pulau Jawa-Bali adalah selama 20 (dua puluh) tahun sejak diundangkannya Peraturan Presiden ini. (21 Peninjauan kembali rencana tata Ruang Pulau Jawa- Bali dilakukan 1 (satu) kali dalam setiap periode 5 (lima) tahunan.
(3) Peninjauan kembali rencana tata Ruang Pulau Jawa- Bali dapat dilakukan lebih dari 1 (satu) kali dalam periode 5 (lima) tahun apabila terjadi perubahan lingkungan strategis berupa:
a. bencana alam skala besar yang ditetapkan dengan peraturan perundang-undangan ;
b. perubahan batas teritorial negara yang ditetapkan Undang-Undang;
c. perubahan batas daerah yang ditetapkan dengan Undang-Undang; dan
d. perubahan A REPUBLII( INDONESIA
d. perubahan kebijakan nasional yang bersifat strategis. (41 Ketentuan dan tata cara peninjauan kembali sebagaimana dimaksud pada ayat (21 dan ayat (3) diatur sesuai dengan ketentuan peraturan perulndang- undangan. BAB XI KETENTUAN PERALIHAN
PASAL 84
BAB XI: KETENTUAN PERALIHAN
Pada saat Peraturan :
a. Peraturan strategis nasional, Peraturan Daerah tentang rencana tata Ruang Wilayah provinsi, dan Peraturan Daerah tentang rencana tata Ruang Wilayah kabupaten/kota, yang telah ada dinyatakan tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan tujuan, kebijakan, dan strategi yang tercantum dalam Peraturan Presiden ini; dan
b. izin Pemanfaatan Ruang atau Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang yang telah dikeluarkan sebelum Peraturan dengan masa berlakunya habis. BAB XII KETENTUAN PENUTUP
PASAL 85
BAB XII: KETENTUAN PENUTUP
Pada saat Peraturan , Peraturan 28 Tahun 2Ol2 tentang Rencana Tata Ruang Pulau Jawa Bali (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2Ol2 Nomor 75), dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.
PASAL 86
BAB XII: KETENTUAN PENUTUP
Peraturan . ini mulai berlaku pada tanggal A Agar EEPUBLIK INDONESIA Agar setiap pengundangan penempatannya Indonesia. orang mengetahuinya, memerintahkan Peraturan ePublik